Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.153 Berita


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Riska baru selesai menjalankan solat subuh, dia menatap Keenan yang masih bergelung di atas ranjang dengan bantal guling di dalam pelukannya. Beranjak menghampiri lelaki yang kini sudah menjadi suaminya, masih dengan mukena yang ia pakai.


Dia berdiri beberapa saat di samping ranjang, menatap Keenan yang tengah terlelap dengan posisi miring membelakanginya, dia bingung mau melakukan apa untuk membangunkan suaminya itu, sedangkan waktu subuh sebentar lagi akan habis.


Dengan sedikit ragu, dia menoel pundak bagian belakang Keenan berulang, berharap lelaki itu akan terbangun.


"Bang, bangun! Nanti ketinggalan waktu subuh," ujar Riska.


"Apa sih, Ris? Aku masih ngantuk," gumam Keenan, sambil menepis lengan Riska.


"Ck, Bang Ken! Ayo bangun, solat dulu ... nanti dilanjutkan lagi tidurnya," kesal Riska, kini dia sedikit membungkuk untuk menggoyangkan tubuh Keenan lebih keras lagi.


Grep.


"Akh!"


Riska terpekik saat tubuhnya tertarik oleh Keenan secara tiba-tiba, hingga kini dia berada di atas lelaki itu.


Manik mata keduanya terpaut, mereka sama-sama terkejut dengan apa yang baru aja terjadi, Keenan sendiri merasa terkejut oleh ulah jahilnya. Padahal dia yang menarik Riska, Akan tetapi, bukan maksudnya untuk menjatuhkan tubuh gadis itu di atasnya.


Keenan menelan salivanya dengan susah payah, tubuhnya terasa kaku tak bisa digerakkan. Begitu juga dengan Riska, gadis itu terpaku dengan kejadian kilat yang terjadi padanya.


Keduanya tangannya menopang di kedua sisi tubuh Keenan, wajahnya hampir saja bersentuhan dengan wajah Keenan yang tinggal berjarak beberapa sentimeter lagi.


"Kak, dipanggil Ibu!" teriakan dari Rio di balik pintu, mengagetkan Keenan dan Riska.


"Hk," Riska tanpa sengaja melepaskan kedua tangannya, hingga akhirnya benar-benar terjatuh di atas tubuh Keenan.


Tangan Keenan reflek langsung memeluk tubuh Riska hingga kini mereka dalam posisi yang begitu intim.


Tok ... tok ... tok ....


"Kak, di panggil ibu!" seru Rio lagi karena tidak mendapat jawaban dari dalam.


Secepat kilat Riska bangun dan berdiri lagi di samping ranjang, dengan suasana yang terasa lebih canggung lagi.


"I–iya, ini kakak mau ke luar!" jawab Riska, sambil membuka mukenanya dan membereskan peralatan solat yang lain.


Keenan merasakan ada sedikit kehilangan ketika Riska tak lagi berada di dalam pelukannya, dia beranjak duduk di sisi ranjang, matanya mengikuti setiap gerakan gadis itu.

__ADS_1


"Kenapa liatin aku? Sana ambil wudu, subuh udah mau lewat," ujar Riska, ketus.


Sebenarnya Riska tak bermaksud mengeluarkan nada bicara seperti itu, hanya saja itu terjadi karena dia berusaha menutupi rasa gugupnya dari Keenan.


"Iya, ini aku mau pergi ke kamar mandi," jawab Keenan, dia beranjak berdiri lalu pergi keluar kamar terlebih dahulu.


Riska menyiapkan peralatan solat untuk Keenan sebelum keluar untuk menghampiri ibunya yang sudah pasti berada di dapur.


"Ibu tadi manggil aku?" tanya Riska, dia melirik sekilas saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.


Di sana, Keenan baru saja keluar dengan wajah yang terlihat lebih segar. Rambut yang terlihat berantakan dengan bagian depan basah karena air wudu, terlihat menambah beberapa persen kadar ketampanan lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu.


Keenan tersenyum samar saat melihat ujung mata Riska sempat menatapnya, diamengibaskan sedikit rambut basahnya, kemudian berlalu menuju kamar untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.


"Iya, sini bantuin Ibu buat sarapan untuk kita," jawab Ibu, sambil menyiangi bawang merah di tanagnnya.


Riska mengalihkan pandangannya pada sang ibu, menghampirinya untuk melihat bahan yang sudah ibunya keluarkan dari kulkas. Di sana sudah ada telur, ikan teri asin dan daging ayam rebus yang sudah di suwir, ada juga sayur kol sebagai pelengkap.


"Ibu mau bikin apa?" tanya Riska sambil mengambil satu lagi pisau dari tempatnya.


"Bikin nasi goreng ikan teri saja, sama telur dadar, kebetulan ibu juga sudah ada acar sayur di dalam kulkas," jawab Ibu.


Riska mengangguk, dia mulai menyiapkan semua bahan bumbu dan perlengkapan memasak lainnya.


Beberapa saat membantu ibunya memasak sarapan di dapur, kini semuanya sudah berkumpul dan bersiap untuk sarapan pagi. Karena hari ini adalah akhir pekan, Rio tak ada jadwal untuk pergi ke sekolah, hingga dia hanya memakai kaos rumahan.


Keenan baru saja menyelesaikan sarapannya, begitu ponsel yang berada di kamar terus berdering. Dia langsung mengangkatnya begitu nama sang kakak ada di layar ponselnya.


"Ya, Kak. Ada apa?" tanya Keenan.


.


Di tempat lain, Ayu melebarkan matanya saat melihat rentetan kata yang tergabung dalam sebuah artikel berita dan dilengkapi dengan sebuah foto yang enatah dari mana mereka mendaparkannya.


