Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.43 Drop lagi


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


"Papa, aku mau ketemu Aunty," rengek Naura saat sang ayah baru saja pulang.


"Sayang, ini kan sudah malam, besok saja yah," rayu Ezra sambil mengendong sangat anak, dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Memang, sejak di danau beberapa hari yang lalu, Naura dan Ayu belum bertemu kembali.


"Zra, sebaiknya kamu bawa saja Naura pada Ayu, sejak sore tadi, dia terus merengek minta ketemu sama Auntynya," Nawang yang baru saja keluar dari kamarnya langsung berbicara pada sang anak.


Ezra melihat sang ibu yang sudah rapih, di belakangnya ayahnya berjalan dengan tampilan formal.


"Ayah, sama Mama, mau ke mana?" Ezra bertanya.


"Ayah kamu ada reuni sama teman kuliahnya. Kalau mama gak ada acara, Naura sudah Mama bawa dari tadi, buat ketemu sama Ayu" jawab Nawang panjang lebar.


"Tapi, Ezra enggak enak, Ma. Ini kan udah malam," ucapnya.


"Coba telpon dulu aja orangnya, kamu kan tau sendiri, kalau anak itu sudah mau ketemu sama Auntynya itu," perintah Nawang.


"Baiklah," angguk Ezra.


Dia tau, bagaimana sang anak bila sudah mempunyai kemauan, yang ada dirinya akan jadi bahan pelampiasan rajukan sang anak, nanti.


"Sekarang, sayangnya Papa, tunggu di sini yah, Papa mau mandi dulu," ucap Ezra, menurunkan sang anak di atas ranjang King size miliknya.


"Eum," angguk Naura.


Tiga puluh menit kemudian, ayah dan anak itu sudah siap untuk berangkat menuju rumah Ayu.


"Kenapa dia tidak bisa di hubungi?" gumam Ezra di sela mengemudikan mobil, menuju rumah Ayu.


Jam delapan malam, akhirnya sampai di depan rumah yang di tuju.


Pintu gerbang belum di kunci, sehingga memudahkan Ezra untuk masuk ke dalam.


"Ceroboh sekali, kenapa pintu gerbang tidak di kunci?" umpat Ezra dalam hati.


Tok ... tok ... tok ...


"Aunty..!" dengan semangat, Naura mengetuk pintu rumah Ayu.


"Ucapkan salam sayang," tegur Ezra.


"Hehe... iya Pa, Rara lupa," jawab bocah kecil itu dengan tersenyum penuh, hingga menampilkan deretan gigi putihnya.


"Assalamualikum... Aunty, ini Rara..!" teriak anak berusia enam tahun itu sambil terus mengetuk pintu.


Klek...


Pintu tiba-tiba terbuka sedikit, ketika terdorong oleh Naura.

__ADS_1


"Ya ampun, pintu juga tidak di kunci," geleng Ezra, tidak habis pikir.


Bagaimana ada seorang perempuan begitu ceroboh, sehingga tidak mengunci pintu, saat hanya seorang diri di dalam rumah.


"Kenapa seperti ada yang menahan pintu ini?" gimam Ezra dalam hati, saat akan membuka pintu, tetapi tak bisa, karena ada sesuatu yang menahannya dari dalam.


Perasaan Ezra, mulai khawatir, takut terjadi sesuatu di dalam sana.


"Aunty..! ... Papa, itu Aunty...!" seru Naura yang melihat dari sela pintu yang terbuka.


Dengan sigap Ezra langsung mengikuti apa yang Naura lakukan.


Betapa terkejutnya ia, saat mendapati sosok yang sedang di cari olehnya, ternyata telah terkapar di balik pintu.


"Iya sayang, itu Aunty," jelas Ezra mencoba untuk mendorong pintu, lebih keras lagi.


"Aunty kenapa, Pa? Kenapa Aunty tidur di lantai?" tanya Naura.


"Aunty gak papa, sayang." jawab Ezra sambil terus berusaha membuka pintu, dengan hati-hati, agar tak melukai Ayu.


Beberap saat kemudian, Ezra sudah berada di dalam mobilnya kembali dengan Ayu yang tak sadarkan diri, dan suara tangis Naura.


"Aunty kenapa, Pah, kenapa Aunty enggak bangun?" tanya Naura, dengan linangan air mata.


"Aunty baik-baik saja, sayang." jawab Ezra sambil terus masih mengemudi dengan kecepatan tinggi.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Ezra sudah berada di lobby sebuah rumah sakit.


Untuk kedua kalinya, dirinya pergi ke rumah sakit dengan membawa seorang perempuan yang sama, walau, dengan kondisi berbeda.


"Aunty sakit apa, Pah?" tanya sang anak di sela isak tangisnya.


Saat ini mereka berdua sedang berada di selasar rumah sakit, menunggu Ayu yang sedang di periksa di ruang UGD.


.


Di tempat lain, tepatnya di rumah besar milik Ansel, lelaki itu terus bergerak gelisah, perasaannya terus tidak tenang setelah meninggalkan sang adik tadi sore.


