Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.21 Rumah sakit


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


" Mas, kamu dari mana aja ? Jam segini baru pulang, ponsel juga dari tadi gak bisa di hubungi !" Mala langsung nyerocos ketika ia mendapati suaminya baru saja masuk ke kamar.


" Aku abis lembur. Hp aku lowbet, aku gak sempet cas " jawab Radit lemas, melempar jas di tangannya ke sembarang arah, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Mala memungut jas yang di lemparkan ke atas sofa oleh Radit lalu menyimpannya di kantong laundry, sambil bersungut-sungut mengumpat sang suami.


Beberapa saat kemudian Radit keluar dengan hanya memakai handuk yang di lingkaran di pingganganya.


" Tolong buatan aku kopi " ucapnya berjalan menuju balkon setelah memakai kaos dan celana pendek yang sudah di siapkan oleh Mala.


Radit berdiri di pinggir pagar, kedua tangannya bersidekap dada dengan pandangan lurus ke depan. Dia teringat saat tadi sore ia menghampiri Ayu ke Clarissa boutique.


Flash back...


" Ada apa lagi Bang ?" tanya Ayu yang masih saja duduk di kursi kerjanya.


" Enggak, aku cuman mau liat kamu aja " jawab Radit duduk di depan Ayu.


Fyuh...


Ayu menghela nafas berat, memilih untuk kembali meneruskan pekerjaannya dan mengabaikan lelaki yang masih menjadi suaminya itu.


Satu jam berselang Ayu berdiri, membereskan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang.


" Ay... " Radit memegang tangan Ayu yang sedang membereskan kertas di mejanya.


Ayu menghentikan kegiatannya dan mengalihkan pandangannya pada sang suami.


" Aku mohon Ay.. Cabut kembali gugatan itu dan berikan aku kesempatan kedua, aku janji akan berbuat adil "


Radit ternyata masih belum menyerah untuk meluluhkan kembali hati sang istri.


" Maaf Bang, keputusan aku sudah bulat. Besok hari pertama kita sidang, aku harap Abang tidak mempersulit proses perceraian kita " Ayu melepaskan genggaman tangan Radit.


Tak ada lagi riak keraguan dari wajahnya maupun nada bicara nya.


" Aku mohon Bang, biarkan aku menemukan kebahagiaanku sendiri " ucap Ayu lagi.


Radit menggeleng, hatinya belum bisa merelakan wanita yang telah bersamanya sekian lama, pergi begitu saja dari hidupnya.


Tanpa dia mau menyadari bahwa semua itu adalah hasil dari penghkianatan yang telah ia lakukan pada seorang wanita yang telah mendukungnya dan berada di belakangnya selama ini.


" Mas ini kopinya " ucapan Mala langsung menyadarkan lamunan Radit dan menariknya lagi ke dalam dunia nyata.


Radit melihat wajah Mala yang tampak kesal. Dia mendes*h lelah... ternyata menghadapi dua wanita sekaligus itu sangat melelahkan, terlebih salah satunya sedang hamil muda seperti ini.

__ADS_1


Radit beralih pada perut sang istri yang sudah mulai terlihat membuncit di bagian bawahnya.


" Terima kasih " bisik Radit di telinga Mala, kemudian turun dan berlutut di depan sang istri.


Mengusap perut berisi janin sang anak " Terima kasih sudah hadir " ucapnya lagi sendu.


Kalau bukan karena kehadiran anak ini mungkin saat ini dirinya masih bahagia bersama Ayu.


Tapi pantaskah Radit memikirkan semua itu di saat semua ini terjadi memang karena kebodohan dirinya sendiri.


Apa lagi sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang Ayah, sesuatu yang sudah lama dia inginkan.


Ya... Awalnya Radit hanya berniat main-main saja dengan Mala, untuk mendapatkan suasana baru. Tapi karena akhirnya sahabat dari istrinya itu mengandung, maka ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah mereka berdua perbuat.


.


.


" Mba... "


" Kamu kenapa Ris ?" panik Ayu melihat sang asisten masuk ke ruangannya sambil menangis.


" Mba... Ibu, ibu jatuh dan sekarang sedang di bawa ke rumah sakit sama tetangga " ucapnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


" Ya udah, ayo kita susul langsung ke rumah sakit, biar butik di jaga Sekar sama Wanda aja " Ayu langsung berdiri dan menyambar tas juga kunci mobinya.


" Makasih Mba " ucap Riska mengikuti Ayu di belakang.


" Sudah, sekarang lebih baik kamu tenangkan diri kamu dulu, kamu harus kuat demi adik kamu. Kalau dia liat kamu lemah bagaimana dengan dia nantinya " ucap Ayu setenang mungkin walau tak di pungkiri kalau dirinya sendiri merasa khawatir.


