Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.157 Lapar


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Semua persiapan untuk makan siang sudah selesai, hidangan tertata rapi di atas meja makan. Nawang memasak banyak makanan untuk merayakan pernikahan Keenan dan Riska, walau dengan cara yang seadanya. Setidaknya sebelum perayaan yang sesungguhnya terjadi.


"Heuh! Akhirnya selesai juga." Nawang menghembuskan napas kasar di depan meja makan.


Ayu dan Riska yang juga berada di sana tersenyum puas dengan semua hidangan yang berhasil mereka selesaikan tepat waktu.


"Sepertinya aku harus ganti baju dulu deh, gerah banget," ujar Ayu, tubuhnya terasa lepek, juga bau bawang. Membuat dia merasa tidak nyaman.


Sejak kehamilannya semakin besar, tubuh Ayu memang lebih mudah mengeluarkan keringat, hingga dia sering merasa gerah dan menyebabkan harus mandi berulang kali.


"Iya, Mama juga deh. Kita ganti baju dulu, baru nanti panggil par lelaki itu jatuh makan siang," timbal Nawang, yang diangguki juga oleh Riska.


Kini ketiganya naik ke lantai dua bersama, kemudian masuk ke dalam kamar masing-masing.


Ayu memutuskan untuk mandi lebih dulu, agar tubuhnya terasa lebih segar.


Beberapa saat kemudian, Ayu keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk sebatas dada. Dia lupa mengambil jubah mandinya, sebelum ke masuk ke kamar mandi.


"Siang hari begini, kamu mau menggodaku, hem?"


Ayu terjingkat kaget mendengar suara Ezra yang tiba-tiba. Dia melihat Ezra yang sekarang tengah duduk santai di atas sofa, menatapnya dengan seringai menggoda dan kerlingan di salah satu matanya.


"Astagfirullah, Mas. Kamu kok bisa ada di sana?" tanya Ayu, sambil mengusap dadanya. Jantungnya terasa berdegup dengan begitu cepat karena terkejut.


"Aku mencarimu di bawah, eh, ternyata kamu malah mandi," jawab Ezra.


"Iya, maaf, Mas. Aku tadi gerah banget, setelah masak bareng sama Mama dan Riska," ujar Ayu. Dia berjalan menuju lemari dan mengambil bajunya, tanpa menghiraukan tatapan lapar Ezra.


Ayu yang hanya memakai sebuah handuk, yang menutupi setengah tubuhnya. Membuat Ezra menelan salivanya dengan susah payah. Godaan yang begitu nyata di depan mata.


Dia menyeringai, kemudian beranjak menyusul istrinya ke dalam walk in closet, dia memeluk tubuh Ayu dari belakang. Menaruh dagunya di pundak sang istri, hingga kini wajah kedua ya menempel satu sama lain.


Ezra memberikan kecupan berulang di pipi Ayu. Tangannya menyelusup masuk ke dalam sambungan handuk, hingga kini bisa menyentuh kulit perut istrinya.


"Sayang, aku lapar," bisik Ezra tepat di depan telinga Ayu.


"Sebentar, Mas. Aku pakai baju dulu, nanti kita ke bawah bersama," ujar Ayu, tanpa tahu arti kata 'lapar' yang dimaksud oleh Ezra sesungguhnya.


"Aku tidak mau makanan, sayang." Ezra kembali berbisik, dia menghembuskan napas yang terasa hangat di tengkuk istrinya.


Ayu meremang, mendapati godaan dari suaminya, ia kini tahu apa maksud dari kata 'lapar' itu.


"Mas, ini masih siang, lagi pula nanti yang lain nungguin kita di bawah," ujar Ayu, tubuhnya mengeliat menahan rasa geli yang diciptakan oleh suaminya.


"Tidak apa, mereka pasti mengerti. Lagi pula mereka pasti akan makan lebih dulu kalau kita lama tidak turun." Ezra masih berusaha merayu istrinya.

__ADS_1


Tangannya kini mulai naik menuju aset berharga miliknya istrinya, yang terlihat sudah lebih besar, seiring dengan kehamilannya. Sepertinya dia sudah bersiap untuk menampung makanan pertama bagi anak keduanya, yang sebentar lagi akan lahir.


"Mas." Ayu mencengkaram baju yang Ezra.


"Hem?" Ezra hanya bergumam sambil terus melancarkan aksi merayu tubuh sang istri, hingga akhirnya dia merasakan Ayu mulai melemas.


Grep.


Ezra mengangkat tubuh Ayu ala bridal style, membawa istrinya itu menuju tempat tidur milik mereka berdua.


Merebahkan perlahan tubuh istrinya itu sambil bersiap, untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti beberapa saat.


Ezra emngungkung tubuh Ayu tang berada di bawahnya, dia menurunkan kepalanya mencium perut buncit Ayu yang kini sudah terpampang di depan wajahnya.


Bibirnya terus merambat semakin naik, hingga kini sudah berada di tempat kesukaannya, dia mereguk kenikmatan sambil memberikan stimulasi kepada istrinya,


Memberikan kenikmatan yang berkali lipat, dengan hasrat yang semakin naik ke permukan, berlomba untuk saling memberikan kepuasan satu sama lain.


Suara kenikmatan dengan aroma kuat percintaan itu, bercampur dalam panasnya siang hari itu, memberikan sensasi berbeda bagi keduanya.


Merayu, memuja dalam keindahan cinta yang semakin dalam, hingga akhirnya keduanya sampai pada puncak kenikmatan dalam mengarungi sungai hasrat dalam bercinta.


