
...Happy Reading...
......................
Keenan berjalan lurus, menuju tempat yang terlihat ada cahaya di sana, hingga senyumnya terbit, saat melihat keberadaan beberapa mobil milik Ezra dan para anak buahnya.
"Sayang, itu mobil Kak Ezra!" ujar Keenan, sambil menunjuk ke arah depan, menggunakan dagunya.
Riska pun ikut melihat ke depan, dia kemudian mengangguk di atas pundak Keenan, dengan senyum yang kembali terbit di wajahnya.
Terima kasih Tuhan, aku tau ini adalah pertolongan darimu. Siapapun sosok wanita berbaju putih tadi ... aku yakin dia ada karena kehendakmu. Riska bersyukur di dalam hati.
Kening Keenan, berkerut kemudian, saat mengingat ini adalah jalan yang ditunjukkan oleh Riska.
"Sayang, kamu tau letak mobil kami terparkir?" tanya Keenan kemudian.
Riska mengangkat kembali kepalanya, hingga pipi mereka berada sejajar, dia sedikit menoleh untuk melihat wajah bingung sang suami.
"Tidak, aku hanya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh wanita tadi," jawab Riska.
Jadi dia mengarahkan aku pada mobil Bang Ezra, bukan pada permukiman penduduk? Masya Allah, terima kasih Ya Allah, gumam hati Riska.
Keenan semakin memperdalam kerutan di keningnya, saat mendengar jawaban dari sang istri.
"Wanita? Kamu dibantu seseorang, siapa? Biarkan aku juga berterima kasih padanya, karena telah membantu istriku," ujar Keenan.
Riska kemudian termenung, dia menggeleng samar dengan perasaan bingung, bagaimana menjelaskn apa yang terjadi padanya.
"Sepertinya bukan manusia," lirih Riska, sedikit ragu dengan perkataannya.
Keenan pun menoleh cepat, dia tekejut dengan perkataan sang istri.
"Bukan manusia? Lalu apa?" Bulu kuduk di tubuhnya tiba-tiba saja berdiri, saat pikirannya menebak sesuatu yang tidak bisa terlihat oleh kasat mata.
Untung saja jaraknya dengan keberadaan mobil Ezra, sudah semkin dekat. Mengedarkan pandangan untuk memastikan , tidak ada yang mengkutinya. Lalu, dia mempercepat langkahnya.
"Tidak tau. Tapi, yang aku tau ... itu adalah pertolongan Allah, untuk kita," ujar Riska.
Keenan mmengangguk, dia pun tersenyum saat mengingat semua itu.
"Ya, aku yakin itu adalah pertolongan Allah, untuk kita berdua," lirih Keenan, dengan senyum dan rasa syukur di dalam hatinya.
.
Alvin bergerak waspada, saat melihat ada seseorang yang datang dari arah hutan, dia pun mengarahkan senter yang dia pegang pada orang itu.
__ADS_1
Melebarkan mata, saat dia tau siapa orang yang berjalan ke arahnya sambil menggendong seseorang lainnya.
"Pak Keenan?'' lirihnya, kepada dirinya sendiri.
Dengan sigap, dia sedikit berlari, untuk menghampiri orang tersebut.
"Pak Keenan, Bu Riska?!" ujarnya begitu sudah sampai di depan kedua orang itu.
"Bang, turunkan aku," bisik Riska, merasa malu pada beberapa orang yang kini menjadikannya perhatian.
"Tolong buka pintu mobilnya," perintah Keenan, sambil terus melangkahkan kakinya.
Dia memilih untuk tidak menjawab Alvin ataupun permintaan Riska..
"Ah! Baik, Pak," sigap Alvin, langsung berlari mendahului langkah Keenan, dan membukakan pintu penumpang, mobil milik Ezra.
Keenan menurunkan Riska di kursi, lalu memeriksa wajah juga seluruh tubuh istrinya dengan begitu teliti.
Raut wajah khawatir bercampur dengan rasa cemas, terlihat jelas di wajah tampan miliknya itu.
"Astaga! Sayang, wajah kamu pucat sekali." Keenan menangkup kedua pipi Riska, memastikan tubuhnya tidak demam, lalu beralih ke tangan dan kaki yang juga dipenuhi oleh luka.
"Ya ampun, sayang! Kenapa semua ini bisa terjadi?" tanyanya, meringis menahan ngilu saat melihat beberapa luka gores dan tangan dan kaki istrinya.
