Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.231 Prasangka


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Pagi di akhir pekan yang terlihat cerah, dimanfaatkan Ayu dan Ezra untuk bermain di taman belakang rumah.


Ayu sedang duduk di gazebo dengan Zain di pangkuannya, sedangkan Ezra menemani Naura bermain di taman.


Dari arah dalam terlihat dua orang paruh baya datang menghampiri keluarga kecil itu.


Nawang dan Garry, kedua mertua Ayu itu baru saja datang, untuk menghabiskan akhir pekan mereka dengan anak, cucu dan menantunya.


Nawang, memang selalu menyempatkan diri untuk datang hampir setiap hari, untuk membantu Ayu mengurus Naura dan Zain.


Setelah kedatangan mertuanya, Naura dan Zain pun di ambil alih oleh mereka bedua.


Ayu sedang membuat minuman di dapur, untuk semua keluarganya, saat Ezra menyususlnya dan memngajaknya untuk berbicara.


Ayu pun memanggil salah satu pelayan, untuk mengantarkan minuman dan cemilan yang sudah ia siapkan ke taman belakang.


"Ada apa, Mas?" tanya Ayu, begitu mereka sudah berada di dalam kamar.


"Ini tentang Naura, sepertinya ada yang telah membuat dia lebih sensitif tentang kasih sayang kamu," ujar Ezra dengan sangat hati-hati.


Ayu mengernyit, dia belum mengerti dengan maksud perkataan suaminya itu.


"Ternyata selama ini Naura sering mendapatkan ejekan dari teman-temannya di sekolah, mereka berbicara kata yang tidak seharusnya diucapkan kepada Naura, dan selama ini sangat kita hindari."


Ayu pun mengangguk, dia mulai mengerti ke mana arah pembicaraan itu akan berlanjut.


Ezra pun akhirnya menceritakan apa yang Naura dapatkan di sekolahnya, dari beberapa siswa bahkan wali murid yang tidak memiliki etika.


Ayu bahkan sampai meneteskan air matanya, mendengar semua cerita Ezra, dia tak pernah menyangka kalau anaknya itu menyimpan masalah yang cukup berat untuk ditanggung sendiri.


"Mas, maafkan aku. Sebagai ibu, aku bahkan tidak tau kalau Naura mempunyai masalah sebesar ini," ujar Ayu.


Wanita yang baru saja melahirkan itu, merasa telah gagal untuk membuat Naura bisa menceritakan semua masalah yang dialami oleh anak itu kepada dirinya.


"Hei, sayang. Jangan begini ... ini bukan salah kamu. Mungkin Naura tidak bercerita sama kamu, karena dia takut membuat kamu tersinggung atau bahkan sedih seperti ini. Sekarang, yang penting kan Naura sudah mau bercerita sama aku ... lebih baik kita cari solusinya saja, agar Naura bisa lebih yakin kalau kehadiran Zain, tidak akan pernah mengubah rasa sayang kamu padanya."

__ADS_1


Ezra memeluk Ayu yang sudah meneteskan air mayanya, dia berusaha menenangkan istrinya yang terasa lebih perasa, setelah dia mengandung dan melahirkan.


"Iya, Mas. Mungkin mulai hari ini aku akan lebih fokus lagi kepada Naura," ujar Ayu.


"Ya, aku harap kamu bisa mengerti keadaan Naura dan lebih meluangkan banyak waktu untuknya, setidaknya sampai dia meyakini kalau kasih sayangmu tidak akan pudar, walau saat ini sudah ada Zain," jawab Ezra.


"Sementara itu, aku juga kan mengurus masalah ini di sekolah Naura," sambung Ezra lagi.


Keduanya pun akhirnya sepakat untuk menyelesaikan maslah ini bersama-sama, juga dengan porsi masing-masing.


.


.


Keenan membawa Rika ke kamar mereka, dia pun langsung memeluk istrinya itu, saat sudah menuntup pintu.


Riska tak menolak, dia memang sedang membutuhkan itu, untuk meredam rasa cemburu dan semua prasangka buruk di dalam hatinya.


Wanita itu pun akhirnya terisak di dalam pelukan suaminya, menumpahkan segala rasa gundah dan marah yang terpendam di dalam dada.