"I love you so much, my wife," lirih Ezra setelah mengcup kening dan bibir Ayu, sebagai tanda akhir dari permainannya malam ini.


"I love more, my husband," jawab Ayu.


Ezra sempat terdiam beberapa saat, mendengar balasan kata cinta dari istriya, walau kemudian ia mengembangkan senyumnya.


Wajah mereka masih begitu dekat, hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Ayu memberanikan diri mengangkat sedikit kepalanya hingga bibir keduanya kembali menempel, walau hanya sekilas.


"Itu sebagai penyemangat untuk suamiku, dalam menghadapi masalah kali ini," gumam Ayu, dengan pipi yang memerah. Ayu tahu kalau suaminya itu sedang resah, hingga dia mencari ketenangan dengan cara bermanja padanya.


Seringai di waah Ezra semakin lebar, istrinya itu memang paling tahu apa yang sedang ia butuhkan. Turun dari ranjang dan kembali menggendong Ayu menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.


Ayu melingkarkan tangannya di tenggkuk Ezra, dia menyandarkan kepalanya di dada sang suami, menikmati ritme detak jantung yang masih terdengar begitu cepat.


.


Di ruang makan, dua pasang suami istri sudah gusar menunggu kedatangan sang tuan rumah.


"Kemana sih, mereka? Kenapa belum juga turun?" Nawang mengerutu kesal, kepalanya menoleh ke arah tangga untuk yang kesekian kalinya.


Garry tampak mengehela napas lelah, dia memilih mengangkat piring dan memberikannya pada sang istri.


"Daripada kamu, terus menggerutu, lebih baik ambilkan makan siang untuku, aku sudah lapar sejak tadi," ujar Garry santai.


"Tapi, Pah,"


"Mereka tidak akan turun dalam jangka waktu dekat, munggkin setengah jam lagi atau lebih, mereka baru datang." Garry memotong perkataan Nawang yang hendak membantah perintahnya.


Nawang terdiam beberapa saat, hingga akhirnya dia mencebik kesal, lalu menyenndok nasi dan lauk pauknya pada piring milik Garry.

__ADS_1


"Anak itu memang tidak tau waktu, apa tidak bisa dia tunggu sampai malam?" gerutu Nawang lagi.


Riska yang belum mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh kedua mertuanya itu, hanya bisa menautkan alisnya.


"Memang kenapa, Mba Ayu dan Bang Ezra gak turun?" bisik Riska pada Keenan yang duduk di sampingnya.


"Uhuk!"


Keenan yang sedang meneguk air minum langsung tersedak saat mendengar pertanyaan dari istrinya itu. Hampir saja air di mulutnya menyembur, jika tangannya tak sigap menangkup bibirnya.


Riska langsung mengambilkan tisu dan memberikannya pada Keenan. Tangan satunya lagi menepuk pelan tengkuk suaminya agar bisa meredam batuk Keenan.


Nawang dan Garry langsung mengalihkan perhatiannya pada anak bungsu mereka.


"Kamu kenapa, Ken?" tanya Garry.


"Makanya kalau minum itu pelan-pelan," ujar Nawang menatap pasangan pengantin baru itu.


"Ngapain sih pake nanyain yang kaya gitu sama aku?" gerutu Keenan saat sudah bisa meredakan batuknya.


"Memangnya apa yang salah? Aku 'kan cuma nanya apa yang dilakukan sama Mba Ayu dan Bang Ezra, kok kamu sewot gitu?" ujar Riska, dia sama sekali belum paham dengan maksud dari obrolan kedua mertuanya itu.


Keenan gelagapan sendiri, dia bingung mau menjawab apa. 'Bagaimana ini? Masa aku bilang kalau pasangan itu sedang melakukan kegiatan panas suami istri,' gumam hati Ezra.


'Orang kaya memang kalau ngomong gak jelas kayak gini ya? Kok aku pusing ya sama pembicaraan mereka' gerutu Riska, sambil mneganmbilkan makanan untuk Keenan.


Riska mnyyenggol lengan Keenan lagi, karena suaminya itu tak juga memberikan jawaban.


"Nanti kamu juga akan ngerti sendiri," jawab Keenan, malah semakin membuat Riska penasaran.


"Apa? Kapan aku kan paham?" bisik Riska lagi.


"Kalau kamu sudah dewasa," jawab Keenan, sekenanya.


Riska mnegernyit, dia kesal oleh jawaban Keenan yang terdengar tak juga bisa ia mengerti.


"Aku bukan anak kecil, aku sudah dewasa!" Riska mengegram kesal.


Keenan melirik Riska dengan senyum samar di wajahnya, ternyata di balik sifatnya yang galak dan cerewet itu, Riska menyembunyikan kepolosannya.


"Kalau sudah dewasa pasti kamu mengerti apa yang dimaksud oleh Mama dan Papa," ujar Keenan.


"Dasar nyebelin!" Riska mencebik kesal, dia tidak lagi bertanya pada suaminya itu, hanya saja lengannya memberikan cubitan maut di pinggang Keenan.


"Ssshh," Keenan berdesis merasakan panas di bekas tangan Riska, sambil melirik wajah sang pelaku yang tampak santai seperti orang yang tidak bersalah. Menggeleng pelan dengan seringai di wajahnya. Satu lagi sikap Riska yang belum ia temui sebelumnya kini bisa terlihat.


'Aku tidak sabar, apa lagi kejutan yang akan kamu berikan padaku, Ris'


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2