Riska menggeleng dengan senyum tipis di wajahnya, dia mengernyit, saat rasa pening kembali terasa.
Dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja, walau dia merasakan tubuhnya semakin lemah.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambil kotal, P3K," ujar Keenan, sambil beranjak hendak berdiri.
Namun, tangan Riska menghentikan pergerakannya, dia pun kembali melihat wajah istrinya.
"Ada apa, hem? lirih Keenan, mengelus puncak kepala Riska, yang terlihat berantakan.
Matanya memerah, menahan gejolak Rasa di dalam dirinya, melihat kondisi istrinya saat ini. Wajah pucat, rambut bernatakan, pakaian kusust dan kotor, juga luka yang diderita.
Semua itu membuatnya ingin menangis dan marah sekaligus, merasakan kekecewaan dan kesedihan yang menghujam hati dan jantungnya.
"Ada air? Aku haus," lirih Riska.
Tubuh Keenan menengang, dengan rasa sakit di dalam dada, yang semakin bertambah.
"Ada, sayang. Sebentar aku ambilkan!" jawab Keenan segera, dengan suara yang mulai berat, karena tenggorokannya sudah terasa kering.
Dia kembali menegakkan tubuhnya dan menutup pintu, mengusap wajah yang terlihat sangat frustasi, menahan amarah dan rasa sakit di dalam hatinya.
__ADS_1
Melihat kondisi istrinya yang memprihatinkan, membuatnya seakan menyalahkan dirinya sendiri, karena tidak bisa menjamin keselamatan Riska.
Setelah pintu mobil tertutup, Riska menyandarkan kepalanya yang terasa pening. Menutup mata, berusaha untuk menahan rasa sakit di dalam tubuhnya.
Keenan, membuka pintu depan dan mengambil kotak P3K, juga air mineral, setelah berbicara sesuatu pada Alvin. Dia lalu beralih kembali ke kursi belakang, di mana Riska berada.
Duduk di samping istrinya, dengan Alvin dan beberapa anak buah berjaga di luar mobil.
"Ini, airnya," ujar Keenan, setelah membukakan penutup botol itu.
Riska membuka mata dan menengakkan kembali kepalanya, dia tersenyum samar, lali menerima air mineral dari tangan sang suami. Riska bahkan sampai menelan saliva, hanya dengan melihat air putih, saking hausnya, setelah hampir dua malam satu hari tidak minum sama sekali.
Namun, dengan sigap Keenan menjauhkan kembali botolnya. Pandangannya pun kini beralih pada kain yang terlihat melilit di tangan Riska dengan warna merah yang mewarnai hampir semua kainnya. Dia pun tahu, itu pasti darah dari istrinya.
"Biarkan aku yang memegangnya," ujarnya, sambil melihat sekilas telapak tangan Riska yang penuh dengan luka gores.
Riska kembali tersenyum lalu mengangguk, dia pun menerima minum dari tangan suaminya.
Air di dalam botol berukuran lima ratus mililiter itu, terlihat berkurang cepat, sampai lebih dari setnaghnya, baru Riska menghentikan tegukkannya.
Rasa kering di dalam tenggorokan yang selama ini dia rasakan, seakan sudah terbasuh dan hilang dengan seteguk demi seteguk air yang melewatinya.
Keenan semakin dibuat sakit saat melihat betapa hausnya sang istri.
"Apa kamu tidak diberi makan dan minum, selama bersama mereka?" tanya Keenan, menahan rasa perih di dalam hatinya.
Dia menutup kembali botol air mineral itu, lalu menyimpannya. Beralih mengambil kotak P3K dan mulai membukanya.
"Mereka memberikan aku makan. Tapi, aku tidak mau makan ataupun minuman dari mereka," ujar riska, mengingat kembali kejadian saat dirinya hampir saja dinodai oleh Toni, hingga tanpa terasa, matanya kembali berkac-kaca.
Keenan mengernyit, walau anggukkan samar terlihat darinya. Tangannya bergerak membuka lilitan kain di tangan Riska.
"Kenapa?" tanya Keenan.
"Aku takut, mereka memasukkan obat aneh atau racun di dalam makananya," jawab Riska dengan satu tetes air mata jatuh begitu saja.
Keenan menatap dalam mata Riska yang tampak bbergetar, saat sadar, tangan Riska di depannya mengepal kuat.
"Apa yang sudah mereka lakukan padamu, sayang?" tanya Keenan lagi.
"A–aku ... mereka, dia, dia."
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...