Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.300 Bikin rujak


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Keenan sudah sampai di salah satu cabang pohon. Setelah menemukan posisi yang terasa nyaman, penjaga vila yang juga ikut ke sana, mengulurkan galah kepada Keenan.


Keenan sudah hendak mengambil salah satu buah kedondong yang menjadi targetnya. Akan tetapi, Riska yang melihat dari bawah, mencegah Keenan.


"Jangan yang itu, Bang. Aku maunya yang sebelah sana," tunjuk Riska pada buah kedondong yang terlihat mulai berwarna kekuningan.


"Yang mana, sayang?" tanya Keenan yang belum melihat jelas buah kedondong yang ditunjuk oleh istrinya.


"Itu, yang sebelah sana, Bang. Sebelah atasnya, yang udah mau matang!" teriak Riska.


Keenanpun mengarahkan galah di tangannya pada salah satu buah kedondong, yang menurutnya mirip dengan ciri-ciri yang Riksa mau.


"Ini?" tanya Keenan.


"Iya, yang itu!" semangat Riska.


Keenan tersneyum, dia harus naik sedikit lagi untuk mencapai kedondong yang diinginkan oleh istrinya.


Hingga beberapa saat kemudian Keenan pun sudah berhasil mengambil beberapa buah kedondong yang diinginkan oleh istrinya itu.


Penjaga vila pun membantu memungut buah kedondong yang sudah di jatuhkan oleh Keenan ke bawah sebelumnya.


"Kenapa ini pohon kedondong gak ditebang saja sih? Padahal keliatannya udah cukup besar," gerutu Keenan sebelum turun ke bawah.


Laki-laki yang sebentar lagi akan mendapatkan seorang anak itu, masih merasa kesal karena gara-gara pohon kedondong itu, dia jadi harus memanjat seperti sekarang ini.


"Dulau perasaan kamu masih kecil deh, pohon. Aku masih inget suka ngambil buah kamu dengan hanya meloncat di salah satu dahan, lalu menariknya ke bawah." Keenan tampak berbicara sendiri di atas pohon, mengingat masa kecilnya yang sering mencuri buah kedondong itu, setiap kali Nawang dan Garry membawanya berlibur ke vila itu.


"Untung saja, pemilik kamu masih orang baik itu, jadi aku gak kesulitan meminta buah kamu untuk istriku yang sedang mengidam," sambung Keenan lagi.


"Haah! Mungkin ini kali ya yang disebut dengan karma?" Keenan masih saja asik berdiam diri di tas pohon.


Sedangkan di bawah sana, semua orang melihat bingung, Keenan yang masih saja berdiam diri di atas pohon.


"Vin, adikku gak gila kan? Ngapain dia ngomong sama pohon kedondong," ujar Ezra sambil menatap bingung adik kandungnya.


Alvin pun tampak memicingkan matanya, berusaha melihat lebih jelas lagi, apa yang sedang dilakukan oleh Keenan di atas sana.


"Kayaknya, Pak Keenan, tampak sedikit syok atau mungkin lebih terkejut." Alvin mencoba menebak.


"Ck, kamu memang terlalu jujur jadi orang," ujar Ezra menatap kesal asistennya itu.

__ADS_1


Alvin hanya terdiam, dia sendiri bingung apakah itu sebuah pujian atau bahkan sebaliknya.


"Abang, nagpain masih diam di sana?" tanya Riska, yang sejak tadi melihat Keenan terdiam di atas sana.


"Ya, sayang. Ini aku juga udah mau turun kok," jawab Keenan sambil tersenyum.


Keenan bersiap untuk turun, dia lebih dulu melemparkan galah di tangannya ke bawah, lalu perlahan melangkah mundur, bersiap untuk turun dari pohon.


Beberapa saat kemudian, Keenan sudah sampai di depan Riska, sambil membawa buah kedondong yang diinginkan oleh istrinya itu.


"Ini, aku udah dapat buah kedodongnya. Sekarang kamu gak boleh marah lagi sama aku ya, sayang." Keenan mengangkat salah satu buah kedondong ke luar dari pelastik.


Riska menganggu dengan senyum sumringahnya. "Terima kasih, Abang."


Riska terlihat bergelayut manja di lengan Keenan. Akan tetapi, sesat kemudian Riska kembali melepaskan pelukannya sambil menutup hidungnya.


Keenan meringis melihat Riska yang kembali merasakan mual. "Ada apa, sayang?"


