
...Happy Reading...
...❤...
Suara adzan subuh berkumandang dari mushola terdekat, membuat tidur lelap sepasang pengantin baru itu terusik. Keenan yang merasa belum puas, kembali mengeratkan pelukannya pada guling yang terasa nyaman untuk ia peluk, terasa berbeda dan sangat hangat.
Sedangkan Riska yang sudah terbiasa terbangun di waktu subuh, mulai menggeliatkan tubuhnya yang terasa berbeda, kali ini dia seperti sedang terikat oleh sesuatu yang membuatnya tak bisa bergerak sama sekali, anehnya itu tak terasa sakit walau begitu erat. Ditambah dengan suara detak jantung di telinganya, itu semakin membuat Riska bingung, ini seperti sebuah mimpi.
'Apa aku masih terjebak dalam dunia mimpi, kenapa semuanya terasa nyata?' guma hati Riska, matanya terasa masih sangat berat untuk dibuka, apa lagi dengan kenyamanan yang baru kali ini dia rasakan. Akan tetapi, rasa penasarannya dengan apa yang kini sedang terjadi, membuat gadis itu memaksa matanya untuk tetap terbuka.
Mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya dia bisa membuka dengan sepenuhnya. Akan tetapi, yang dilihatnya kini membuat Riska semakin mengernyit, dia belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi, perlahan dia taruh tangannya di depan wajahnya, menempel pada sesuatu yang aneh itu.
'Keras, apa ini tembok yang dilapisi dengan kain? Tapi kenapa temboknya berdetak?' bingung Riska, sambil meraba sesuatu di depan wajahnya.
Keenan yang merasa terusik oleh gerakan tangan Riska di dadanya, mengeratkan kembali pelukannya dengan gumaman tak jelas dari mulutnya. Terang saja, itu semua membuat mata Riska membuka semakin melebar dengan wajah yang langsung mendongak ke atas, di sana dia bisa melihat bagian dagu Keenan juga sebagian wajah lelaki itu, beralih melihat ke bagian tubuhnya yang ternyata, kini sedang dipeluk begitu erat bagaikan sebuah guling.
Riska sempat terdiam beberapa saat, hingga kesadarannya kembali dengan sempurna.
"KEENAAAN!" terikanya sambil mendorong dada di depannya dengan kekuatan penuh.
Bugh!
"Awwsssh!" Keenan yang masih berkutat di alam mimpi, kini seakan dipaksa untuk keluar dan kembali pada kesadarannya. Karena rasa sakit yang kini terasa di tubuhnya. Ditambah dengan telinga yang berdengung akibat teriakan Riska.
Riska langsung bangun dan berdiri di hadapan Keenan dengan napas memburu, dadanya naik turun menghirup oksigen sebanyak-banyaknya akibat terkejut. Jantungnya terasa berdetak dengan begitu cepat, hingga ia merasakan sesak di dada.
Keenan mengerjapkan matanya, berusaha mengingat semua yang terjadi dan melihat seseorang yang kini tengah berdiri di depannya, otaknya belum berfungsi dengan benar, setelah beberapa jam yang lalu beristirahat. Hingga dia butuh waktu untuk mencerna.
"Astaga, Riska ... kenapa sikap galakmu itu langsung ditunjukkan, bahkan di saat aku belum bersiap menerimanya?" ujar Keenan pelan sambil kembali duduk di pinggir ranjang Riska. Suara parau dengan hembusan napas lemas mengiringi perkataanya. Bernajak naik ke atas ranjang, dan kembali menutup mata, lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tanpa peduli tatapan tajam istrinya itu.
"Sakit tau? Kamu emang mau tanggung jawab kalau aku luka-luka trus gegar otak gara-gara terbentur tembok?" gerutu Keenan lirih, dengan mata tertutup rapat.
Riska semakin menajamkan pandangannya pada Keenan. "Lebay banget sih, mana ada orang jatuh dari tempat tidur sampe gegar otak," jawab Riska bersidekap dada.
