
...Happy Reading...
...❤...
Setelah cukup lama berbincang, Ezra mengajak Keenan untuk masuk ke dalam ruang kerjanya yang baru.
"Ken, ikut aku dulu," ujar Ezra sambil beranjak dari sofa.
Keenan mengangguk, lalu mengikuti langkah sang kakak, di depannya. Meninggalkan kedua orang tua mereka yang masih berada di ruang tengah.
Ruang kerja Ezra, kini berada sebelah sudut, dekat dengan kamar pribadi Keenan di rumah itu.
"Bagaimana dengan calon asisten untukku? Apa kamu sudah menemukan beberpa calon yang mendekati kriteriaku?" tanya Ezra, begitu mereka sudah masuk ke dalam ruang kerja.
"Ada beberapa pelamar yang menurutku cukup bagus. Tapi, aku belum mewawancarainya, Kak," jawab Keenan.
"Jangan dulu, kita tidak membutuhkan orang yang hanya pintar di dalam ijazah saja. Tapi, aku mau orang yang benar-benar kompeten dalam bidangnya, dan bisa mengimbangi gaya kerjaku," ujar Ezra.
Keenan sempat terdiam, dia bingung sendiri dengan segala persyaratan yang cukup banyak itu.
"Kalau, Kakak, setuju ... kita bisa melakukan percobaan kerja dulu, selama satu minggu, satu bulan atau bahkan tiga bulan, untuk melihat kinerjanya, sekaligus membiarkan mereka beradaptasi dengan cara kerja, Kakak," usul Keenan.
Ezra melihat Keenan dengan wajah seriusnya. Inilah yang dia tidak sukai dalam pergantinan karyawan, apa lagi bila itu menyangkut dengan pekerjaannya langsung.
Menurutnya itu sangatlah merepotkan, juga akan mengacaukan jadwal kerja yang sebelumnya sudah tersusun rapi.
Namun, apa boleh buat, ini memang keputusannya, karena lambat laun Keenan tetap harus keluar dari kantornya, untuk meneruskan perusahaan keluarganya.
"Jangan terlalu lama, sepertinya satu minggu juga sudah cukup. Pastikan juga sikapnya baik, aku tak mau memiliki seorang asisten dengan sikap yang buruk, sepintar apa pun dia,'' imbuh Ezra lagi.
"Baik, Kak," angguk Keenan.
"Besok, panggil mereka semua ke kantor, aku ingin menemui mereka secara langsung." Ezra memberi perintah, yang langsung disanggupi oleh Keenan.
Untuk beberapa saat, mereka pun sempat sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Ezra yang sedang melihat laporan yang baru saja dikirim oleh adiknya itu, sedangkan Keenan sibuk mengirim email pada calon penggantinya.
"Bagimana dengan CCTV yang berada di kamar Zain, apa sudah bisa terhubung pada ponsel?" tanya Ezra.
Kemarin, sewaktu Ezra melihat persiapan kejutan untuk Ayu, ada sedikit kendala pada CCTVnya.
Rekaman yang harusnya dapat tersambung pada ponsel, ternyata mengalami masalah, hingga harus diperbaiki terlebih dahulu.
"Tadi siang, sudah ada yang datang untuk memperbaiki, dan sekarang semuanya sudah bisa tersambung. Kakak, bisa mencobanya sendiri," ujar Keenan.
__ADS_1
Ezra pun mencari ponselnya di saku, akan tetapi, ternyata dia tidak bisa menemukannya.
"Sepertinya ponselku tertinggal di kamar, coba pakai ponsel kamu saja," ujar Ezra.
Keenan mengambil ponselnya, dia mencoba menyambungkannya dengan CCTV di kamar Zain, sambil memperlihatkannya pada Ezra.
Awalnya semuanya berjalan biasa saja, mereka bisa melihat Ayu dan Riska yang sepertinya sedang berbicara.
"Gimana, Kak ... bagus kan?" tanya Keenan, begitu video itu terlihat dan menampilkan gambar yang jelas.
Keenan pun sempat memindahkan pada beberapa CCTV lainnya yang terpasang di kamar itu, memastikan semuanya bisa tersambung dengan baik.
"Coba audionya," perintah Ezra.
Keenan pun mengatur kembali, agar suara di sekitar CCTV itu terdengar oleh keduanya.
Namun, kemudian dirinya mematung, saat mendengar perkataan yang dilontarkan Riska pada Ayu.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya terdiam, mendengarkan perbincangan kedua wanita yang tak lain adalah istri mereka sendiri.
Ezra pun tak mungkin menghentikan kegiatan Keenan, karena itu bisa saja menimbulkan kesalahpahaman di antara pasangan suami istri itu.
