
...Happy Reading ...
...❤️...
Pagi hari, seperti biasa Riska selalu sibuk dengan membangunkan Keenan.
"Abang, ayo bangun. Rio udah nunggu di depan," ujar Riska.
Ya, tadi malam sebelum Keenan dan Rio masuk ke kamar masing-masing, mereka berjanji untuk shalat subuh di masjid bersama-sama.
"Sayang, aku masih ngantuk," gumam Keenan, sambil membalikkan tubuhnya menjadi tengkurap.
"Abang, sebentar lagi adzan, ayo cepetan bangun, nanti telat berjamaahnya," dengan suara tertahan, Riska berbicara sambil mencoba menarik tubuh suaminya.
"Eemmh." Keenan bergumam sambil memiringkan tubuhnya.
Dengan sekali gerakan, dia menarik tubuh Riska hingga tersentak dan menindih tepat di atasnya.
"Abang, aku suruh bangun, kenapa malah akunya yang ditarik?" kesal Riska, memukul kecik dada suaminya.
Keenan tersenyum dengan mata yang memicing, menatap Riska.
"Cium dulu, baru aku bangun," ujar Keenan, sedikit memajukan bibirnya.
Cup.
Riska mencium kilas bibir Keenan.
"Udah, ayo bangun." Riska berusaha bangun dari tubuh suaminya, walau dirinya ditahan oleh tangan Keenan yang melingkar kuat di pinggangnya.
"Abang, jangan bercanda terus, ini udah siang. Atau aku suruh Rio ke mesjid duluan aja ya," ujar Riska, masih mencoba memberi jarak pada tubuh mereka.
Keenan melebarkan matanya dia langsung melepaskan tangannya di pinggang Riska, laku ikut bangun.
"Iya, ini aku bangun. Tunggu aku ke kamar mandi dulu," ujar Keenan sambil beranjak berdiri.
Cup.
"Tolong siapkan pakaian aku ya, sayang," ujar Keenan sambil mengecup bibir istrinya kilas, sebelum akhirnya berjalan cepat keluar dari kamar.
Ada sesuatu yang harus dia bicarakan dengan Rio dan itu tidak bisa dibicarakan di rumah. Keenan tidak mau kalau istri dan mertuanya tahu, apa yang ingin dia tanyakan pada Rio, nanti.
Beberapa saat kemudian, Keenan sudah kembali ke kamar, dia langsung di sambut oleh Riska yang langsung membantunya memakai pakaian.
"Sudah," ujar Riska, menatap penuh binar, wajah sang suami yang tampak lebih tampan di matanya.
'Ish, kenapa Bang Keenan selalu terlihat lebih tampan kalau pakai pakaian kayak gini ya?' gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Sarung berwarna putih, dengan sedikit corak tenun di sisi belakang dan ujungnya, dipadukan dengan baju koko berwarna biru dongker, juga songkok hitam di kepala, seakan menambah kadar ketampanan Keenan naik berkali-kali lipat, di mata Riska.
Pasangan suami istri itu pun keluar dari kamar bersama-sama. Di ruang tengah, Rio sudah menunggu Keenan sejak tadi.
"Yuk, Kak. Udah adzan, nanti kita terlambat," ajak Rio, langsung berdiri.
"Aku ke mesjid dulu ya," ujar Keenan, beralih pada istrinya.
Riska mengangguk, lalu mengambil tangan suaminya untuk ia cium. Keenan pun membalasnya dengan mencium kening sang istri.
"Ngiung ngiung ngiung," ujar Rio, sambil mendingakkan kepala, melihat langit-langit rumah.
"Apa sih, Yo?" tanya riska dengan alis bertaut.
"Lagi cosplay jadi nyamuk," sindir Rio, sambil berjalan dengan masih mendongakkan kepalanya.
"Ngiung ngiung ngiung." Rio masih saja menirukan suara nyamuk yang sering berisik dan mengganggunya tidur.
"Ffftth." Keenan menahan tawanya, melihat Rio yang masih saja menggoda kakaknya.
"Gak sekalian aja jadi cicak?" kesal Riska.
"Sudahlah, sayang. Kasihan, jomblo cuman bisa iri doang," lerai Keenan sambil mengusap kepala Riska lalu pergi menyusul Rio yang sudah ke luar rumah terlebih dahulu.
"Siapa bilang aku jomblo?" bantah Rio, setelah Keenan berada di sampingnya.
Keenan mengangkat sebelah alisnya, melihat adik iparnya itu.
"Belum," jawab Rio.
"Lalu?" Keenan menatap Rio yang terlihat santai, dia penasaran dengan jawaban anak remaja itu.
