Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.142 Belanja


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Sesuai dengan janji Nawang tadi pagi, sore ini, tiga orang perempuan berbeda usia itu, sedang berjalan memasuki pusat perbelanjaan dengan di temani Bi Yati dan Gino. Ya, akhirnya mereka keluar setelah jam dua siang, karena Naura yang tertidur.


Nawang dan Ayu lebih dulu mengantarkan Naura yang mau bermain di area kidzania.


"Sayang, kamu di temenin sama Bi Yati ya. Mama sama Nenek mau liat baju buat dede bayi," ujar Ayu, sebelum ia meninggalkan anak sambungnya itu, yang langsung diangguki oleh Naura.


"Baik-baik di dalam ya, jangan jauh-jauh dari Bi Yati," pesan Ayu, sambil mengusap rambut yang terurai sebatas bahu milik Naura.


"Iya, Mah," jawab Naura, patuh.


"Bi, jagain Naura ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku," Ayu berpindah pada Bi Yati.


"Iya, Bu," angguk Bi Yati.


Nawang yang melihat perhatian Ayu merasa bersyukur, karena sudah mendapatkan sosok menantu hang begitu tulus menyayangi keluarganya.


"Yuk, sekarang kita cari perlengkapan kamu dan si dede," ajak Nawang, setelah Naura dan Bi Yati masuk ke dalam area Kidzania.


Berjalan menuju salah satu toko khusus perlengkapan bayi yang terlihat lebih lengkap dari pada yang lainnya. Keduanya masuk dengan Gino mengikuti di belakang.


Wajah Ayu langsung berbinar, melihat berbagai macam pakaian bayi dan anak yang begitu lucu dan mengemaskan. Tanpa sadar tangannya mengelus perut saat merasakan sebuah gerakan halus di dalamnya.


Selama ini, dirinya akan datang ke tempat seperti ini untuk membeli kado dan bingkisan untuk orang lain yang baru melahirkan. Akan tetapi sekarang, dirinya ke tempat ini bukan lagi untuk membeli hadiah, melainkan untuk anaknya sendiri.


Ada rasa bahagia yang tak terkira di dalam hatinya, saat mengingat semua itu. Harapan memiliki momongan yang dulu sudah tak mampu lagi ia pertahankan karena tekanan sekitar.


Kini, Tuhan telah memperlihatkan kebesarannya ... saat dirinya tak berani lagi untuk berharap, Dia–Tuhan, memberinya kepercayaan untuk mengandung buah cintanya dengan sang suami.


"Ndi, kenapa malah berdiri di sini? Ayo, kita cari perlengkapan bayi baru lahir dulu." Nawang yang baru menyadari kalau menantunya tak ada di belakang langsung kembali dan mendapati Ayu tengah melamun di bagian depan toko.

__ADS_1


"I–iya, Mah," jawab Ayu, sedikit gugup karena terkejut.


Nawang memegang tangan Ayu dan membawanya pada area peralatan bayi baru lahir, seperti baju, popok, selimut, dan kain bedong, juga peralatan lainnya, seperti sarung tangan washlap, juga peralatan mandi yang akan di perlukan secepatnya begitu bayi terlahir.


"Karena belum ketahuan si dede laki-laki atau perempuan, jadi kita beli warna yang netral aja ya," ujar Nawang, sambil memilih baju bayi di depannya.


"Iya, Mah," jawab Ayu sambil ikut memilih yang lainnya.


Sampai saat ini Ayu dan Ezra memang memutuskan untuk tidak mengetahui jenis kelamin anaknya. Biarkan saja itu akan menjadi kejutan untuk mereka sebagai orang tua.


Ezra tak akan pernah mempermasalahkan untuk semua itu, mau itu perempuan atau laki-laki, semua anak tetaplah anugerah yang begitu istimewa dari Yang Maha Kuasa. Lalu untuk apa mereka masih meminta salah satu, jika keduanya dilahirkan secara suci dengan berbagai berkah yang mengikutinya.


Tatapan Ayu terpaku pada baju bayi berwarna putih yang terlihat begitu lucu tergantung di salah satu rak.


"Mba, boleh tolong ambilkan yang itu," ujar Ayu, pada salah satu pelayan di sana.


"Bisa, Bu. Tunggu sebentar biar saya ambilkan, ini model terbaru bahannya halus dengan kualitas terbaik yang ada di toko kami," jelas salah atu karyawan itu, begitu antusias.


Nawang mengalihkan pandangannya pada Ayu, dia ikut memegang baju yang ada di tangan sang menantu.


"Wah, ini lucu sekali ... bahannya juga halus," ujar Nawang.


"Baik, Bu. Saya akan segera ambilkan," semangat karyawan itu, langsung pergi ke area belakang untuk mengambil keinginan kedua pelanggan barunya itu.


Bagaimana tak senang, bila yang mereka minta adalah produk premium dengan bandrol yang tak main-main. Mungkin hanya orang dari kalangan tertentu yang mau membelinya, dan itu sangat jarang ia temui.