"Kamu bau, Bang. Mandi dulu gih! Nanti baru aku mau peluk," ujar Riska tanpa tau perasaan kesal Keenan.


Ya ampun, kenapa sekarang dia terasa lebih manja dan sensitif dari sebelumnya sih? Aku kan jadi gak bisa nyari perhatian Riska. gerutu Keenan.


Keenan tampak mencium beberapa buah yang masih menempel di tubuhnya. Menurut Keenan tidak ada bau menyengat dari tubuhnya, hanya saja memang keringatnya cukup banyak yang ke liar.


"Tapi, sayang." tolak Keenan.


"Ck!" Keenan berdecak kesal sambil menatap Ezra tajam, kemudian berjalan lebih dulu menuju rumah.


Riska, Ayu, dan Ezra, juga yang lainnya pun menyusul kemudian.


.


.


Beberapa saat kemduian, Nawang, Ayu, dan Riska, tengah sibuk menyiapkan bumbu rujak. Sedangkan Alvin tengah membeli buah pelengkap lainnya.


Ya, karena ulah ngidam satu ibu hamil, kini ketiga wanita itu berencana untuk menghabiskan waktu siang mereka dengan makan rujak buah bersama.


Sedangkan Ezra dan Garry bertugas untuk menjaga Naura dan Zain, di ruangan tengah.


"Sayang, aku udah mandi nih, udah wangi juga." Keenan yang baru saja sampai di dapur langsung menghampiri Riska yang sedang mengupas buah kedondong.


"Heem." Riska hanya bergumam sebagai jawaban, sedangkan mata dan tangannya sibuk dengan buah yang sedang dia kupas.


Ayu yang sedang memotong buah pun ikut tersenyum, melihat tingkah manja Keenan.

__ADS_1


Kakak adik sama saja manjanya, batin Ayu, mengingat Ezra.


"Hanya, 'heem' aja, gak ada yang lain?" tanya Keenan tidak terima dengan jawaban istrinya.


Riska menoleh sekilas pada suaminya dengan kerutan halus di keningnya. "Lalu apa lagi?"


Keenan tampak meringis, mendengar pertanyaan polos dari istrinya.


"Ah iya," ujar Riska, membuat senyum Keenan kembali merekah.


Laki-laki itu tampak sedikit memajukan wajahnya, bersiap menerima ucapan terima kasih sekaligus cuman dari istrinya.


"Terima kasih, Abaang," sambung Riska lagi, sambil tersenyum cerah, lalu kembali fokus pada buah kedondong di tangannya.


Keenan menghela napas miris, saat harapannya mendapatkan hal romantis dari istrinya pupus sudah.


"Sudah? Hanya itu aja? Gak ada yang lain?" tanya Keenan lagi.


Riska menggeleng bagaikan seorang gadis polos yang tidak tahu sebuah kode dari suaminya.


Mata Keenan berkedip cepat, menatap Riska heran.


Astaga! Kenapa dia gak peka sama sekali? batin Keenan.


Sedangkan Ayu dan Nawang yang melihat interaksi dari pasangan suami istri itu, hanya bisa menahan senyumnya, melihat kekesalan Keenan.


"Asslamualaikum ... ini bahan pelengkap untuk membuat rujaknya."


TIba-tiba saja Alvin datang dengan kantong plastik di tangannya, dia langsung masuk tanpa tahu kejadian apa yang sedang terjadi di dapur itu.


"Sini, Vin ... biar aku kupas lagi buah yang lainya." Riska berujar penuh semangat.


Alvin pun langsung menaruh kantong plastik di tangannya ke depan Riska, hingga dirinya baru menyadari kalau Keenan sedang menatapnya tajam.


Ya ampun, kayaknya aku salah waktu masuk lagi nih? batin Alvin, ketar-ketir sendiri.


Alvin mengedarkan pandangannya, menatap Ayu dan Nawang yang juga tengah menjadikannya perhatian.


Aku salah apa lagi sekarag? keluh Alvin di dalam hati.


Namun, tidak lama kemudian Ayu dan Nawang terkekeh kecil, hingga sedikit mencairkan situasi canggung yang tiba-tiba terasa.


"Ayo ikut sama aku sekarang!" Keenan langsung bangun dan membawa Alvin ke luar dari dapur.


Alvin pun hanya bisa pasrah sambil menuruti kemauan Keenan.

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2