
...Happy Reading...
...❤...
Di tempat lain, Ansel baru saja mendarat di bandara bersama dengan Larry. Senyuman dari Elena dan Bian langsung terlihat, menyambut kedatangan Ayah dan anak itu.
Ansel berjalan beriringan sambil membawa koper masing-masing.
Mereka baru saja datang dari negara R, setelah menghadiri acara pemakaman Arumi, Abra dan Melati.
Flash back
Beberapa hari yang lalu, tepatnya dua hari setelah kejadian penembakan Ezra, Larry mendapatkan telepon dari kediaman Abra, mereka mengabarkan kematian mertua, istri dan anak bungsunya.
Awalnya Larry tak mempercayai, berita yang baru saja ia dengar, bahkan lelaki paruh baya itu, lebih dulu mengkonfirmasi keberadaan Arumi di penjara dan Melati di asrama.
Betapa terkejutnya dia ketika tahu, kalau Arumi sudah dilepaskan secara bersyarat lebih dari satu bulan yang lalu, dan Melati sudah keluar dari asrama sejak dua minggu yang lalu.
Dalam hati, dirinya bertanya, kenapa Arumi tidak menemuinya atau memberi kabar kepadanya, kalau dia sudah keluar. Begitu juga dengan anaknya, dia benar-benar tidak menyangka kalau Melati berani berbohong kepadanya.
Ada rasa sakit seperti tersayat di dalam hatinya, jantungnya terasa berdetak dengan begitu cepat dan kecewa kini menyelimuti pikirannya.
Larry menghubungi Ansel dan meminta anaknya itu menemaninya ke negara R, untuk memastikan.
“Kenapa mereka tega sekali membohongiku selama ini?” gumamnya. Sesaat setelah telepon yang tersambung dengan Ansel terputus.
Malam itu juga mereka langsung berangkat ke negara R. Dengan perasaan tak menentu dan pikiran berkecamuk, tentang kematian tiga orang itu.
Ansel memang tidak tahu tentang pertarungan Ezra dan Abra, dia hanya tahu, kalau Ezra tertembak musuhnya saja, tanpa tahu siapa orangnya. Semua itu memang sudah sering terjadi, hidup Ezra memang dikelilingi dengan bahaya, sejak dia masih kecil.
Entah bagaimana perasaan kedua lelaki itu, jika sampai tahu kalau ketiga orang itu berencana untuk menculik dan menjual Ayu.
Apa lagi tentang kejahatan Arumi dan Abra, yang telah memanfaatkan Larry, untuk alat penambah kekayaan dan kenyataan kalau Melati bukanlah anaknya.
Mungkin tidak akan ada yang bisa membayangkan, bagaimana sakitnya hati pria paruh baya itu. Dia telah menelantarkan anak kandungnya demi mengurus anak orang lain, juga menceraikan istri yang sangat mencintainya, demi menikah dengan wanita gila harta seperti Arumi. Juga tentang kematian tiga orang itu yang disebabkan pertarungan dengan Ezra.
Begitu banyak kebenaran yang selama ini tertutup, oleh sebuah kejahatan dan keserakahan orang-orang di sekitarnya.
Hingga dirinya menjadi buta, tak tau mana yang benar dan salah, tak tahu mana yang tulus atau hanya pura-pura.
Flash back off
“Opa, Papi!” teriak Bian menyambut kedatangan Ayah dan kakeknya.
“Cucunya, Opa.” Larry berjongkok di depan Bian, memeluknya sekilas lalu mencium pipi anak kecil itu.
“Sayang, aku kangen.” Ansel langsung memeluk Elena dan membisikkan kata itu di telinga istrinya.
“Aku juga kangen sama kamu, Mas. Katanya cuman tiga hari, tapi, kok ini jadi dua minggu sih?” protes Elena, sambil mengurai pelukan mereka.
“Iya, ada sedikit pekerjaan yang harus kami urus selama di sana, jadi kepulangannya di undur deh,” jelas Ansel.
__ADS_1
Ya, karena sekarang sudah tidak ada lagi penerus untuk mengurus perusahaan peninggalan Abra, mereka berdua yang masih ada hubungan keluarga, harus ikut memutuskan, siapa kira-kira yang pantas dan akan terpilih menjadi pengganti Abra.
