Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.131 Jajan


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


“Mas, aku mau itu juga,” tunjuk Ayu pada pedagang cilok kuah.


“Sayang, ini kamu sudah banyak banget loh jajannya,” keluh Ezra, mengangkat beberapa bungkus plastik di kedua tangannya, hasil belanja jajanan kaki lima istrinya.


“Tapi, aku mau itu, Mas,” rengek Ayu.


Ya, setelah usia kandungannya menginjak empat bulan, nafsu makan Ayu mulai naik, walau dia tetap tak suka makanan yang ia masak sendiri.


Namun, yang membuat Ezra sedikit kerepotan adalah kemauan jajan pinggir jalan, yang tidak bisa dibantah, entah sejak kapan istrinya jadi menyukai jajanan seperti itu.


Sepertinya sekarang ia percaya dengan perkataan Ansel, yang selalu bilang, kalau Ayu itu memang sedikit keras kepala dan sepertinya semua itu bertambah, sejak kehamilannya.


Ezra memalingkan wajahnya, melihat mata sang istri yang mulai berkaca-kaca. ‘Kenapa sekarang dia jadi cengeng sih?’ gumam Ezra dalam hati.


Dirinya selalu saja tidak tega, bila sudah melihat wajah memelas istrinya.


“Ya, baiklah. Tapi, setelah itu sudah ya, ini sudah banyak sekali,” ujar Ezra, memberi janji seperti sedang berbicara dengan anak kecil.


Ayu mengangguk dengan senyum senangnya, kembali menggandeng tangan Ezra, menganjaknya pada tempat berjualan cilok kuah itu.


Ezra hanya bisa pasrah mengikuti langkah sang istri yang membawanya ke sana kemari, untuk berburu jajanan di sepanjang jalanan itu.


‘Hah, sepertinya selanjutnya aku harus berpikir dua kali, mengajaknya jalan ke bazar seperti ini,” gumam Ezra dalam hati, melihat semua plastik di tangannya.


Ayu bahkan seperti tidak mempunyai rasa lelah. Ezra melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh siang.


Naura dan kedua orang tuanya sudah pulang sejak satu jam yang lalu, sedangkan dirinya masih terjebak oleh kemauan istrinya itu.


Apa lagi sebelum pergi Nawang sudah memperingatkannya untuk menuruti semua keinginan Ayu, agar agar anaknya tidak ileran setelah lahir nanti.


“Ingat, ikuti semua kemauan istrimu saat dia sedang hamil, kalau tidak nanti cucuku bisa ileran. Kamu mau, hah?”


Itulah ucapan Nawang sebelum dia pulang bersama Naura dan Garry.


“Sudah?” tanya Ezra, begitu Ayu mendapatkan pesanannya dari pedagang cilok kuah itu.


“Iya, aku juga udah lapar ... yuk, pulang!” aja Ayu.


Ezra mengembuskan napas lega, mendengar perkataan istrinya. Kemudian dengan semangat berjalan menggandeng tangan istrinya, setelah memindahkan plastik ke dalam satu tangannya.


Namun, belum juga lima menit berjalan, mata Ayu kembali tertarik pada sesuatu.


Ezra sudah mengambil ancang-ancang ketika melihat mata sang istri berbinar pada salah satu kedai es krim.


“Mas.” Ayu menggonyakkan tangan Ezra, dengan mata memohon.


‘Astagfirullah’ melas Ezra, dalam hati.


Bukan karena uang yang ia permasalahkan, hanya saja ini sudah lebih dari cukup untuk makan dia sekeluarga, dan sekarang Ayu masih mau  tambah lagi.


Menghela napas berat, lalu mengangguk lemah. Itulah yang sekarang Ezra lakukan kepada istrinya. Mau bagaimana lagi, kalau bumil kesayangannya sudah berkehendak, selain menuruti apa yang dia inginkan.

__ADS_1


Ayu tersenyum lalu membawa Ezra menuju kedai tersebut. Namun, kali ini sepertinya Ayu harus kecewa, karena Es krim di sana sudah habis.


“Ya sudah, nanti kita beli setelah pulang ke rumah ya,” ujar Ezra, sambil menggandeng Ayu untuk kembali berjalan pulang.


“Janji ya, Mas?” pinta Ayu.


Ezra langsung mengangguk. “Sekarang kan sudah ada ini, untuk kamu ngemil, hem.” Ezra menggoyangkan kantong plastik di tangannya, yang sedikit terangkat.