"Itu semua kan salah kamu, ngapain pake ngelanggar janji? Siapa suruh kamu itu kurang ajar sama aku, bukannya tadi malam kamu sudah janji kita berdua hanya tidur? Kenapa sekarang kamu pake peluk-peluk segala?!" tanya Riska dengan suara menggeram kesal.
"Apa sih, Ris. Aku masih ngantuk ini, pagi-pagi cerewetnya udah balik lagi aja?" jawab Keenan malas.
"Lagian itu semua karena kamu yang nyosor sama aku duluan, ya kenapa juga aku gak balas? 'Kan sayang ... kalau aku menyia-nyiakan kesempatan," jawab Keenan masih bergumam, matanya menyipit menatap Riska sebentar lalu kembali terpejam.
__ADS_1
Riska mengepalkan tangannya, seperti bersiap untuk memukul Keenan. Akan tetapi semua itu ia urnungkan, hingga kini pukulannya hanya mengenai angin saja.
Bukan tanpa alasan Keenan memilih acuh pada omelan Riska pagi ini, semua itu, karena memang tadi malam dirinya dibuat tidak bisa tertidur oleh cara tidur Riska yang ternyata lumayan lasak.
Flash back
Keenan baru saja menutup mata setelah puas memandang wajah cantik di depannya, dia berbaring terlentang, sama dengan Riska, dengan satu tangan sebagai bantalan dan satu lagi ia taruh di atas kening.
Bukh.
"Hk," napas Keenan terputus seketika, saat sesuatu tiba-tiba menindih tubuhnya.
Mata Keenan langsung terbuka lebar, saat merasakan perut dan pahanya tertimpa sesuatu, melihat ke arah bawah, alangkah terkejutnya dia ketika melihat Riska sudah memeluknya dengan begitu erat, bahkan kepala gadis itu menyandar di dadanya.
Tubuhnya menegang, dengan perasaan bingung. 'Tadi dia yang memeringatkanku untuk tidak melakukan apa pun, sekarang dia sendiri yang melakukannya' gumam hati Keenan.
Perlahan dia mencoba untuk memindahkan tangan Riska yang melingkar di pinggangnya, bahkan dia sampai menahan napas, agar Riska tidak terbangun. Akan tetapi, bukannya terlepas, pelukan Riska malah semakin mengerat, gadis itu bahkan menggesekkan wajahnya pada dadanya, juga sesuatu yang terasa lembut menekan perutnya. Semua itu membuat pikiran Keenan langsung berkelana pada sesuatu yang harusnya tak boleh dia lakukan.
"Astaga, Riska ... aku masih normal. Jangan kamu buat aku tersiksa seperti ini," desah Keenan, menahan sesuatu yang mulai bangun di bawah sana, darahnya berdesir mengalirkan rasa panas ke seluruh tubuh.
Berulang kali Keenan mencoba untuk menjauhkan Riska dari tubhnya. Akan Tetapi, gadis itu selalu kembali melakukan hal yang sama di saat dirinya sedang menenangkan diri dari gejolak kelelakiannya.
Dia seorang lelaki normal, yang akan tergoda dengan sentuhan seorang perempuan dewasa, apa lagi saat ini Keenan sadar kalau Riska telah halal untuknya melakukan semua itu. Akan tetapi, rasa kemanusiaan yang ada di dalam dirinya masih sanggup meredam semua hasrat itu, sebelum Riska siap untuk melakukannya.
Hak untuk dicintai dan disayanginya, menuliskan nama sang istri menjadi satu-satunya yang bertahata di dalam hati, seperti Ezra menempatkan Ayu di tempat yang begitu istimewa, hingga tak ada yang bisa menggantikannya.
Dia sadar kalau semenjak dia berikrar di depan penghulu siang tadi, dia sudah tak memiliki hak untuk memikirkan wanita lain selain nama gadis yang sekarang tidur dengannya.
