
...Happy Reading...
...💖...
Akhir pekan kali ini, Keenan dan Riska berencana untuk pergi ke rumah Ezra dan Ayu, sekaligus bertemu dengan Nawang dan juga Garry.
Ya, setelah acara aqiqah Zain satu minggu yang lalu, keduanya belum sempat untuk bertemu dengan kakak maupun orang tua Keenan.
Riska pun hanya mengirimkan laporan butik, melalui email dan dijelaskan melalui sambungan telepon atau video call.
Keduanya kini sudah berada di mobil, suasana pagi menjelang siang, membuat jalanan yang mereka lewati sudah tidak terlalu macet.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah sampai. Riska langsung turun, tanpa menunggu Keenan membuka pintu.
Dia sangat sumringah, ketika melihat Naura sudah berada di teras Rumah, bersiap untuk menyambut kedatangannya dan sang suami.
"Assalamualaikum, Kak Rara," sapa Riska, begitu dia sampai di depan gadis kecil itu.
"Waalaikumsalam, Aunty," jawab Naura, dengan senyum ceria menghiasi wajahnya.
Mereka berdua pun berpelukan sekilas.
"Hai, Naura. Kangen gak sama Uncle?" tanya Keenan yang baru saja bergabung.
"Kangen dong. Kenapa, Uncle dan Aunty, lama banget gak ke sini?" tanya Naura, dengan bibir yan sengaja dimajukan dan pipi sedikit mneggembung, menandakan kalau dirinya sedang merajuk.
"Maaf, sayang. Uncle dan Aunty, sibuk sekali minggu ini, makanya gak sempat main Kak Rara yang cantik ini," jawab Keenan, sambil mencubit gemas pipi keponakannya itu.
Keenan kemudian menyerahkan paper bag yang ia bawa kepada istrinya.
"Ayo, kita masuk!" Keenan langsung menggendong Naura dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Riska tersenyum, melihat kasih sayang sang suami pada keponakannya itu, dia pun berjalan mengikuti langkah suaminya.
Sampai di dalam, ternyata ruang keluarga sudah kosong.
"Pasti mereka sudah pada di taman belakang," ujar Keenan, melanjutkan langkahnya menuju ke bagian belakang rumah.
Benar saja, mereka semua sudah ada di sana, berkumpul di pendopo kecil yang dikelilingi taman.
__ADS_1
"Asslamuaaikum, semuanya!" ujar Keenan, dengan senyum merekah di wajahnya.
Menurunkan Naura, lalu mencium tangan kedua orang tuanya, seklaigus menyapa Ezra dan Ayu.
"Wakil direktur kita baru datang nih," canda Ezra, sambil menjabat tangan adiknya.
Keenan tersenyum dia kemudian memilih duduk di tempat yang kosong, disusul oleh Riska.
"Bagaimana, kerja di tempat baru?" tanya Ezra.
"Lumayan menarik, tapi, juga merepotkan. Pangkat saja masih dibilang wakil direktur, tapi, hampir semua pekerjaan sudah aku yang mengerjakannya. Serasa jadi mempunyai dua pekerjaan sekaligus," keluh Keenan.
Menghembuskan napas kasar, sambil menata kesal pada ayahnya.
Garry yang mendengar keluhan anak bungsunya itu, hanya terkekeh pelan, tanpa berniat untuk menanggapinya.
"Ya, terima saja, Ken. Sekaligus belajar, biar nanti kalau Papah udah gak mau ke kantor lagi, kamu sudah tau apa yang harus kamu lakukan," ujar Ezra.
"Tuh, yang ngasih Papah saran udang ngomong duluan." Garry menunjuk Ezra.
"Eh, aku kan cuma kasih saran. Kalau keputusan untuk melakukannya ya ada di, Papah." Ezra mencoba menghindar.
"Namanya juga kerja, ya pasti capek, Ken. Masa segitu aja kamu ngeluh," enteng Nawang, mencoba menengahi perdebatan di antara para lelaki di keluarganya itu.
Keenan menghembuskan napas kasar. Mau menyangkal, itu ibunya sendiri. Akhirnya dia hanya memilih pasrah, dengan memendam segala kekesalannya di dalam hati.
"Iya, iya ... Mama, memang selalu benar," ujar Keenan, yang langsung mendapatkan kekehan dari kakak dan ayahnya.
Ya, bila sedang berada di luar dia memosisikan diri untuk lebih dewasa. Apalagi, bila sedang berada di keluarga Riska yang memang menjadikannya cara tidak langsung sebagai kepala keluarga.
