Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.169 Minuman


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Pesta masih juga berlanjut, Keenan masih asyik berbicara dengan beberapa relasi bisnis ayahnya, ada juga para pewaris yang juga masih muda terlihat di sana.


Riska memegang lengan Keenan saat dia terasa ingin ke toilet, untuk membuang sesuatu di bagian bawahnya yang sudah terasa mendesak ingin keluar.


"Bang, aku ke toilet dulu, ya," izin Riska, berbisik pada Keenan.


Keenan mengalihkan pandangannya pada Riska dia tampak terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk.


"Jangan lama-lama dan hati-hati, kalau ada sesuatu hubungi aku," peringat Keenan.


Riska mengangguk. "Iya, cuma ke toilet doang, udah kaya mau ke mana aja."


Riska sedikit aneh saat mendengar perkataan Keenan, terasa begitu berlebihan padahal dia hanya akan pergi ke toilet, bukan pergi jauh. Akan tetapi, kemudian dia mengacuhkannya dan bersikap santai kembali.


mengambil tas kecil yang dia bawa, lalu beranjak menuju ke toilet yang berada tidak jauh dari ballroom tersebut. Tanpa curiga sedikit pun dengan orang di sekitarnya.


Tanpa dia sadari ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya, orang itu pun ikut keluar dari ballroom tersebut saat melihat Riska berjalan ke luar.


Heuh!


Riska menghembuskan napas kasar, begitu dia keluar dari tempat yang terasa menyesakkan dan membosankan untuknya itu.


'Pesta apa ini? Membosankan sekali, ornag-orangnya sangat kaku, mereka hanya terlihat saling mencari muka, untuk mendapatkan kerja sama,' gumam Riska dalam hati.


Berjalan menuju ke dalam toilet wanita. Dia sibuk melihat semua kemewahan yang ada di hotel itu, matanya berbinar menelusuri setiap keindahan yang disajikan sepanjang koridor yang dia lewati.


Masuk ke dalam toilet dan melakukan hajatnya yang sempat dia tahan karena tidak enak, untuk memotong pembicaraan Keenan dan para pebisnis lainnya.


.


Di dalam pesta, Nella yang melihat Riska keluar, langsung menghampiri Keenan dengan membawa gelas berisi minuman di tangannya.


Gayanya yang terlihat begitu anggun dan berkelas, dengan lenggok bagaikan sedang berjalan di atas runway.


"Boleh bergabung?" tanyanya sambil duduk di kursi yang tadi Riska duduki.


Keenan dan beberapa orang di dekatnya terlihat melihat Nella sekilas lalu mereka mengangguk. Akan tetapi, tidak dengan Keenan, dia tampak tak suka dengan kehadiran perempuan yang mengaku teman sekelasnya itu.


"Maaf, tapi itu kursi istri saya," ujarnya merasa tidak suka.

__ADS_1


"Oh, benarkah? Tapi, sekarang istrimu sedang tidak ada," ujar Nella, sambil menyandarkan tubuhnya, dan mengangkat salah satu kakinya, menumpuknya di kaki lainnya.


Baju yang hanya menutupi tubuh Nella sebatas paha kini terlihat semakin naik, hingga pangkalnya. Nella menatap Keenan dengan senyum menggoda.


Para lelaki yang berada di meja yang sama dengan Keenan dan Riska, tampak menatap semua itu penuh minat. Bila saja mereka tak malu, mungkin air liur itu sudah menetes sejak tadi dari mulut mereka.


Keenan menatap tajam Nella, lalu beralih pada semua lelaki yang ada di sana.


'Kamu tidak akan bisa menolakku lagi, Keen. Mana ada lelaki yang bisa menolak bila disuguhi sesuatu yang menggiurkan seperti ini?' gumam hati Nella, dia begitu percaya diri dengan tubuhnya.


Selama ini tak ada yang berani menolaknya, dia adalah wanita sempurna dengan kepintaran dan karir yang sukses, ditambah dengan kecantikan wajahnya dan bentuk tubuh sempurna. Siapa saja lelaki yang dia inginkan, pasti akan bertepuk lutut dan memohon padanya, hanya dengan gerakan sedikit menggoda. Nella mengira kalau Keenan mulai tergoda oleh gerkaannya.


Keenan berdesis, dia mengepalkan tangannya, dengan wajah yang mulai memerah. Memalingkan muka dan kembali berbincang bersama orang yang berada di sana.


"Maaf, tuan-tuan, saya ingin berbicara sebentar dengan Tuan Keenan," ujar Nella, menghentikan perbincangan para lelaki itu.


Mereka terlihat saling pandang, lalu pamit pergi dari meja itu. Keenan berusaha menahan mereka, hanya saja dia juga tidak bisa memaksa.


Nella menyunggingkan senyum termanisnya, merasa telah berhasil mengusir para penggangannu yang akan menghalanginya untuk bisa mendapatkan Keenan.


Keenan menatap dingin perempuan di sampingnya, dia begitu geram dengan sikap tidak sopan Nella yang terlihat sombong dan angkuh.


