
...Happy Reading...
...❤...
Ezra memandang nanar ponsel di tangannya, sambungan teleponnya dengan sang pujaan hati kini sudah terputus begitu saja.
“Wa’alaikumsalam ....” gumamnya.
Ayu bahkan tidak memberikan kesempatan untuknya menjawab salam, wanita itu langsung menutup panggilan video mereka begitu saja.
“Apa dia tidak salah, aku kalah dengan tanaman?!” ucapnya dengan kening berkerut dalam.
“Apa tanaman lebih menyenangkan dari pada mengobrol denganku?”
Menggeleng kepala, pusing dengan pemikirannya sendiri. Lelaki itu terus melihat ponselnya sambil berjalan keluar dari kamar Naura.
“Eh, kamu mau ke mana, Zra?” Nawang yang mau melihat kembali sang cucu berpapasan dengan anaknya.
Namun, sepertinya Ezra tak mendengar suara ibunya. Lelaki itu terus berjalan menuju kamarnya yang terhalang ruangan kerjanya.
“Zra!” Nawang memanggil anaknya dengan suara yang lebih keras.
“Iya, Mah. Ada apa?” tanya Ezra, seakan dari tadi ia memang benar-benar tak mendengar pertanyaan sang ibu.
“Naura mana? Kok kamu malah ninggalin dia!” Nawang mengerutkan keningnya.
“Lagi mandi sama Bibi.”
“Eh, udahan ngambeknya?” tanya Nawang heran, biasanya kalau cucunya itu sudah ngambek akan sangat susah untuk di bujuk.
“Udah, tadi aku video call Nindi biar Naura diem,” jawab Ezra.
“Eh iya, Mama bilang apa lagi sama anak itu ... kenapa dia sekarang panggil Nindi Mama?” tanya Ezra. Lelaki itu baru ingat sebutan sang anak kepada calon istrinya ketika video call tadi.
“Oh, itu. Cucu Mama memang pintar, dia pasti sudah tau kalau panggilannya kepada Nindi harus di ganti, kan sebentar lagi Nindi akan jadi ibu sambungnya,” jawab Acuh Nawang.
Ezra menatap penuh selidik pada ibunya, dia tidak percaya begitu saja dengan yang di katakan oleh Nawang.
Apa lagi, tadi malam ibunya yang menemani Naura tidur. Mungkin saja anaknya terbangun dan ibunya berbicara sesuatu.
“Ya sudah gak usah di pikirkan, lagian sebentar lagi Nindi juga jadi Mamanya Naura, terus apa masalahnya kalau sedari sekarang Naura memanggilnya Mama?”
“Ya, gak papa juga sih, Mah. Tapi aku kaget aja, tiba-tiba anak itu memanggil Nindi dengan sebutan itu.”
“Biarkan saja lah, memang itu seharusnya kan,” ucap Nawang, melangkah masuk ke dalam kamar cucunya setelah mendengar suara anak itu, pertanda sudah selesai mandi.
Ezra mengedikan kedua bahunya, melanjutkan langkahnya ke dalam kamar, ia harus segera bersiap karena akan ada salah satu temannya yang mau datang ke kantor, untuk berkonsultasi kepadanya.
__ADS_1
Dia akan memodifikasi mobilnya di bengkel milik Ezra.
Maka dari itu, sebelum bertemu dengan Larry ia harus ke kantor terlebih dahulu, sedangkan Ayu akan di jemput oleh Keenan bersama Naura.
.......................................
Jam sebelas tiga puluh Ayu Keenan dan Naura sudah berada di resto milik Andrea.
Ya, tanpa di sangka, resto yang di pilih orang tua Ezra untuk bertemu dengan Larry ternyata adalah tempat itu.
Atas saran Ezra dan Keenan yang memperhitungkan kenyamanan Naura dan sekaligus Ayu bisa bertemu dengan kakak angkatnya. Maka di sinilah mereka berada sekarang.
“Kok kita ke sini?” Ayu yang belum tahu, mengerinyitkan keningnya.
“Iya, Ketemuannya emang di sini, Kak,” jawab Keenan sambil memarkirkan mobilnya.
Ayu menganggukkan kepala, tangannya dengan cekatan membetulkan rambut dan baju Naura yang sedikit kusut.
Ezra yang sudah datang terlebih dulu, langsung menghampiri mobil sang adik.
Membukakan pintu dan meraih anak gadisnya dari pangkuan Ayu.
“Masih gak mau duduk sendiri, hem?” tanya Ezra pada Naura.
“Engga, Rara mau sama Mama aja!” jawab Naura menggeleng kepala.
“Mama sakit?” gadis kecil itu beralih pada Ayu, yang berjalan di samping Ezra.