Sedangkan bila sedang berkumpul dengan keluarga Darmendra, maka dia akan selalu menjadi anak kecil bagi orang tua dan kakaknya.
Maka dari itu, dia selalu saja dijadikan sebagai bahan bercanda keluarganya.
Cukup lama bercanda, kini Ezra dan Keenan tunggal berdua, setelah para wanita lebih memilih memisahkan diri, dan Garry yang sedang menemani Naura bermain.
"Bagaimana dengan masalah di sekolah Naura, Kak?" tanya Keenan, sambil menatap Naura yang sudah kembali ceria.
"Wanita itu ternyata masih belum bisa menerima kalau dia dipecat dari pekerjaannya, dan menyalahkan Nindi sebagai penyebab semua itu," jawab Ezra.
__ADS_1
Keenan mengernyit, menatap kakaknya itu dengan wajah bingung, dan ingatan yang berputar pada beberapa bulan lalu.
"Dipecat? Tapi, kenapa? Aku tidak pernah mengadukannya pada bosnya," ujar Keenan.
Ya, beberapa bulan lalu, saat Ayu mendapatkan penghinaan di sekolah taman kanak-kanak Naura, Ezra memang menyuruh Keenan untuk memberikan peringatan, agar dia tidak lagi membicarakan yang tidak-tidak mengenai istrinya.
Keenan pun akhirnya mengajak wanita yang merupakan salah satu wali murid di sana untuk bertemu dan berbicara.
"Kamu memang tidak mengadukannya. Tapi, ternyata bos tempat dia bekerja adalah salah satu pelanggan di bengkel. Dan begitu dia mendengar kalau salah satu karyawannya bermasalah dengan kita, dia langsung memecatnya," jelas Ezra.
"Hah? Lalu sekarang dia kerja di mana? Bukannya dia seorang ibu tunggal? Itu juga yang membuat kita memutuskan hanya memberikan peringatan kan?" tanya Keenan, semakin penasaran dengan kisah perempuan bermulut pedas itu.
"Dia bekerja menjadi pengasuh anak yang saat itu berkata kasar pada Naura. Dia juga yang menyebarkan rumor tidak benar, hingga para wali murid seakan mendukung pernyataan anak kecil itu," ujar Ezra lagi.
"Astaga, lalu sekarang bagaimana nasibnya?" tanya Keenan. Dia geram juga mendengar wanita yang melibatkan anak-anak dalam masalahnya. Apalagi ini adalah tentang sebuah dendam.
"Kami sudah bertemu dengan orang tua anak itu. Ternyata mereka memang jarang di rumah, hingga anaknya benar-benar diserahkan pada pengasuhnya. Sekarang Naura dan anak itu malah berteman, karena Nindi yang merangkul anak itu." Ezra menceritakan kejadian saat dia bertemu dengan wali murid yang berkata kasar pada Naura.
Keenan tersenyum mendengar semua itu, dia sudah tau pasti akhirnya, bila semua itu melibatkan kakak iparnya. Apalagi ini adalah masalah anak-anak.
"Lalu bagaimana dengan wanita itu?" tanyanya lagi.
"Setelah dia meminta maaf, Nindi menyuruhku memberikan pekerjaan. Karena ternyata setelah itu dia juga dipecat oleh majikannya. Jadi, aku menyetujuinya dan memberikannya pekerjaan di salah satu cabang bengkel di luar kota," jelas Ezra.
Keenan menganguk-anggukkan kepala, dia jadi terpikir untuk memindahkan Fatir ke luar kota juga, agar tidak berada dekat dengan istrinya.
Sepertinya itu bukan ide yang buruk, gumamnya dalam hati.
"Baguslah, setidaknya sekarang dia tidak ada lagi di kota ini. Semoga saja di tempat baru, mulutnya itu bisa sedikit dikontrol, agar tidak lagi membuat dirinya dalam masalah. Kasihan kan pada anaknya, " ujar Keenan akhirnya.
Ezra pun mengangguk samar, menyetujui perkataan adiknya.
Notes: Wanita yang dimaksud dalam percakapan antara Keenan dan Ezra adalah Eni. Masih ingat dengan Ayu yang sering mendapatkan beberapa perkataan menyakitkan dari wali murid, saat mengatar dan menjemput Naura di sekolah? Nah itu dia orangnya.
...🌿...
Siapa nih, yang suka jadi bahan bercandaan keluarga sendiri, seperti KeenanðŸ¤
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...