Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.272 Klinik 24Jam


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Mobilnya yang ditumpangi oleh Keenan dan Riska, baru saja berhenti di depan sebuah klinik rawat inap yang cukup besar.


Ya, setelah mencari keberadaan rumah sakit dari tempat mereka berada, ternyata terlalu jauh untuk ditempuh dalam keadaan darurat seperti sekarang ini.


Akhirnya salah satu anak buah Ezra yang bertugas untuk membawamobil itu, berinisiatif untuk bertanya pada orang yang kebetulan mereka temui di jalan.


Mereka pun, mengarahkannya pada klinik kesehatan yang cukup besar di daerah itu. Walaupun sedikit kecewa, Keenan pun terpaksa menyetujui semua itu.


Untung saja, klinik itu buka dua puluh empat jam, hingga mereka tidak perlu menggedor pintu klinik itu.


Keenan keluar dari mobil, sambil menggendong Riska ala bridal syle, dengan langkah cepat, dia berjalan menuju ke dalam.


Malam yang sudah larut, membuat klinik itu sudah tampak sepi, hanya ada beberapa orang petugas yang masih berjaga, juga keluarga dari para pasien yang sedang dirawat inap di sana.


Melihat ada seseorang yang datang dengan wajah panik, dan perempuan tak sadarkan diri di dalam gendongannya, para petugas yang berjaga di depan pun, langsung berpencar untuk melakukan tugasnya maisng-masing.


Ada yang mengarahkan Keenan, untuk langsung menuju ruang periksa dokter, ada juga yang langsung memanggil dokter jaga, yang kebetulan sedang tidak berada di tempatnya.


"Silahkan baringkan di sini," ujar perawat itu, setelah menyiapkan brankar untuk Riska.


Perlahan, Keenan membaringkan istrinya di tempat itu, wajah panik itu, tergambar jelas, dengan seklera mata yang merah juga juga kata yang terus terucap lirih dari bibirnya.


Penampilannya yang berantakan pun, kini sudah tidak lagi diperdulikannya, sepanjang perjalanan hingga saat ini, yang ada di pikirannya hanya tentang istrinya saja.


"Sayang, tolong bangun, jangan buat aku khawatir seperti ini," lirih Keenan, mengusap wajah sang istri yang masih terihat nyaman di dalam kegelapannya.


Tidak perlu menunggu lama, dokter jaga pun datang, dia memeriksa keadaan Riska, di depan Keenan. Dia cukup terkejut melihat dokter yang akan memeriksa istrinya itu adalah laki-laki yang masih cukup muda.


Keenan menatap tajam dokter laki-laki yang masih terlihat masih muda itu, hatinya cukup panas, saat mengingat istrinya akan disentuh oleh laki-laki lain.


Astaga, apa tidak ada dokter perempuan? Kenapa harus laki-laki yang memeriksa istriku? batin Keenan, merasa tidak rela bila Riska disentuh oleh laki-laki lain.


Dia melihat kilas pada perawat yang tadi mengantarkannya ke ruangan itu.


"Apa di sini tidak ada dokter perempuan?" tanya Keenan kemudian.


"Maaf, Pak. Di sini hanya ada satu dokter yang berjaga malam," jawab perawat itu.


Keenan pun akhirnya memilih untuk mengesampingkan dulu semua itu, mengingat kondisi istrinya yang membutuhkan pertolongan cepat.


Dia akhirnya memilih mundur beberapa langkah, dan membiarkan dokter itu memeriksa istrinya, walau tatapan tajam itu tidak pernah lepas dari setiap gerak-gerik dokter tersebut.

__ADS_1


Ya ampun, kenapa laki-laki ini? Dia terus saja menatapku begitu, buat aku gugup saja! gerutu dokter itu di dalam hati.


Ssh ... aku berasa sedang memeriksa seorang buronan yang diawasi polisi, batin dokter itu lagi, merasa tidak nyaman dengan tatapan Keenan.


"Pariksa dengan benar, jangan coba mencari kesempatan pada istriku!" ujar Keenan, penuh penekanan.


Dokter itu terkejut oleh perkataan Keenan, dia bahkan sempat melebarkan matanya sesaat saking terkejutnya.


Astaga, orang ini benar-benar ....


Dokter itu, bahkan tidak sanggup melanjutkan perkataannya di dalam hati. Dirinya terlalu kesal oleh sikap posesif Keenan.


"Eh, jangan sentuh-sentuh istriku." Keenan mengulurkan salah satu tangannya dengan mata yang melebar, saat melihat dokter itu hendak menyentuh Riska.


"Astaga, Pak. Bagaimana saya mau memeriksa istri, Bapak, kalau, Bapak, melarang saya menyentuhnya."


Akhirnya dokter itu tidak snaggup juga menahan kekesalannya pada Keenan.


Perawat yang berada di ruangan itu pun menahan tawanya, melihat perdebatan antara dokter muda dan suami posesif di depannya.


Aku kira suami seperti ini cuman ada di dalam novel saja. Kalau aku gak lihat sendiri, aku gak bakal percaya. Perawat itu membayin.


Apa jangan-jangan dia juga seorang CEO?


Perawat yang sering membaca novel itu, terlihat melebarkan matanya sendiri, saat menghubungkan kejadian di depannya dengan beberapa kisah novel yang dia baca.


