Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.53 Keputusan


__ADS_3


...Happy Reading...


.......❤.......


Hari terus berlalu, satu minggu kemudian, Ayu dan Radit kembali menghadiri sidang perceraian Mereka.


Kali ini, Ayu di temani oleh Ansel dan Elena, sedangkan Ezra tidak bisa hadir, karena sedang ada di luar kota.


Semua bukti untuk membantu proses perceraian sudah di dapatkan oleh Ezra dan Ansel, juga sudah di serakan kepada kuasa hukum Ayu.


Selama ini, Ayu tidak pernah mengambil bukti apapun dari perselingkuhan Radit dan Mala.


Jangan kan mengambil bukti, untuk menata perasaannya saja, rasanya sangat sulit.


Namun, karena Ezra mempunyai koneksi yang luas, akhirnya semua bukti itu di dapatkan dengan jangka waktu kurang dari satu minggu.


Itu semua juga karena kecerdikan adik dari Ezra, yaitu Keenan.


Cukup lama, sidang kali ini berlangsung, karena Radit masih saja menyangkal semua bukti yang ada.


Bahkan Radit malah, menuduh Ayu yang berselingkuh dengan laki-laki lain.


Di saat seperti itu, Ayu dan Ansel bersyukur karena Ezra tidak datang ke pengadilan.


Radit bahkan sempat di ancam akan di laporkan ke polisi, atas kesalahannya.


Agar lelaki itu tak lagi menghalangi jalannya persidangan dan kelancaran putusan sidang.


Setelah beberapa jam berada di dalam ruangan yang terasa pengap itu, akhirnya putusan cerai pun di dapatkan.


Ayu menghela napas lega, ketika mendengar suara ketuk palu dari hakim.


Radit menunduk, dengan tangan terkepal kuat, dirinya tidak bisa menerima keputusan saat ini.


Setelah beberapa hari yang lalu, dia baru saja kehilangan janin yang di kandung Mala, sekarang ia juga harus kehilangan istri pertamanya.


"Akhirnya, semuanya selesai juga," ujar Ayu, setelah ia berada di luar gedung pengadilan agama.


"Selamat ya, Ndi. Mulai sekarang kamu harus fokus kepada diri kamu sendiri." Elana merangkul Ayu, sambil memberikan semangat.


"Iya, Dek. Mulai saat ini, kamu gak boleh sedih lagi, kamu harus selalu bahagia!" Ansel ikut menimpali, sambil merangkul kedua wanita yang sangat ia sayangi.


Merka bertiga akhirnya pulang bersama, menuju rumah Ayu.


Bian, Naura, dan Bu Nawang sudah berada di sana, untuk mempersiapkan perayaan selesainya masalah perceraian Ayu dan Radit.


Beberapa saat kemudian, ketiganya sudah sampai di depan rumah, dengan kedua anak kecil yang berlari riang menyambut kedatangan mereka.


Bu Nawang hanya tersenyum melihat kedekatan antara, cucu dan juga adik dari sahabat anaknya itu.


"Akhirnya selesai juga, masalah kamu, Yu," ucap Bu Nawang, memeluk lembut Ayu.


"Iya, Bu. Allhamdulillah," balas Ayu, memejamkan matanya merasakan kehangatan pelukan seorang ibu.


Satu tetes air mata, berhasil lolos dari manik indahnya, saat teringat kembali sosok sang ibu.

__ADS_1


"Jangan nangis dong, ini kan hari bahagia kamu." Bu Nawang, melerai pelukannya, lalu mengusap pipi Ayu yang sedikit basah oleh air mata.


Ayu tersenyum, lalu mengangguk.


Benar kata Bu Nawang, hari ini dia tidak boleh menangis atau pun bersedih, hari ini dia harus tersenyum.


.


Matahari sudah terbenam di perpaduan, kini malam sudah menjemput dengan sinar bulan yang terpancar indah.


Ayu sedang mengerjakan salah satu desain gaun malam untuk salah satu pelanggannya, di taman dalam rumah.


Suasana yang segar dari tumbuhan yang ada di sana, selalu membuat Ayu merasa nyaman.


Tak ada yang berubah dalam hati dan juga pikirannya, setelah dirinya resmi bercerai dari Radit tadi siang.


Hanya saja, ada sedikit perasaan takut, untuk menjemput hari esok, dengan status baru.


Status yang telah membuat sang ibu, selalu di hujan oleh sesama wanita lainnya, dan di rendahnya oleh para lelaki.


