
...Happy Reading...
...❤...
"Ayo ... aku gak mau kalau kali ini sampai gagal lagi," ujar Riska lagi, menarik Keenan sekuat tenaga.
"Iya-iya, ayo," Keenan pun akhirnya mengikuti keinginan Riska.
Dis saat sebagian penghuni hotel masih terlelap, Keenan dan Riska sudah berjalan ke luar, hanya untuk berjalan-jalan di laut sambil menunggu matahari terbit.
Begitu mereka keluar dari pintu lobi, udara dingin dengan aroma khas laut ketika pagi, langsung menyambut keduanya.
"Hemmh ... udaranya segar banget ya, Bang?" Riska melihat suaminya yang sedang menaikkan resleting jaketnya.
"Ini bukan segar lagi, tapi dingin, sayang," jawab Keenan, sambil merangkul pinggang istrinya dan menariknya untuk mendekat kepadanya.
"Ih, apa sih, Bang? Aku suka udaranya." Riska malah melepaskan tangan Keenan dan menjauh dari suaminya.
"Ayo, kita ke pantai sekarang!" ajak Riska penuh semangat, sambil menautkan tangannya dengan tangan Keenan.
"Begini saja sudah cukup, aku senang kalau, Abang, pegang tangan aku di depan umum," imbuhnya lagi dengan senyum mengembang.
Keenan melihat wajah bahagia sang istri, dia pun ikut mengeratkan jari jemarinya di tangan Riska, agar terasa lebih kuat.
Keduanya akhirnya berjalan sambil saling menggengggam tangan.
Sampai di garis pantai, ternyata sudah cukup terang, keduanya pun mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk mereka menunggu matahari terbit.
"Di sana, gimana?" tanya Keenan, menunjuk sebuah tempat yang tampaknya akan nyaman untuk keduanya.
Riska melihat arah telunjuk suaminya, dia pun mengangguk menyetujui pilihan suaminya itu.
"Bagaimana kalau kita berfoto dulu?" Riska sudah mengeluarkan ponselnya, bersiap untuk mengambil foto bersama sang suami.
"Memang, harus berfoto ya?" tanya Keenan, seolah dia enggan.
"Iya dong, ini kan pertama kalinya aku datang ke Bali," jawab Riska.
"Begitu ya?" Keenan mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan masih berpikir.
Tanpa Keenan tahu, Riska sudah mengangkat ponselnya, bersiap untuk berfoto selfi.
Tanpa diduga, Keenan malah memalingkan wajahnya dan mecium pipi sang istri, tepat saat kamera ponsel di tangan Riska mengambil gambar.
__ADS_1
Riska langsung menatap Keenan dengan wajah yang menampilkan semburat merah, dia bisa melihat dengan jelas gambar yang ada di ponselnya saat ini.
"Abang, sengaja ya?" tanya Riska.
"Emh, gimana ya ... sengaja atau tidak ya?"
Bukannya menjawab, Keenan malah bertanya kembali pada Riska.
"Coba lihat sini fotonya ... kalau jelek aku bilang kebetulan, kalau bagus aku bilang sengaja," Keenan mengambil ponsel Riska dengan secepatnya.
"Eh, Abang! Siniin ponsel aku!" Riska berusaha mengambil ponselnya di tangan Keenan.
"Coba saja klau kamu bisa! Ayo sini tangkap aku!" Keenan mengangkat tingggi ponsel milik istrinya dan berjalan menjauh.
"Abang! Tungguin!" Riska sedikit berteriak, sambil mengejar Keenan.
"Ayo sini, kejar aku, sayang!" Keenan masih saja berjalan dengan langkah lebarnya.
Riska terus mengejar sambil mengangkat kedua tangannya untuk mengambil ponsel di tangan Keenan.
Saking serunya dan fokus pada pasangannya masing-masing, keduanya bahkan tak menyadari kalau kini pantai sudah mulai ramai dan mata hari pun sudah hampir terbit.
Beberapa di antara para pengunjung bahkan ada yang mengabadikan mereka berdua, yang masih asyik dengan dunianya sendiri.
Tak juga mendapatkan ponselnya, Riska terus mencari ide dan kesempatan untuk mengelabui suaminya.
Refleks Keenan menoleh ke belakangnya dan di saat bersamaan, Riska mengambil ponsel di tangan suaminya.
"Aku dapat, wlee!" ujar Riska sambil menjauh ke dari Keenan.
"Hei, sayang! Kamu curang ya!" Keenan yang baru tersadar, langsung bergantian mengajar Riska.
