Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.280 Hasil pemeriksaan


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Dengan telaten, Keenan membalut kembali luka di tangan sang istri, setelah sebelumnya membantu Riska berpakaian.


"Selesai," ujar Keenan, setelah menyelesaikan perban terakhir.


Riska tersenyum haru, melihat Keenan yang sedang membereskan semua bekas plester dan obat luka lainnya.


"Terima kasih," ujar Riska.


Keenan menyimpan kembali semuanya di dalam kotak, lalu menaruhnya di atas meja tidak jauh dari brankar sang istri.


Dia kemudian kembali berjalan dan duduk di samping Riska, tersenyum teduh dengan angukkan kepala samar.


"Sekarang kamu makan dulu ya," ujar Keenan, sambil mengambil menu makanan yang baru saja diantarkan oleh salah satu petugas rumah sakit.


Riska tampak malas, melihat menu makanan yang berada di tangan suaminya. Entah mengapa, selera makannya tiba-tiba saja menurun, begitu melihat semua itu.


"Kenapa, hem? Mau menu yang lain?" tanya Keenan, melihat istrinya tidak berselera.


"Aku belum lapar." Riska menggeleng samar.


Keenan melihat menu makanan di tangnnya, lalu kembali menatap wajah sang istri.


"Sayang, kamu harus makan, lalu minum obat." Keenan berusaha untuk merayu Riska.


"Bilang saja, kalau kamu mau yang lain, nanti aku suruh orang belikan," ujar Keenan lagi.


Riska baru saja mau mengucapkan sesuatu, saat dering ponsel milik Keenan tiba-tiba terdengar.


Keenan pun mengambil ponselnya yang dia simpan di atas meja, dia melihat id nomor ibunya yang menelepon.


"Mama," ujar Keenan sambil memperlihatkan layar ponselnya pada istrinya.


Riska mengangguk, sebagai tanda agar Keenan menerima telepon itu dulu.


"Ya, Mah," ujar Keenan, sambil menempelkan ponselnya di telinga.


Keenan tampak terdiam mendengarkan perkataan Nawang dari seberang sana.


"Boleh, Mah. Kebetulan Riska lagi bosen sama menu rumah sakit," ujar Keenan lagi.


Dia kembali terdiam dan sesekali menjawab pertanyaan yang mungkin dilontarkan oleh ibunyadi seberang sana, hingga beberapa saat kemudian telepon itu tertutup.


"Mama mau ke sini, dia juga bawa makanan dari rumah, kalau gitu nanti kamu makan makanan yang di bawa mama aja ya," ujar Keenan.


Riska mengangguk, menyetujui saran yang diberikan suaminya.

__ADS_1


.


.


Beberapa saat menunggu, akhirnya Nawang dan Garry datang ke rumah sakit, dengan kotak makanan di tangannya.


"Bagaimana kabar kamu, sayang?" tanya Nawang, sambil memeluk menantu kedunya itu.


Mereka baru pulang tadi malam, setelah haus menggantikan Keenan dalam acara, pertemuan para pengusaha di luar kota.


"Baik, Mah. Maaf, karena aku, Mamah sama Papah, harus gantiin Abang," ujar Riska penuh penyesalan.


Nawang mengurai pelukannya, dia tersenyum teduh seperti biasanya.


"Tidak, sayang. Ini semua adalah sebuah kecelakaan. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri seperti ini lagi ya," jawab Nawang, menolak perkataan menantunya.


"Lagipula, Mama sama Papa juga sekalian jalan-jalan ke luar kota. Iya kan, Pah?" ujar Nawang yang diakhiri dengan pertanyaan pada suaminya.


"Iya, Ris. Papah gak apa-apa kok ... sekarang yang terpenting adalah kesembuhan kamu dulu." Garry yang duduk di sofa bersama Keenan, ikut menimpali perkataan sang istri.


Riska tersenyum, di salam hati dia sangat bersyukur, berada id tengah-tengah orang yang baik, seperti keluarga suaminya.


Mereka masih mau hadir, di saat dirinya terpuruk seperti sekarang ini. Berusaha menguatkan dan memberi semangat untuknya, agar bisa bangkit kembali.


Tentu saja, kehadiran seluruh keluarga Keenan, menambah semangatnya untuk segera keluar dari rasa traumanya.


"Terima kasih, Mah, Pah," ujar Riska dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mama bawa makanan untuk kalian arapan, kata Keenan kamu tidak mau makan makanan rumah sakit. Sekarang kamu harus makan, ini Mama buat sendiri loh," ujar Nawang, sambil membuka satu per satu kotak bekal yang dia bawa.


