Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.86 Hari ulang tahun


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


“Neng, tadi ada Den Ansel dan Tuan Larry nyariin,” ucap Bi Yati saat Ayu baru saja masuk ke dalam rumah.


Ayu terlihat mengerutkan kening tipis, karena dia tak mendapat kabar dari kakak maupun ayahnya.


‘’Kapan, Bi?’’ tanya Ayu. Tangannya berusaha mencari ponsel di dalam tas.


‘’Tadi sekitar jam dua siang,’’ jawab Bi Yati, mengingat kedatangan ayah dan kakak majikannya.


‘’Terus Bibi bilang apa?’’ Ayu bertanya sambil mengecek ponselnya.


Wanita itu menautkan keningnya saat melihat tidak ada satu pun panggilan ataupun pesan dari mereka.


‘’Bibi bilang kalau Neng lagi ke rumah Den Ezra sejak pagi, terus mereka pulang lagi. Katanya mau ke sini lagi nanti malam,’’ jawab wanita paruh baya itu.


Ayu tampak menganggukan kepalanya, walau hatinya penuh tanya.


‘’’Ya udah aku ke atas dulu ya, Bi.’’


Wanita itu pergi ke lantai atas setelah mendapat anggukan dari asisten rumah tangganya itu.


Menapaki setiap anak tangga dengan pikiran terus tertuju pada kakak dan ayahnya.


.........


Ezra baru saja sampai ke rumahnya, setelah menganatar Ayu, dia menautkan alisnya melihat mobil asing yang terparkir di depan rumah orang tuanya.


‘’Bi, ada tamu?’’ tanya lelaki itu pada salah satu pembantu yang sedang berada di depan rumah.


‘’Itu, ada Non Melati, Den.’’


Jawaban itu membuar Ezra semakin bingan dan sedikit kesal.


‘’Mau apa dia datang ke sini?’’ gumam lelaki itu.


‘’Makasih, Bi.’’


Ezra melanjutkan langkahnya untuk segera masuk ke dalam rumah, kesenangannya tiba- tiba saja menghilang saat mendengar nama gadis sombong itu.


‘’Papah!’’


Seperti biasa, saat ia sampai di area ruang keluarga, teriakan sang anak selalu menjadi sambutan untuk dirinya.


Naura tampak berlari menghampiri ayahnya yang baru pulang bekerja.


Ezra berjongkok dengan melebarkan tangannya, untuk menyongsong kedatangan sang anak.


Di belakang Naura tampak berjalan mengikuti seorang remaja dengan senyum sumringah.


Melati


Ya, wanita itulah yang sekarang sudah berdiri di depan Ezra, dengan pipi merah merona, seakan malu kepada lelaki itu.


Padahal Ezra bahkan belum menyapanya sama sekali.


‘’Abang,’’ sapa gadis itu, dengan suara yang sangat lembut menggoda.


Namun, Ezra sama sekali tak menghiraukan adik dari Ansel itu.


Raut wajahnya tampak berubah dingin dan acuh.


Melirik sekilas dengan senyum paksa sebagai jawaban.


‘’Naura mau temenin Papa ke kamar?’’ tanya Ezra kembali fokus kepada sang anak yang kini berada dalam gendongannya.


Anggukan gadis kecilnya, membuat Ezra melangkah meninggalkan Melati tanpa sepatah kata pun.


Semua itu terlihat jelas oleh Nawang yang baru saja datang dari dapur.


‘’Mau ngapaian sih dia ke sini?’’ tanya Ezra, ketika sudah berada di hadapan ibunya.


‘’Enggak tau, katanya mau bantuin acara besok.’’ jawab Nawang, dengan suara pelan, persis seperti berbisik agar yang di bicarakan tidak mendengar perkataannya.


‘’Alasan!’’ desis Ezra, sebelum melanjutkan langkahnya menaiki tangga ke lantai dua.


Nawang hanya menggeleng miris, melihat anak sulungnya yang tidak menyukai gadis itu.


 


...........


