
...Happy Reading...
...❤...
Di tempat lain, Riska baru saja ada pertemuan dengan salah satu klien di dekat kantor Keenan. Dia keluar dari restoran tempatnya mengadakan pertemuan lalu berjalan menuju kantor suaminya itu.
Dia sengaja tidak memakai motor untuk datang ke sana, karena permintaan Keenan tadi pagi. Riska berjalan menuju kantor Keenan, yang berjarak cukup dekat dari tempatnya.
Butuh melewati beberapa bangunan untuk sampai di kantor Keenan, dia berjalan di bawah teriknya matahari, demi mencari tahu kondisi sang suami.
Bayangannya kembali pada percakapannya bersama Keenan, tadi pagi.
Flash back
"Nanti siang, kamu ada jadwal pertemuan di luar?" tanya Keenan, di sela menyantap sarapan buatan istrinya.
"Heem, aku ada satu pertemuan nanti siang di daerah dekat kantor, Abang," jawab Riska.
"Benarkah? Di mana?" tanya Keenan lagi.
"Di restoran XX."
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama di sana? Nanti aku susul kamu ke restoran," ujar Keenan.
"Boleh, nanti aku tunggu, Abang, di sana," ujar Riska.
"Kamu yidkanusah bawa motor, biar nanti aku yang antar kami kembali ke butik," ujar Keenan, yang langsung diangguki oleh Riska.
Flash back off
"Ke mana sih dia? Kenapa gak datang? Teleponnya juga mati?" gerutu Riska di sela langkahnya.
Beberapa saat kemudian dia sudah berada di depan kantor Ezan Auto Designs, menghembuskan napas kasar dan mulai masuk ke dalam kantor yang didominasi oleh para lelaki itu.
"Permisi, apa Pak Keenan ada?" tanya Riska kepada resepsionis.
"Maaf, Pak Keenan sepertinya tidak ke kantor hari ini. Apa, Mba, sudah memiliki janji?" tanya resepsionis itu.
Ini memang pertama kalinya Riska datang ke kantor Keenan sebagai istrinya, tidak heran kalau para karyawan belum tau tentang hubungan mereka.
Di tambah, sepertinya yang melayaninya adalah resepsionis baru, karena Riska belum pernah melihatnya selama ini, walau dia memang jarang datang ke sini.
Ya, dia hanya beberapa kali datang, saat ada perlu dengan Ayu atau harus menemui Ayu di saat dia sedang berada di sana.
"Tidak datang? Berarti sejak tadi pagi, Pak Keenan belum datang ke kantor?" tanya Riska memastikan.
"Betul, Mba," jawab resepsionis itu, sopan.
__ADS_1
'Ke mana dia? Kenapa belum sampai kantor?' gumam Riska dalam hati.
"Apa dia tidak memberi kabar kalau hari ini tidak datang ke kantor? Atau ada acara di luar?" tanya Riska.
Resepsionis itu tampak menautkan alisnya, menatap bingung pada Riska,yang menurutnya sedikit mencurigakan.
'Jangan-jangan, dia permpuan yang sedang mengejar-ngejar Pak Keenan' gumam hati resepsionis itu.
"Tidak, Mba," jawab Resepsionis tadi yang berubah dengan nada suara sedikit menekan.
Riska menatap wajah resepsionis itu dengan tatapan bingung, saat mendengar nada suara berbeda. Akan tetapi, tidak lama kemudian dia menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu," ujar Riska.
"Mba, namanya siapa, ya? Nanti kalau Pak Keenan datang, biar kami beri tau kepada beliau," ujar resepsionis itu, menahan langkah Riska.
"Tidak usah, biar nanti saya sendiri yang menanyakannya," tolak Riska, lalu berjalan meninggalkan kantor itu, di iringi tatapan bingung dari resepsionis yang melayaninya.
Sampai di luar, Riska memanggil ojek online, dia memutuskan untuk duduk di depan salah satu mini market yang tak jauh dari kantor Keenan.
Hatinya resah, ada rasa khawatir juga takut yang mengganjal, walau marah dan kesal juga mewarnai perasaannya kali ini.
Menenggak air minum yang baru saja ia beli, untuk meredakan rasa haus, akibat berjalan di tengah terik matahari.
Tak hanya badannya yang terasa panas oleh udara khas perkotaan saat siang hari. Akan tetapi, hatinya pun ikut merasakannya, mengingat Keenan yang tak menepati perkataannya, bahkan tak memberi kabar sama sekali.
Menghembuskan napas kasar, dengan pikiran tertuju pada lelaki yang selama sebulan ini telah hidup bersama dengannya.
