Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.94 Restu


__ADS_3


...Happy Reading ...


...❤...


“Abah, Ambu ... sebenarnya saya dan Ayu kemari karena  ada maksud, meminta restu untuk pernikahan kami yang In Sya Allah akan di langsungkan dua minggu lagi,” ucap Ezra dengan sopan dan jelas.


Saat ini di ruang tengah, Ezra, Ayu, Abah dan Ambu sedang duduk berhadapan.


Abah sudah datang sejak beberapa menit yang lalu, Ezra pun sudah memperkenalkan dirinya dan mengobrol bersama Abah, beberapa waktu yang lalu.


Ayu tampak menunduk dalam, menunggu jawaban dari kedua orang paruh baya, yang sudah ia anggap orang tuanya sendiri.


Sedangkan Ezra terlihat lebih tenang, ia bisa menyamarkan rasa gundahnya dengan sikap tenang yang ia tunjukan.


Abah dan Ambu tampak saling menatap, seperti sedang berkomunikasi lewat mata mereka.


Tersenyum hangat sebelum memberikan jawaban.


“Kami berdua sangat senang kalau kalian akan segera melangsungkan acara pernikahan, apa lagi sepertinya Nak Ezra ini anak yang baik. Walaupun Abah baru bertemu tapi Abah sudah bisa merasakannya.”


“Nak Ezra, Abah hanya berpesan, jangan pernah kecewakan Ayu ya, Nak. Dia sudah cukup banyak menderita selama ini, Abah harap pernikahan kalian adalah jalan untuk Ayu mendapatkan kebahagiaannya,”


“Kalau Ayu berbuat salah, sudah kewajiban kamu untuk menegurnya. Tapi, tegurlah dia dengan baik-baik dan ketika kalian berdua saja,”


“Jika Nak Ezra sudah bosan atau tidak mencintai Ayu lagi, jangan pernah menyakitinya, kembalikan saja dia sama Abah. Maka dengan tangan terbuka Abah akan menerima kembali Ayu di keluarga kami,”


“Abah selalu berdoa semoga persiapan pernikahan kalian berjalan lancar, sampai hari yang sudah di tentukan. In Sya Allah kami sekeluarga akan datang sebagai keluarga dari Ayu.”


Abah berucap panjang lebar, memberi wejangan dan doa untuk kelancaran acara.


Ayu sudah terisak, wanita itu terharu dengan semua perkataan yang Abah katakan. Ayu tidak pernah menyangka kalau kasih sayang keluarga ini begitu besar untuknya.


Ezra mengusap pelan punggung calon istrinya itu, mencoba menenangkannya.


“Tentu saja, Abah ... sebisa mungkin saya pasti akan memberikan kebahagiaan kepada Ayu,” jawab Ezra, dengan senyum mengembang.


Setelah berbincang mengenai pernikahan, Ezra dan Abah memutuskan untuk berkeliling di padepokan.


Mereka berdua asyik berbincang sambil sesekali melihat suasana padepokan.


Kebetulan sore itu giliran anak-anak usia sekolah dasar yang berlatih.


Sedangkan Ayu membantu Ambu untuk menyiapkan kudapan untuk para anak-anak.


“Assalamualaikum ....”

__ADS_1


Ayu menghentikan kegiatannya, saat mendengar samar ada yang memberi salam.


“Ambu, sepertinya ada yang datang, biar aku aja yang liat ya?” ucap Ayu bersiap untuk ke depan.


“Gak usah, itu paling Galang yang baru pulang dari klinik. Liat saja, sebentar lagi dia juga pasti ke sini,” cegah Ambu.


“Oh, ya udah!” acuh Ayu, kembali pada kegiatannya menata kue di piring saji.


“Ambu! Kayaknya kita ada ta-mu,” Galang tiba-tiba sudah ada di dapur sambil berteriak.


“Ayu! Kirain siapa tamunya, eh ternyata adikku yang udah lupa jalan pulang ya!” ejek Galang, mengacak puncak kepala Ayu yang tertutup kerudung.


“Ish, Ambu liat tuh Kak Galang jail sama aku!” Ayu mengerucutkan bibirnya mengadu pada ibu angkatnya.


Ambu menggeleng geli melihat Galang yang selalu saja jail kepada Ayu. Namun, walaupun begitu keduanya tetap rukun dan tidak pernah berselisih paham.


“Sama siapa ke sininya, Dek. Kok itu di luar bukan mobil kamu?” tanya Galang dengan santainya sambil mengambil satu potong kue dari piring.


“Sama calon suaminya, Lang. Tuh dia lagi jalan-jalan keliling padepokan sama Abah,” Ambu langsung menjawab pertanyaan anak lelakinya itu.


“Wah, jadi aku bakalan di langkahin untuk kedua kalinya gitu?!” tanya Galang, dengan ekspresi muka di buat terkejut.