 


Sejak selesai sholat subuh, Ayu sudah bersiap untuk pergi ke rumah orang tua Ezra.


Drrt ... drrtt ....


Suara getar ponsel di atas nakas mengalihkan perhatian wanita itu yang sedang menyiapkan baju ganti dan kado yang akan di bawa ke sana.


Terlihat nama Orang menyebalkan di layar benda pipih itu.


‘’Assalamualaikum.’’


Terdengar suara mungil gadis kecil kesayangannya, dari sebrang sambungan telepon.


Ayu mengembangkan senyumnya, ternyata Naura yang meneleponnya.


‘’Waalaikumsalam ... selamat pagi, sayang!’’ ucap riang wamita itu.


‘’Pagi juga, sayang!’’

__ADS_1


Ayu membolakan matanya, mendengar bukan lagi suara Naura yang menjawab perkataannya.


‘’Papah! Aunty lagi bicara sama Rara!’’ Ayu tersenyum mendengar jeritan kesal dari gadis kecil itu.


‘’Aunty kita lagi di jalan mau jemput ke rumah!’’ ucap Naura.


‘’Iya, kalau gitu Aunty tunggu di rumah ya, sayang. Hati-hati di jalan ... bilangin sama Papah jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya,’’ pesan Ayu.


‘’Siap, sayang!’’ lagi-lagi yang menjawab bukan Naura melainkan Ezra.


Ayu hanya mendengus kesal, sambil mematikan teleponnya.


Meraih dua buah paper bag yang ia siapkan sebelumnya, kemudian mengambil tas yang tergeletak di atas meja rias.


Gerakannya terhenti ketika matanya melihat sebuah kotak kecil berwarna putih di samping tas.


Tangannya terulur meraih benda kecil itu, dengan sedikit bergetar.


Duduk di pinggir ranjang dengan mata terus tertuju pada kotak di tangannya.


Hatinya tiba-tiba saja resah, pikirannya terasa kalut dengan keputusan yang harus ia berikan siang nanti.


Ingatannya kembali pada mimpi yang sama, selama dua malam ini.


Di sana dirinya selalu berada di sebuah hamparan tanaman bunga yang sangat luas, sampai tak terlihat batas akhirnya, bersama sang ibu yang berada di sampingnya.


Tak ada kata yang terucap dari keduanya, ia hanya terdiam, menikmati angin semilir berbau harum bunga di sekitarnya.


Di saat itu, tak lama datang seorang lelaki dengan menggunakan pakaian serba putih yang mengulurkan tangan ke arahnya.


Wajahnya tak terlihat jelas, hingga ia harus menajamkan matanya.


Namun, itu tak memperjelas pandangannya. Ia menoleh kepada ibunya yang tersenyum hangat, kemudian mengangguk.


Tangan yang awalnya bertaut dengan lengan sang ibu, kini di serahkan kepada lelaki itu.


Dia menggeleng, menolak ikut, memohon untuk tetap menemani ibunya.


Mulutnya terbuka, berusaha untuk mengeluarkan suara. Namun itu semua terasa sangat susah.


Mata sang ibu meyakinkannya untuk ikut pergi bersama lelaki berbaju putih.


Akhirnya dia ikut bersama dengan lelaki itu, di iringi senyum sang ibu. Hingga ketika dia berbalik ibunya sudah tidak ada di sana lagi.


Mimpi Itu pun terputus di sana begitu saja karena ia terbangun.


Membuka kotak putih itu, dengan manik mata bergetar.


Tangannya mengambil  cincin bertuliskan nama pemberinya.


Huftt


Menghembuskan napas kasar, mengembalikan kembali cincin itu ke tempatnya, dan menaruhnya di tas kecil yang akan ia bawa.


Hanya beberapa menit Ayu menunggu, suara deru mesin mobil sudah terdengar di luar rumah.


Tak lama kemudian, terdengar suara nyaring gadis kecil itu, memanggil-manggil namanya.


‘’Kita berangkat sekarang?’’ tanya Ezra, saat ia melihat wanita itu telah siap.