Ayu bahkan sudah dibuat sangat terkejut oleh judul artikel berita elektronik itu. 'Keenan Abran Darmendra Digrebek warga karena melakukan zina di dalam mobil'


Beberapa kata yang jelas tidak benar adanya itu, berhasil membuat jantung Ayu berpacu di saat itu juga. Foto Keenan dan Riska yang tengah digiring oleh warga pun menjadi sampul dari berita mengejutkan itu.


"Kenapa bisa begini, Mas? Siapa yang tega melakukan fitnah seperti ini?" tanya Ayu, dengan tatapan gusar.


Ezra terdiam, keningnya berkerut dengan pemikiran yang bercabang. Sejak kemarin dia sudah merasakan ada sesuatu yang janggal dengan kejadian yang menimpa Keenan dan Riska, hanya saja dia tidak mengungkapkannya terlebih kepada Keenan sendiri.


"Aku juga belum tau, siapa dalang di balik berita itu. Yang pasti ini bukan sebuah kebetulan, semua ini pasti sudah direncanakan sebeumnya. Apa yang dibicarakan oleh kamu semalam sepertinya benar. Ada yang sedang memainkan drama di balik kejadian Keenan dan Riska," ujar Ezra.


Tadi malam Ayu memang sempat berbicara kepada Ezra tentang perkiraannya tentang semua kejanggalan yang dia lihat di dalam kejadian penggrebekan Keenan dan Riska.

__ADS_1


Ezra mengambil ponsel yang sudah di letakkan kembali oleh Ayu di atas meja, dia mencari nama seseorang yang sudah dihubungi olehnya tadi malam.


"Kamu sudah melihat berita pagi ini?" tanya Ezra, begitu dia mendengar suara salah satu anak buahnya.


"Sudah, Pak. Saat ini saya dan tim IT sedang melacak akun yang telah menyebarkan berita itu, kita juga sudah menekan para perusahaan berita elekrtonik untuk menghapus berita itu," jawabnya dengan begitu jelas.


"Baguslah, kerjakan secepatnya, aku mau semua sudah terungkap dalam dua puluh empat jam dari sekarang!" tegas Ezra, memberi perintah.


"Baik, Pak. Kami akan berusaha sebaik-baiknya," jawab tegas salah satu anak buah kepercayaan Ezra.


"Mas, sepertinya kita juga harus memberi tau Keenan dan Riska, aku takut nanti Riska pergi ke butik," ujar Ayu, memberi saran. Dia tajut nanti Riska akan mendapat cibiran bahkan hinaan dari orang yang ditemuinya akibat berita tersebut.


Akan lebih baik jika Riska tidak keluar rumah untuk sementara waktu, demi untuk menghindari mulut berbisa para warga +62.


"Iya, aku baru ingat dengan mereka," ujar Ezra, dia kembali menggeser layar ponselnya untuk menghubungi sang adik.


Butuh waktu cukup lama untuk teleponnya dijawab oleh Keenan.


"Ya, Kak. Ada apa?" sapaan dari Keenan terdengar begitu santai di telinga Ezra, itu bisa memastikan kalau adiknya itu belum mengetahui berita tenang dirinya.


"Kamu lihat berita elektronik sekarang juga. Cegah Riska dan keluarganya untuk keluar rumah, kalau perlu kamu bawa mereka semua ke rumahku. Usahakan kalian pergi tanpa terlihat oleh siapapun dan pastikan tidak ada yang mengikuti kalian di belakang. Aku akan mengirim mobil dan beberapa orang yang akan menjaga kalian semua," ujar Ezra panjang lebar.


"Ada apa ini, Kak? Kenapa harus sampai seperti itu, aku bisa membawa mereka ke rumah Kakak sendiri tanpa pengawasan, tidak usah berlebihan seperti itu," ujar Keenan, ia masih belum mengerti kemana maksud pembicaraan Ezra. Akan tetapi, dia tahu kalau saat ini sedang terjadi sesuatu di luar sana yang belum dia ketahui.


"Kamu liat saja dulu artikel elektronik, nanti juga kamu akan mengerti. Aku tunggu kamu di rumah!" ujar Ezra sebelum menutup teleponnya lagi.


Keenan langsung berselancar di jejaring sosial mencari berita terbaru yang ada di beberapa laman berita Internet. Matanya melebar dengan sempurna begitu dia melihat foto dirinya dengan Riska pagi kemarin terpampang nyata di halaman pertama.


Tangannya mengepal erat saat melihat bukan hanya satu berita, tetapi hampir semua berita elektronik itu menjadikan kejadian kemarin sebagai berita utama yang baru diluncurkan secara serempak dini hari tadi.


'Keenan Abran Darmendra Digrebek warga bersama dengan seorang wanita di dalam mobil miliknya'


'Salah satu pewaris perusahaan Darmendra grup tertangkap basah tengah melakukan perbuatan tidak senonoh di dalam mobil'


'Adik sekaligus asisten pribadi Ezra Farzan Darmendra, digrebek warga bersama seorang gadis di dalam mobil'


Itu semua adalah judul yang berada di reting tertinggi, dengan pembaca terbanyak. Jantungnya bergemuruh dengan dada yang terasa panas terbakar api amarah.


"Sialan! Ternyata aku dijebak? Siapa yang berani bermain-main denganku?" geram Keenan.


Dia langsung menutup halaman berita di ponselnya tanpa membaca lebih jauh, itu semua berita yang sengaja dibuat seseorang untuk menjatuhkan namanya.


Dia memilih keluar dari kamar untuk mencegah Riska dan Ibu yang berniat untuk bekerja. Akan tetapi pemandangan yang dia lihat kemudian, membuat tubuhnya kini mematung dengan perasaan bersalah yang semakin menjadi di dalam dirinya.


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2