
...Happy Reading ...
...❤...
Ansel dan Larry tampak melangkah cepat memasuki sebuah hotel bintang lima.
Mereka pamit terlebih dulu dari acara bersama kedua orang tua Ezra, setelah mendapat telepon dari salah satu anak buahnya tentang keberadaan Melati.
Mereka bilang, ada orang yang melihat remaja itu masuk ke dalam hotel tersebut, bersama seorang lelaki, pagi tadi.
Setelah di telusuri, kemungkinan besar itu memang benar Melati.
Dengan berbagai pembicaraan dengan staf dan manajer hotel, akhirnya keduanya bisa memiliki akses untuk membuka pintu kamar hotel yang di curigai ada Melati di dalamnya.
Walaupun itu harus di temani oleh satpam dan salah satu staf dari hotel itu.
“Melati!”
Suara Larry terdengar menggelegar di seluruh kamar hotel itu.
Ansel yang baru saja masuk, mematung melihat keadaan kamar yang tampak berantakan.
Botol minuman keras yang sudah kosong terlihat memenuhi meja, seorang lelaki tampak tertidur dengan bertelanjang dada di sofa.
Beralih pada tempat tidur yang tampak sangat berantakan, selimut dan bantal yang sudah tidak berada di tempatnya.
Hingga matanya melihat sosok gadis yang sedang tertidur lelap, dengan hanya menggunakan pakaian dalam saja.
Melati
Ya, remaja itu yang kini berada di sana, tertidur bagaikan seorang anak kecil dengan posisi kepala menghadap ke bawah.
“Bangun! Heh ... Melati!”
Ansel langsung menghampiri Larry yang sedang menggoyangkan tubuh adiknya yang sudah tertutup oleh selimut, secara kasar.
“Pah, sabar!” lerai Ansel, walau dalam hati ia juga merasa panas melihat kondisi adiknya.
Larry terdiam, Ansel menuntunnya untuk duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur.
Ujung matanya menangkap pergerakan dari lelaki yang berada di sofa.
“Brengsek! Loe ngapain di sini sama adek gue?!” sentak Ansel
Tangannya mencengkeram kuat kedua tangan atas lelaki itu, membawanya berdiri sejajar dengan dirinya.
Lelaki berusia sekitar dua puluh tahunan itu, tampak masih setengah sadar, mengerjapkan mata mencoba mengumpulkan nyawa.
Bukh ....
Brak
Satu pukulan berhasil mendarat di pipi sebelah kiri.
Jatuh tersungkur menabrak meja hingga membuat botol bekas minuman keras itu berjatuhan ke lantai dan pecah.
Suara ribut dan bising dari pecahan botol kaca, mengusik tidur Melati.
Gadis itu menggerakkan tubuhnya, dengan mata yang masih terpejam.
“Melati?” Larry mendekati anaknya, ia berusaha menahan amarahnya dan bersikap tenang.
Di sudut yang lain, Agra terus saja memukul lelaki itu tanpa ampun.
“Ampun, Bang! Gue gak ngapa-ngapain dia!”
Teriakan dari lelaki yang di hajarnya tak membuat Ansel menghentikan aksinya.
Dia seakan sedang melampiaskan kemarahannya, pada lelaki yang bahkan namanya saja mereka belum tahu.
“Papah?!” Melati langsung sadar sepenuhnya saat matanya melihat samar wajah sang ayah.
Menolehkan kepala pada suara bising yang masih saja terdengar.
__ADS_1
“Kak Ansel? Astaga, Romi!” Melati langsung bangkit dan berlari menghampiri kedua lelaki yang sedang bertarung.
Walaupun sebenarnya yang memukul hannyalah Ansel, sedangkan lelaki yang di panggil Romi hanya melindungi dirinya.
“Kak, sudah ... Kak!” Melati mencoba melerai kemarahan kakaknya.
Namun ternyata itu semua tidak di anggap oleh Ansel.
“Kak!” Dengan memberanikan diri gadis itu menjadikan dirinya tameng, untuk lelaki itu dari pukulan Ansel.
Genggaman tangan Ansel yang sudah bersiap memukul kembali terhenti di udara, saat melihat Melati berada di depannya.
“Akh ... brengsek!” teriak Ansel, menghempaskan tangannya sendiri.
“Kalian harus segera menikah, aku tidak mau kalau sampai berita ini tersebar luas dan mencoreng nama baik keluarga kita. Cukup ibumu saja yang sudah membuat keluarga kita malu,” ucap Ansel, setelah ia meredam semua emosi di dalam dirinya.
Kini mereka berempat sedang duduk di sofa kamar hotel itu.
Setelah Melati dana Romi memakai pakaiannya masing-masing.
“Tidak bisa! Aku gak ngapa-ngapain sama Romi, Kak! Kita hanya tidur saja setelah minum,” untuk yang ke sekian kalinya Melati menjelaskan kepada kakak dan juga ayahnya.