‘’Iya dong, Pah. Aunty kan mau ke rumah nenek!’’


Bukan Ayu yang menjawab, namun anak kecil di antara mereka yang menjawab pertanyaan Ezra.


Ayu hanya tersenyum, berusaha menyamarkan ketegangan yang ia rasakan.


Naura langsung menempel pada wanita itu, hingga di mobil saja dia ingin berada di pangkuan Ayu.


Memeluk manja Aunty kesayangannya.


Hingga pada saat mereka sampai, gadis kecil itu sudah tidur kembali di dalam pangkuan nyaman Ayu.


‘’Tunggu sebentar, biar aku bawa Naura dulu,’’ ucap Ezra saat ia sudah menghentikan mobil di depan rumah.


Ayu mengangguk, dengan wajah sedikit meringis karena kakinya sudah mulai kebas.


Selama perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam, karena terhalang kemacetan kota. Naura terus berada di pagkuannya.


Gadis kecil itu, menolak untuk duduk sendiri. Dia seperti sedang merayu wanita itu agar mau menjadi ibu sambungnya.


‘’Aunty mau yah jadi mamanya Rara,’’


Kata itu yang terus di ucapkan oleh gadis kecil itu, hingga ketika dia sudah tertidur pun, mulutnya terus menggumamkan kata itu.


Sementara itu, Ayu hanya tersenyum menaggapi celotehan gadis kecil itu.


Sedangkan Ezra tampak tersenyum  geli, karena tahu kalau itu semua atas perintah ibunya.


Keenan yang kebetulan sedang berada di luar rumah menghampiri Ezra.


‘’Tolong gendong Naura ke  kamarnya,’’ ucap Ezra ketika adiknya sudah sampai di depannya.


Ezra terlebih dulu mengambil anaknya itu dari pangkuan Ayu, sebelum memindahkannya pada Keenan.


‘’Ayo, biar aku bantu.’’


Lelaki itu kembali berbalik untuk membantu Ayu keluar dari mobil.


‘’Sebentar, kaki aku gak berasa,’’ ucap Ayu mencoba menggerakan kakinya.


‘’Pelan-pelan aja, nanti di luruskan di dalam, agar darah kamu mengalir dengan lancar.’’


Ezra mengulurkan tangnnya, ke depan Ayu.


Wanita itu memegang lengan Ezra yang terhalang jaket yang lelaki itu pakai.

__ADS_1


Ya, kali ini Ezra hanya memakai kaos rumahan berbalut jaket di luarnya.


‘’Kenapa ini?!’’ ucap panik Nawang yang baru saja melihat Ayu dan Ezra masuk.


‘’Gak apa-apa, Mah. Ini cuma kesemutan aja, karena Nayra tidur di pangkuan Nindi selam di perjalanan,’’ ucap Ayu.


Ezra membawa wanita itu untuk duduk di sofa ruang tamu.


‘’Anak kamu itu gimana sih, Zra. Belum juga jadi mamanya udah nyusahin aja!’’ gerutu Nawang tanpa sadar di hadapan Ayu.


‘’Ini juga karena mamma yang ngajarin Naura ‘kan?’’ debat Ezra.


‘’Ngajarin apa? Mama gak ngajarin apa-apa!’’ elak wanita paruh baya itu.


‘’Ini gak ap-apa kok, Mah. Tuh sekarang aja udah baikan.’’


Ayu tampak berdiri dan menggerakan kakinya yang sudah lebih baik.


Pagi itu, Ayu  dan Ezra kembali sarapan bersama. Karena tadi mereka tidak sempat sarapan di jalan, akibat Naura tertidur.


Beberapa jam kemudian, Ayu sudah terihat sibuk mendandani Naura untuk acara pesta ulang tahunnya.


Gaun yang sudah di buat jauh-jauh hari khusus untuk acara ini, terlihat semakin menambah cantik gadis kecil itu.


