
...Happy Reading...
...❤...
Semua acara pernikahan dadakan antar Riska dan Keenan sudah selesai, saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang di dalam mobil yang dikendarai Ezra. Keempat orang itu masih terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Keenan yang berada di samping Ezra hanya menyandarkan tubuhnya, dengan pandangan kosong, menatap ke depan di mana jalanan masih terlihat ramai, karena menjelang akhir pekan esok hari.
Bayangannya pada saat Riska tak sadarkan diri setelah akad nikah terbayang di kepala, berbagai prasangka pun mengikuti di dalam pikirannya.
Flash Back.
"Astagfirullah, Riska?!" Ayu terpekik saat melihat tubuh asistennya itu luruh ke lantai, menyadarkan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Keenan yang tengah mengaminkan doa, langsung meraih tubuh istrinya itu, begitupun dengan Ayu dan Ezra yang langsung mendekat.
Sejak tadi, Ayu memang sudah khawatir pada Riska karena wajahnya yang terlihat pucat, hanya saja saat dia menanyakan itu, Riska hanya menggeleng dan tersenyum sambil berkata 'tidak apa-apa'
"Dia tidak apa-apa, ini hanya karena perutnya kosong, ditambah dia juga dehidrasi hingga mengakibatkan tekanan darahnya terlalu rendah, semuanya akan baik-baik saja."
Penjelasan dari bidan desa itu, menyadarkan Keenan kalau sejak kemarin sore, mereka belum menyentuh air atau makanan sedikitpun. Dia juga tidak tahu kapan terakhir kali Riska makan di hari kemarin.
"Tadi kami sudah menyediakan makanan dan minum sebelum dia di rias, hanya saja dia menolak."
Penjelasan dari salah satu warga, membuat rasa bersalah Keenan semakin besar, sepanjang hari ini dia terlalu sibuk dengan perasaannya sendiri sampai lupa memperhatikan Riska.
Ezra menariknya untuk menjauh dari perkumpulan para warga, setelah melihat Riska sadar dan lebih tenang berada di samping Ayu.
"Sekarang kamu sudha menjadi seorang suami. Hidupmu bukan melulu tentang dirimu sendiri, kamu juga bertanggung jawab atas hidup orang lain yang kini sudah menjadi istrimu. Aku berharap kamu bisa menerima dan menjalani semua ini dengan sebaik-baiknya, Ken," ujar Ezra, menatap sang adik dengan sorot mata penuh harap.
"Aku berharap kamu bisa membuka hatimu untuk Riska, dia gadis yang baik ... lupakan masa lalu, Ken! Jadikan kehadiran Riska sebagai alasan untuk kamu melupakannya. Dia sudah tidak pantas berada di dalam hatimu, kamu juga harus ingat kalau saat ini Riska lebih berhak untuk mendapatkan semua hati dan perhatianmu. Jangan menyalahkan satu sama lain, karena sebenarnya kalian sama dalam kasus ini, sama-sama menjadi korban dari keadaan."
"Aku harap kejadian ini bisa membawa kebaikan untukmu ke depannya, Ken. Kamu sudah pasti tahu, rencana Tuhan tidak akan pernah salah, Dia sudah pasti tahu apa yang tebaik untuk kita, walau terkadang yang Dia berikan bukanlah apa yang kita inginkan atau harapkan." Ezra menghela napas berat, menjeda sebentar perkataannya.
"Aku tau kamu bisa menghadapi semua ini ... kamu kuat, Ken. Kalau kamu bisa menyimpan nama yang telah memberikanmu luka begitu lama di dalam hatimu, kenapa kamu tidak bisa membuka hatimu untuk nama yang memang berhak berada di dalam sana? Bukankah itu akan lebih baik untuk Riska juga untukmu sendiri dan kehidupan rumah tangga kalian berdua kedepannya?"
__ADS_1
"AKu tidak meminta secepatnya, Ken. Aku hanya meminta kamu untuk berusaha. Berusaha untuk menerima Riska sebagai istrimu atas takdir yang telah digariskan Tuhan, juga melupakan masa lalu yang menyakitkan itu dan menjadikannya pelajaran untuk dirimu kedepannya. Urusan bagaimana ke depannya, kita tinggal jalani apa yang sudah ada, dengan perasan ikhlas, agar kehidupan kita akan tetap baik-baik saja." Ezra menepuk pundak adiknya itu berulang, memberikan kekuatan dan dukungan untuk Keenan.