“Aku tidak peduli, semua itu tidak akan berarti bagi mereka yang melihat kalian berdua masuk ke dalam kamar hotel!” Larry langsung menimpali perataan anak sulungnya.
“Tapi, kita berdua hanya teman biasa. Aku gak mau nikah dulu, aku mau kuliah!” ucap Melati.
“Bukannya kemarin kamu bilang mau menikah dengan Ezra, lalu apa bedanya dengan lelaki ini, hah?! Ansel mulai memojokkan adiknya.
“I-itu beda, Kak!” sangkal Melati.
“Apa bedanya, semuanya sama-sama menikah?” debat Ansel.
“Kamu, kenapa diam?” Larry beralih pada lelaki di samping anak gadisnya.
Lelaki itu menatap kedua orang di depannya.
“Lalu aku harus bagaimana? Melati sudah menjelaskan semuanya, tapi kalian masih saja memaksa kami untuk menikah,” jawab Romi.
“Kami hanya teman sekolah, dan kemarin Melati menelepon, meminta bertemu ....”
Romi mulai menceritakan hubungannya dengan Melati.
Mereka memang lumayan akrab di sana, bahkan mungkin terlihat dekat.
.....................................
Sementara itu, Mala baru saja sampai di rumah ke dua orang tuanya.
Ya, sekarang dia telah kembali pada orang tuanya dan meninggalkan Radit.
Gaya hidup yang selama ini selalu menghamburkan uang, ternyata tidak bisa berubah.
Radit yang sudah di berhentikan dari pekerjaannya, membuat lelaki itu tidak bisa lagi memberi uang kepada istrinya itu.
Hingga akhirnya Mala tidak tahan, dan memilih menyerah dengan rumah tangganya bersama Radit dan memilih kembali pada orang tuanya.
“Kenapa kami, Mal? Baru pulang muka sudah di tekuk begitu?” tanya ibunya.
“Gak papa, Mah. Aku ke kamar dulu!”
Wanita itu melewati ibunya begitu saja, dan terus berjalan menuju kamarnya.
Di dalam hatinya itu terus menggerutu kesal, karena telah gagal membuat Ayu terpuruk.
Kenyataannya sekarang mantan sahabatnya itu malah terlihat semakin bahagia dan di kelilingi orang yang sangat mencintainya.
“Kenapa wanita itu selaku saja lebih beruntung dari aku? Dia selalu saja bisa membuat orang menyayanginya!” gerutu Mala.
Melemparkan tasnya ke sembarang arah, sambil menjatuhkan tubuhnya pada sofa.
“Sial! Kenapa sekarang aku yang terlihat menyedihkan!” geramnya dengan wajah memerah penuh amarah.
__ADS_1
Rasa iri dengki ternyata telah membutakan mata hati wanita itu, hingga dia tidak bisa melihat mana yang benar dan salah.
Dia kini sudah di kuasai oleh obsesinya sendiri.
Obsesi untuk mengalahkan mantan sahabat dekatnya.
Padahal dulu, hubungan Mala dan Ayu bahkan lebih dekat dari saudara sekali pun.
Mereka berdua saling membantu sama lain, dalam mencapai impiannya masing-masing.
Mala menjadi model dan Ayu menjadi seorang desainer.
Namun semua itu berubah begitu saja, saat impian mereka sudah terwujud.
Ayu yang selalu di kelilingi orang-orang yang menyayanginya, sedangkan Mala merasa selalu di manfaatkan oleh orang tersekatnya.
Kedua orang tuanya pun hanya memberinya uang, tanpa ada kasih sayang yang dapat ia rasakan.
Sedangkan Ayu, walaupun tidak memiliki keluarga, tetapi dia terlihat lebih beruntung, dengan banyaknya keluarga baru dari orang asing yang hadir.
Semua itu membuat Mala, merasa iri dengan keadaan Ayu, hingga akhirnya dia berbalik membenci sahabatnya dan berniat untuk menghancurkan kebahagiaan yang Ayu miliki.
Semua itu di mulai dengan merayu suaminya, dan ternyata itu semua berhasil.
Namun, ternyata keberhasilannya itu, tidak membuat Ayu menjadi seseorang yang hanya diam dalam tangis.
Kini ia melihat wanita itu telah bangkit bahkan dengan keluarga baru yang lebih segalanya dari Radit.
Pyar ....
Meraih sebuah pas di atas meja dan melemparkannya pada kaca rias miliknya.
“Akh, sialan! Dasar perempuan brengsek!”
Wanita itu mengamuk melupakan emosi yang sejak tadi ia tahan.
Dia bahkan tidak sadar, kalau semua yang terjadi di dalam hidupnya adalah akibat dari apa yang ia lakukan sebelumnya.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Bab ini kita liat melirik ke dua M dulu ya🤭🤭 Semoga suka🥰 Sampai jumpa di bab berikutnya👋👋❤❤
__ADS_1