
...Happy Reading...
...❤...
Sampai di sebuah resto sederhana, tempat Ayu bertemu dengan Pram, Ezra bisa melihat Kalau lelaki paruh baya itu sudah datang terlebih dahulu.
“Assalamualaikum, Yah. Apa kabar?” Ayu berucap sambil mencium lengan Pram.
“Alhamdulillah, Ayah baik. Kamu bagaimana kabarnya? Maaf Ayah tidak sempat datang ke acara pernikahan kalian,” jawab Pram setelah bersalaman dengan Ezra dan mempersilahkan keduanya duduk.
“Aku baik, Yah. Tidak apa-apa ... aku tahu, Ayah memang belum waktunya pulang,” Ayu tampak tersenyum senang.
Ezra menatap interaksi Ayu dan Pram yang terlihat begitu dekat dan hangat, mereka bahkan tidak terlihat seperti mantan menantu dan mertua.
Kedekatan Ayu dan Pram lebih terlihat seperti seorang Ayah dan anak yang sesungguhnya.
Bahkan ia tidak pernah melihat Ayu sedekat ini dengan Larry yang notabene adalah ayah kandungnya.
“Ohya, bukanya sekarang juga bukan waktunya, Ayah pulang?” tanya Ayu saat mengingat waktu libur Pram.
“Ayah pulang karena ada sesuatu yang harus Ayah selesaikan di sini,” jawab Pram.
Dia sama sekali tidak ingin membicarakan kondisi Radit saat ini yang masih berada di rumah sakit.
Melihat mata Ayu yang kembali bersinar dan penuh semangat, sudah cukup membuatnya tahu, kalau saat ini mantan menantunya itu sudah menemukan kebahagiaannya.
Dia tak mau membebani pikiran Ayu kembali dengan kondisi mantan suaminya. Biarlah penderitaan Radit menjadi rahasia keluarganya.
Mereka bertiga tampak makan siang bersama, Ezra pun ikut larut dalam kedekatan antara Ayu dan Pram.
“Aku ke toilet dpam sebentar,” pamit Ayu, saat ia baru saja menghabiskan makan siangnya.
Ezra dan Pram mengangguk bersamaan. Setelah melihat Ayu menghilang di balik tembok, Ezra kembali menatap Pram.
“Sepertinya ada yang mengganggu pikiran, Bapak?” tanya Ezra.
Mata tajamnya tak bisa dibohongi oleh siapa pun, ia jelas melihat gelagat tidak nyaman dari pergerakan alami tubuh mantan mertua istrinya itu.
“AH, tidak. Mungkin itu hanya perasaanmu saja.” Pram mengusap tengkuknya, menyembunyikan rasa terkejutnya.
Ezra mengangguk, sambil menyeruput jus jeruk miliknya.
“Baiklah, jika tidak mau bicara, aku bisa mencari tahunya sendiri.” Ucapan santai Ezra malah membuat Pram menegakkan tubuhnya.
Menyunggingkan senyum tipis, saat tahu kalau suami baru Ayu ternyata cukup jeli juga dengan situasi dan kondisi sekitarnya.
Bahkan dirinya yang selalu bisa menyembunyikan perasaannya dari orang lain, dapat dilihat oleh Ezra.
“Ternyata matamu tajam juga ya?” terkekeh kecil, menyandarkan tubuhnya pada kursi.
Ezra mengedikkan bahunya sebagai jawaban.
“Ternyata kali ini Ayu tidak salah memilih pendamping hidup, kamu memang pantas untuk menjadi suaminya.”
__ADS_1
Ezra mengernyitkan keningnya, mendengar perkataan dari Pram. Dirinya tak mengeti dengan pikiran lelaki paruh baya di hadapannya.
Bukankah Pram adalah ayah kandung Radit, tetapi, kenapa perkataannya menyiratkan kalau kasih sayangnya pada Ayu, lebih basar daripada kepada anaknya sendiri.