Beberapa saat menunggu, akhirnya ojek yang dia pesan datang. Riska memilih untuk kembali ke butik, walau hatinya belum menemukan jawaban atas pertanyaanya.
Didalam perjalanan dia terus mencoba menghubungi nomor ponsel Keenan, akan tetapi, tak penah tersambung.
.
Keenan mendekat pada perempuan yang kini tengah mengerjapkan matanya, dia berdiri di samping brankar, menunggu perempuan itu benar-benar sadar.
Lelaki yang kini tengah mendalami hatinya sendiri itu, terlihat tak bereaksi berlebihan, dia hanya berdiri dan memperhatikan.
Pikirannya dilanda kebingungan, apa yang sebenarnya saat ini dia rasakan? Entahlah, dia sendiri tidak tahu apa yang sekarang ini hatinya inginkan.
Perempuan itu tampak mengernyit, memijat keningnya sambil menatap Keenan dengan kening berkerut dalam.
"A–aku di mana?" ujarnya, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Anak-anak? Bagaimana kondisi mereka?" kembali, perempuan itu bertanya, melihat kedua anak kecil yang masih belum sadarkan diri, lalu beralih menatap Keenan kembali.
Keenan terdiam menikmati rasa yang kini tengah bercampur aduk di dalam dirinya, takut, benci, kecewa, dan keingintahuan yang tinggi membuat dirinya bingung dengan hatinya sendiri.
Ada rasa sakit yang terselip di antara semua rasa itu. Entah kenapa, ada sudut hati yang merasa perih dengan kejadian ini.
__ADS_1
Menghembuskan napas pelan, sebelum menjawab rentetan pertanyaan. Keenan beranjak untuk menekan tombol darurat, agar dokter bisa datang ke ruangan itu.
"Kamu berada di rumah sakit, anak-anak kamu tidak apa-apa, mereka hanya mengalami syok, akibat kecelakaan tadi," jawab Keenan, dia tak mengalihkan sedikitpun matanya dari perempuan di depannya.
"Mau ke mana?" tanya Keenan, begitu melihat perempuan itu beranjak dan hendak turun dari brankar.
"Aku mau melihat anak-anakku," ujarnya tanpa perduli dengan Keenan.
"Sebentar, biar aku bantu," ujar Keenan,mengulurkan tangan untuk berpegangan.
Perempuan itu tampak menghentikan gerakannya, dia menatap Keenan dengan tatapan risih. Akan tetapi, akhirnya dia menerima uluran tangan Keenan juga.
Keenan membantu perempuan itu untuk berjalan menuju kursi di antara kedua brankar anaknya, dengan perasaan yang semakin rumit.
"Terima kasih," ujar perempuan itu, setelah dia duduk.
Keenan tak menjawab, dia menaruh tiang botol infus lalu berdiri di belakang perempuan itu. Perasaannya semakin tak menentu, dengan pertanyaan yang semakin bertambah.
'Apa dia tidak mengenalku? Atau dia memang pura-pura tak mengenalku?' gumam Keenan dalam hati.
"Luna?" panggil Keenan, pelan.
Perempuan itu, tampak bereaksi walau dia tak menjawab panggilan Keenan. Tubuhnya menegang dengan wajah yang terlihat cukup terkejut.
"Kamu, sudah melupakan aku? Wajar saja, sudah sembilan tahun, itu waktu yang cukup lama untuk melupakan seseorang," ujar Keenan, dengan senyum miris di wajahnya.
Perempuan itu menoleh pada Keenan dengan mata memicing, melihat keseluruhan tubuh Keenan dari atas sampai bawah.
"Kamu siapa?" Dua kata itu, seperti sebuah anak panah yang berhasil menorehkan rasa sakit di hatinya.
Keenan membalas tatapan perempuan itu, dia berusaha menyelami apa yang ada di dalam mata itu. Akan tetapi, tak ada yang bisa ia lihat, kecuali perasaan bingung di sana.
'Apa dia sudah benar-benar melupakanku? Bahkan untuk sedikit kenangan di antara kami' gumamnya dalam hati.
Keenan menggelangkan kepalanya dengan senyum canggung.
"Tidak apa, mungkin aku salah mengenali orang," jawab Keenan, dia memilih untuk duduk di sofa kembali.
Pandangan perempuan itu mengikuti ke mana Keenan melangkah, perhatiannya kini tertuju pada lelaki asing yang ada di ruangan yang sama.
"Keenan?"
...🌿...
...Geregetan gak sih sama Keenan🤭 Komen👍...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1