“Enggak kok, cuman suka kebas aja sedikit.” Ayu hampir menyatukan ibu jari dan telunjuknya seperti mau mencubit kecil, matanya mengedip sebelah kepada anak sambungnya itu.
Ayu terkekeh kecil, di sambut tawa Naura. Kedua perempuan itu tampang bahagia, walau dengan candaan kecil.
Ezra menggeleng geli, melihat interaksi keduanya. Hatinya bahagia melihat dua perempuan yang di cintanya tampak bahagia.
Sedangkan Keenan yang baru saja keluar dari mobil, menyunggingkan bibirnya melihat kakak dan keponakannya yang tampak sangat bahagia.
‘Tidak akan aku biarkan seorang pun merusak kebahagiaan kalian, walau gadis sombong itu sekali pun,’ gumamnya dalam hati.
Sampai di dalam, Ayu langsung di sambut oleh para pegawai lama resto tersebut.
“Ayu, lama sekali kamu gak ke sini! Ah, pantes aja tadi aku kok kayak pengen banget ke resto ... ternyata mau ketemu kamu!” Andrea yang baru saja keluar dari ruang dapur langsung menghampiri Ayu, sambil terus berbicara.
“Kak Rea, tumben siang-siang ada di resto! Memang tidak ada praktik?” tanya Ayu sambil bercipika-cipiki.
“Lagi istirahat, aku ke sini sebentar. Klinik, Galang yang pegang untuk sementara,” jawab Andrea.
“Sayang, aku ke belakang dulu ya!” pamit Ezra pada Ayu.
__ADS_1
Andrea yang mendengar panggilan Ezra pada Ayu, membolakan matanya, menatap Ayu penuh tanya.
“Iya, Naura mau sama Mama atau sama Papa aja?” tanya Ayu, beralih pada gadis kecilnya.
“Rara mau sama Papah aja, mau makan kue sama Nenek!”
“ Ya udah, aku di sini dulu ya, nanti aku nyusul,” ucap Ayu pada Ezra.
Lelaki itu pun pergi ke area belakang resto setelah pamit kepada Andrea. Menyusul kedua orang tuanya yang sudah berada di sana terlebih dahulu.
“Apa dia bilang tadi, sayang?!” tanya Andrea, dengan suara sedikit meninggi saking terkejutnya.
“Jangan bilang, kamu udah nikah lagi sama dia, tanpa memberi tau aku? Aku gak terima kalau sampe kayak gitu!” ancam Andrea menatap tajam adik angkatnya itu.
“Ssst, jangan keras-keras, Kak.” Ayu mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan resto yang sudah cukup ramai karena sudah hampir mau masuk waktu makan siang.
Andrea ikut mengikuti arah pandangannya, dia baru sadar kalau mereka berdua kini sedang menjadi bahan perhatian.
“Belum, Kak. Aku belum nikah. Kami baru aja tunangan, itu juga beberapa hari yang lalu. Tadinya aku mau main ke padepokan setelah pertemuan keluarga ini, eh ternyata kita ketemu duluan,” Ayu tersenyum kaku.
“Kamu itu selalu saja begitu, bisanya bikin kita semua jantungan karena kabar mengejutkan,” gerutu Andrea, menatap kesal wanita di depannya.
“Maaf, ini semua mendadak, awalnya aku cuman menerima pernyataan cinta dia saja. Tapi ternyata keluarganya langsung menginginkan kita bertunangan hari itu juga,” jelas Ayu.
“Itu bukannya laki-laki yang dulu kamu bawa ke sini ya?!” tanya Andrea lagi, mengingat wajah Ezra.
“Iya, Kakak ikut ke sana aja yuk, nanti aku kenalin sama keluarganya sekalian kenalan sama Papa aku!” Ayu memegang tangan kakak angkatnya, wajahnya penuh semangat.
“Nanti saja ya, aku ada urusan sebentar. Kamu ke sana aja, kasihan mereka pada nungguin kamu,” ucap Andrea.
“Ya udah, kalau gitu aku ke sana dulu ya, Kak.” Ayu kembali memeluk kilas wanita di depannya.
Berjalan menuju resto bagian belakang, tanpa Ayu sadari ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya.
Seseorang yang memakai masker, walau di depannya ada segelas jus yang siap di minum.
Genggaman tangannya pada gelas terlihat semakin mengerat, matanya terus menatap tajam Ayu yang berjalan ke arahnya.
Pyar ....
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Siapa ya, suara apa ya?🤔🤔
...Hari senin, ada yang mau nambahin vote gak ya🤭...
__ADS_1
Sampai jumpa di bab berikutnya👋👋❤❤