
...Happy Reading...
...❤...
"Kakak ganteng, boleh minta nomor wa-nya enggak, " ujar salah seorang anak remaja bersama dengan 2 orang temannya.
Keenan mengalihkan pandangannya kepada tiga orang remaja yang sedang berdiri di depannya. Alisnya mengernyit dalam tanda tidak suka dengan kehadiran mereka di dekatnya.
"Maaf saya tidak mempunyai nomor WA," ujar Keenan dengan suara dingin.
Ketiga gadis remaja itu terlihat saling pandang, kemudian mereka terkekeh geli dan berujar kembali. " kalau gitu boleh nggak kita temenin di sini, sayang banget ganteng–ganteng tapi sendirian."
Keenan mendengus kesal, dia melirik sekilas ketiga anak remaja yang terlihat masih menggunakan baju sekolahnya, hanya saja mereka melapisi nya dengan cardigan.
'Dasar ABG labil,' guman Keenan dalam hati.
"Saya tidak sendiri, saya bersama dengan istri saya," jawab Keenan, sambil melirik Riska yang sedang berjalan menuju ke arahnya, dengan membawa dua gelas minuman.
Ketiga gadis remaja itu mengikuti arah pandangan Keenan, mereka mengangguk-anggukan kepalanya, sambil membulatkan bibirnya membentuk huruf O lalu kembali melihat Keenan yang sedang tersenyum kepada Riska.
"Yah, ternyata sudah ada yang punya, ya udah kita pergi dulu ya, Kakak ganteng. Daah!" ujar salah satu gadis remaja di depan Keenan, mereka melambaikan tangannya manja, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Keenan.
Riska datang dengan senyum mengembang sambil menyedot salah satu minuman yang ada di tangan kanannya, lalu mengulurkan satu lagi minum di tangan kirinya ke depan Keenan.
Keenan terdiam, dia melihat minuman itu tanpa berniat mengambilnya, dia malah melihat wajah Riska yang sekarang duduk di sampingnya.
"Bang, ini minuman buat, Abang," ujar Riska menyodorkan gelas plastik ke depan Keenan.
"Buat aku aku?" Keenan menunjuk dadanya sendiri dengan salah satu alis terangkat, melihat Riska dengan tatapan tanya.
"Iya, terus buat siapa lagi? Aku 'kan ke sini sama, Abang. Ya Ini buat, Abang, lah," jawab Riska santai, sambil kembali menyedot minuman di tangannya.
"Tapi, aku nggak suka minuman kayak gini, terlalu manis. Buat kamu aja lah!" ujar Keenan, menolak minuman yang disodorkan oleh Riska.
"Oh ... ya udah kalau gitu, ini buat nanti aja di rumah." Riska memasukkan kembali minuman itu ke dalam kantong belanjanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudia, Keenan dan Riska sudah berjalan kembali menyusuri pusat perbelanjaan tersebut, menuju ke supermarket untuk membeli kebutuhan mereka selama satu minggu kedepan.
Riska dan Kenan berjalan menuju tempat sayuran berada, mereka memilih beberapa jenis sayuran untuk stok di dalam kulkas selama satu minggu.
Riska mengambil berbagai sayuran seperti wortel, brokoli, jagung, bayam dan ada beberapa jenis lagi yang bisa diolah, untuk menjadi makanan mereka berdua selama satu minggu.
Sesekali Riska juga bertanya kepada keenan, apa yang dia suka dan tidak dia sukai, agar dia tidak salah dalam memilih berbagai macam bahan makanan.
Selesai dengan memilih sayuran juga bumbu-bumbu, mereka berjalan menuju ke arah daging dan makanan beku lainnya.
"Abang, mau beli apa lagi?" tanya Riska, begitu mereka sampai di tempat yang mereka tuju.
Keenan mengedarkan pandangannya, melihat ada apa saja bahan makanan di sana. Sambil menunggu Keenan selesai dengan pilihan bahan yang dia mau, Riska mengambil ayam, telur dan ikan.
Riska membulatkan matanya saat melihat Keenan mengambil daging sapi, berkualitas tinggi yang yang berharga cukup mahal untuk Riska.
"Abang nggak salah pilih daging itu? Enggak mau yang biasa aja?" tanya Riska, sambil menunjuk daging yang ada di tangan Keenan.
"Memangnya kenapa? Ini 'kan daging yang terbaik pasti juga enak," ujar Keenan dengan santainya, dia mengernyit melihat reaksi Riska yang menurutnya tampak berlebihan.