"Mah," Ayu menatap mertuanya dengan kerutan halus di kening. Dia tahu kalau harga dari baju merek itu sangat mahal.


"Uang suamimu itu tidak akan habis, kalau hanya untuk membeli baju merek baju ini untuk anaknya. Tenang saja," ujar Nawang begitu mudah.


"Bukan begitu, Mah. Tapi, baju seperti ini tidak akan terpakai lama, buat apa kita beli yang mahal?" protes Ayu. Tadinya ia hanya akan membeli satu, karena memang dia suka modelnya yang terlihat sangat lucu dan pas untuk di pakai di bayi laki-laki maupun perempuan.


Namun, perkataan Nawang pada pelayan toko beberapa waktu lalu, membuatnya ketar-ketir sendiri, mengingat kebiasaan keluarga Ezra, terutama ibu mertuanya ini yang tak pernah memikirkan uang atau harga jika sedang berbelanja.


"Walaupun terpakai sebentar, cucuku tetap harus memakai yang terbaik. Mama cuma mau yang terbaik untuk keluarga kita, jadi gak usah banyak protes soal harga. Kamu belum tahu aja kalau belanja bareng suamimu itu. Dia bahkan lebih gila lagi daripada Mama," ujar Nawang.

__ADS_1


Ayu mengangguk, saat mengingat semua pakaian sang suami di kamarnya. Tak ada yang berbahan biasa, semuanya berbahan premium dengan merek dari berbagai pelosok dunia, walau masih ada juga yang buatan lokal. Akan tetapi, itu bukanlah produk biasa, melainkan produksi perancang terkenal di Indonesia sampai mancanegara.


Sepertinya memang benar perkataan Nawang, kalau suaminya itu lebih gila kalau soal belanja. Selama ini, dia belum pernah berbelanja berdua dengan Ezra, pakaian yang ia pakai sudah disiapkan sejak dia masuk ke dalam rumah itu, hingga dirinya tidak pernah tahu siapa yang membelinya.


"Kamu tau, semua pakaian yang ada di kamar kalian adalah hasil buruan dirinya sendiri, Ezra bahkan langsung menelepon berbagai butik langganannya begitu kamu menerima lamarannya," cerita Nawang.


Ayu melebarkan matanya, mendengar perkataan ibu mertuanya itu. Dia tak pernah menyangka kalau Ezra bisa melakukan semua itu untuknya. Rasa syukur dan cintanya pada sang suami kini terasa berkali lipat, mendengar bagaimana Ezra begitu menyayanginya, bahkan sebelum mereka menikah.


"Mama, serius? Mas Ezra yang menyiapkan semua itu?" tanya Ayu, ingin memastikan.


"Ya, memang siapa lagi kalau bukan dia? Mama saat itu sedang sibuk menyiapkan pernikahan kalian, mana terpikir membelikanmu baju. Tapi, ternyata anak itu peka juga, jadi Mama gak mau saat kamu dibawa sama dia ke rumah, karena dia sudah menyiapkannya di sana," jawab Nawang.


"Ezra itu memang terlihat dingin dan acuh dari luar. Tapi, sebenarnya dia lelaki yang cukup peka dengan sesuatu yang kecil ... yang kadang kita sendiri melupakan hal itu," tambah Nawang lagi, matanya menerawang mengingat sesuatu di masa lalu.


Di saat Keenan terpuruk akibat kisah cintanya, Ezra lah yang selalu berada di dekat anak bungsunya itu, mengalihkan pikiran Keenan pada kesibukan yang lain, hingga akhirnya menarik Keenan untuk membantunya mengurus perusahaan bersama dengannya.


Nawang bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi bila saat itu Ezra tidak ada di sisi Keenan. Padahal saat itu Ezra juga sedang melakukan studi S2 sambil merintis usaha. Akan tetapi dia meluangkan waktunya selama sebulan hanya untuk memberi semangat pada sang adik.


"Ini, Ibu. Semua jenis barang dari merek yang sama seperti baju itu," ujar pelayan dengan membawa beberapa contoh barang di tangannya.


Nawang dan Ayu yang enak berbincang kini beralih melihat berbagai perlengkapan bayi yang ada di depan mereka.


Cukup lama dua orang itu berada di toko perlengkapan bayi itu, hingga tak terasa waktu berjalan cepat, dan kini hari sudah mulai gelap.


"Kita makan malam dulu saja, biar pulang bis alangsung istirahat," ujar Nawang, saat mereka semua sudah berkumpul dan acara belanja selesai.


Ayu mengangguk, perutnya sudah menagih untuk diisi sejak tadi, begitupun dengan Naura, tenaga gadis kecil itu sudah hampir habis karena asyik bermain, jadi sekarang dirinya membutuhkan asupan energi lagi.


Kini mereka sudah berada di salah satu restoran sehat yang masih berada di pusat perbelanjaan itu. Menunggu menu yang baru saja mereka pesan, dengan perbincangan yang seakan tiada akhir di antara para perempuan itu.


Sedangkan Gino memilih diam sambil sesekali memperhatikan suasana di sekitarnya.


"Mah, itu Papah."


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2