Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.288 Terbiasa Bersama


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Keenan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, mengalihkan pandangannya sekilas saat ada notifikasi pesan dari ponselnya.


Tertera pesan dari id nama Rio, Dia pun menghentikan dulu pekerjaannya, dan mengambil ponselnya.


"Fftth." Rio tidak bisa lagi menahan tawanya, saat melihat foto yang dikirimkan oleh adik iparnya itu.


"Astaga, kenapa mereka bisa bertingkah konyol seperti ini kalau sedang bersama," ujar Keenan diiringi dengan kekehan kecil dari mulutnya.


"Semoga dengan kamu berada bersama Ibu dan Rio, bisa sedikit menyembukhan trauma akibat kejadian itu," sambungnya lagi.


Mengingat itu semua, Keenan jadi teringat kembali pada nasib kasus Alana dan Toni.


Keenan pun langsung menghubungi Alvin yang masih bertugas, untuk memantau kasus perkembangan kasus mereka.


"Vin, bagaimana dengan perkembangan kasus dua mereka?" tanya Keenan.


Dia bahkan tidak mau lagi menyebutkan nama Alana dan Toni lagi.


"Semuanya berjalan dengan lancar, Pak. Tapi, Pak Toni mengakui kalau dirinya melakukan pelecehan atas dasar kemauannya sendiri, tanpa ada campur tangan Bu Alana."


Alvin mulai menjelaskan keadaan kasus Alana dan Toni saat ini.


"Pengakuan itu otomatis membuat Bu Alana lolos dari salah satu gugatan kita," sambung Alvin lagi.


"Itu memang sudah saya perkirakan sebelumnya. Biarkan saja semua itu ... tapi, ingat jangan sampai wanita itu lolos dari tuntutan kita yang lainnya," jawab Keenan.


"Terus awasi suami dan anak-anaknya, jangan sampai laki-laki itu melakukan hal yang membahayakan kita," sambung Keenan lagi.


"Baik, Pak."


Keenan langsung memutuskan sambungan teleponnya, setelah mendengar jawaban dari asisten kakanya itu.


.


.


Waktu berjalan begitu lambat bagi Keenan, dia terus bergerak gelisah saat waktu melewati makan siang.


Satu minggu lebih terus berada di samping istrinya, ternyata cukup membuatnya terbiasa, hingga sulit untuk berjauhan walau hanya satu hari seperti ini.


Dia terus membolak-balik berkas di tangannya dengan pikiran yang sama sekali tidak bisa dikondisikan.


Keenan kembali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dia lalu mengdesah lelah, saat waktu masih menunjukan jam dua siang.


Kenapa kamu lama sekali sih jalannya, apa jam tanganku rusak ya? Perasaan dari tadi gak gerak-gerak, batin Keenan.


"Kamu kenapa, Ken?" Garry yang kebetulan sedang berkunjung ke ruang kerja anaknya itu bertanya.


Dia sudah jengah melihat tingkah Keenan yang tampak gelisah sejak tadi.

__ADS_1


"Hah, gak apa-apa, Pah," jawab Keenan.


Garry hanya menggeleng samar, melihat tingkah anak bungsunya itu. Dia sudah pasti tau alasan anaknya seperti itu.


"Apa pekerjaan kamu sudah selesai?" tanya Garry.


"Sudah, Pah. Ini tinggal nunggu jadwal rapat sama kepala cabang, jam tiga nanti," jelas Keenan.


Laki-laki itu memang sudah menyelesaikan urusan pekerjaannya, dia yang suka mengerjakan pekerjaan saat Riska istirahat, kini merasakan manfaatnya.


Ketika dirinya baru masuk kerja, dia sudah menyelesaikan semua lebih dari setengah pekerjaannya di rumah, hingga hari ini hanya tinggal beberapa berkas yang belum sempat dia kerjakan sebelumnya.


"Ya sudah, kamu boleh pulang kalau sudah selesai rapat nanti," ujar Garry.


Keenan tersenyum bahagia mendengar kata yang terucap dari ayahnya. Walaupun dia harus menunggu beberapa jam lagi untuk segera pulang.


"Beneran nih, Pah. Bukannya nanti sore ada jadwal kunjungan ke proyek?" tanya Keenan memastikan.


Tadi pagi Garry memang meminta Keenan, untuk menemaninya memantau perkembangan proyek yang masih berada di dalam kota.


"Gak apa, nanti biar aku sendiri saja yang datang ke sana," jawab Garry.


"Terima kasih, Pah," ujar Keenan, tersenyum senang.


Setelah membicarakan beberapa pekerjaan Garry akhirnya pamit untuk kembali ke ruangannya.


Sedangkan Keenan mulai menyiapkan berkas, untuk pertemuannya dengan kepala cabang sebentar lagi.


.


.


Dia duduk di menyandar di lantai, dengan kaki diluruskan. Sedangkan Rio membereskan bekas alat kebersihan ke dapur.


