
...Happy Reading...
...❤...
Senja hari ini terlihat begitu indah, dengan semburat warna jingga di awan yang terhampar bagai gumpalan kapas, di langit biru.
Ayu, gadis itu meraih duduk bersimpuh di samping makam bertuliskan Puspa. Air matanya seakan tak ada habisnya ia keluarkan, isakan lirih pun masih terdengar dari mulut bergetarnya.
Larry
Lelaki paruh baya itu, bersembunyi di balik pohon, memandang anaknya yang sudah hampir satu jam duduk di tempat yang sama.
Entah kemana Ansel, kenapa dia tidak juga datang hingga matahari sudah akan tenggelam di peraduan.
"Sudah cukup, Om! Apa Om tidak kasihan melihat Nindi seperti itu?"
Larry terperanjat kaget, mendengar sebuah suara dari belakang tubuhnya.
Lelaki paruh baya itu, berbalik cepat. Dia tau pasti siap pemilik suara itu.
Ezra
Ya, lelaki yang merupakan sahabat dari anak lelakinya itu, berdiri dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku.
"Ezra, kenapa kamu ada di sini? Mana Ansel?" Larry melihat ke arah belakang Ezra, berharap anak sulungnya itu ada di sana.
"Ada kecelakaan yang mengakibatkan banyak korban, jadi dia tidak bisa datang," jawab Ezra.
"Om, belum menjawab pertanyaanku. Kenapa Om melakukan semua ini?"
"Kasian Nindi, Om. Dia sangat merindukan, Om selama ini," Ezra mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang terdengar sedang membaca surat yasin, dengan iskaan mengiringi suara merdunya.
"Sebenarnya Om sudah bisa mengingat semuanya sejak lama 'kan?"
Larry melebarkan matanya, mendengar perkataan yang di ucapkan oleh Ezra.
"Aku sudah tau semuanya, Om. Selama ini, Om menyuruh orang untuk terus mengawasi Nindi dan menjaganya 'kan?"
"Orang itu sudah mengatakan semuanya kepadaku."
Lelaki paruh baya itu menunduk mendengar semua penjelasan dari Ezra.
"Aku melakukan ini demi keselamatan Nindi, Zra."
"Mereka bukan orang orang yang bisa aku lawan sendiri. Mereka orang-orang tamak dan serakah, yang berani melakukan segala cara untuk memenuhi keinginannya."
"Lalu kenapa, Om tidak meminta bantuan? Setidaknya kepada anak Om sendiri!"
Ezra langsung memotong perkataan ayah dari sahabatnya sendiri.
"Selama ini, Aku selalu di awasil. Setiap gerak dan langkahku di atur oleh mereka, dan Nindi sebagai ancamannya."
__ADS_1
"Kamu ingat penyerangan Nindi di vila milikmu? Itu semua ulah mereka, karena mereka tau, aku merespon permintaan Ansel untuk mengingat adiknya," jelas Larry
"Katakan aku harus berbuat apa, Zra? Kalau boleh aku mengeluh, aku juga sangat merindukan anak perempuanku. Aku juga ingin memeluknya di saat bersedih dan menemaninya di saat senang. Tapi, aku tidak bisa, Zra."
"Kita lawan mereka bersama, Om. Aku mau membantu, untuk mengalahkan manusia tak punya hati seperti mereka."
"Maaf ... aku harus mengatakan itu, Om. Tapi, aku tidak tau harus menggambarkan mereka dengan kata apa selain kata itu." ucap Ezra, merasa kata-katanya terlalu pedas.
Larry menggeleng lemah.
"Tidak apa, aku tau kamu benar-benar peduli pada Ansel dan Nindi. Terima kasih sudah mau terus menjadi pelindung untuk anak-anakku, bahkan tanpa mereka berdua sadari." Larry menepuk pundak Ezra berulang.
"Aku malu denganmu, Zra. Aku bahkan merasa tidak pantas di sebut sebagai seorang ayah."
"Om, kita pasti bisa mengalahkan mereka semua. Kita berusaha bersama!" kata Ezra yakin.
Larry mengangguk.
"Titip Nindi, Aku percaya padamu,"
Larry melihat anak perempuannya, sebelum pergi meninggalkan Ezra di sana.
Beberapa saat kemudian, Ayu tampak berusaha bangun, dengan sedikit kesulitan karena kakinya yang terasa kebas.
"Nindi? Kamu juga ada di sini?" Ezra berperan seperti orang yang baru saja melihat wanita itu secara kebetulan.
"Kamu? Ngapain kamu di sini?" tanya Ayu mengerutkan keningnya.
"Aku kebetulan habis menghadiri pemakaman seorang teman," tunjuk Ezra pada segerombolan orang yang terlihat baru saja membubarkan diri dari pemakaman.
