Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.167 Pegunungan


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Iring-iringan mobil Ezra dan juga beberapa anak buahnya, tampak melaju cepat, membelah jalanan menuju ke tempat yang di duga menjadi, lokasi penyekapan Riska.


Mereka semua tampak sigap dengan rencana yang sudah dibicarakan sebelumnya. Mengingat berbagai kemungkinan yang akan mereka hadapi di tepat itu.


Kali ini Ezra mengambil alih kemudi, dia tidak mau kalau sampai Keenan kehilangan kendali karena jarak yang lumayan jauh.


Ya, ternyata lokasi keberadaan nomor ponsel laki-laki itu, berada di salah satu pegunungan yang berada di luar kota.


Mereka bahkan harus melalui jarak tempuh hingga beberapa jam, untuk mencapai tempat itu, di tambah medan jalan yang belum pernah mereka lalui sebelumnya.


Senja bahkan sudah tampak di depan mata, saat mereka bahkan baru memasuki gerbang kota tersebut.


Keenan bergerak gusar, merasa tidak sabar dengan waktu yang seolah berjalan begitu lambat untuknya.


Hingga beberapa saat kemudian, mereka menemukan jalan yang menanjak dan berliku, dengan hambatan hutan lebat di sisinya.


Hari yang semakin gelap ditambah pencahayaan yang kurang, membuat mereka merasa sedikit kesulitan berkendara.


"Sialan! Ke mana sebenarnya dia membawa istriku?" geram Keenan, saat dia merasa tak juga sampai ke tempat yang dituju.


"Sabar, Ken. Menurut GPS yang diberikan oleh Alvin, ini tinggal sebentar lagi kita sampai." Ezra berusaha menenangkan adiknya.


Keenan menatap sang kakak, dia pun akhirnya kembali menyandarkan punggung, dan melihat lurus ke depan.


.


Sementara itu, Riska mencoba menggesek pecahan kaca di tangannya, pada simpul ikatan itu. Dengan ringisan kecil yang mengiringi, saat pecahan itu terkadang menggores kulitnya sendiri.


"Ya Allah, tolong bantu aku," lirih Riska, dengan air mata yang menetes membasahi wajahnya.


Detak jantung yang terus bertalu dan perasaan tidak menentu terus mengiringi setiap doa yang terucap di dalam hati, menyertai usaha yang dia lakukan kini.

__ADS_1


Terkadang, Riska terpaksa harus berhenti saat dia mendengar langkah kaki ataupun, suara orang yang berbicara di luar ruangan tempatnya disekap. Takut ada yang akan masuk dan memerangi dirinya, yang berusaha untuk melarikan diri.


Hampir setengah jam wanita itu berkutat dengan pecahan kaca dan tali di tangannya, hingga akhirnya dirinya harus menghentikan semua kegiatannya, saat suara langkah kaki terdengar mendekati pintu.


Secepat mungkin, dia mencoba untuk bangun dan menghalangi tetesan darah di lantai, dengan selimut tipis yang ada di sana. Berbaring miring dengan mata tertutup rapat, seakan dirinya tengah tertidur.


Tangan di belakangnya terkatup rapat, menutupi pecahan piring di dalam genggamannya.


Suara pintu terbuka, membuat tubuh Riska menegang dengan detak jantung yang semakin tidak menentu. Dirinya hampir saja berhasil, memutuskan ikatan di tangannya, dan sekarang semua itu terancam gagal, bila dia harus ketahuan.


Ya Tuhan, jangan sampai mereka tau, gumam Riska di dalam hati.


Suara langkah kaki mendekat kepadanya, membuat rasa putus asa di dalam dirinya semakin besar. Walaupun begitu, dia masih tetap berusaha menenangkan hati dan pernapasannya hingga dirinya terlihat benar-benar sedang tertidur.


Tidak ada pergerakan lain, setelah Riska merasakan orang itu berdiri di hadapannya. Hingga beberapa saat kemudian orang itu kembali ke luar, tanpa ada kalimat atau sesuatu yang dua lakukan di sana.


Riska membuka mata, saat terdengar pintu kembali tertutup rapat. Menghembuskan napas lega, saat dia tidak melihat siapapun di sana.