Maka dengan terpaksa Larry dan Ansel harus ikut campur di dalam masalah itu.
Setelah ada orang yang di pilih untuk menggantikan Abra. Masalah baru muncul kembali, itu tentang ke pada siapa keuntungan perusahaan akan dilimpahkan.
Setelah berembuk cukup lama, akhirnya Ansel dan Larry, memutuskan untuk memberikan semua keuntungan perusahaan kepada yayasan sosial.
Hingga kemarin siang mereka baru saja selesai mengurus surat-surat hibah dan yang lainnya. Keduanya langsung memutuskan pulang ke Indonesia dengan mengambil penerbangan tercepat.
Mereka langsung meninggalkan bandara dan pergi ke rumah Larry, Elena sudah berjanji dengan Ayu akan mengadakan makan malam bersama di rumah besar itu, dalam rangka menyambut kedatangan Larry dan Ansel, juga menghibur hati ayah mertuanya.
..............
Ezra baru saja sampai setelah hari menunjukkan pukul tujuh malam. Ayu dan Naura sudah bersiap untuk pergi ke rumah Larry.
“Sayang, maaf. Tadi, aku lupa, kalau kita mau ke rumah papa Larry,” ucap Ezra begitu ia sampai di rumah. Dia benar-benar merasa bersalah, karena tadi dirinya terlalu asik berbicara dengan teman lama yang berkunjung ke kantornya, ia jadi melupakan janji kepada Ayu.
“Hem, ya udah. Mas, mandi aja dulu, biar aku siapin bajunya,” ucapnya, dingin. Ayu langsung berjalan menuju lemari pakaian tanpa melihat wajah suaminya.
Ezra mengernyitkan keningnya, menatap Ayu yang sedang mengambil baju di lemari.
‘Kenapa akhir-akhir ini dia sering terlihat murung? Apa aku berbuat slah?’ gumamnya dalam hati.
Menghembuskan napas panjang, sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi. Ingatannya kembali pada beberapa hari yang lalu, saat ia melihat Ayu tampak murung, bahkan seperti tidak selera makan.
Flash back
“Kamu kenapa, sayang? Apa kamu sakit, atau ada yang mengganggu pikiranmu, hem?” tanya Ezra setelah mereka berbaring di tempat tidur berdua.
“Tapi, tadi aku lihat kamu seperti sedang banyak pikiran, sampai makan juga cuma sedikit?” tanya Ezra lagi, lengannya tak henti membelai rambut Ayu.
Saat ini mereka sedang berbaring dengan posisi berpelukan, Ayu menyelusupkan wajahnya, pada dada bidang Ezra, tangannya melingkar erat di tubuh kokoh suaminya.
Sedangkan salah satu tangan Ezra dijadikan bantalan oleh Ayu, dan satu tangannya lagi, asik membelai rambut istrinya, sesekali ia bahkan mendaratkan ciuman di sana.
“Aku cuman lagi gak napsu makan aja, Mas,” jawab Ayu singkat.
“Gak napsu makan? Kenapa, sayang? Apa kamu mau sesuatu?” tanya Ezra, keningnya berkerut, menatap puncak kepala Ayu yang berada di bawah dagunya.
‘Bukannya selama ini dia yang memasak dan menentukan menu makanan di rumah, tapi, kenapa jadi dia yang tidak berselera?’ gumam Ezra dalam hati.
“Gak tau, pas mau masak kayaknya makanan itu enak, tapi, kalau sudah jadi aku gak selera,” jawab Ayu lagi.
Ezra terdiam beberapa saat, sampai dirinya bisa mendengar napas teratur Ayu.
“Eh, udah tidur?” tanyanya, pelan. Baru saja dia mau berbicara lagi, tetapi, Ayu sudah tidur terlebih dahulu.
Flash bacak off
Beberapa saat setelah suaminya masuk ke dalam kamar mandi, Ayu menghembuskan napas lelah, dirinya duduk di sisi ranjang, dengan pakaian Ezra di pelukannya.
Entah mengapa akhir-akhir ini dia merasa begitu sensitif, dirinya seperti tidak bisa mengendalikan emosinya. Padahal selama ini, dia tidak pernah menampakkan emosinya pada orang lain.