"Tenang dulu, Mas. Aku yakin Ayu wanita kuat, dia akan baik-baik saja," Elena membawakan teh hangat untuk sang suami.


Berharap, sedikit membantu suaminya menenangkan perasaannya, walaupun dirinya sendiri sangat gelisah, memikirkan sang adik ipar.


Dia tidak bisa membayangkan perasaan Ayu saat ini, di saat gadis malang itu tau, bahkan ayahnya sendiri tak menyadari keberadaan dirinya.


"Bagiaman kalau kamu telepon Ezra atau Keenan saja, untuk melihat keadaan Ayu di rumahnya?" tanya Elena memberi saran.


"Tapi ini sudah malam, tidak enak kalau aku meminta tolong pada mereka," ucap Ansel.


"Aku yakin, mereka mau menolong kamu, Mas. Atau aku saja ya, yang pergi untuk melihat keadaan Ayu?" Elena masih saja mencoba menenangkan hati sang suami.


"Tidak, tidak usah! Biar aku coba hubungi Ezra saja," tolak Ansel cepat.


Elena tersenyum, kemudian mengangguk.


Dua puluh lima menit kemudian, Ansel dan Elena sudah berada di dalam rumah sakit.

__ADS_1


"Bagaiman keadaannya?" tanya Ansel, saat melihat Ezra di dalam ruang rawat inap Ayu.


Ansel melihat Ayu yang sedang terbaring lemah di atas brangkar dengan selang infus di tangannya dan Naura yang tertidur pulas di atas sofa.


"Kata dokter, mungkin selam ini dia kurang istirahat sehingga darahnya sangat rendah dan juga demam," jelas Ezra, melihat Ayu yang masih tak sadarkan diri.


Elena langsung menghampiri Ayu, wajahnya masih terlihat pucat, walau suhu tubuhnya sudah tidak terlalu panas lagi.


Ansel duduk di kursi samping brangkar, menggenggam tangan pucat sang adik, dengan segala perasaan bersalah.


"Maafkan Kakak, Dek," lirih Ansel.


"Dia di berikan obat pemenang, agar bisa beristirahat dengan tenang, setidaknya sampai besok pagi," jelas Ansel lagi.


Beberapa saat kemudian, Ezra pamit pulang, membawa Naura yang sudah tertidur pulas di atas sofa.


Sedangkan Ansel dan Elena, memilih untuk menjaga Ayu di rumah sakit.


Kebetulan Bian sedang menginap di rumah kakek dan neneknya, sehingga mereka leluasa untuk menjaga wanita malang ini.


.


Di tempat dan waktu yang berbeda, tepatnya di kediaman dua insan yang tak lain adalah Radit dan Mala.


Mereka sedang berbincang, tentang masalah keuangan yang sedang mereka hadapi, saat ini.


Akibat dari jabatan Radit yang di turunkan menjadi staf biasa, sekarang mereka sedang kesulitan biaya untuk bertahan dalam gaya hidup yang tinggi.


Mala yang terlahir dalam keluarga yang berkecukupan dan selalu di manjakan, merasa uang yang di berikan oleh Radit terlalu sedikit, sehingga tidak akan mencukupi keperluan rumah tangga mereka, kedepannya.


Di tambah biaya, untuk persiapan melahirkan dan segala kebutuhan calon anak mereka, yang sudah harus siap sebelum hari kelahiran tiba.


Untuk menutupi itu semua, Mala berencana untuk menerima kembali tawaran menjadi model maternity shot dan endorse tentang kehamilan, yang datang kepadanya.


Namun, Radit menolak semua itu, dia bersikeras untuk berusaha mencukupi kehidupan mereka sendiri, tanpa melibatkan sang istri untuk ikut bekerja.


"Ini semua aku lakukan untuk rumah tangga kita, Mas," ucap Mala, masih saja keras kepala dengan kemauan dirinya.


"Aku tetap tidak setuju! Aku masih bisa bekerja lembur, atau mencari kerjaan lain di luar, untuk menutupi semua kebutuhan kita," bantah Radit.


"Untuk sekarang ini, coba kamu terima, apa yang sanggup aku berikan sama kamu. Kurangi dulu shoping dan perawatan tubuh kamu, agar uang yang aku berikan cukup untuk kebutuhan kita selama sebulan." jelas Radit lagi.


"Gak bisa! Pokoknya aku gak mau. Ingat, Mas ... sebelum aku bertemu dengan kamu, aku sudah hidup seperti itu. Jangan coba merubah aku ya, Mas!" tajam Mala, tidak terima.


Radit mengusap wajahnya kasar, menghadapi seorang wanita yang selalu di manjakan oleh keluarganya, menjadikan ego di dalam diri sang istri terlalu besar untuk dia taklukan.


Sedangkan Mala, memilih untuk pergi ke dalam kamar, meninggalkan Radit dengan rasa kesal dan emosi yang berkecamuk di dalam dirinya.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, komen, vote, dan hadiahnya aku tunggu🤭

__ADS_1


...Terima kasih kakak semua🙏😊🥰...


__ADS_2