“Iya,” angguk Ayu, walau raut wajahnya tak seceria tadi.


Sampai di rumah, Naura langsung menyambut kedatangan kedua orang tuanya. Ezra langsung memberikan semua jajanan Ayu ke tangan Bi Yati.


“Tolong siapkan ini semua ya, Bi. Kita mau bersih-bersih dulu,” ucapnya pada Bi Yati.


“Baik, Pak.” Bi Yati sudah tahu kebiasaan Ayu yang lebih suka jajan, akhir-akhir ini.


“Sayang, Mama sama Papa ke kamar dulu ya, kamu main dulu sama kakek dan nenek.” Nawang yang sejak tadi sedang duduk berdua, menghampiri Naura.


“Terima kasih, Mah,” lirih Ayu, sebelum berjalan menuju ke kamar bersama dengan Ezra.


“Iya, Naura kan juga cucu Mama,” jawab Nawang, mengusap halus pundak Ayu, memberikan efek kehangatan.


Keduanya memilih membersihkan diri bersama, dengan disertai godaan dari Ezra, hingga akhirnya mereka harus kembali keluar kamar mandi dan melakukan aktivitas suami istri terlebih dulu, sebelum menuntaskan mandi mereka, nanti.


Ayu yang sudah sangat lelah, akhirnya terlelap, begitu aktivitas itu selesai. Ezra menyeka jejak permainannya di tubuh Ayu, setelahnya baru ia memilih untuk masuk ke kamar mandi,  dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Keduanya keluar di saat waktu makan siang, Ezra beralasan kalau Ayu ketiduran karena kecapian, saat Nawang mengetuk pintu kamarnya.


Setengah berbohong tidak apa bukan? Ayu memang tertidur karena kecapaian walau bukan sepenuhnya disebabkan oleh jalan-jalan.


Ayu langsung mencoba semua jenis makanan di sana, walau memang tak habis setiap satu porsinya. Dia hanya ingin mencicipi rasa dari setiap makanan yang dia beli, Ezra yang melihat Ayu begitu menikmati setiap jajanan itu, merasa sangat bahagia.


Ngidam yang dialami Ayu memang tidak terlalu merepotkan, dia hanya lebih sering jajan dan suka susah makan nasi. Walau terkadang ia merasa istrinya itu terlalu berlebihan saat menginginkan sesuatu. Namun, semua itu seakan selalu hilang saat melihat binar bahagia saat Ayu memakan apa yang telah dibelinya.


Mereka batu saja menyelesaikan acara makan siang, saat suara bel menginterupsi perhatian semuanya.


“Pak, Bu ... ada tamu yang mencari Bu Nindi,” ujar Bi Yati, beberapa saat kemudian.


“Mencari aku? Siapa, Bi?” tanya Ayu.


“Katanya orang tuanya teman Ibu,” jelas Bi Yati.


Ayu menautkan alisnya, sedangkan Ezra mengusap punggung istrinya.


“Kita temui saja, siapa tau ada hang penting,” saran Ezra.


Ayu menatap wajah suaminya yang memberikan senyum dan anggukan kepala kepadanya, kemudian ikut mengangguk.


“Pah, Mah ... kita temui tamu dulu ya,” pamit Ayu yang langsung diangguki oleh kedua mertuanya itu.


Sampai di ruang tamu Ayu bisa melihat seorang wanita paruh baya yang sedang duduk gelisah di salah satu kursi.


“Selamat siang,” ucapnya, sambil berdiri saat melihat kedatangan Tuan rumah.


Ezra yang mengenal siapa wanita itu, menautkan alisnya. ‘Mau apa dia kemari?’ gumamnya dalam hati.


“Tante Tami?” tanya Ayu memastikan, sambil maju hendak bersalaman.

__ADS_1


“Iya, betul. Saya Tami, ibunya Kemala,” jawab semangat wanita paruh baya yang ternyata bernama Tina itu.


“Silakan duduk, Tante,” ujar Ayu, dia dan Ezra pun duduk di hadapan wanita paruh baya itu.


“Ada perlu apa Anda datang ke rumah saya?” tanya Ezra langsung. Dia tahu sekali siapa orang di hadapannya saat ini.