Keduanya tertawa sambil saling berkejaran, seperti dua orang anak kecil yang sedang bermain.
Para pengunjung pun mulai membicarakan pasangan pengantin yang tergolong masih baru itu.
"Mereka sepertinya senang sekali ya?" tanya seseorang kepada temannya.
"Iya, aku iri deh pada wanita itu, dia beruntung sekali bisa mendapatkan lelaki tampan dan romantis seperti itu," jawab satunya lagi.
Di tempat lain, sepasang kakek dan nenek tua tampak tersenyum sambil melihat kemesraan Keenan dan Riska.
"Semoga mereka berdua bisa langgeng sampai tua seperti kita ya, sayang," ujar sang kakek tua pada istrinya.
"Iya, melihat mereka, aku seperti melihat kita waktu masih muda dulu," jawab nenek tua itu.
__ADS_1
Di sisi lain, Keenan berhasil menangkap Riska.
"Kena kamu, sayang! Hahaha!" Keenan langsung membawa Riska ke dalam gendongannya dan memutar beberapa kali.
"Abang! Udah! Ahahaha," teriak Riska sambil mengeratkan pelukannya pada Keenan.
Setelah merasa puas, akhirnya Keenan menghentikan putarannya, dia memeluk Riska dengan penuh kasih sayang.
"Abang, mataharinya udah terbit," ujar Riska, sambil menunjuk ke arah laut.
Keenan perlahan melepaskan Riska, keduanya memilih duduk di tempat mereka saat itu dan menikmati matahari terbit bersama.
"Wah, indah banget ya, Bang," Riska, memandang takjub keindahan matahari terbit di depannya.
Perpaduan antara warna jingga dari matahari yang mulai muncul ke permukaan, dengan warna biru dari laut di bawahnya, menciptakan suatu bias indah yang tertangkap oleh mata setiap manusia yang sedang menikmatinya.
Keenan tersenyum, melihat wajah berseri sang istri yang begitu menikmati pemandangan pagi ini. merangkul pundak Riska dan membawanya untuk bersandar.
"Iya, dia memang sangat indah, tapi, itu sekuat idak akan berarti untuku, jika tidak ada dirimu di sini," jawab Keenan, dia pun ikut memiringkan kepalanya untuk bersandar di atas kepala Riska, yang berada di bahunya.
Dingin yang tadi terasa pun kini mulai menghilang, berganti dengan kehangatan cahaya mata hari pagi.
Riska tersenyum, hatinya ikut menghangat mendengar kata manis yang diucapkan suaminya itu. Entah kenapa akhir-akhir ini, suaminya itu terdengar manis dan sedikit romantis, walaupun kejahilannya tak perah hilang juga.
"Aku mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu," ujar Keenan, sebelum mendaratkan bibirnya di puncak kepala istrinya.
"Aku juga cinta sama, Abang," balas Riska, dia menutup matanya, saat merasakan kehangatan bibir sang suami.
Mereka berdua pun menikmati pagi itu dengan sungggingan senyum di bibirnya, kebahagiaan pengantin baru, mungkin baru kali ini mereka rasakan, setelah banyaknya cobaan dan pengenalan diri karena disatukan dengan cara yang mengejutkan.
Ya, mungkin begitulah tuhan memberikan sebuah kisah bagi setiap manusia, penuh dengan kejutan dan perjuangan, yang terasa tak mungkin untuk di lalui.
Namun, semua itu akan terlihat indah, bila sudah menjadi sebuah kenangan. Semua pedih yang dilalui pun berubah menjadi senyum, saat semuanya sudah terangkum dalam sebuah kenangan dan kita sudah berdamai.
Walaupun kita pun tidak aknapernah tahu, apa lagi yang akan dihadapi di nanti, esok hari, lusa, minggu depan dan seterusnya.
Waktu akan terus berputar, begitupun dengan jalan kehidupan, tak selamanya kita akan berada di titik teratas, ada kalanya kita harus berada di tengah atau di bawah.
Ya, begitu juga dengan keahgiaan, tak selamaya kita akan terus tertawa, karena arti bahagia itu sendiri akan hilang, bila kita tak pernah marasakan sebuah kesedihan.
Bagaikan manisnya gula yang tidak akan terasa bila kita terus memakannya. Namun akan indah dan lebih nikmat, bila bercampur dengan pahitnya kopi maupun coklat.
...🌿...
Kode dikit ah, siapa tahu ada yang mau ngasih gitu ya, biar lebih semangat nulisnya😂🤭
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...