Cklek
__ADS_1
Suara pintu terbuka menyadarkan Ayu dari lamunannya. Ezra berjalan dengan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya.
Ayu beranjak, dia berdiri menanti kedatangan suaminya, membantu memakaikan pakaian dan mengurus setiap keperluan Ezra.
Tiga puluh menit berselang, Ayu dan Ezra sudah keluar dari kamar, mereka bersiap berangkat ke rumah Larry.
Sebelumnya, Ezra sudah mengirim pesan kepada Ansel, kalau dia dan Ayu akan datang terlambat. Ezra juga berpesan untuk tidak menunggunya dan makan terlebih dahulu, karena takut akan terlalu malam nanti.
Dua puluh menit kemudian mobil Ezra sudah terparkir di pelataran rumah besar milik Larry.
Ezra langsung turun, dia membukakan pintu untuk kedua perempuan kesayangannya.
“Ayo, mereka pasti sudah menunggu,” ajak Ezra menggandeng tangan Naura, dan melingkarkan satu tangannya di pinggang sang istri.
Sampai di dalam rumah, mereka langsung di sambut oleh teriakan Bian. Anak kecil itu, begitu senang melihat kedatangan Naura dan Ayu.
Sejak Ayu menikah dengan Ezra, Bian jarang bertemu dengannya, hanya beberapa kali dia berkunjung ke rumah, atau jika kebetulan bertemu di sekolah.
“Aunty, Rara!” Bian berteriak sambil berlari menghampiri ketiganya.
Senyum di bibi Nura dan Ayu terbit begitu saja, Ezra melepaskan tangannya anaknya, membiarkanya menyambut kedatangan Bian.
“Maaf, semuanya kami terlambat,” ucap Ezra, setelah mereka saling menyapa dan sekarang tengah duduk di meja makan.
Larry, Ansel dan Elena sepakat untuk menunda makan malam dan menunggu kedatangan Ayu terlebih dahulu.
“Tidak apa, jangan terlalu sungkan begitu, bukannya kita ini semuanya keluarga? Lagi pula, ini adalah makan malam bersama pertama kali, setelah kamu dan Nindy menikah, jadi kita nikmati saja kebersamaan ini,” ucap Larry.
Ezra mengangguk, tak ada rasa canggung lagi di antara mereka, semuanya makan malam dengan suasana bahagia, diwarnai celotehan Naura dan Bian.
Setelah makan malam selesai mereka memutuskan untuk berkumpul kembali di ruang keluarga, Ezra berbasa-basi menanyakan keadaan di negara R, mengingat mereka berada di sana cukup lama.
Larry menceritakan semuanya, mereka mengatakan kalau ketiga orang itu meninggal karena kecelakaan, setelah Larry dan Ansel datang sebagai wali dan pihak keluarga, jasad Arumi, Melati datang Abra langsung di kebumikan.
Ezra mengangguk-anggukan kepalanya, saat mendengar cerita Larry. Dalam hati, ia bernapas lega, karena mereka juga tidak membocorkan pertarungan itu.
Walau sebenarnya sebelumnya dia juga tidak takut bila sampai mereka membicarakan semuanya pada Ansel dan Larry. Ezra sudah berencana, untuk membongkar semua kejahatan mereka.
Mereka mengirimkan jasad ketiga orang itu ke sana, untuk menghormati Ansel dan Larry, sedangkan yang lainnya entah di buang ke mana oleh para anggota Black Eagle.
Perbincangan mereka cukup panjang, bahkan Nura dan Bian sudah tidur sejak satu jam yang lalu, kini malam bahkan sudah semakin larut.
Ezra dan Ayu pulang setelah jam menunjuk angka sebelas. Awalnya Larry meminta mereka menginap, tetapi, Ayu selalu menolaknya.
Jujur saja, berada di rumah itu selalu mengingatkannya dengan keberadaan Arumi, wanita yang dengan tega merebut kebahagiaan keluarganya dan memisahkannya dari Ayah juga kakaknya.
Memaafkan mungkin memang mudah di ucapkan, tetapi luka di hati masih cukup terasa dan ingatan itu masih membayang di kepala.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Terima kasih untuk semua dukungannya, lope-lope sekebon buat kalian semua😘❤❤
__ADS_1