“Kamu pasti bingung kan, kenapa aku bicara seperti itu?”
Ezra mengangguk samar, menatap Pram dengan tatapan serius, bersiap mendengarkan penjelasan dari lelaki di depannya.
Jujur saja, di dalam hatinya Ezra sedikit merasa curiga dengan rasa sayang Pram kepada Ayu.
“Sebenarnya Radit bukanlah anak kandungku, aku difonis tidak bisa memiliki anak, bahkan sebelum aku menikah dengan Sari.”
Ucapan itu, jelas saja membuat Ezra melebarkan bola matanya, menatap tidak percaya pada lelaki yang baru saja mengungkapkan kekurangannya.
“Jadi—,” Ezra menggantung perkataannya.
Pram terkekeh miris melihat ekspresi terkejut dari Ezra. Ini seperti menggali kembali luka lama yang sudah terkubur sangat dalam, tanpa ada yang pernah tahu.
Namun, demi menghilangkan sorot curiga dari mata Ezra, ia kan menceritakan semuanya. Dirinya tulus menganggap Ayu sebagai anaknya, sejak pertama kali bertemu, entah mengapa ia sudah merasa menyukai kepribadian wanita itu.
Wajah polos dengan mata bersinar ceria, walau tergurat rasa sakit yang berusaha di sembunyikan, membuat hatinya tersentuh untuk lebih dekat dengannya.
“Dia sudah berada di dalam kandungan saat aku menikahi ibunya,” imbuhnya lagi.
“Walaupun begitu, aku masih menyayanginya sebagai anakku, memberinya nama belakangku dan bersikap seolah tidak mengetahui kebenaran itu. Karena alasan itu juga aku berada di sini sekarang.”
Ezra dapat melihat jelas sorot luka yang menganga dari mata sayu mantan mertua istrinya itu. Tak ada satu kata pun yang bisa ia ucapkan untuk menanggapi semuanya.
“Dia sekarang, sedang terbaring di rumah sakit karena kebodohannya sendiri. Kalau bukan karena rasa sayang yang terlanjur ada, aku mungkin akan lebih memilih membiarkannya menikmati hukuman atas apa yang sudah ia lakukan. Tetapi, hatiku ternyata masih terikat dengannya.” Pram berkata panjang lebar, mencurahkan rasa yang terkubur lama di dalam hatinya.
Tersenyum teduh, mengusap sudut mata yang terasa basah, saat melihat Ayu yang berjalan mendekat.
“Aku titip anak itu padamu, aku yakin kamu bisa membahagiakannya dan menjaganya lebih baik daripada lelaki tua ini,” ucapnya menutup perkataannya.
Ezra mengangguk yakin, tanpa bisa menjawab pesan dari Pram, karena Ayu yang sudah semakin dekat.
“Ngobrolin apa sih, kayaknya seru banget?” tanya Ayu sambil duduk kembali di kursinya.
“Bukan apa-apa, kita hanya berbicara masalah laki-laki,” gurau Pram, dengan terkekeh kecil.
“Ya, baiklah. Kalau soal itu aku tidak mau tahu,” jawab Ayu.
Getar ponsel Pram membuat lelaki paruh baya itu pamit untuk mengangkat telepon.
“Sepertinya kamu dekat sekali dengan Om Pram,” cebik Ezra.
“Memangnya kenapa? Aku sudah menganggapnya sebagai Ayahku sendiri,” jelas Ayu, takut Ezra salah paham.
Ezra tersenyum, mengusap lengan Ayu lembut lalu memberikan kecupan di sana. “Aku tahu,” ucapnya.
Ayu langsung melepaskan tangannya dari genggaman Ezra, matanya mengedar melihat suasana resto yang ramai pengunjung. Bahkan ia dapat melihat ada beberapa dari mereka yang mencuri pandang kepadanya dengan mengulum senyum atau saling berbisik.
