Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.274 Sebuah File


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Ya, kamu mengenalnya, dan masa lalu lah yang sudah menghubungkan kalian berdua," jawab Ezra, tanpa menjelaskan siapa orangnya.


Keenan termenung, dia seakan sedang berpikir keras, mencari tau siapa lagi pelaku di dalam kejadian ini. Hingga, beberapa saat kemudian,matanya melebar dengan raut wajah penuh tanya.


"Apa ... mungkin itu adalah Alana?" tanya Keenan, dengan perasaan yang tidak menentu.


Marah sudah pasti, Keenan bahkan tidak pernah menyangka kalau Alana bisa bersekongkol dengan Toni, untuk menculik Riska darinya.


Ada juga sedikit rasa sakit di dalam hatinya, mengingat dia adalah saudara kembar Aluna, gadis yang menurutnya sangat lembut juga baik hati.


Ezra mengangguk sebagai jawaban, membuat Keenan semakin merasakan perasaan yang tidak menentu.


Tangannya mengepal erat dengan pandangan mengarah ke tubuh Riska, dia bisa melihat sendiri, bagaimana kondisi istrinya, ketika baru saja ditemukan.


Apalagi dengan ketakutan yang dia lihat dari mata istrinya itu. Dirinya yakin, kalau Riska tidak mendapatkan perlakuan baik, selama bersama mereka.


Entah apa lagi yang bisa terjadi pada istrinya, kalau saja dia tidak menemukan Riska malam ini.


"Dasar wanita brengsek!" Keenan memukul pahanya sendiri, melampiaskan kemarahannya.


"Harusnya dulu aku dengarkan perkataan kamu, sayang. Saat kamu bilang, kalau Alana sepertinya tidak suka sama kamu. Harusnya aku sudah mulai menyelidikinya dari saat itu," lirihnya, menatap penuh penyesalan wajah istrinya.


Keenan menundukkan kepalanya, dia benar-benar merasa gagal sebagai seorang suami saat ini.


.


.


Hari masih teramat awal, di luar bahkan gelap masih terlihat menyelimuti, menghalangi semua keindahan di sekitarnya.


Aryo duduk termenung di balkon kamar kedua anaknya. Ya, semenjak kedatangan Ezra dan Keenan ke rumahnya, dia bahkan belum berkomunikasi dengan baik pada istrinya.


Laki-laki yang sudah menjadi ayah dari dua anaknya, memilih untuk tidur di kamar anak-anak, dan membiarkan isrinya tidur sendiri.


Namun, sebuah telepon di larut malam, membuatnya masih terjaga sampai saat ini.


Flashback


Aryo baru saja datang ke kamar kedua anaknya, dia menatap wajah mungil mereka dengan perasaan gamang.


Keberadaan kedua anaknya itu, menjadi penyemangat dan penghibur hati di dalam kekecewaannya pada sang istri.


Dia mengecup kilas kening kedua anaknya lalu membetulkan selimut mereka. Akan tetapi, dering ponsel di sakunya, mengalihkan perhatiannya.


Melihat nama pemanggil, dia langsung beranjak menuju ke luar sambil menggeser ikon telepon berwarna hijau.


"Ya, Pak Ezra," ujarnya, sambil menempelkan ponselnya di depan telinga.

__ADS_1


"Aku sudah mengirim sebuah file ke email, Anda, mengenai istri, Anda." Ezra berucap dingin.


Tubuh Aryo menegang saat mendengar masalah instrinya kembali. Sebagai seorang pengusaha, tentu saja dia tahu, bagaimana kejamnya Ezra di dalam dunia bisnis.


Berurusan dengan keluarga Darmendra, akan menjadi mimpi buruk bagi siapa saja, begitu juga dengan dirinya sendiri.


"Anda, bisa melihatnya lebih dulu, lalu memutuskan apa yang akan, Anda, lakukan pada istri, Anda, selanjutya," ujar Ezra lagi.


"Aku yakin, Anda sudah tau cara kerjaku. Besok pagi, polisi akan datang ke rumah, Anda. Aku harao, Anda, tidak menyulitkan mereka." Ezra kembali berujar, saat dia tidak juga mendapatkan jawaban dari lawan bicaranya.


"Baik, Pak. Saya mengerti," jawab Aryo, dengan wajah yang semakin terlihat menyedihkan.


Ezra pun akhirnya memutuskan sambungan telepon di antara mereka, setelah menyampaikan apa yang seharusnya dia bicarakan.


Aryo duduk di salah satu kursi balkon itu, dia melihat layar ponselnya yang baru saja mati setelah panggilan itu terputus.


Dia kemudian menghidupkannya lagi, membuka email yang dikirimkan oleh Ezra padanya, beberapa saat yang lalu.


Tangan yang menggenggam ponsel itu tampak bergetar, melihat berbagai bukti dan surat laporan polisi dengan nama istrinya tertera di sana.


Seklera mata itu, kini mulai berwarna merah, menahan segala gejolak emosi yang kini dia rasakan.