Ayu langsung mengemudikan mobil nya dengan kecepatan yang cukup tinggi menuju rumah sakit yang di sebutkan oleh Riska barusan.


Sampai di rumah sakit Ayu langsung menurunkan Riska di lobby sedangkan dirinya memarkirkan mobil dulu.


" Ayu, sedang apa di sini ?" Suara seseorang di belakangnya mengagetkan Ayu yang baru saja menutup pintu mobil.


" Eh... Pak Ansel, saya sedang mengantar teman saya, Bapak sedang apa di sini ?" tanya Ayu mengingat ini bukan rumah sakit tempat Ansel bekerja.


" Saya mau bertemu teman yang kebetulan bertugas di rumah sakit ini " jawab Ansel.


Mereka berdua akhirnya masuk ke rumah sakit bersama-sama sambil berbincang hangat.


Entah mengapa Ayu merasa nyaman berada di samping Ansel, tapi Ayu sadar kalau Ansel bukanlah lelaki sendiri yang bisa bebas bertemu dengan lawan jenis sepertinya.


Sebisa mungkin Ayu menjaga jarak dari sosok lelaki yang mengingatkan nya pada masa kecilnya bersama dengan sang Kakak.


Begitupun juga dengan Ansel, ia merasakan sesuatu yang berbeda kepada Ayu, tapi ia cukup tau kalau itu bukanlah rasa suka terhadap lawan jenis, tapi entah mengapa hatinya menghangat setiap kali dia berada di dekat wanita yang bahkan baru beberapa kali di temuainya.


" Saya ke UGD dulu pak " pamit Ayu, saat mereka sudah masuk ke dalam rumah sakit.


Ansel mengangguk.

__ADS_1


Hufth....


Ansel membuang nafas kasar, lalu berjalan menuju lift untuk naik ke lantai khusus kantor.


" Kakak kangen kamu Nindi, semoga kamu baik-baik aja di manapun kamu berada sekarang " gumam Ansel dalam hati.


" Bagaimana keadaan Ibu Ris ?" tanya Ayu pada Riska yang sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang UGD. Di sampingnya ada sosok remaja yang masih memakai baju sekolahnya kepala nya menunduk dalam.


" Mba, kata dokter Ibu harus di operasi pemasangan pen di kakinya " ucap Riska menatap sendu wajah cantik bosnya itu.


" Ya udah kamu setujui saja, urusan biaya biar Mba yang urus ya " Ayu duduk di sebelah Riska.


Ayu tau masalah yang saat ini di hadapi oleh keluarga Riska adalah keuangan.


" Tapi Mba,pasti uangnya akan sangat banyak, gimana saya bisa membayar nya ?" kalut Riska.


" Udah itu gak usah di pikirkan, yang penting sekarang Ibu kamu di tangani dulu " Ayu mengusap lembut punggung Riska.


" Terima kasih Mba, aku gak tau harus bagaimana lagi membalas semua kebaikan Mba selama ini " Riska kembali meneteskan air matanya, merasa terharu dengan kebaikan Ayu.


" Kamu temenin Mba kek kasir "


" Rio bisa tunggu di sini sebentar ya " Ayu beralih pada remaja yang tak lain adalah adik dari Riska.


" Iya Mba " jawab lirih remaja lelaki yang tampak sangat terpukul dengan kejadian itu.


Riska dan Rio hanya memiliki sang Ibu karena Ayahnya sudah meninggal sejak sang adik masih sekolah di sekolah dasar.


Sejak saat itu Ibunya harus banting tulang untuk menghidupi kedua anaknya, hingga akhirnya Riska terpaksa putus sekolah sampai sekolah menengah pertama dan membantu sang Ibu bekerja.


Sampai suatu hari Riska di pertemuan dengan sosok Ayu yang dengan suka rela membiayai sekolahnya hingga lulus SMA.


karena merasa tidak enak akhirnya Riska sering membantu Ayu untuk menjaga butik yang saat itu baru saja buka setelah pulang sekolah.


Sedangkan Ibu Riska bekerja menjadi salah satu tukang jait baju di tempat Ayu.


Tempat itu berada di bekas rumahnya dan sang Ibu. Hanya saja sudah dua hari ini Ibu Riska tidak masuk karena tidak enak badan.


Ayu dan Riska akhirnya menyelesaikan segala administrasi dan biaya yang harus di bayar, tidak lupa uang deposit rawat inap yang juga harus di bayar saat itu juga.


Tak jauh dari tempat Ayu, Ansel yang baru saja keluar dari lift bersama dengan temannya terlihat memperhatikan keberadaan Ayu.


" Inget bini Bro " tepuk sang teman yang melihat arah pandangan Ansel.


" Sial*n loe " umpat Ansel tanpa mau menyangkal sendirian dari sang teman.


...🌿...


...🌿...


......Bersambung.........

__ADS_1


...🙏😊😘...


__ADS_2