"Jika kamu butuh tempat mengeluh atau bantuan, kamu tau ke mana harus mencariku 'kan? Aku akan selalu ada untukmu, bukan hanya aku bahkan istriku dan kedua orang tua kita juga akan selalu siap untuk berada di sampingmu dan belakangmu. Mendukung dan membantumu untuk terus melanjutkan hidup dan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kamu percaya itu, bukan?" ujar Ezra mengakhiri perkataannya begitu melihat ada seorang warga yang menghampiri keduanya.
" Iya, Kak ... aku tau. Terima kasih, Kak. Kakak selalu ada untukku ... aku akan berusaha. Doakan aku agar bisa menerima semua ketetapan Tuhan atas kehidupanku," jawab Keenan, menatap wajah Ezra dengan senyum tipis di bibirnya.
"Kamu memang adikku. Walaupun ini senua terasa berat, aku tau kamu bisa. Kamu tak peru meminta karena doa dariku, Ken ... namamu selalu aku selipkan di dalam setiap doaku." Ezra balas tersenyum bangga pada sang adik.
Flash back off
Mereka lebih dulu pergi menuju rumah Riska untuk meminta maaf pada ibunya, sekaligus meminta restu atas pernikahan dadakan itu.
Senja menyambut kedatangan sepasang pengantin baru itu di rumah sederhana keluarga Riska. Ibu Riska langsung menangis sambil memeluk anak sulungnya itu, begitupun dengan Riska yang menumpahkan kesedihannya di dalam pelukan sang ibu.
"Maafkan aku, Bu. Aku sudah mengecewakan, Ibu," gumam lirih Riska di dalam pelukan ibunya.
"Tidak, kamu tidak pernah mengecewakan Ibu, Nak. Justru Ibu yang harus meminta maaf, karena telah memberikanmu tanggung jawab yang begitu besar padamu selama ini," jawab Ibu Riska sambil mengelus rambut Riska dengan sesekali mencium puncak kepala anak sulungnya itu.
Rio yang melihat itu juga ikut menundukkan kepalanya, dia juga ikut merasa bersedih karena dialah alasan utama Riska bekerja banting tulang sejak remaja. Riska ingin menyekolahkannya, Riska tidak mau Rio menjadi putus sekolah sama sepertinya.
Setelah semuanya tenang, sekarang mereka tengah duduk di ruang tamu sederhana rumah kecil keluarga Riska.
Air mata terus keluar dari sepasang ibu dan anak itu, bahkan setelah Keenan menyelesaikan ceritanya dan langsung disambut oleh permintaan maaf Ezra, yang tidak bisa mencegah pernikahan itu terjadi, walau dirinya berada di sana.
"Pak Ezra, tidak usah meminta maaf, ini semua memang sudah takdir mereka berdua, ibu sudah ikhlas mnyerahkan Riska pada Nak Keenan. Ibu hanya bisa berpesan untuk menjaga Riska dan sayangi anak ibu," ujar ibu Riska.
"In Sya Allah, Bu. Kami akan berusaha yang terbaik untuk itu," ujar Ezra yang diangguki oleh Keenan dan Ayu.
Semua masalah sudah selesai, Ayu dan Ezra akhirnya pamit dari rumah Riska, sedangkan Keenan memilih untuk menginap dulu di sana bersama dengan Riska, mengingat kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah.
Keenan juga mengerti kalau saat ini Riska masih membutuhkan sang ibu untuk menenangkan perasaannya. Akan tetapi rasanya tidak baik jika dia juga meninggalkan gadis itu menginap sendiri di rumah orang tuanya, sedangkan mereka baru saja menikah.
.
Ayu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, badannya terasa begitu lelah setelah kejadian mengejutkan hari ini. Semuanya terasa begitu mendadak hingga rasanya bukan hanya tubuh, tetapi, hati dan pikiran juga ikut merasakan lelah yang sama.
Ezra keluar dari kamar mandi, dia melihat istrinya yang sedang menutup mata dengan tubuh bersandar, dia tahu kalau Ayu pasti merasa lelah karena mengikutinya mengurus masalah Keenan dan Riska.