"Apa yang kamu lakukan, Alana? Kenapa kamu tidak mengaku saja pagi tadi, mungkin dengan begitu, mereka akan memaafkan kamu," lirihnya, menundukkan kepala dengan ponsel yang digenggam begitu erat.


Flashback off


.


.


Aryo yang masih terdiam di balkon kamar anaknya, kini semakin dibuat tidak menentu. Tentu saja, dia sudah sangat tahu, siapa yang bertamu padanya pagi hari ini.


"Selamat pagi! Bisa bertemu dengan Pak Aryo dan Bu Alana?" tanya salah satu polisi yang berdiri di depan pembantu rumah tangga itu.


Wanita paruh baya itu, tampak mematung sejenak, terkejut dengan kedatangan beberapa orang polisi ke rumah majikannya.


"Pa–pagi, Pak. S–sebentar, saya panggilkan dulu," jawab asisten rumah tangga itu, gugup.


Dia langsung berjalan menuju ke lantai atas, di mana kamar kedua majikannya berada.


Namun, saat dia hendak menaiki anak tangga, ternyata Aryo sudah berada di ujung tangga atas. Laki-laki itu tampak turun dengan begitu santainya, seakan tidak tau siapa yang bertamu.


"Pak–"


Belum sempat asisten rumah tangganya itu melanjutkan perkataan, Aryo sudah memotongnya terlebih dahulu.


"Panggilkan saja, ibunya anak-anak. Suruh dia menyusul aku menemui tamu itu," perintahnya dengan nada dingin.


Asisten rumah tangganya itu, tampak menatap bingung pada Aryo. Tidak biasanya, majikannya itu terlihat begitu dingin.


"Baik, Pak," angguknya kemudian.

__ADS_1


Aryo langsung melanjutkan langkahnya, begitu mendengar jawaban dari wanita paruh baya itu.


"Selamat pagi, Pak. Kami ke mari, membawa surat perintah penangkapan untuk saudara Alana. Kami harap, Anda, bisa bekerjasama dengan baik," ujar salah satu polisi, sambil mengulurkan sebuah amplop ke depan Aryo.


Aryo tampak mengambil amplop bertuliskan salah satu kantor polisi, perlahan dia pun membukanya.


Aryo sedikit meremas kertas bertuliskan izin penangkapan istrinya, hatinya merasa sakit, saat harus dipaksa menerima kenyataan, kalau istrinya telah terdaftar sebagai seorang terlapor, di salah satu kantor polisi.


Dia mengangguk lemah, dengan wajah yang dibuat tegar di depan para polisi itu.


"Saya tidak akan mengganggu proses hukum istri saya. Kalian boleh membawanya, saya tidak akan mempersulit," ujarnya, dengan dada yang semakin terasa sesak.


Menoleh sekilas ke belakang, saat suara langkah kaki mulai terdengar. Dia pun mengalihkan kembali tatapannya pada polisi di depannya.


"Sebentar lagi dia akan datang," ujarnya, melangkah mundur, memberi jarak pada para polisi itu.


Alana yang baru saja sampai di ruang tamu, menatap heran orang-orang yang ada di sana.


"Honey, ada apa ini? Kenapa ada polisi di sini?" tanya Alana, melihat satu per satu laki-laki berseragam polisi.


Aryo tidak menjawab, dia kemudian memberikan lembar surat yang masih ada di tangannya.


Alana mengerutkan keningnya, perlahan tangannya menerima kertas tersebut dan membacanya.


Matanya melebar dengan kaca yang semakin menghalangi pandangannya, melihat berbagai rangkaian kata di dalamnya.


"Apa maksudnya ini, honey?" tanya Alana, dengan wajah paniknya.


"Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu, kepada istri Keenan," jawab Aryo lemas.


Dia bahkan tidak melihat wajah istrinya. Sudah cukup sakit dan kecewa hatinya, saat tau semua perbuatan istrinya, dan kini dia juga harus melihat istrinya dibawa ke kantor polisi.


Alana menatap tidak percaya wajah suaminya, lalu beralih melihat satu per satu polisi yang sudah bersiap di depannya.


"Bu Alana, kami harus segera membawa, Anda, ke kantor. Mari, ikuti kami," ujar salah satu polisi, yang sepertinya adalah ketua dari smua polisi di sana.


Alana menggeleng ribut, dia sama sekali tidak mau ikut bersama par polisi itu.


"Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak bersalah ... ini semua omong kosong!" ujarnya, melangkah mundur menjauh dari para polisi itu.


"Bu Alana, tolong untuk bekerjasama dengan kami."


"Tidak! Aku bilang tidak mau!" teriak Alana, dia kemudian beralih pada Aryo yang masih terdiam.


"Honey, aku tidak mau pergi bersama mereka. Aku gak salah, mereka yang salah, bukan aku." Alana, memegang tangan Aryo, dengan air mata berurai.


...🌿...


Bagaimana ya, sikap Aryo selanjutnya?🤔 Komen👍


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2