Dia adalah Utami, ibu dari Kemala, mantan sahabat yang juga sudah memberikan luka bagi istrinya. Ezra tidak mau sampai istrinya mengingat masa lalu pahit yang ia lalui beberapa waktu lalu.


Utami tampak gugup, dia meremas baju di pangkuannya, memberanikan diri untuk melihat sepasang suami istri di depannya.


Ezra menatapnya tajam, memberikan intimidasi, yang sangat menyesakkan, membuat suaranya serasa tertahan di tenggorokan. Ditambah dengan kabar yang beredar di kalangan pebisnis, tentang kekejaman Ezra dan Keenan dalam menghadapi para musuhnya, memikirkan itu, Utami bertambah gelisah.


Menelan saliva dengan susah payah, Utami akhirnya mencoba membuka mulutnya. “Sa–saya ... saya kesini mau meminta tolong kepada Ayu,” ujarnya, ragu.


Ezra semakin geram mendengar perkataan tidak tahu diri dari wanita paruh baya di depannya, apa dia tidak mempunyai muka, setelah apa yang dilakukan anaknya kepada Ayu tanpa ada kata maaf sedikit pun. Sekarang dengan mudahnya, dia datang ke rumahnya dan ingin meminta tolong?


Ezra menggeleng miris ‘Dasar wanita tak tau malu!’ hardiknya dalam hati.


Andai saja di sini tidak ada istrinya, sejak tadi sudah pasti dia sudah menyuruh petugas keamanan,  untuk menyeret wanita paruh baya itu dari rumahnya.


“Ada apa, Tante? Apa yang bisa saya bantu?” tanya Ayu.


Utami mengangkat kepalanya, dia menatap wajah Ayu yang rampak semakin cantik dan bersinar. Dia pernah beberapa kali bertemu dengan Ayu, sewaktu Mala masih bersahabat dengannya, sikap Ayu yang sopan dan pekerja keras membuatnya senang Mala bisa berteman dengan Ayu, walau dia tahu kalau Ayu bukanlah dari keluarga berada.


Satu tetes air mata luruh di wajah yang terlihat sedang memendam begitu banyak masalah itu, menatap nanar penuh permohonan, wanita yang dulu pernah disakiti oleh anaknya itu.


“Ma–Mala ... sakit, dia ingin bertemu denganmu, apa kamu bisa menemuinya?” tanya Utami, dia melirik sekilas wajah Ezra yang tampak mengeras di samping Ayu, kemudian menundukkan kembali wajahnya.


Ayu yang tahu suasana hati Ezra, memegang tangan suaminya, membuat Ezra melihatnya. Ayu tersenyum dengan anggukan samar di kepalanya, seakan memberi tahu kalau dirinya tidak apa-apa.


“Sakit? Sakit apa, Tan?” tanya Ayu lagi.


Ezra mendengus kesal, melihat Ayu masih saja memperhatikan wanita yang telah memberikan istrinya banyak luka begitu dalam itu. Menghianatinya, merebut suami dan juga memprovokasi mertuanya agar semakin membenci, hingga melakukan cara-cara licik. Apa semua itu tidak berarti bagi istrinya ini. Kenapa dia masih saja mengkhawatirkan wanita itu.


Ayu tersenyum tipis, tangannya mengusap tangan Ezra, berusaha menenangkan perasaan suaminya saat ini.


“Mala sakit kanker serviks, dia sekarang di rawat di rumah sakit. Apa bisa kamu menemuinya? Dia tahu menyebut nama kamu,” jelas Utami.


Ayu menutup mulutnya saat mendengar penyakit yang cukup parah dan sulit disembuhkan itu.


“Bagaimana bisa Mala memiliki penyakit seperti itu?” tanya Ayu, begitu dia bisa mengendalikan dirinya sendiri.


Ezra kini beralih merangkul bahu istrinya, berusaha menenangkan Ayu, yang terlihat begitu terkejut, oleh kabar yang dibawa Utami saat ini.


“Menurut dokter, dia terkena bakteri saat berhubungan intim dengan lawan jenisnya. Dia mengaku kalau ternyata selama ini dia sudah terjerumus hubungan **** bebas,” ujar Utami, wanita itu sudah terisak, saat mengingat kondisi anaknya.


“Astagfirullah,” gumam Ayu.


...🌿...


Ish, karmanya gak maen-maen ya🤭


Ayo, siapa yang lagi nungguin bagiannya Mala?🤔


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2