Jam satu siang para undangan sudah mulai berdatangan. Lokasi pesta yang berada di taman bagian belakang rumah, sudah terlihat ramai.


Ansel, Elena dan Bian pun suda hadir, beberapa menit yang lalu. Begitu pun dengan Melati. Gadis itu datang beberapa menit setelah Ansel.


Naura keluar dari kamar bersama Ayu  di sampingnya. Mereka memakai baju dengan warna senada.




#gambar hanya pemanis


Bahkan Ezra pun memakai warna senada, padahal mereka sebelumnya tidak janjian.


Namun, sekarang yang terlihat oleh para tamu. Tiga orang itu bagaikan sebuah keluarga kecil yang lengkap dan bahagia.


Ezra yang sejak tadi menunggu kedatangan dua orang perempuan itu, terlihat menyunggingkan senyumnya ketika melihat Ayu dan Naura.


Matanya terus menatap ke bagian jari Ayu yang masih tak juga dapat ia jangkau, karena terhalang oleh kerumunan teman-teman anaknya, mereka langsung menyerbu yang berulang tahun hari ini.


‘’Sabar, Kak. Aku yakin dia pasti menerima lamaran kakak,’’ ucap Keenan yang berdiri di samping Ezra.


‘’Maksud kamu apa, siapa yang melamar siapa?’’ tanya Ansel yang kebetulan sedang berada di dekat mereka.


‘’Lah, Bang Ansel belum tau kalau Kak Ezra ngelamar Kak Nindi?'' ucap Keenan.


Ansel tampak menggeleng dengan tatapan tajam menusuk pada sahabatnya itu.


‘’Beneran loe ngelamar adik gue, Zra? Kapan?’’ tanya Ansel.


‘’Udah sejak seminggu yang lalu kali, Bang!’’ jawab Keenan.


‘’Apa?! Bener yang di bilang dia, Zra?’’ tanya Ansel lagi.


‘’Iya. Memang kenapa gue harus bilang dulu sama loe?’’ Ezra malah bertanya kembali pada sahabatnya itu.


‘’Dia itu udah dewasa, udah bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Buktinya dia juga gak bilang sama loe sampai sekarang. Jadi buat apa gue harus bilang dulu sama loe?’’ Ezra berucap datar, dengan pandangan lurus ke depan.


Di sana terlihat Ayu sedang di di terik oleh ibunya keluar kerumunan anak-anak.


‘’Gue ke sana dulu!’’ pamit Ezra kepada dua orang di depannya.


Lelaki itu mengikuti langkah dua  orang wanita berbeda usia itu yang mengarah menuju area kolam berenang.


Di posisi Ayu, Nawang tiba-tiba saja datang dan menariknya menuju keluar tempat pesta.


‘’Kita mau ke mana, Mah?’’ tanya Ayu di sela langkah mereka.


‘’Ada sesuatu yang mau Mama bicarakan,’’ jawab Nawang.


‘’Kamu tunggu di sini dulu saja ya. Mama ada sesuatu yang harus di ambil,’’ ucap wanita paruh baya itu.


Masih dalam kebingungannya, Ayu hanya terdiam menunggu kedatangan ibu dari Ezra.


Begitu Ezra sampai, ternyata di sana hanya ada Ayu saja yang berdiri membelakanginya.


Entah ke mana perginya sang ibu. Namun ia yakin ini memang rencana wanita paruh baya itu, agar dia bisa berbicara dengan Ayu tanpa di ganggu banyak orang.


‘’Nindi?’’ panggil Ezra.


Ayu berbalik menatap kaget seorang lelaki yang berada dekat dengan dirinya.


‘’Kamu?!’’ gumam Ayu, ia memalingkan pandangnnya berusaha menghindari tatapan Ezra.


Ezra tampak memperhatikan jari wanita itu yang berusaha di tutupi oleh sang empunya.


‘’Kamu tidak memakainya?’’ tanya lelaki itu, dengan wajah kecewa.


‘’A-aku ....


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


...🙏🥰🥰❤❤...


 


 

__ADS_1


__ADS_2