
......Happy Reading ......
...❤️...
Sampai di rumah, Rio sudah menunggu keduanya di depan. Dia langsung menghampiri mobil Keenan, begitu berhenti di halaman rumah.
"Kak," sapa Rio pada Riska.
Matanya menelisik seluruh tubuh Riska, memastikan tidak ada yang kurang atau luka sedikitpun.
"Tumben kamu ada di depan. Ibu ada gak?" tanya Riska.
"Eh itu, aku mau ke warung sebentar. Ibu ada di dalam," jawab Rio.
Ya, sekarang Ibu membuka warung di depan rumah, dengan modal yang diberikan oleh Keenan.
"Oh, ya udah, aku ke dalam dulu. Yuk, Bang." Riska menggandeng tangan suaminya.
"Sayang. Kamu ke dalam duluan, ya. Aku mau lihat warung sama Rio sebentar," ujar Keenan.
Riksa menatap Rio dan Keenan bergantian.
"Ya udah. Aku masuk duluan," ujarnya kemudian.
Riska pun meninggalkan Keenan dan Rio berdua, sedangkan dirinya masuk ke dalam rumah untuk menemui sang ibu.
Sampai di dalam rumah, ternyata ibunya sedang berada di dapur, untuk menyiapkan makan malam.
"Assalamualaikum." salam Riska sambil melangkah masuk ke dalam dapur.
Ibu menoleh melihat kedatangan anak perempuannya, senyum merekah langsung mengiasi wajahnya.
"Waalaikumsalam. Riska, kamu kenapa datang gak bilang-bilang? Kalau tau kan ibu bisa masakin makanan kesukaan kamu," ujar Ibu, mematikan kompor dan menghampiri anak sulungnya itu.
Mereka saling berpelukan, menyalurkan rasa rindu setelah lama tidak bertemu.
"Ibu sehat?" tanya Riska, mengurai pelukannya.
"Alhamdulilah, Ibu sehat. Kamu bagaimana, Nak?" tanya Ibu, melihat keseluruhan tubuh anak sulungnya itu.
"Aku juga baik, Bu. Ibu sedang masak apa? Aku bantu ya," ujar Riska, menoleh melihat wajan yang masih berada di atas kompor.
"Gak usah, itu sebentar lagi juga selesai. Kamu istirahat saja, atau mandi dulu .. sebentar lagi masuk waktu magrib," ujar Ibu, mencegah Riska membantunya.
"Beneran, Ibu, gak mau di bantu?" tanya Riska, memastikan.
"Iya, udah sana, cepat mandi," ujar Ibu, mendorong pelan Riska.
"Iya-iya, ini Riska mau mandi."
Riska pun akhirnya berjalan menuju kamar, untuk mengambil handuk dan baju ganti, sekaligus menaruh tasnya.
Di tempat lain, Keenan dan Rio, kini sudah masuk ke dalam warung sembako kecil, berukuran tiga kali empat meter.
Keenan melihat-lihat seluruh barang yang ada di sana. Walau warung itu, terlihat cukup kecil. Akan tetapi, isi di dalamnya cukup bnyak dan beragam.
Hampir semua kebutuhan rumah tangga ada di sana, mulai dari keutuhan pokok seperti beras, telur, minyak, terigu dan berbagai bahan makanan lainnya.
Begitu pula dengan makanan ringan dan berbagai peralatan mandi dan mencuci, mulai dari sabun, sampo dan lain sebaginya.
__ADS_1
"Sini duduk, Kak." ujar Rio, menepuk kursi plastik yang baru saja dibawa dari dalam.
Mereka pun duduk berdua di depan warung milik mertua Keenan itu.
"Gimana, Kak? Apa laki-laki itu ada di sana?" tanya Rio, tak sabar.
Keenan menatap adik iparnya itu, ingatannya kembali pada saat Rio tiba-tiba saja meneleponnya beberapa waktu yang lalu.
Flashback
Rio kembali menghentikan laju motornya di pinggir jalan.
"Apa lagi sih, Yo? Kok berhenti lagi?" tanya temannya itu.
"Sebentar, aku mau memastikan kalau kakakku sudah gak ada di butik itu," jawab Rio, mengambil kembali ponselnya dan menghubungi seseorang.
Tak menunggu lama, panggilannya tersambung pada orang yang ia maksud.
"Ada apa, Yo?" tanya Keenan dengan tangan masih memegang salah satu berkas.
"Kak Keenan, di mana?" tanya Rio, tanpa mendengar pertanyaan dari kakak iparnya itu.
"Aku masih di kantor, Yo. Ada apa?" Keenan mengernyit saat tak biasanya adik iparnya itu menghubunginya terlebih dahulu.
Biasanya Rio akan memilih menghubungi Riska dibandingkan mneghubunginya.