"Awssh!" Ayu sedikit meringis saat akan melangkahkan kakinya dan hampir saja terjatuh karena tubuhnya yang oleng.
Untung saja, Ezra dengan sigap menahan tubuh Ayu.
"Maaf," lelaki itu, langsung melepaskan tangannya dari pundak Ayu.
"Kaki kamu kenapa?" tanya Ezra. Permainan perannya sungguh sangat natural, kalau dia menjadi seorang aktris, mungkin lelaki itu sudah memenangkan semua piala penghargaan.
"Kaki aku kebas, mungkin karena terlalu lama di tekuk," ucap Ayu dengan ringisan kecil dari mulutnya.
Ezra menganggukan kepalanya, tanda ia sudah mengerti.
"Mau pulang? Kalau enggak keberatan kamu bisa pegang lengan aku buat tumpuan," ucap Ezra mengulurkan tangannya.
Dengan ragu, Ayu memegang bagian lengan atas Ezra yang tertutup oleh baju, melangkah bersama keluar dari area makam.
Posisi mereka malah seperti sepasang suami istri yang tengah berjalan bersama, dengan sang istri menggandeng manja lengan suaminya.
Para pengunjung makam, yang tadi di tunjuk oleh Ezra sebagai alasan, saling berbisik melihat kemesraan sepasang manusia yang tampak sangat serasi.
Ezra terlihat seperti sedang menuntun sang istri yang sedang bersedih.
Ya, wajah Ayu yang masih terlihat sembab oleh jejak air mata di pipinya, memang terlihat sangat menyedihkan.
__ADS_1
"Kamu biar pulang sama aku aja ya, mobil kamu biar nanti supir atau adik aku yang bawa." ucap Ezra.
Ayu bersandar di pintu mobil, dengan kaki yang masih terasa sedikit pegal.
"Eh, gak usah! Aku masih bisa pulang sendiri kok," tolak Ayu.
"Gimana mau pulang sendiri, sedangkan buat jalan aja kamu susah? Udah lebih baik kamu pulang sama aku aja, gak usah ngebantah!" intonasi tegas dengan raut wajah tidak mau di bantah.
Ayu mendengus kesal, ketika melihat Ezra yang tampak menyebalkan di matanya.
"Ayo, masuk ke mobil. Udah mau maghrib, gak bagus kita masih ada di sekitar pemakaman!" Ezra memegang handle pintu mobilnya.
Ayu menggeser tubuhnya, agar pintu bisa terbuka. Masuk dengan wajah yang di tekuk dan decakan kesal dari mulutnya.
"Anak pintar," goda Ezra dengan senyum kemenangan di wajahnya.
Ayu memandang kesal, bersidekap dada dengan mulut maju dan alis bertaut, tanda protes.
Ezra terkekeh gemas melihat gaya ngambek wanita di sampingnya yang persis sama seperti Naura.
"Ish, kalau liat kamu ngambek kok malah jadi gemes ya. Mirip sama Naura." kekahan kecil itu masih mengiringi perkataannya.
Mencondongkan tubuhnya, meraih sabuk pengaman Ayu yang belum terpasang.
"Senang ya, di pasangan sabuk pengaman sama aku?" goda Ezra.
"Apaan sih, aku lupa! Kamu aja yang selalu cari kesempatan!" Ayu langsung memalingkan wajahnya ke luar yang tampak memerah.
"Masa lupa terus kalau lagi di mobil aku?"
Lelaki itu masih saja belum puas menggoda wanita di sampingnya itu.
"Ayo jalan, katanya enggak bagus maghrib ada di sekitar pemakaman?" Ayu membalikan perkataan dari Ezra tadi.
Wanita itu sudah habis kata, untuk melawan godaan dari lelaki yang terkenal dingin itu.
'Dingin dari mananya coba, orang tengil kayak gini kok di sebut dingin?!' Ayu bergumam kesal di dalam hati.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Karena aku lagi seneng banget, ngeliat vote dari kalian yang terus bertambah, sekaligus ngerayain pop yang sudah mencapai 1M.
Dan juga sebagai tanda terima kasih aku pada kalian semua, hari ini aku kasih up dua kali.
Tapi nanti jangan nagih ya, ini aja aku ngorbanin kerjaan rumah, demi ngetik lagi🤧🤧
Semoga suka ya, semuanya🥰
Yang baca barengan sama up tadi siang, jangan lupa jempolnya ya, jangan sampai kelewat😁😁
__ADS_1
**Makasih ya, buat semua dukungan kalian, apapun bentuk dukungan itu, semuanya sangat berarti untuk aku yang masih harus banyak belajar🙏😘😘
Pokoknya lope-lope buat kalian semua❤❤❤**