“Makannya cepetan cari pacar ... eh salah deh! Cari calon istri biar gak di langkahin sama aku!” kekehan kecil mengiringi perkataan ejekan dari Ayu.


“Wah, udah bisa ngeledek kamu sekarang ya? Mana calon suami kamu, biar kakak ospek dulu biar gak macam-macam!” ucap Galang sambil bergaya menggulung lengan bajunya seperti siap bertarung.


Sedangkan di depannya masih ada nampak berisi gelas teh, untuk Abah dan Ezra juga para pelatih yang lain.


“Iya-iya, Ambu itu selalu saja, giliran yang berat-berat jadi bagian aku,” gerutu Galang, walau ia masih tetap membawa wadah minum itu.


“Katanya kuat, masa angkat segitu saja ngedumel sih!” Ayu sedikit berteriak karena Galang sudah keluar dari pintu belakang.


Kedua wanita itu terkikik geli, melihat Galang melirik Ayu dengan tatapan tajamnya. Kedua tangan mereka memegang nampan yang berisi berbagai macam kudapan.


Begitu mereka sampai ke lapangan, berbarengan dengan selesainya latihan untuk hari ini.


“Ezra mana, Bah?” tanya Ayu saat melihat tidak ada calon suaminya di sana.


“Sedang ke kamar mandi sebentar, tadi dia ikutan ngelatih anak-anak. Ternyata dia juga sangat baik ilmu bela dirinya,” jawab Abah.


“Ya ampun yang lagi jatuh cinta, ilang sebentar aja udah di cariin!” goda Galang lagi.


“Dih, iri bilang bos! Hahaha,”  ucap Ayu, dengan tawa mengiringi perkataannya.


“Seneng ya, ngeledekin kakaknya ....” Galang ternyata masih menjadi bahan kejahilan dari Ayu.


Dari kejauhan Ezra melihat keceriaan Ayu bersama dengan keluarga itu, hatinya menghangat melihat tawa dan senyum tulus, dari wanita yang sangat di cintanya.

__ADS_1


‘Aku akan terus berusaha agar senyum dan tawa itu tidak hilang lagi dari wajah cantikmu, Ayunindia, jika memang harus ada tangis, maka akan aku jadikan itu tangisan kebahagiaan.’ gumam Ezra dalam hati.


Drrt ... drrt ....


Getar ponsel di saku celananya mengalihkan perhatian lelaki itu.


“Mama?” gumamnya saat melihat nomor di layar ponselnya.


“Papa! Mama mana? Rara mau bicara sama Mama?” Bukan lagi wajah Nawang yang ada di layar ponselnya, namun anaknyalah yang kini mengambil alih ponsel sang nenek.


“Mama ada, sebentar ya. Kalau Papa boleh tau, emang Naura mau ngomong apa sama Mama?” tanya Ezra, sambil berjalan menuju ke tempat Ayu berkumpul.


“Ada aja, pokoknya ini urusan perempuan! Papah gak boleh tau!” celoteh anak itu membuat Ezra terkikik geli.


“Yah, kok Papa gak boleh tau sih?Papah kan juga ingin tau,” ucap Ezra dengan muka di buat sedih.


“Papa kata Mama kita itu gak boleh bohong, kalau bohong nanti idung Papa tambah panjang loh! Terus nanti Allah juga gak sayang sama orang yang suka bohong!” ucap gadis kecil itu, seperti seorang guru sedang menerangkan pada muridnya.


“Iya, sayang. Ini mau ngomong sama Mama gak?” goda Ezra pada sang anak.


“Siapa?” Ayu bertanya menggunakan gerakan mulut saja.


“Naura, katanya mau ngomong sama kamu.” Ezra menyerahkan ponselnya pada Ayu.


“Ya, ada apa sayang?” tanya Ayu setelah mengucap salam.


“Mama kata Nenek Mama lebih suka yang mana?” tanya Naura memperlihatkan dua buah pasang perhiasan.


“Eh, memangnya Naura sedang berada di mana? Nenek mana kok Naura sendiri?” Ayu malah mengkhawatirkan calon anak sambungnya itu yang terlihat sendirian di toko perhiasan mewah.


“Nenek ada kok, Mah. Lagi cari yang lain lagi, hihihi.” Naura tampak menutup mulutnya dengan tawa kecil.


“Oh, ya udah. Terserah Naura saja ya, Mama juga bingung, dua-duanya juga bagus,” ucap Ayu.


“Kalau gitu Rara bilang Nenek dulu ya Mah, dadah!” teriak anak itu sebelum mematikan sambungan video callnya.


Setelah Shalat magrib berjamaah, Ayu dan Ezra akhirnya pamit karena takut, nanti sampai di kota terlalu malam.


Acara meminta restu sekalian mengundang Abah dan Ambu pun berakhir dengan membawa doa restu dan beberapa wajangan yang di berikan oleh keduanya.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung....


Terima kasih atas semua doa dan saran dari kalian semua🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2