"Aku single bukan jomblo," jawab Rio.
"Ftthh." Keenan hampir saja tak bisa menahan tawanya.
"Lalu, apa bedanya?" tanya Keenan, dengan kekehan kecil lolos mengiringi perkataannya.
"Jelas beda dong. Kalau single adalah pilihan untuk sendiri, bukan berarti gak laku. Kalau jomblo, ya dia harus terima nasib karena gak laku-laku," jelas Rio dengan percaya dirinya.
"Hahaha! Ya-ya, boleh juga. Aku setuju denganmu," ujar Keenan dengan tawa yang meledak.
Dia pun merangkul adik iparnya itu dan berjalan bersama, bagaikan seorang teman biasa.
Ketika sudah dekat ke bangunan tempat ibadah umat islam itu, Keenan dan Rio bertemu dengan beberapa orang yang sama-sama ingin shalat subuh berjamaah di mesjid kampung.
"Wah, ini siapa, Yo? Kok bisa bareng sama kamu," tanya salah satu warga yang berjalan bersama dengan beberapa bapak-bapak lainnya.
__ADS_1
"Kak Keenan, suaminya Kak Riska, Pak," jelas Rio.
"Walah, ternyata ini ... suaminya Riska," ujar salah satu pria paruh baya itu yang dilanjutkan dengan perkenalan biasa.
Mereka pun masuk ke dalam mesjid sederhana yang berada di tengah kampung, bersama-sama, dengan Keenan yang menjadi bahan perhatian para jemaah yang lain.
Di tepat lain, Riska dan Ibu sedang menyiapkan sarapan bersama, setelah keduanya melaksanakan shalat subuh bersama.
"Bu, maaf Riska sekarang jarang main ke rumah. Semenjak Mba Ayu melahirkan, dia menyerahkan semua pekerjaannya sama aku," ujar Riska sambil memotong sayur.
Ibu menatap anak sulungnya itu, tersenyum lembut dengan tangan masih memegang pisau dan bawang yang siap ia cacah.
"Tidak apa, Ris. Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri, sudah sepatutnya kamu lebih mengutamakan suami kamu. Ibu dan Rio di sini, bisa menjaga diri kami sendiri. Kamu datang sesekali jika sedang senggang saja, ibu sudah senang," ujar Ibu.
Riska sedikit menundukkan kepala. Ya, dia sadar posisinya sekarang adalah sebagai istri dari seorang Keenan. Seorang wakil direktur utama perusahaan Darmendra, sekaligus pewarisnya.
Di dalam hati ada rasa takut akan kehidupan rumahtangganya untuk kedepannya. Dia yang hanya lulusan SMA, harus berusaha mendampingi Keenan dengan kehidupannya yang jauh berbeda.
Bisakah dia beradaptasi dengan lingkungan suaminya?
Apakah dia tidak akan menjadi titik noda di dalam kehidupan Keenan yang sangat sempurna?
Entahlah, semua ketakutan itu tiba-tiba saja terus berputar di dalam pikirannya, hingga membuatnya merasa resah.
"Ada apa, Riksa?" tanya Ibu, melihat raut wajah anak sulungnya yang tapak berbeda.
Riska menatap ibunya, dia kembali menerbitkan senyum dengan geleng kepala samar.
"Gak apa-apa, Bu. Aku hanya sedang memikirkan sedikit pekerjaan yang belum selesai," jawab Riska, memberi alasan.
Ibu menatap anaknya, dia pun memilih untuk membalas senyuman Riska, tanpa memperpanjang lagi pertanyaannya. Walau di dalam hati dia bisa merasakan ada kegundahan di dalam hati anak sulungnya itu.
Namun, dia tak ingin mengampuni urusan anaknya lebih dalam lagi. Wanita paruh baya itu percaya, kalau anaknya sudah cukup dewasa, untuk menghadapi setiap cobaan hidup dan rumahtangganya nanti.
"Heem, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan, Ris. Kamu juga harus pintar membagi waktu kamu untuk suami. Jangan sampai kamu lalai dengan kewajiban kamu sebagai seorang istri, karena sibuk dengan pekerjaan," nasihat Ibu.
Riska mengangguk patuh.
"Iya, Bu. Riska akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Abang," jawab Riska, sambil beranjak menuju wastafel untuk menvuci sayuran yang sudah selesai ia siangi.
'Semoga saja aku bisa' sambungnya di dalam hati.
...🌿...
Ada yang sama gak kayak Riska, lihat suami lebih tampan pas mau shalat apa lagi kalau udah wudhu🤭
Mana yang setuju sama Rio, pilih jomblo atau single?😁
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...