Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.64 Penyelidikan


__ADS_3


...Happy Reading...


.......❤.......


Sampai di vila, Ezra langsung menuju kamar pribadinya di lantai dua.


Untung saja dulu dia berinisiatif memasang kamera CCTV di vila ini, setelah membelinya.


Ingatannya kembali pada perkataan Mang Surip di puskesmas tadi.


Flash back


"Se-sebenarnya sudah sejak beberapa hari lalu, Neng Ayu merasa ada yang mengawasi," gagap Mang Surip, mengadu pada majikannya itu.


"Kenapa baru bilang sekarang, Mang? Kalau aku tau sebelumnya, setidaknya aku bisa mengirimkan pengawal ke sini, dan kejadian seperti ini tidak perlu terjadi!" tanpa sadar, Ezra melupakan amarahnya pada Mang Surip.


"Ma-maaf, Den. Neng Ayu melarang saya melaporkan itu sama, Aden." ucap Mang Surip dengan tubuh bergetar.


Ezra mengacak rambutnya, menarik napas dalam lalu membuangnya kasar, untuk meredam segala gejolak emosi di dalam dirinya.


"Maaf, Mang. Aku terlalu khawatir," ucap Ezra, dengan napas yang masih terdengar memburu.


Flash back off


Kepalan tangan itu semakin erat, hingga urat yang terdapat di punggung tangannya terlihat menonjol.


Tatapannya fokus pada layar laptop di depannya, yang sedang memperlihatkan adegan perkelahian Ayu pagi tadi.


Setelah selesai, Ezra langsung mengirimkan rekaman itu pada sang adik, untuk lebih mencari tau tentang lelaki misterius itu.


"lihat pesan yang aku kirim, selidiki orang itu dan tangkap dia hidup-hidup." Ezra mengeram marah pada seseorang yang dia hubungi.


Langsung memutuskan kembali sambungan telepon itu, setelah mendapat jawaban dari orang di seberang sana.


Kembali fokus pada laptopnya, untuk mengumpulkan bukti sebanyak mungkin. Memindahkan beberapa file dari laptop pada sebuah plash disk yang ia bawa.


Lebih dari satu jam Ezra berada di dalam vila, hingga akhirnya menjelang waktu makan siang ia baru bisa kembali ke puskesmas.


"Bagaimana?" Ansel langsung menodongnya dengan pertanyaan, saat Ezra baru saja sampai di ruangan perawatan Ayu.


"Sudah, biarkan Keenan yang mengurus masalah ini." jawab Ezra.


"Gimana kondisi Nindi?" Ezra memperhatikan wajah wanita yang masih terlihat memejamkan matanya.


"Sudah sangat stabil dari sebelumnya. Untung aja racun yang terhirup engga terlalu banyak, jadi gak berdampak panjang. Dia hanya tertidur karena obat pemenang yang di suntikan, agar? bisa beristirahat." jelas Ansel ikut melihat adiknya itu.


Ezra mengangguk dengan pandangan tak pernah lepas dari wajah Ayu yang sudah terlihat lebih baik, tak pucat seperti tadi.


"Jadi, kapan kita bisa bawa dia ke rumah sakit?" tanya Ezra, mengalihkan pandangannya pada Ansel yang sedang duduk di kursi tunggu.


"Sekarang juga bisa. Tapi, sebaiknya kita bawa setelah shalat dzuhur aja ... sambil nunggu dia sadar dulu," ucap Ansel yang langsung mendapat anggukan dari Ezra.

__ADS_1


"Ssh," suara desisisan dari bibir bergetar Ayu, mengalihkan perhatian kedua pria itu.


"Dek, kamu udah sadar?" tanya Ansel menatap khawatir adik perempuannya.


Ayu mulai mengerejapkan mata, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam indra penglihatannya.


"Ndi, apa yang kamu rasakan? Apa ada yang sakit?" Ezra ikut bertanya.


Ayu merasakan seluruh tubuhnya sangat sakit, seolah remuk, kepalanya terasa sangat pening.


"Kak," lirih Ayu.


"Iya, ini Kakak," Ansel memegang tangan Ayu.


Ayu tersenyum samar, saat matanya dapat melihat jelas wajah khawatir Ansel.


"Aku gak papa kok," ucapnya.


"Kamu kenapa gak bilang sama Kakak, kalau ada orang yang mencurigakan, hem?" Ansel mengusap lembut puncak kepala Ayu yang tertutup dengan kerudung.


"Aku kira, dia cuma orang iseng, Kak. Maaf," ucap Ayu.


"Kenapa kamu minta maaf? Seharusnya Kakak yang minta maaf sama kamu, Dek."


Seperti biasa, Ezra hanya diam memperhatikan kedua kakak adik itu, saling mengungkapkan kasih sayang mereka.