Riska terlihat berbinar, saat melihat hidangan bubur ayam lengkap, yang disiapkan oleh sang mertua. Dia memang sedang menginginkan makanan lembut yang enak dimakan dalam keadaan masih panas itu.


Sedangkan Keenan meringis, saat melihat ibunya membawa hidangan bubur, dia langsung membayangkan Riska yang akan mengaduk bubur itu, hingga membuatnya bergidik ngeri.


Astaga, kenapa harus bubur sih? batin Keenan, merasa frustrasi sendiri.


Setelah menyiapkan semuanya, Nawang memberikan bubur itu kepada menantunya. Tentu saja Riska langsung menerimanya dengan senyum mengembang.


"Terima kasih, Mah," ujar Riska.


Keenan memalingkan wajahnya, saat melihat Riska sudah memegang sendok, rasanya dia tidak ingin melihatnya, daripada dia kehilangan napsu makannya lagi.


Riska pun mulai mencoba bubur buatan ibu mertuanya, dia melebarkan matanya, begitu merasakan rasa bubur yang terasa sangat enak.


"Bagiamana, enak tidak?" tanya nawang, yang penasaran dengan penilaian menantunya itu.


"Enak, Mah. Nanti kalau udah ke luar dari sini, ajarin aku masak ini ya." Riska mengangguk cepat.


"Wah, ternyata selera kalian sama ya? Ini juga bubur kesukaan Keenan, dia selalu minta mama buatin kalau dia lagi sakit," ujar Nawang.

__ADS_1


"Iya, nanti mama ajarin kamu, buatnya ya. Sekarang kamu harus sembuh dulu, ayo makan lagi," sambung Nawang lagi.


Keenan memicingkan matanya, melihat Riska yang tidak mengaduk bubur itu sebelum memakannya. Akan tetapi, dia kemudian mengira kalau mungkin saja Riska tidak enak karena ada ibunya di sana.


.


.


Keenan menutup pintu ruangan dokter itu, dia ke luar dengan wajah yang masih terlihat terkejut. Di tanganya terdapat map berisi semua hasil pemeriksaan istrinya.


Langkahnya terus terayun menuju ruangan sang istri, dengan hai dan juga pikiran yang setengahnya masih tertinggal di ruangan dokter tadi.


Hasil pemeriksaan Riska, begitu terasa mengejutkan untuknya, hingga dirinya sendiri bingung untuk mengekspresikan dirinya.


Bayangan perbincangannya dengan dokter, beberapa saat yang lalu, terus terbayang di dalam ingatnnya.


Flashback.


Keenan terdiam di ruangan dokter yang tak lain adalah Galang– kakak angkat Ayu.


Ya, semenjak Ansel memilih untuk keluar dari rumah sakit, dan fokus untuk mengelola perusahaan Larry, kini Galang yang menggantikan posisi Ansel di rumah akit itu.


"Apa semua ini benar?" tanya Keenan, dengan mata yang masih tertuju pada salah satu lembar kertas di tangannya.


Matanya bergetar dengan seklera yang sudah mulai memerah, menahan hantaman gejolak rasa di dalam dada.


"Iya, tentu semua itu adalah benar. Apa kamu belum tau sebelumnya?" tanya Galang.


Keenan menggeleng, dia masih tidak percaya dengan hasil pemeriksaan di tangannya.


"Kenapa dokter yang sebelumnya tidak bisa mengatakan, tentang ini semua?" tanya Keenan, masih belum percaya.


"Entah, aku tidak bisa menjelaskan kalau soal itu. Dia memang tidak melihat tanda itu, atau memang lupa memberi tau kamu," jawab Galang.


Keenan terdiam dengan kerutan halus di keningnya. Dia pun menangguk-angguk kepala samar, menyetujui perkataan Galang.


Lama mereka berbincang, hingga akhirnya Keenan berpamitan, untuk kembali ke kamar sang istri.


Flashback off.


Keenan terdiam di depan ruangan Riska, dia tampak ragu untuk masuk ke dalam. Menarik napas dalam, lalu membuangnya kasar, sebelum akhirnya perlahan tangannya memutar gagang pintu itu.


Begitu masuk ke dalam, dia langsung melihat sang istri yang masih ditemani oleh Nawang.


Riska tampak tersenyum cerah saat bercengkerama dengan Nawang, begitu pun Nawang yang terlihat begitu menyayangi istri dari anak keduanya itu.


Sedangkan ibunya Riska dan Rio tidak mengetahui tentang kejadian ini, Riska melarang semua orang mengabari mereka, mengingat kesehatan ibunya yang sudah sering menurun.


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2