"Bapak, sebaiknya tenang dulu, biarkan kami memeriksa istri, Bapak, dengan tenang. Tenang saja, dokter ini adalah tunangan saya, jadi kalau ada apa-apa biar nanti aku yang akan memberikannya pelajaran," ujar perawat tadi, saat melihat Keenan hampir tidak bisa mengendalikan emosinya.


Walau sebenarnya, semua itu hanya sebatas kebohongan, agar kegiatan memeriksa pasien itu, cepat berakhir.


"Benar?" tanya Keenan, yang langsung diangguki oleh perawat tadi.


Keenan pun akhirnya menghembuskan napas lega dan membiarkan dokter itu memeriksa Riska dengan leluasa.


Beberapa saat berlalu, kini Keenan dan dokter muda itu tampak sedang duduk berdampingan, untuk menjelaskan kondisi Riska.


"Tekanan darah, istri Bapak, sangat rendah, sepertinya dia juga mengalami dehidrasi dan kecemasan berlebih. Luka di sekitar tangan dan kaki pun semakin memperparah kondisinya." Dokter itu menjelaskan, mengenai apa yang dia lihat dari Riska, pada Keenan.


Keenan menatap istrinya yang sedang diobati lukanya oleh perawat tadi, lalu beralih kembali pada dokter di depannya.


"Lalu bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Keenan, dengan detak jantung yang bertalu.


"Tidak apa-apa, setelah istirahat yang cukup dan menenangkan pikirannya, dia akan baik-baik saja. Hanya saja, saya mencurigai sesuatu yang menyebabkan kesehatan, istri Bapak, turun secara drastis," ujar Dokter itu, dengan kening bertaut dalam.


"Maksud, Anda, apa? Jangan main-main dengan saya, atau saya akan membuat perhitungan jika sampai terjadi apa-apa pada istri saya!" Keenan mencondongkan tubuhnya, menatap penuh emosi pada dokter itu.

__ADS_1


Pikirannya tiba-tiba saja, tertuju pada sesuatu yang sangat buruk, mengingat Riska yang bahkan tidak bisa mengatakan apa yang terjadi padanya saat sedang di culik.


Dokter itu, megangkat tangan dengan tubuh yang dia mundurkan, menghindari Keenan.


"Tenang dulu, Pak. Sejak tadi, kenapa, Bapak, terus saja curiga kepada saya?" tanya dokter itu.


"Makanya, jangan memancing emosi saya! Berbicara yang jelas, jangan setengah-setengah," jawab Keenan, sambil menegakkan lagi tubuhnya.


Melihat wajah takut dari dokter itu, membuat dirinya tidak tega juga, terus-terusan menekan dokter itu.


"Bapak, sendiri yang terus memotong perkataan saya," gerutu dokter itu lirih, sambil menurunkan kembali kedua tangannya, setelah melihat wajah Keenan yang lebih tenang.


Keenan, melirik dokter itu dengan tatapan kesalnya, dia bisa mendengar dengan jelas, gerutuan dari dokter itu tentangnya.


Namun, dia juga tidak bisa membantahnya, karena semua itu memnag benar adanya.


"Khem." Keenan berdehem dengan wjaha kikuk.


"Jelakan!" ujar Keenan lagi, dengang tangan bersidekap dada.


"Sebenarnya semua itu belum tentu benar adanya. Maka dari itu, sayamenyarankan, Bapak, untuk membawa istri bapak ke rumah sakit yang lebih besar, agar bisa menerima pemeriksaan lebih lanjut lagi."


"Baiklah kalau begitu saya akan membawa istri saya ke rumah sakit di kota sekarang juga!" Keenan kembali memotong perkataan dokter itu.


Dia bahkan sudah hampir berdiri, bila saja dokter itu tidak menahannya.


"Tunggu sebentar, Pak!"


Keenan kembali berbalik dan menatap kesal pada dokter tadi, asa khawatir dan panik membuat kepalanya seakan kosong dan tidak berfikir dengan jernih, hingga semua yang dilakukannya terkesan sembrono dan sedikit keluar dari kebiasaannya.


"Apa lagi? Tadi, bukannya kamu bilang saya harus membawa istri saya ke rumah sakit besar?!" kesal Keenan, kembali duduk di depan dokter itu.


Dokter itu menghela napasnya perlahan, sepertinya kedatangan pasien di larut malam itu, merupakan suatu cobaan tersendiri untuknya.


Bapak, yang memotong penjelasan saya lagi, sebelum selesai, batin dokter itu, merasa geram sendiri, menghadapi sikap Keenan yang benar-benar menguras kesabarannya.


"Maksud saya bukan malam ini, Bapak. Tapi, besok pagi. Kondisi, istri Bapak, saat ini masih cukup rentan untuk dibawa pergi jarak jauh, setidaknya biarkan cairan infus itu habis terlebih dahulu dan dehidrasinya teratasi," jelas dokter tadi.


"Baiklah, terima kasih. Saya akan membawanya besok pagi saja," ujar Keenan, memutuskan.


Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan dokter di depannya, lalu beranjak berdiri dan menghampiri istrinya kembali.


...🌿...


...Ada kah yang sama seperti Keenan, kalau sedang panik suka gak bisa mikir🤭 ...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung ...


__ADS_2