Dia memutuskan membiarkan Keenan mendengar semua perbincangan Riska dan Ayu sampai selesai.
Keenan tampak menarik napas panjang berulang kali, dan menghembuskannya kasar.
"Kak, kenapa meyakinkan seseorang itu begitu sulit? Kenapa Riska masih saja belum yakin dengan cintaku padanya?" tanya Keenan, setelah ia menyimpan ponselnya di meja begitu saja.
Ezra menatap adiknya iba, jangankan Riska, pada awalnya dirinya sendiri pun
belum begitu yakin dengan perasaan Keenan.
Namun, lambat laun, ia bisa melihat semua itu di mata adiknya. Suatu keyakinan dan kasih sayang yang selama ini tak pernah Keenan berikan pada siapa pun selain Riska.
"Setiap kisah itu ada perjuangannya masing-masing, dan itu juga yang harus kamu lakukan untuk mendapatkan kepercayaan Riska, Ken."
"Kamu juga bisa lihat dan dengar sendiri, kalau Riska sudah mau membuka jalan untuk lebih baik dalam berkomunikasi denganmu?" tanya Ezra yang langsung mendapatkan anggukkan dari adiknya itu.
"Sekarang, kamu juga harus bisa lebih terbuka dengan Riska, kamu harus lebih jujur dan memperbanyak diskusi di dalam rumah tangga kalian, agar kedepannya tidak ada lagi kesalahpahaman seperti kemarin."
Keenan menatap Ezra, dia pun menyetujui setiap perkataan kakaknya itu.
.
.
Hari pun berlalu, satu minggu setelah kejadian itu, hubungan antara Riska dan Keenan semakin dekat. Mereka bisa lebih terbuka satu sama lain, mengenai perasaan mereka sendiri.
__ADS_1
Pagi ini, seperti biasa, Keenan sedang mengantarkan Riska menuju butik, sebelum dirinya ke kantor.
"Kamu ingat kan, kalau nanti siang kita akan bertemu dengan Alana dan suaminya?" ujar Keenan, mengingatkan kembali.
"Ya, aku masih ingat kok. Kenapa? Kayaknya, Abang, seneng banget mau ketemu sama wanita itu," ujar Riska, melihat Keenan sekilas, lalu memalingkan wajahnya melihat lurus ke depan.
Ya, mereka berdua memutuskan untuk bertemu dengan Alana, agar Riska bisa lebih yakin lagi dengan semua perkataan Keenan tentang Luna.
Keenan melirik Riska dengan ujung matanya, senyum tak bisa lagi ia sembunyikan saat melihat wajah masam istrinya itu.
Dengan jahilnya dia menusuk kecil pipi Riska menggunakan ujung telunjuknya, hingga wanita itu menoleh dengan raut wajah kesal.
Cup.
Satu kecupan kilas, mendarat tepat di bibir Riska yang tengah sedikit maju karena merajuk.
Keenan langsung menegakkan kembali tubuhnya dan fokus pada deretan mobil di depannya yang sedang mengantre menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.
"Abang!" Riska berucap geram, dengan mata yang terbuka lebar.
"Ya, sayang," jawab Keenan dengan kekehan kecil menyertai perkataannya.
"Dasar tukang copet, main sambar aja sama bibir orang," gerutu Riska sambil memberikan cubitan di pinggang suaminya.
"A–akh, sakit ... sakit, sayang." Keenan menggeliat menahan rasa panas di pinggangnya.
"Biarin, siapa suruh main sambar aja. Orang aku lagi kesel juga," ujar Riska, kembali memalingkan wajahnya.
"Kesal kenapa sih, sayang? Kamu cemburu karena aku mau ketemu sama Alana, hem?" tanya Keenan, sambil mulai mengemudikan kembali mobilnya, karena lampu lalu lintas sudah berwarna hijau.
"Siapa bilang? Enggak tuh, jangan ge'er ya," bantah Riska.
"Kalau gak cemburu terus apa lagi dong? Buktinya kamu langsung kesal pas aku ingetin pertemuan kita sama Alana nanti siang. Padahal kan kita bertemu juga berdua, dia juga sama suaminya, tapi kamu tetap aja cemburu, iya kan?"
Keenan mulai menggoda Riska, dengan kejahilannya.
"Gak, aku gak cemburu. Lagi pula buat apa aku cemburu? Abang juga sekarang gak bisa jauh dari aku," ujar Riska yang membuat tawa Keenan meledak dan mengakui kebenaran perkataan istrinya itu.
"Ahahaha ... iya, iya, kamu memang benar. Mana bisa aku jauh dari istriku ini," ujar Keenan di sela tawanya.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1