"Kakak ada sama, Kak Keenan , gak?" tanya Rio lagi.
Keenan semakin gusar saat mendengar pertanyaan dari adik iparnya.
"Gak ada, Yo. Tadi siang dia bilang mau pulang ke rumah ibu. Memang dia belum sampai?" tanya Keenan.
"Ada yang mengawasi? Kamu yakin, Yo?" tanya Keenan, memastikan.
"Aku yakin, Kak. Perasaanku juga gak enak sejak tadi, kepikiran Kak Riska terus," ujar Rio.
"Ya, udah sekarang kamu di mana? Masih di dekat butik?" tanya Keenan.
"Aku udah arah pulang, Kak. Maaf, aku baru terpikir untuk menghubungi, Kak Keenan, di jalan," ujar Rio.
"Ya udah, gak apa-apa. Aku ke butik sekarang, kamu coba hubungi ibu, tanyakan apa Riska sudah ada di rumah. Nanti kabari aku lagi," perintah Keenan.
"Baik, Kak."
Sambungan telepon pun terputus begitu saja. Keenan langsung bersiap untuk pulang, meninggalkan semua berkas yang masih berserakan di atas meja.
"Tolong kamu bereskan semua berkas yang ada di meja. Aku ada urusan penting," ujarnya pada sekretaris yang masih berada di mejanya.
"Baik, Pak."
Keenan tak bisa lagi mendengar jawaban dari sekretarisnya. Karena dia sudah pergi dengan langkah cepat setengah berlari.
Sampai di mobil, dia mencoba melacak keberadaan Riksa melalui ponselnya.
"Dia masih ada di dalam butik," gumamnya sambil mencoba menghidupkan mobil miliknya.
Namun, beberapa kali dicoba, ternayata mobilnya tak bisa hidup juga.
"Akh, sial!" umpat Keenan, kembali ke luar dari mobilnya.
__ADS_1
Dia pun akhirnya menghubungi salah satu staf untuk menanyakan keberadaan mobil kantor.
Di saat Keenan menunggu mobil kantor siap, Rio menelepon dan mengabarkan kalau Riska belum sampai ke rumah ibu mereka.
Setelah mendapatkan mobil, dia langsung melesat pergi meninggalkan area kantor pusat Darmendra Corp.
Hatinya begitu gusar, saat teleponnya pun tak diangkat oleh Riska.
"Ya Tuhan, lindungi istriku ... aku mohon," gumamnya.
Beberapa saat kemudian, Keenan menghentikan mobilnya di pinggir jalan, tepat di depan butik.
Dari tempatnya, ia bisa melihat seorang lelaki yang tampak mencurigakan, tengah memperhatikan butik milik kakak iparnya itu.
"Siapa dia?' gumamnya, masih bertahan di dalam mobil.
Cukup lama memperhatikan, akhirnya Keenan memarkirkan mobilnya di samping orang itu.
Melihat ada yang masuk ke area butik, tiba-tiba saja orang itu masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi, bahkan sebelum Keenan sempat ke luar.
Keenan menatap kepergian mobil itu, dia sempat mencatat nomor polisi dan mengambil foto orang yang mengemudiaknnya.
"Benar-benar mencurigakan," gumamnya, beralih menatap butik yang sudah jelas tertutup rapat.
"Untuk apa dia memperhatikan butik yang sudah tutup?" gumamnya lagi.
Cukup lama dia berfikir. Menatap ponsel yang menunjukan foto lelaki tadi dan nomor polisi mobilnya. Menggulirannya berulang kali, sebelum akhirnya mengirimkannya pada salah satu anak buahnya.
Setelah terkirim, dia pun menghubungi anak buah tersebut, untuk memberikan perintah.
"Selidiki orang yang ada di dalam foto itu!" ujarnya kemudian.
"Baik, Pak."
Keenan langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia kembali melihat ke depan, di mana butiknya berada.
Tak lama kemudian Riksa terlihat keluar dengan keadaan baik-baik saja. Baru Keenan bisa bernapas lega.
Flashback off
"Lalu bagaimana selanjutnya, Kak?" tanya Rio, setelah mendengar cerita dari Keenan.
"Aku masih mencari tau. Sementara itu, aku akan memerintahkan orang untuk mengawasi Riska," ujar Keenan.
"Bagaimana kalau aku saja?" usul Rio.
"Gak bisa, Riska bisa curiga, kalau kamu tiba-tiba trus berada di sampingnya," tolak Keenan.
Dia kemudian melihat wajah khawatir adik iparnya itu.
"Tenang saja, aku akan menjaga kakakmu sebaik mungkin," ujar Keenan, sambil menepuk pundak Rio.
Rio mengangguk, dia percaya kalau Keenan bisa menjaga kakaknya itu dengan baik.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1