__ADS_1
"Sayang, kamu pasti capek ya? Sini aku pijat kakinya." Ezra mengambil minyak zaitun yang selalu dia sediakan di atas meja rias, semenjak kehamilan istrinya semakin membesar, hingga sering merasa pegal di pinggang juga kakinya.
Mengangkat kaki istrinya dan ia pindahkan pada pangkuannya. Ayu membuka matanya dan beringsut menjauh, dia hendak memindahkan kakinya dari pangkuan Ezra. Akan tetapi, Ezra langsung menahan kaki Ayu agar tetap berada di sana.
"Mas, gak usah. Nanti biar aku saja sendiri," ujar Ayu, merasa tidak enak.
"Diam dulu, untuk sekarang biar aku yang mengoleskannya ya, selama ini kamu selalu menolak kalau aku mau membantumu, sekarang biarkan aku memanjakan istriku sendiri. Lagi pula kamu juga pasti sangat lelah, jadi diam dan nikmati saja, oke," lembut Ezra, sambil mulai mengoleskan minyak Zaitun pada kaki Ayu dan memijatnya dengan gerakan halus dan terukur. Selama ini, Ayu memang selalu menolak bila Ezra ingin membantunya mengoleskan minyak Zaitun pada kakinya. Dia hanya membolehkan Ezra membantu di bagian pinggang.
"Tapi, Mas, juga pasti cape 'kan? Seharian ini menyetir ke sana ke mari, belum lagi mengurus Keenan," ujar Ayu, masih mencoba menolak Ezra.
"Enggak, aku gak cape sama sekali. Apa lagi ini untuk istriku yang cantik ini," goda Ezra mengerlingkan salah satu matanya.
"Apa sih, Mas. Gombal banget," cebik Ayu dengan pipi yang memerah.
"Eh, aku gak gombal ya, ini semua memang kenyataan ... kamu adalah wanita cantik yang sangat aku cintai. Saking canyiknya hingga aku tidak bisa melihat wanita di luar sana selain istriku kamu. Aku berharap jodoh kita tidka akan pernah putus sampai kapan pun, hingga maut pun tidak bisa memisahkan kita," ujar Ezra malah makin semangat untuk menggoda Ayu, walau sebenarnya semua yang dia ucapkan memang benar adanya. Harapan untuk membina rumah tangga dengan Ayu sampai maut memisahkan itu selalu ada di dalam hatinya.
"Mas, udah ih!" Ayu menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Kenapa suaminya ini pandai sekali berkata-kara manis sampai membuat dirinya tak bisa mengontrol hatinya? Untung hanya padanya Ezra bersikap seperti itu, Ayu yakin bila suaminya itu melakukan hal yang sama kepada wanita lain di luar sana, maka tidak akan pernah ada yang lolos dari jerat pesona suaminya itu.
Ezra terkekeh melihat Ayu yang sudah salah tingkah karena rayuannya, istrinya itu di luarnya saja terlihat pendiam dan madiri, padahal hatinya begitu lembut, hingga kata rayuan kecil saja sudah bisa membuat mukanya memerah.
"Baiklah, aku diam sekarang," ujar Ezra setelah meredakan kekehannya.
Ayu memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan Ezra yang ternyata terasa sangat nyaman, kakinya yang terasa pegal perlahan mulai sembuah. Pembicaraan ringan khas suami istri pun terdengar di kamar mereka berdua, hingga tawa dan canda membuat keduanya seakan hanyut dalam rasa cinta yang sama besarnya.
Ezra menghentikan gerak tangannya setelah mendengar napas teratur dari sang istri, dia tersenyum sambil melihat wajah tenang Ayu yang kini sudah terlelap. Memindahkan kaki Ayu dari pangkuannya dengan sangat hati-hati, lalu menyelimutinya.
Ezra beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci tangan, kemudian merebahkan diri di samping Ayu, dia mengecup kening, kedua mata, hidung, pipi dan terakhir bibir istrinya. Setelah itu mengusap lembut perut buncit Ayu lalu memberikan kecupan di sana juga.
Akhirnya sepasang suami istri itu terlelap bersama dengan Ezra yang memeluk posesif Ayu.
...🌿...
Ada yang penasaran sama malam pertama Keenan dan Riska gak nih?🤭
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...