
...Happy Reading...
......................
Keenan mengepalkan tangannya, dia melangkah pergi dengan rasa yang tidak menentu.
Hatinya terasa sakit saat mengingat kembali kejadian yang menimpa istrinya. Akan tetapi, dia juga harus mempertimbankan kehidupan anak-anak tidak bersalah itu.
Bila saja tidak ada mereka di kehidupan Alana dan Aryo, mungkin dia tidak akan segan untuk membuat mereka merasakan penderitaan yang lebih.
Dering ponsel dari sakunya, menyadarkan Keenan dari pemikirannya, dia pun menghentikan langkahnya sambil melihat nama yang terera di layar ponselnya.
Senyumnya terbit begitu melihat id bernama 'istriku' terlihat di sana.
"Ya, sayang. Sebentar lagi aku sampai," ujar Keenan, seakan sudah tau apa yang akan ditanyakan oleh istrinya itu.
"Hem, hati-hati di jalan ya," ujar Riska, sebelum menutup kembali teleponnya.
"Pasti, sayang." jawab Keenan.
Dia pun langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia kembali melanjutkan langkahnya, sambil menempelkan ponsel di telinga. Sepertinya Keenan hendak menelepon seseorang lagi.
Ya, jarak dari restoran tempatnya bertemu dengan Aryo, memang tidak jauh dari apartemen miliknya. Makanya Keenan hanya berjalan kaki.
"Pastikan dia dan laki-laki itu tidak bisa lolos dari semua jerat hukum. Lakukan semampu kita dengan berbagai bukti yang kita punya," ujarnya lebih seperti perintah.
"Baik, Pak. Kami akan melakukan semampu kami," jawab seseorang di seberang sana.
"Hem, bagus. Kabari terus perkembangan kasus ini," ujar Keenan sebelum menutup teleponnya.
Beberapa saat kemudian Keenan sudah sampai di depan unit apartemen miliknya, dia langsung menempelkan Key kard untuk membuka pintu.
"Assalamualaikum, sayang," ujarnya, sambil melangkah ke dalam apartemen miliknya itu.
Riska tampak berjalan menghampirinya, luka yang sudah membaik membuatnya sudah diperbolehkan berjalan oleh Keenan.
Ya, selama ini bukan dokter yang banyak melarang Riska. Akan tetapi, suaminya itu yang memegang kendali atas semua yang menyangkut tentang dirinya.
"Kok lama banget sih?" tanya Riska sambil mengambil kantong belanja di tangan suaminya.
"Rame banget di restorannya, jadi aku harus mengantre," jawab Keenan, dengan sedikit kebohongan di sana.
__ADS_1
Riska hanya mengangguk, sambil terus berjalan menuju ke arah dapur untuk menyiapkan semuanya.
Sampai di meja makan, Keenan menuntun istrinya untuk duduk di kursi.
"Bang, aku mau nyiapin piring dulu," protes Riska, merasa keberatan dengan suaminya.
"Kamu duduk aja, ini biar aku yang siapin," ujar Keenan, sambil mengambil kantong belanja dan menjauhkannya dari sang istri.
"Abang, kan dah beli, jadi sekarang harusnya, Abang, yang duduk dan istirahat. Tuh liat, Abang, keringatan sama bau matahari lagi." Riska mengusap kening Keenan yang tampak masih basah oleh kerinat, kemudian mengendus tubuh suaminya.
"Enggak kok, aku gak cape sama sekali. Udah kamu duduk aja, jangan banyak membantah suami," ujar Keenan.
Riska pun akhirnya pasrah, dia hanya duduk diam, sambil melihat suaminya sibuk menyiapkan makanan untukmereka berdua.
Tidak perlu menunggu lama, semua hidangan yang tadi dibeli oleh Keenan sudah siap di atas meja, dengan semua peralatan makan lengkap.
"Ayo, kita makan," ujar Keenan.
Dia tampak menyiapkan makanan di piring istrinya dan bersiap untuk menyuapi Riska.
"Bang, aku sudah bisa makan sendiri. Abang, makan sendiri aja, ya," ujar Riska sambil mengambil piring miliknya dari depan suaminya.