"Tapi, itu 'kan mahal banget, Bang. Mending beli yang biasa, sama-sama daging ... lebih murah lagi," cebik Riska, tidak setuju dengan pilihan Kenan.
"Kalau ada yang murah, kenapa harus pilih yang mahal?" Riska berkata dengan gaya menirukan Keenan.
"Sayang tau uangnya, daripada beli daging yang mahal mending kita beli yang lain aja," sambungnya lagi, dengan raut wajah tidak rela.
Keenan terkekeh pelan, tahu apa yang dimaksud oleh Riska. " Aku tidak akan miskin, uangku tidak akan habis, hanya untuk membeli daging seperti ini. kamu masih bisa membeli banyak barang, bahkan dengan supermarketnya sekalipun, dengan uang yang aku punya sekarang."
Keenan berkata dengan gaya sombongnya. Riska berdecak kesal, melihat Kenan dengan tatapan tidak suka lalu pergi meninggalkan kenangan tanpa permisi.
"E–eh, kok malah marah sih?" ujar Keenan melihat Riska yang sudah pergi menjauh darinya.
"Mentang–mentang unganya banyak, enteng banget dia ngomong kayak gitu. Ish, dasar nyebelin!" gerutu Riska, sambil terus berjalan meninggalkan Keenan.
"Riska, sudah dong ... jangan ngambek lagi. Masa gara-gara daging aja kamu ngambek sih? Ya udah aku taruh lagi dagingnya, sekarang kamu aja deh yang belanja ... aku ngeliatin kamu aja sambil dorong troli." Kenan menghentikan langkah Riska.
"Eh, nggak usah ambil aja kalau kamu memang suka daging yang itu. Maaf, tadi aku aja yang berlebihan," ujar Riska.
__ADS_1
"Iya nggak papa, ya udah kita lanjutin belanjanya lagi yuk, nanti keburu sore." Keenan mengambil tangan Riska dan membawanya kembali ke dekat trolly belanjaan yang tadi dia tinggalkan.
Kali ini Keenan tidak lagi ikut campur dalam memilih bahan makanan, kecuali mengenai belanjaan untuk dirinya sendiri. Dia tahu, Riska sudah terbiasa hidup dengan sederhana, gadis itu tidak terbiasa menghamburkan uang untuk barang yang tidak terlalu penting.
Empat puluh lima menit kemudian, Kenan dan Riska sudah sampai di apartemen tempat mereka tinggal. Keenan sampai harus meminta tolong kepada penjaga keamanan, untuk membawakan barang-barang belanjaan mereka yang sangat banyak.
" Terima kasih, Pak," ujar Riska, kepada petugas keamanan yang membantunya.
"Ris, aku ke kamar dulu ya, mau mandi ... gerah banget," ujar Keenan, setelah menaruh barang belanjaan mereka di dapur.
Riska mengangguk. "Iya," jawabnya sambil mulai membereskan barang belanjaan mereka ke tempatnya.
Riska mengatur peralatan memasak di tempatnya, lalu memilah bahan masakan untuk dia bersihkan dan simpan di kulkas sebagai stok satu minggu ke depan.
Tiga puluh menit kemudian Keenan keluar dari kamar, dengan wajah yang sudah segar. Dia melihat Riska masih berkutat dengan kesibukannya di dapur bersama bahan masakan di tangannya.
"Belum selesai?" tanya Keenan, sambil berjalan menghampiri Riska.
Gadis gadis itu melihat Keenan sekilas. "Belum nih, tinggal sedikit lagi selesai."
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Keenan, sambil duduk di depan Riska.
"Enggak usah, ini sebentar lagi juga mau selesai kok," jawab Riska sambil memasukkan daging ayam di tangannya ke dalam tempat untuk ditaruh di dalam lemari pendingin.
Riska juga sudah memisahkan bahan masakan yang akan dia dimasak, untuk makan malam mereka hari ini.
"Abang, mau Riska buatin kopi atau teh?" tanya Riska setelah membereskan barang belanjaannya.
"Boleh, teh aja ya," jawab Keenan, sambil melihat kesibukan Riska yang mulai memasak.
Beberapa saat kemudian, Keenan tersenyum tipis, melihat Riska yang sedang asyik dengan kesibukannya, memasak makan malam untuk mereka berdua.
Ada rasa yang berbeda di dalam hatinya, saat melihat seseorang gadis berstatus istrinya, sedang menyiapkan makan untuknya. Setelah selama ini tidak pernah ada yang melakukan itu kecuali ibunya sendiri.
'Beginikah rasanya mempunyai seorang istri? Cukup menyenangkan' gumam hati Keenan.
...🌿...
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...