Status yang selalu menjadikan wanita yang menyandangnya,selalu di cap tidak baik dan hina, tanpa mereka tau apa penyebabnya.


Kenangan segala caci dan maki pada sang ibu, yang ia dengar. Kembali mengusir ketenangan hatinya.


Menghentikan aktifitas membuat sketsa, kemudian menghirup napas panjang dan menghembuskannya lagi dengan perlahan.


"Ya Allah, lindungi hamba dari segala fitnah, dan kuatkan hamba dalam menjalani hidup ini," gumamnya menutup mata, dengan penuh pengharapan.


"Semangat Ayunindia, kamu wanita kuat!" ucap Ayu mantap, mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Ayu mengangkat wajahnya, ia bisa melihat Bi Yati membawa sebuah kotak berwarna biru muda.


"Dari siapa, Bi?" tanya Ayu.


"Gak tau, Non. Kata Mang Ujang, tadi ojol yang nganter," jawab Bi Yati.


Ayu mengangguk, tangannya terulur meraih paket di tangan asisten rumah tangganya itu.


Ayu memeriksa kotak paket itu dengan seksama, tetapi tak di temukan nama pengirim di sana.


"Buka aja, Non. Siapa tau penting," saran Bi Yati.


Dengan ragu Ayu mulai membuka kotak itu.


"Note book?" gumam Ayu, dengan alis bertaut.


Di dalam kotak itu, terlihat sebuah note book berwarna biru gradasi.


Perlahan Ayu mengambil buku itu, dan ternyata di bawahnya terdapat sebuah kertas kecil.


......'Aku melihat itu, dan aku teringat padamu.' ......


Kerutan di keningnya semakin dalam, saat membaca pesan yang tertulis.


Membolak-balik kertas kecil itu, tapi tak juga menemukan apa pun di sana.


"Non, Bibi pamit ke belakang lagi,"

__ADS_1


Ayu mengangguk, "Terima kasih, Bi," ucap Ayu.


"Sama-sama, Non," jawab Bi Yati.


Perhatian Ayu beralih pada buku di tangannya.


'Apa dia tau, aku selalu membawa note book kemana pun?' batinnya bertanya.


Perlahan membuka isi dari buku itu.


Di halaman pertama, tidak ada apapun.


'Mana ada, buku ini kan masih baru!" gumamnya merutuki kebodohannya yang berharap akan menemukan nama pengirimnya di sana.


Menghembuskan napas kasar, lalu menaruh begitu saja di atas bangku.


Meraih semua peralatan menggambar yang ada di sana, lalu memutuskan pergi menuju kamarnya, untuk beristirahat.


Mengabaikan kiriman yang dia sendiri tidak tau dari siapa itu.


.


Beberapa hari berlalu, Ayu sudah melupakan tentang kiriman misterius itu, hari barunya ia jalani seperti biasa.


Tidak ada yang berubah, semuanya berjalan baik-baik saja.


Dirinya juga sudah mengajak Ansel untuk berziarah ke makam sang ibu, juga menunjukan semua kenangan keluarga mereka.


Buku peninggalan sang ibu juga sudah mereka baca bersama-sama.


Ternyata isinya, adalah permintaan maaf dari dang ibu, kepada kedua anaknya.


Di saat itu, Ansel bahkan menangis keras dengan penuh penyesalan, karena terlambat menemui sang ibu.


Ayu juga semakin percaya dengan cerita yang di berikan Ansel.


Walau pun ada sedikit rasa kecewa di hati keduanya kepada sang ibu, karena ibunya telah memisahkan mereka, demi menyelamatkan ayahnya.


Namun, semua itu sudah tak berarti lagi sekarang, yang terpenting, kini keduanya telah bersama lagi.


Di sana juga ada pesan sang ibu kepada Ansel.


Dia meminta, agar Ansel untuk menjaga Ayu, dan tetap menjadi saudara yang saling menyayangi, satu sama lain.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Aku terharu sekali dengan semua komen kalian kemarin🥺 Allhamdulillah sekarang aku sudah merasa lebih baik😊.


Terima kasih untuk semua do'a dan semangat kalian semua🥰


Semoga kalian juga selalu di beri kesehatan, semakin sukses dan semangat menjalani hari-hari kalian🤲


Lope-lope sekebon pokoknya buat kalian semua😘😘❤❤

__ADS_1


__ADS_2