Menghembuskan napas kasar, Keenan akhirnya menyerah, dia memutuskan untuk tidur dengan posisi yang begitu intim, walau esok pagi ia yakin akan disalahkan oleh gadis galak dan cerewet ini.
Memikirkan itu, Keenan menyeringai dengan pikiran jahilnya. Kalau begini saja dia akan disalahkan oleh Riska, lalu kenapa dia tidak memanfaatkan momen ini untuk meraih sedikit keuntungan dari gadis ini.
Keenan memutuskan untuk membalas pelukan Riska, setelah dia berhasil mengendalikan tubuhnya sendiri. Hingga menjelang dini hari dia bisa tertidur lelap, dengan Riska di dalam pelukannya.
Flash back off
"Kamu ini, buat salah malah ngatain aku balik, bukannya minta maaf. Dasar nyebelin!" ujar Riska, mencebik kesal, saat melihat Keenan sudah tertidur kembali.
Memilih mengambil handuk dan baju ganti, lalu berjalan keluar dengan hentakkan kaki kasar. Keenan tersenyum samar, mendengar Riska yang terus menggerutu sambil menghentakan kaki ke sana kemari. Bisa dia bayangkan, bagaimana wajah kesal Riska saat ini.
Sampai di luar, Rio dan Ibu menatapnya dengan alis bertaut, membuatnya sadar kalau tadi dia sempat berteriak. Riska tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
__ADS_1
"Kamu ini, Ris ... masa bangun tidur sudah teriakin suami kamu gitu! Tadi ada suara jatuh, apa itu?" tanya Ibu, menggeleng pelan melihat anak sulungnya itu hanya menunjukan barisan gigi putihnya tanpa menjawab.
"Jangan bilang, Kakak menendang Kak Keenan dari tempat tidur sampai jatuh, ya?" tebak Rio, tepat sasaran.
Riska menatap adiknya itu dengan mata membulat, walau dalam hati ia terkejut karena tebakkan adiknya benar adanya.
"Enggak, siap yang bilang?" elak Riska.
"Kamu mau ke masjid 'kan? Sudah sana cepat berangkat, nanti ketinggalan solat jemaah." Riska mendorong adiknya ke arah pintu keluar.
"Kak Keenan gak solat di mesjid, Kak?" tanya Rio. Dia memang hendak mengajak Keenan untuk ke masjid.
"Enggak, dia solat di rumah, nanti." jawab Riska sekenanya.
"Yah ... padahal aku mau pamer sama semua orang, kalau aku udah punya kakak ipar, biar para lelaki kampung gak nanyain kakak terus ke aku," lemas Rio.
Selama ini memang banyak yang mencoba mendekati Riska lewat Rio, hanya saja gadis itu belum terpikirkan untuk menikah, dia hanya ingin fokus untuk bekerja dan membantu ibunya menyekolahkan Rio.
"Nanti lagi aja, sana cepetan pergi." Riska mendorong Rio sampai keluar rumah, lalu menutup kembali pintu depan.
Rio mendesah kasar karena niat awalnya tidak bisa terlaksana karena sang kakak ipar belum bangun. Berjalan menjauh dari rumah karena suara komat sudah terdengar.
Ibu yang melihat kelakuan dua anaknya itu hanya menggelengkan kepala dengan senyum tipis di bibirnya. Senang rasanya melihat dua anaknya terlihat akur dan saling menyayangi.
"Bu, aku mandi dulu, ya?" ujar Riska.
"Iya, jangan lupa bangunkan suami kamu untuk solat subuh ya, Ris," ujar Ibu, sebelum Riska masuk ke kamar mandi.
"Iya, Bu."
.
Di tempat lain, Ezra yang sedang membaca berita sambil menikmati kopi pagi di meja makan, terlihat mengepalkan tangannya, matanya menajam dengan rahang yang mengeras.
"Ada apa, Mas?" Ayu yang baru saja datang sambil membawa sedikit kudapan bertanya.
"Coba lihat berita ini," ujar Ezra memberikan ponselnya pada Ayu.
"Astagfirullahaladzim!"
...🌿...
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...