“Apa sih, Mas ... malu tahu!” ucapnya dengan suara tertahan.
“Kenapa? Kita kan sudah halal, jadi biarkan saja mereka menikmati kemesraan kita.” Ezra tampak kembali mengambil tangan istrinya.
“Ayu, Ezra, maaf ya ... sepertinya Ayah harus segera pergi!” ucap Pram, dengan sedikit terburu-buru dan wajah yang panik yang terlihat jelas.
__ADS_1
“Ada apa, Yah? Kenapa Ayah panik begitu?” Ayu langsung berdiri dan mendekati Pram.
“Tidak apa-apa, hanya saja aku lup ada janji lain yang harus aku tepati,” dalihnya.
Ayu mengangguk, tanpa bisa bertanya lagi, karena Pram yang langsung pergi begitu saja.
Sesuai keinginan Ayu tadi pagi, setelah bertemu dengan Pram, Ezra mengantar Ayu ke butiknya.
"Sayang, aku tunggu di ruanganmu saja ya," ucap Ezra, saat melihat Ayu masih berbicara dengan Riska.
Ayu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, lalu kembali berbicara dengan Riska dan para pegawai butik lainnya.
Setelah berbicara beberapa saat, Ayu melangkah menuju ruangannya, untuk menemui Ezra.
"Maaf, aku sudah membuat, Mas, menunggu lama," ucap Ayu sambil masuk ke dalam ruangannya, tanpa tahu kalau Ezra telah ada di belakangnya.
Ayu tersentak kaget saat Ezra langsung mengungkungnya, begitu pintu ruangan tertutup.
“Mas, ini di butik.” Ayu berusaha mendorong dada bidang suaminya, agar sedikit menjauh.
Namun, sepertinya Ezra tak mendengar apa yang dikatakan oleh Ayu, dia terus memberikan ciuman bertubi-tubi pada wajah istrinya, hingga berakhir pada penyatuan bibir.
“Akh!” Ayu sedikit menjerit saat Ezra menyentak pinggangnya, mengikis jarak di antara mereka.
Salah satu tangan Ezra menahan tengkuk Ayu, agar ia bisa memperdalam ciumannya. Tubuh Ayu tiba-tiba saja melemah, ia selalu terbawa dengan sentuhan lembut suaminya, hingga tak ada lagi tenaga untuk melawan.
Ezra membawa Ayu menuju sofa yang berada di sana, mendudukkannya di pangkuan dan bersiap untuk membuka kerudung yang menutupi kepala istrinya.
Tok ... tok ... tok ....
“Mba, aku membawa laporan yang tadi, Mba minta!”
Ayu langsung menahan tangan Ezra dan segera turun dari pangkuan suaminya.
Iklan dulu ya kak, karya keren dari temen literasi aku yang pastinya bikin nagih buat baca. Jangan lupa mampir ya🥰
Judul: Hatiku Padamu Kak
Author: Alviesha
Blurb:
"Tidak, aku yang mencintaimu ... Aku sangat mencintaimu ... Maaf kalau aku tidak pernah membalas suratmu, maaf kalo aku tidak pernah menyatakan perasaanku. Tapi aku sungguh-sungguh menyanyangimu." ujar Uwais penuh penekanan, dan penuh kepastian.
"Selalu seperti ini, kakak mengungkapkan perasaan sayang ke aku, karena aku yang tanya, atau aku yang nuntut ... Kakak gak pernah punya inisiatif sendiri!"
"Ya Alloh, maaf, kalo itu membuat kamu jadi seperti ini," kata Uwais yang akhirnya mulai mengerti apa yang dirasakan oleh Arrida selama ini.
"Tapi aku sungguh-sungguh sayang sama kamu, Ar, kamu masa depanku, kamu tujuan hidupku, kamu tau itu kan?"
(Hatiku Padamu Kak, ketika Arrida selalu merasa hanya dia yang mencinta)
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1