"Buka mulutnya, aaa," ujar Keenan lagi, sambil mengulurkan sendok ke depan mulut Riska.
Riska pun menerima suapan pertama dari tangan suaminya. Keenan pun tersenyum melihat istrinya kini lebih menurut padanya di banding sebelumnya.
Suapan kedua sudah menunggu di depan mulut Riska. Akan tetapi, Riska menolaknya, dia mengambil sendok itu dari tangan sang suami, lalu mengalihkannya ke depan mulut Keenan.
"Sekarang giliran, Abang, yang makan," ujar Riska kemudian.
Keenan tersenyum, dia pun menerima suapan dari tangan istrinya dengan hati berbunga. Entah sejak kapan istrinya itu jadi terasa lebih romantis dibandingkan dengan sebelumnya.
Akhirnya keduanya pun makan siang bersama di dalam piring dan sendok yang sama.
Ya, suasana roamntis yang tiba-tiba saja tercipta di antara sepasang suami istri itu, membuat keduanya tampak bahagia.
Tanpa mereka sadari, musibah yang baru saja mereka lalui bersama, semakin mendekatkan antara keduanya, juga membuat mereka sadar akan rasa yang ada di dalam hati keduanya.
Apalagi ditambah dengan kehadiran hadiah terindah yang sedang tumbuh di dalam rahim Riska, tentu itu semua membuat keduanya semakin merasakan keterikatan yang semakin kuat.
.
__ADS_1
.
Hari terus berlalu, kini sudah satu minggu setelah Riska ke luar dari rumah sakit. Semua lukanya pun sudah sembuh dan juga kondisi psikisnya, kini sudah sangat membaik dari sebelumnya.
Hari ini mereka berencana untuk mengunjungi Ibu dan Rio, sekaligus menginap di sana.
"Abang, boleh gak kalau aku ke rumah ibu sekarang aja," tanya Riska, sambil membantu suaminya memakai pakaiananya.
Ya, hari ini Keenan akan kembali mulai bekerja, mengingat sudah seminggu lebih, dia tidak masuk kantor.
Untung saja Garry masih bisa menangani smeuanya, termasuk mencari alasan pada para pemegang saham dan petinggi perusahaan lainnya.
"Tapi, apa kamu sudah bisa bertemu dengan laki-laki lain tanpa aku, hem?" Keenan tampak ragu, melepaskan Riska sendiri.
"Di sana kan ada Rio, dia sedang libur sekolah, jadi dia bisa membantuku. Tapi, sepertinya aku sudah bisa kok," ujar Riska.
Sebenarnya itu hanya alasan, dia hanya takut ditinggalkan sendiri di apartemen. Akan tetapi, Riska juga tidak mau menghalangi suaminya untuk pergi ke kantor.
"Aku juga kangen sama ibu, udah lama banget kita gak ketemu," sambun Riska lagi, dengan wajah yang dibuat memelas.
Keenan menatap cemas istrinya itu, dia seakan ragu untuk meninggalkan Riska sendiri, mengingat di rumah mertuanya, tidak ada yang tau dengan kondisi Riska saat ini.
Namun, dia juga tidak tega melihat istrinya seperti itu.
"Baiklah. Tapi, kamu harus janji, kalau di sana mengalami kesullitan dan angguan kecemasan itu kembali, kamu harus memberi tau kondisimu saat ini, minimal sama Rio. Agar dia bisa menjaga kamu," pinta Keenan.
Riska tampak terdiam, saat mendengar permintaan suaminya, dia tampak sulit untuk mengabulkan itu semua.
Namun, akhirnya Riska menganggukkan kepala. Di dalam hari, dia berdoa semoga saja gangguan kecemasan itu tidak kembali lagi, selama dirinya berada di sana.
Keenan tersenyum sambil memeluk istrinya, dia sebenarnya masih ingin berada di samping istrinya. Akan tetapi, kewajibannya di kantor juga tidak bisa dia abaikan begitu saja.
"Ya udah, aku siap-siap dulu ya, Bang," ujar riang Riska yang langsung mendapat anggukkan dari suaminya.
...🌿...
...Selamat merayakan hari raya Idul Adha bagi yang merayakan🙏😊...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1