Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab. 198 Dedek Bayi


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


"Mba, sebenarnya ... aku ... aku merasa, Bang Keenan masih belum bisa menerima kehadiranku di dalam kehidupannya," lirih Riska.


Ayu mengernyit, dia mentap Riska dengan penuh tanya.


"Tidak bisa menerima kamu bagaimana, Ris? Apa selama ini, Keenan tidak menganggap kamu sebagai istri?" tanya Ayu.


Saat ini, Ayu benar-benar seperti orang yang tidak tahu apa-apa tentang hubungan rumah tangga Keenan dan Riska.


Riska menggeleng, matanya menatap Ayu dengan begitu dalam. Ayu pun balas menatap asistennya itu, hingga dia melihat perubahan di dalam mata Riska.


"Abang selalu terlihat baik-baik saja saat di apartemen, atau bersamaku selama sebulan ini. Bahkan aku sudah mulai membuka hati untuknya." Riska menjeda ucapannya dengan helaan napas panjang.


"Tapi, dua hari yang lalu aku mulai melihat ada yang janggal. Abang, tidak menepati janjinya, bahkan berbohong dan pulang malam." Riska menundukkan kepala, saat mengatakan itu. Tak sanggup melihat mata wanita yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.


Ayu masih terdiam, dia tak menimpali perkataan Riska. Saat ini dia hanya ingin menjadi pendengar dahulu, hingga Riska selesai mencurahkan isi hatinya.


"Aku takut kalau sebenarnya di luar sana, Abang sudah mempunyai perempuan lain dan sebenarnya akulah di sini yang menjadi penghalang di dalam hubungan mereka, Mba."


Riska meremas ujung baju yang ia kenakan, untuk meredam rasa sakit, saat bayangan Keenan yang menyebut nama orang lain di dalam tidurnya dan juga foto yang ia temukan di bawah meja kerja suaminya itu melintas.


"Aku ... aku bingung, Mba. Aku harus bagaimana? Apa aku harus menyerah kalau nanti Abang memang memilih wanita lain, atau aku tetap mempertahankan posisiku ini? Sedangkan aku juga tidak tau perasaan Abang kepadaku," tanya Riska.


Kini dia memberanikan diri untuk mengangkat lagi kepalanya dan menatap wajah Ayu sepenuhnya.


Ayu tersenyum hangat pada Riska, ia bisa melihat genangan air mata yang terkumpul di pelupuk mata asistennya itu.


"Kamu, sudah jatuh cinta sama Keenan, Ris?" tanya Ayu, yang membuat tubuh Riska menegang.


Ayu tersenyum lagi, saat ia tak mendapatkan jawaban dari sang asisiten sekaligus adik iparnya itu. Tangannya terulur untuk mengusap pundak Riska, berusaha memberi kekutan untuk Riska, dalam menghadapi cobaan rumah tangganya dengan Keenan yang masih sangat awal itu.


"Kamu tidak perlu menjawab semua pertanyaan Mba, jika memang masih belum pasti. Tapi, Mba harap, kamu mau mendalami perasaan kamu sendiri pada suamimu itu. Jangan terburu-buru terbawa emosi hingga membenarkan prasangka yang belum jelas kebenarannya," ujar Ayu.

__ADS_1


"Apa kamu sudah bertanya langsung pada Keenan, tentang alasan dia berbohong, juga mengungkapkan kegundahan hati kamu?" tanya Ayu lagi.


Riska menggeleng, dia bahkan tidak berniat untuk bertanya pada Keenan langsung. Dia takut akan menyinggung perasaan suaminya, walau rasa penasaran begitu besar di dalam dirinya.


Ayu kembali tersenyum, di tahu kalau ini adalah pertama kalinya Riska menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Akan sangat wajar jika Riska mengalami kebingungan dalam mengungkapkan perasaannya pada pasangannya, apa lagi hubungan mereka masih sangat baru.


"Kalau Mba boleh kasih saran, coba kamu tanya pada Keenan, apa yang terjadi sebenarnya. Menurut Mba, itu akan lebih baik untuk kalian berdua. Ini juga baru kesalahan pertama Keenan, bukan?" ujar Ayu.


Riska terdiam, dia menimbang apa yang dikatakan Ayu barusan. Dalam hati dia membenarkan saran dari Ayu, hanya saja sepertinya cukup berat untuknya bertanya terlebih dulu pada Keenan.


"Bukan Mba, berada di pihak Keenan atau mendukung salah satu dari kalian, hanya saja sering kali rumah tangga itu hancur hanya karena kurang berkomunikasi atara pasangan, hingga menimbulkan kesalahpahaman yang akan semakin besar dan meluas di dalam sebuah keluarga," ujar Ayu, kembali memberi penjelasan.