Baru saja beraktivitas kecil saja rasanya sudah lelah, padahal biasanya satu rumah ini dia sendiri yang membersihkannya.


Memang setelah dia ke liar dari rumah sakit, Keenan tidak pernah mengizinkannya untuk mengerjakan pekerjaan rumah.


Suaminya itu, lebih memilih untuk melakukannya sendiri, tanpa melibatkan Riska.


"Heuh! Kenapa rasanya capek banget ya," keluh Riska sambil mengusap butir keringat di keningnya.


"Kenapa, capek ya?" tanya Ibu sambil mengulurkan air putih ke depan Riska.


Riska mendongak kemudian tersenyum sambil mengambil gelas di tangan ibunya.


"Iya, Bu. Ini pasti gara-gara Bang Ken terlalu manjain aku, jadinya cepet capek," ujar Riska sedikit menggerutu.


Ibu tersenyum kemudian ikut duduk di samping anak perempuannya itu.


"Itu karena kamu sedang hamil muda, makanya suka cepet capek," ujar Ibu, tangannya mengusap pelan perut bagian bawah Riska.


Riska tersenyum, dia ikut memegang perutnya, rasanya selalu menyenangkan bila mengingat, kini dirinya sedang mengandung anak dari suaminya.

__ADS_1


"Apa benar, Bu? Aku juga sering mual kalau pagi hari, kadang bangun tidur langsung lari ke kamar mandi karena perutnya gak enak," cerita Riska, pada ibunya.


Ibu hanya tersenyum, dia kemudian menatap wajah sang anak yang tampak terlihat lebih pucat dari biasanya.


"Gak apa-apa, itu semua memang biasa dialami wanita hamil. Nikmati saja semuanya, nanti juga kalau sudah tambah besar rasa mual yang kamu alami akan perlahan berkurang," jelas Ibu.


Riska tersenyum kemudian mengangguk, menyetujui perkataan Ibu.


"Terus waktu, Ibu, hamil Riska apa mual dan lemas begini juga?" tanya Riska, mulai penasaran pada proses kehamilan ibunya dulu.


"Iya. Ibu malah suka sebal kalau liat wajah ayah kamu. Kalau ada ayah kamu, Ibu maunya marah-marah terus." Ibu mulai bercerita masa lalunya saat mengandung Riska.


Riska tersenyum, dia mendengarkan dengan seksama setiap kata yang diucapkan oleh ibunya itu.


"Ayah kamu bahkan sampe kesel, karena Ibu gak pernah mau deket-deket sama dia." Ibu terkekeh kecil, walau matanya tampak berkaca-kaca.


"Tapi, saat kamu lahir, Ibu yang kesal karena wajah kamu sangat mirip seperti ayah kamu. Sedangkan ayah kamu malah tertawa senang, dia bahkan terus meledek Ibu."


Riska terkekeh, mendengar cerita ibunya, walaupun dia bisa mendengar suara ibunya mulai berat karena menahan tangis.


"Semoga aja, anak Riska bisa adil dan gak cuman mirip Bang Keenan aja," celetuk Riska, sambil mengusap perutnya.


Sontak ucapan Riska membuat Ibu terkekeh, begitu juga dengan Rio yang baru saja datang, setelah mandi lebih dulu.


"Kalau menurut aku sih, mendingan mirip Kak Keenan, secara dia kan genteng," ujar Rio, ikut bergabung.


"Iya kalau laki-laki, kalau perempuan gimana? Masa, ganteng juga. Lagian kakak kamu kan aku, kenapa lebjh milih mirip Bang Ken? Dasar gak asik!" gerutu Riska tidak terima.


"Ye, biarin. Kalau mirip Kak Keenan, walaupun cewek pasti juga cantik, sama kayak Naura," dalih Rio semakin suka melihat Riska kesal.


"Naura kan, anaknya Bang Ezra, bukan Bang Ken!" debat Riska.


"Tapi, keponakannya Kak Keenan." Rio masih saja menggoda kakaknya.


"Bu, tuh liat Rio!" adu Riska.


"Idih, cewek. Beraninya ngadu," ledek Rio.


"Sudah-sudah, kalian ini. Rio sana cepat bersiap, bukannya kamu mau shalat di masjid?" ujar Ibu, melerai kedua anaknya.


"Iya, Bu. Ini aku juga mau," jawab Rio sambil masuk ke dalam kamarnya.


Namun, sebelum itu Rio lebih dulu menjulurkan lidahnya ke arah Riska, hingga membuat Riska semakin kesal.


"Rio!" teriak Riska geram.


Rio langsung menutup pintu kamar, menghindari amukan dari kakaknya itu.


"Sudah, sana kamu juga mandi. Tuh lihat, masa ini tepung sampai ke rambut," ujar Ibu, menghentikan kekesalan Riska.


"Iya, Bu." Riska pun pamit ke kamar untuk mengambil baju.


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2