Tangannya memukul pungggung Keenan dengan gerakan lambat. Entah apa yang membuat dia merasakan semua itu? dia sendiri tidak tahu.


Yang pasti, saat ini dia hanya ingin mengungkapkan semua rasa yang dia sendiri tidak mengerti, kenapa itu bisa ada.


Untuk beberapa saat, mereka masih dalam posisi yang sama, hingga Keenan merasakan istrinya itu sudah lebih tenang dari sebelumnya.


Dia membawa Riska menuju tempat tidur, dengan cara menggendongnya.


Riska yang merasakan itu, langsung mengalungkan tangannya di tengkuk sang suami. Sedangkan wajahnya ia sembunyikan di dada bidang suaminya.


Keenan merebahkan Riska dan tubuhnya sendir, karena memang Riskka seakan tak ingin melepaskan pelukannya.


Akhirnya mereka malah terlelap kembali, dengan perut yang bahkan belum terisi.


Rasa lelah fisik dan juga hati, membuat mereka memilih mengistirahatkan tubuh dan pikiran mereka lebih dulu.


Beberapa jam kemudian, Keenan terbangun karena rasa lapar yang kembali menyerang perutnya.


Dia melihat jam yang tergantung di atas dinding. Ternyata itu sudah memasuki waktu tengah hari, sedangkan dirinya bahkan belum menyentuh makanan dari tadi malam, pantas saja perutnya sudah menagih untuk diisi kembali.


Keenan melihat ke samping, di sana Riska masih terlelap dengan keadaan wajah yang masih terlihat sembap.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku benar-benar tidak tau kalau mereka juga ada di sini. Maafkan aku karena sudah membuatmu terluka seperti ini," gumam Keenan, dia mengusap pelan wajah istrinya.


Lama memandang wajah Riska, Keenan beranjak dari tempat tidur dengan sangat pelan, dia memesan makanan untuk mereka berdua melalui telepon.


Tak lama menunggu, makanan yang ia pesan sudah datang. Setelah petugas hotel pergi lagi, Keenan masuk ke kamar mandi.


Riska membuka matanya perlahan, dia kembali mengingat kejadian di restoran, yang membuat dirinya kehilangan selera lagi, untuk menikmati liburannya kali ini.


Riska termenung, dia memeriksakan apa yang tadi dia lakukan pada suaminya.


'Apa aku terlalu berlebihan?' tanya Riska dalam hati, sekarang dia malah merasa bersalah saat mengingat, bahkan tadi suaminya tak makan atau minum di restoran.


'Apa sekarang dia sudah makan?'


Riska beranjak duduk bersandar di kepala ranjang, matanya mengedar mencari keberadaan sang suami.


'Ke mana dia?'


Tak ada, Riska tak menemukan suaminya di kamar itu.


'Apa dia ke luar?' Riska menebak di dalam hati, ada rasa kecewa saat dia tak menemukan keberadaan sang suami di dekatnya.


Perhatiannya teralihkan pada beberapa menu makanan yang tersaji di atas meja.


Suara pintu kamar mandi terbuka, mengalihkan perhatian Riska, ternyata dia sana Keenan keluar dengan wajah yang terlihat segar.


Rambutnya terlihat sedikit basah, dengan air di wajahnya yang masih sedikit menetes.


Keenan tersenyum, saat melihat Riska sudah bangun dan sedang menatapnya dalam, tanpa ada guratan amarah di matanya.


Sejenak mata keduanya terpaut, mengungkapkan rasa penyesalan dan permintaan maaf.


"Sudah waktunya shalat dzuhur, kamu mau bareng?" tanya Keenan.


Riska baru tahu kalau suaminya itu baru saja selesai berwudhu. Dia memalingkan sedikit wajahnya, untuk melihat jam dinding, kemudian kembali melihat sang suami dan mengangguk pelan.


"Ya, tunggu sebentar, aku ambil wudhu dulu," ujar Riska, sambil beranjak dari tempat tidur.


Keenan mengangguk, sambil menunggu Riska, dia menyiapkan peralatan sholat mereka berdua.


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2