Dia teringat masalah kedua orang tuanya yang juga diakibatkan dengan kurangnya komunikasi, juga prasangka sepihak tanpa adanya usaha untuk mengkonfirmasi pada orangnya langsung.


"Pernikahan kalian masih sangat awal, Ris. Kalian berdua bahkan masih dalam tahap adaptasi satu sama lain. Sangat wajar kalau terjadi kesalahpahaman. Tapi, jangan sampai kamu ataupun Keenan, membiarkan kesalahpahaman itu menjadi semakin membesar, tanpa adanya komunikasi yang jelas dan konfirmasi dari satu sama lain."


Ayu tersenyum, dia melihat sekilas wajah sang anak yang sudah terlelap dan melepaskan sumber makanannya. Membetulkan posisi agar anaknya itu merasa nyaman.


"Iya, Mba. Mba benar ... tapi, bagaimana jika Abang msih saja bohong dan memberikan berbagai macam alasan?" tanya Riska.


Riska mengangguk, seiring pintu ruangan yang terbuka lebar, bersamaan dengan suara nyaring seorang gadis cilik.


"Asalamulaikum! Mama!" teriak Naura yang baru saja datang.


Ayu dan Riska langsung mengalihkan pandangannya pada anak sambung Ayu itu. Wajah ceria dengan semangat tinggi, begitu terlihat di wajah cantik Naura pagi ini.


"Waalaikumsalam," jawab Ayu dan Riska dengan senyum yang mengembang.


Ayu langsung memberikan bayinya pada Riska, lalu merentangkan tangannya untuk menyambut kedatangan putri sulungnya itu.


Naura tersenyum lalu menghambur ke dalam pelukan sang mama.


"Mama, Rara kangen banget sama, Mama," ujar manja Naura sambil menduselkan wajahnya di ceruk leher Ayu.


"Mama juga kangen banget sama Naura. Gimana, tadi malam rewel gak?" tanya Ayu, sekarang lebih fokus pada Naura, sedangkan Nawang yang datang di belakang Naura, sedang mengambil alih cucu keduanya dari tangan Riska.


"Gak, aku baik kok. Iya kan, Nek?" tanya Naura menatap Nawang yang kini tengah duduk di depan Ayu.

__ADS_1


"Iya, Naura baik kok. Kan sekarang Naura sudah jadi kakak," jawab Nawang.


Mendengar perkataan Nawang, Naura langsung menatap wajah Ayu, lalu beralih pada perut mamanya itu, kemudian melihat sang nenek yang tengah menggendong bayi.


"Mah, itu adiknya Rara?" tanya Naura, dengan wajah bingung bercampur sumringah.


"Iya, itu dede bayi yang kemarin masih ada di perut Mama, sekarang dede bayinya sudah lahir, coba Naura lihat," ujar Ayu.


Naura mengurai pelukannya pada Ayu, lalu menghampiri Nawang, dengan perhatian tertuju pada bayi di dalam pangkuan neneknya itu.


"Nenek, ini adiknya Rara? Wah lucu banget, kayak boneka," ujar polos Naura yang langsung membuat semua orang di ruangan itu tersenyum.


"Boleh pegang, gak?" tanya Naura lagi, menatap wajah Nawang dan Ayu bergantian.


"Boleh, tapi, hati-hati ya. Dedek bayinya masih sangat rentan, jadi usap lembut saja, ya," nasehat Nawang.


Naura mengangguk, perlahan tangannya terulur dan mengusap pipi halus bayi lelaki yang merupakan adiknya itu.


"Wah, halus banget," ujar Naura dengan ekspresi yang begitu kagum.


"Boleh cium?" tanyanya lagi.


"Boleh dong," ujar Nawang, dia kemudian sedikit memajukan bayi di tangannya agar Naura bisa dengan mudah menciumnya.


Satu kecupan berhasil mendarat di pipi kemerahan milik bayi kecil itu, disambut dengan tawa bahagia Naura.


"Sshhh, pelan-pelan ya, sayang. Dedek bayinya kan lagi bobo," ujar Nawang, berusaha memberi pengertian kepada cucunya dengan cara halus.


"Ups, maaf, Nek. Rara lupa," ujar Naura, langsung memebekap mulutnya dengan kedua tangan, matanya pun melebar menandakan keterkejutan.


Semua orang dewasa yang berada di dalam ruangan itu terkekeh kecil, melihat tingkah lucu dan polos Naura. Sedangkan bayi kecil yang sejak tadi tertidur, tak terlihat terganggu sedikit pun.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2