Beberapa saat kemudian, mereka bertiga sudah berada di dalam mobil Ezra, untuk menuju kembali ke kota.


Sungguh, dia sangat tidak suka dengan bangunan yang bernama rumah sakit. Bau obat menyengat, dan segala rupa pernak-perniknya.


"Kita kerumah sakit dulu, kamu harus di periksa lebih lanjut, untuk melihat kadar racun dan dampak apa yang akan kamu rasakan setelahnya." Ansel menjelaskan dengan sabar, pada adik keras kepalanya itu.


Ezra kembali berperan sebagai sopir, dia hanya melirik sekilas,wajah merajuk Ayu, dari kaca spion dalam.


Menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis menghias wajah, menahan gemas pada wanita yang duduk di jok belakang mobilnya.


Menjelang sore, akhirnya mereka sampai di rumah sakit milih salah satu teman Ansel.


Ya, lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu, lebih memilih membawa Ayu ke rumah sakit temannya, di bandingkan rumah sakit yang di kelola oleh dirinya sendiri.


Setelah itu, mereka mengantarkan Ayu untuk pulang ke rumahnya.


Ezra sudah menempatkan beberapa penjaga dan memasang CCTV tambahan di sekitar rumah Ayu, untuk mempermudah pengawasan keamanan wanita itu.


Sifat Ayu yang selalu sok kuat dan keras kepala, membuat Ezra bergerak tanpa sepengetahuan wanita itu.


Semua itu terjadi ketika Ansel menawarkan dirinya untuk menemani Ayu di rumah, dan dengan enteng wanita itu hanya berkata.


"Gak usah, di sini kan juga ada Mang Ujang sama Bi Yati."


Ezra yang sudah menebak semua itu, hanya memberikan kode pada Ansel agar tidak memaksa kemauannya pada Ayu.


Jam tujuh malam, keduanya baru saja keluar dari rumah Ayu. Ezra dan Ansel langsung bergegas menuju rumah Ezra, untuk menemui Keenan.

__ADS_1


"Lebih baik kita bicarakan di ruang kerja aja!" Kenan langsung menyambut kedatangan keduanya.


Ezra mengangguk lalu melangkah mendahului Keenan dan Ansel menuju lantai dua.


Sampai di ruang kerja Ezra, Keenan langsung mengambil sebuah flash disk dari saku celananya, dan memasukannya pada komputer yang sudah tersedia di sana.


Ezra dan Ansel memperhatikan dengan teliti, setiap hurup yang muncul di layar itu.


Beberapa saat kemudian dua buah foto seorang lelaki, tampak jelas di sana.


Foto pertama, lelaki itu terlihat sedang menggunakan masker berwarna hitam, untuk menutupi wajahnya Sedangkan foto ke dua tidak menggunakan penghalang wajah sama sekali.


"Ini adalah wajah dari pelaku penyerangan pada Kak Nindi, pagi tadi."


"Brengsek!" Ansel tampak geram, melihat wajah lelaki yang telah membuat adiknya hampir saja meregang nyawa.


"Siapa dia?" tanya Ezra.


"Dia adalah seorang pembunuh bayaran yang bekerja di dalam sebuah organisasi, karena itu sampai saat ini kami belum bisa menemukan jejak kepergiannya." jelas Keenan.


"Akh ... sialan! Siapa yang berani berbuat seperti ini pada Nindi? umpat Ansel.


Ezra diam memperhatikan layar di depannya dengan alis yang terus bertaut, tanda dirinya sedang berfikir keras.


"Sebaiknya kita cari tau dulu, siapa saja orang yang membenci Kak Nindi, atau mungkin Kak Ndi punya musuh?" usul Keenan.


Ezra menatap adik dan juga sahabatnya bergantian.


"Atau mungkin musuh kita berdua," ucapnya tiba-tiba.


Ansel mengalihkan perhatiannya pada Ezra.


"Apa maksud loe?" tanya Ansel.


"Semua itu bisa saja menjadi satu kemungkinan, karena saat ini orang yang dekat dengan Ayu adalah kita berdua." jelas Ezra.


Ansel dan Keenan saling melirik dengan pikiran yang semakin kalut.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Sampai sini dulu ya, tugas rumah menanti🤭🤭


Oh iya, maaf karena kemarin ternyata aku banyak banget typo nama, anatara Ansel atau Agra🙏


Tapi semua itu udah aku revisi kok, kalau yang kemaren bacanya kurang nyaman, bisa baca ulang ya😁


Agra itu salah satu tokoh utama di karya aku yang lain, kalau yang lepaskan boleh kok baca ke sana. Cuma di sana aku up lebih jarang lagi hanya dua hari sekali🤭


Udah ya, semuanya ... sampai jumpa di bab berikutnya😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2