Siapa dia? Sepertinya dia bukan Toni, tanya Riska di dalam hati.


Riska tersenyum, walaupun rasa perih dan berdenyut, akibat dari berbagai luka goresan di tangannya, karena gerkannya yang terburu-buru, terlihat mengeluarkan cukup banyak darah.


Dia pun melihat luka sebelumnya di tangannya, yang terlihat menganga, dengan darah yang terus mengalir. Membuka ikatan di kaki, dengan pandangan mengedar, mencari sesuatu yang dapat menghentikan datang yang terus merembes ke luar.


Wajahnya pun kini terlihat lebih pucat dari sebelumnya, dengan rasa pusing yang mulai melanda. Mungkin karena terlalu banyak kehilangan darah juga tenaga, sedangkan dari kemarin dirinya bahkan tidak makan ataupun minum sama sekali.


Berdiri dan menggigit seprei sebagai jalan untuk dia merobeknya, hingga membentuk sobekan memanjang dan kecil, mirip sebuah tali.


Dia mengikat lukanya dengan itu, dan memberikan pertolongan pertama, tanpa ada obat ataupun alat P3K di sana.


Setelah semuanya selesai, dia beralih melihat ke sebuah jendela, yang terdapat di sana. Dia kemudian berjalan cepat menuju ke sana.


Begitu Riska membuka sebuah kain penutup yang menghalangi jendela kaca tersebut, dia mendapati bahwa hari bahkan sudah beranjak malam, walaupun dia masih bisa melihat sekitarnya, dengan pandangan samar.


Sepertinya, itu adalah sebuah rumah atau vila, yang berada di atas pegunungan, di sekitarnya terlihat banyak sekali pepohonan rindang yang terlihat tertata rapi.

__ADS_1


dari sana juga dia bisa melihat kerlip lampu yang berada di bagian bawah, pegunungan tersebut. Mungkin itu adalah sebuah pemukiman penduduk terdekat, dari tempat itu.


Riska tersenyum, saat melihat kalau semua itu mungkin tidak terlalu jauh dari tempatnya saat ini. Sebuah harapan untuk meminta tolong pada salah satu warga, kembali membakar semangatnya untuk segera keluar, sebelum hari bertambah gelap, dan akan menghalangi pandangannya.


Senyumnya semakin lebar, saat menyadari, jendela itu tanpa pengaman ganda. Hingga dengan mudah dia bisa membukanya.


Pantas saja, aku diikat dengan begitu kuat, ternyata rumah ini tidak ada pengaman lainnya, gumam Riska di dalam hati.


Tersenyum senang, dan mulai melangkah untuk keluar dari ruangan itu dengan sangat hati-hati. Pandangannya mengedar melihat sekitarnya, memastikan tidak ada penjaga di sana.


Sampai di luar, udara dingin langsung menyapa kulitnya, membuat dia mengerutkan tubuhnya, refleks alami untuk menghangatkan tubuhnya.


Dia kemudian berjalan, menjauh dari bangunan tempat dirinya di sekap itu. Dengan kaki yang tanpa menggunakan alas, Riksa mulai memasuki jajaran pepohonan rimbun di sekitar sana.


.


Di tempat lainnya, Toni memasuki ruangan penyekapan Riska, setelah dia mengintruksikan beberapa anak buahnya untuk berjaga lebih ketat, dan menyiapkan pertahanan di sekitar tempat itu, setelah mendapatkan instruksi dari rekannya.


Matanya melebar, saat melihat kamar itu sudah kosong tanpa keberadaan Riska di sana.


"Di mana, dia?" gumam panik Toni, sambil mengedarkan pandangannya.


Dia semakin dibuat terkejut saat melihat bercak darah yang terdapat di kain sprei, juga di lantai. Pandangannya kini beralih pada jendela, setelah kain penutupnya tampak berkibar, diterpa angin dari luar.


Berjalan cepat dan menyingkap kain itu dengan gerakan kasar. Dia pun dikejutkan dengan jendela yang terbuka lebar.


"Akh, sialan! Kenapa aku sampai melupakan jendela ini?" geramnya, meninju kayu penyangga jendela.


Melangkahkan kaki, ke luar dengan pandangan yang mengedar, mencari keberadaan Riska di sekitar sana.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2