Nela tak peduli tatapan tajam Keenan, dia mengartikan dengan salah paham. Nella mengira itu adalah tatpan panas karena Keenan sudah mulai tergoda padanya.


Nella tersenyum menggoda, dia mengerlingkan salah satu matanya, tangannya hendak menyentuh lengan Kenan. Akan tetapi, lelaki itu langsung menepisnya dengan kasar.


"Apa yang mau kamu bicarakan padaku? Cepat katakan!" ujar Keenan, di tak memperdulikan omongan tidak jelas Nella padanya.


Nella tersenyum, dia menatap Keenan lalu mengangkat gelas yang ada di depannya, melihat cairan berwarna merah di sana lalu mengalihkan pandangannya pada Keenan.


"Bagaimana kalau kita minum dulu, untuk merayakan keberhasilanku menjalani studi dan berkarir secara bersamaan?" ujarnya mengangkat gelasnya lebih tinggi.


Kenan diam, dia tak menghiraukan ucapan Nella.


"Ayolah, Keen. Kita itu teman satu angkatan di sekolah yang sama, jadi jangan bersikap kaku seperti itu, kenapa kamu tidak suka sekali melihatku?"


Dengan terpaksa Keenan meraih gelas yang ada atas meja,, lalu mengadukannya dengan milik Nella sebelum meminumnya.


Nella tersenyum tipis saat melihat Keenan meminum minumannya.


"Sekarang, cepat katakan padaku?" tanya Keenan lagi.


"Ah itu ... tidak ada!" jawab Nellaa santai.


"Apa maksudmu? Lalu untuk apa kamu menyuruh mereka pergi, jika tidak ada yang mau kamu bicarakan denganku?" tanya Keenan, dengan tangan yang semakin kuat mengepal.

__ADS_1


'Perempuan ini, benar-benar tidak tau malu!' desisnya dalam hati.


"Aku hanya ingin duduk berdua denganmu? Lagi pula pesta ini 'kan milik ayahku, jadi aku berhak melakukan apa saja," jawab Nella dengan gaya sombongnya.


Keenan berdecak malas, dia kemudian memalingkan kembali wajahnya, tanpa mau melihat Nella.


"Sudahlah, jangan bersikap munafik seperti itu. Aku hanya ingin bersamamu ... aku tau kamu juga menginginkannya, bukan?" jawab Riska santai. Dia memainkan gelas bertungkai di tangannya, menatap Keenan dengan raut wajah menggoda.


Keenan tersenyum miring, tak menyangka kalau perempuan di depannya itu akan berbicara seperti itu.


"Kita juga bisa menghabiskan malam bersama, kalau kamu mau," imbuh Nella lagi, membuat Keenan bertambah muak mendengar perkataan perempuan itu.


'Cih! Dia bahkan lebih rendah dari seorang wanita malam, setidaknya mereka tidak sok suci dan mengakui bahwa mereka kotor' geram Keenan.


"Benarkah? apa tak masalah jika kita melakukan itu?" tanya Keenan dengan salah satu alis terangkat.


Nella tersenyum senang mendengar perkataan Keenan, dia seakan mendapatkan lampu hijau dari lelaki di depannya.


Sejak sekolah, dia sudah mengagumi Keenan, hanya saja dia tidak berani mendekati lelaki idola di sekolahnya waktu itu. Apa lagi Keenan saat itu telah menjalin hubungan dengan seorang gadis yang juga cukup terkenal di sekolahnya.


Waktu itu, tubuhnya juga tidak seindah seperti sekarang ini, hingga dia tak percaya diri jika ingin menegur atau memperlihatkan perhatiannya pada Keenan.


Nella hanya bisa melihat Keenan dari jauh tanpa berani mendekat. Dia memendam rasa sukanya hingga sekarang. Akan tetapi, kenyataan kalau Keenan sudah menikah, kembali membuatnya kecewa.


'Kali ini, aku tidak akan melepaskan kamu, Keen!' gumam hati Nella.


"Tentu saja. Aku akan dengan senang hati melakukannya bersamamu, Ken." jawab Nella dengan sumringah.


"Aku tau, selama ini pasti kamu tidak puas, dengan istrimu yang jelek dan kampungan itu," imbuhnya bangga, merasa sudah berhasil merayu Keenan.


Keenan mengepakan tangannya, dia tak suka mendengar Riska dihina seperti itu. Walaupun dia memang belum pernah melakukan hubungan suami istri dengan Riska. Akan tetapi, itu semua bukan karena kesalahan istrinya,melainkan karena mereka berdua memang belum siap.


Senyum di wajah Nella semakin melebar, saat dia melihat Keenan yang sudah terlihat gusar.


Keenan memijit pangkal hidungnya saat merasakan pening di kepalanya, dia berusaha menormalkan wajahnya kembali.


'Sial! Dia pasti sudah menukar minumanku!' geram Keenan dalam hati, saat melihat, minuman Nella sama dengan miliknya.


Darahnya berdesir dengan hawa panas yang mulai menyebar di sekujur tubuhnya, membuat Keenan semakin tidak nyaman.


'Dia pasti sudah mencampur sesuatu pada minumanku'


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2