Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.246 Pos Ronda


__ADS_3

...Happy Reading...


...❤️...


"Abang!"


Semua pemuda yang berada di pos ronda itu langsung mengalihkan pandangannya pada seorang perempuan yang kini tengah berjalan menuju ke tempat mereka.


"Sayang, kok kamu nyusul sendiri? Tadi katanya gak mau ikut," tanya Keenan.


"Sayang?" semua pemuda yang ada di pos ronda, tanpa sadar bergumam secara bersamaan, menatap terkejut Keenan dan Riska secara bergantian.


"Ffftth," Rio menahan tawanya yang hampir meledak, melihat wajah terkejut para pemuda kampung itu.


Walaupun dia juga sedikit prihatin saat melihat tatapan sendu Fatir.


"Ponsel, Abang, bunyi terus. Takutnya penting," jawab Riska memberikan ponsel Keenan yang tertinggal di kamar.


Keenan mengambil ponsel di tangan istrinya, dia memeriksa sebentar, mencari tahu siapa penelepon itu.


"Kenapa gak kamu angkat saja, hem?" tanya Keenan, sambil mengusap bulir keringat di kening istrinya.


"Gak ah, aku gak berani," ujar Riska, mengangkat bahunya sekilas.


Keenan tersenyum, menatap wajah Riska yang tampak lelah. Mungkin karena dia berjalan cepat untuk menyusul adik dan suaminya.


Ponsel di tangan Keenan berdering kembali, dia pun meminta izin untuk sedikit menjauh dari tempat itu.


"Sayang, aku angkat telepon sebentar. Kamu tunggu di sini dulu sama Rio," ujar Keenan, yang langsung diangguki oleh Riska.


"Duduk, Ris," ujar Fatir, memilih berdiri dan mengosongkan tempatnya untuk Riska.


"Gak apa-apa, aku di sini saja," tolak Riska dengan senyum ramahnya.


"Itu siapa, Ris? Kok manggil kamu 'sayang' sih?" tanya salah satu pemuda, yang belum tau kalau Riska sudah menikah.


"Oh, itu suami aku," jawab Riska acuh, sesekali dia melihat Keenan yang tampak sedang berbicara serius dengan si penelepon.


"Jadi beneran kamu udah nikah, Ris? Aku kira selama ini, itu hanya gosip ibu-ibu kampung aja," ujar pemuda yang lainnya.


Riska tersenyum samar, lalu mnganggguk, membenarkan perkataan pemuda itu.


Fatir tampak tersenyum miris melihat jawaban Riska.


"Selamat ya, Ris," ujar Fatir, mengulurkan tangannya.


Riska tersenyum lalu menyambut uluran tangan Fatir. "Terima kaish."


Di saat bersamaan, ada rombongan ibu-ibu yang melintas. Salah satu ibu-ibu itu, ada yang menghampiri Riska dengan wajah yang tidak bersahabat.

__ADS_1


Dia langsung melepaskan jabatan tangan Riska dan Fatir dengan kasar, membuat hhampir semua ibu-ibu itu berhenti di sana, demi melihat kejadian itu.


"Mau apa lagi kamu ada di sini? Mau deketin anak aku lagi?" sentaknya pada Riska secara tiba-tiba.


"Ibu, sudah–" Fatir berusaha melerai ibunya.


"Diam kamu, jangan membela perempun miskin ini lagi!" ujarnya pada Fatih.


Riska menundukkan kepalanya, dia tidak pernah bisa untuk melawan seseorang yang lebih tua darinya.


"Heh, perempuan miskin, jangan harap kamu bisa mendekati anakku. Ngaca dulu sana, kamu itu gak pantas untuk anakku yang lulusan S1, sedangkan kamu hanyalah lulusan SMA," hina ibu itu, dengan telunjuk menunjuk tepat wajah Riska.


Wajah Rio sudah merah padam, mendengar penghinaan yang diucapkan oleh ibu dari Fatir pada kakaknya itu.


Andai saja Riska tidak menahan tangannya, mungkin saat ini dia sudah membalas semua yang dikatakan oleh ibu-ibu itu.


"Heh! Dasar perempuan tidak tau diri. Sudah ditolak masih saja merayu anakku," ujarnya, menatap Riska dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Ibu, sudah. Aku hanya memberikan selamat pada Riska, atas pernikahannya. Tidak ada yang lain," ujar Fatir, mencegah ibunya semakin menghina Riska.


Keenan yang melihat keributan itu langsung memutuskan teleponnya dan menghampiri Riska dengan langkah lebarnya.


"Kita bicarakan itu nanti," ujar Keenan, sebelum menutup teleponnya.


"Sayang." Keenan langsung merangkul Riska.


"Ada apa ini?" tanya Keenan, menatap satu per satu wajah yang ada di pos ronda itu, termasuk beberapa ibu-ibu yang terlihat menatapnya penuh binar juga terkejut sekaligus.


"Maafkan saya, Pak." Fatir langsung meminta maaf pada Keenan dengan kepala menunduk dalam.


"Aku mau pulang," lirih Riska, masih di dalam dada suaminya.


Keenan menatap kilas wajah istrinya lalu beralih pada semua orang yang ada di sana, kemudian berakhir pada sang adik ipar.


"Rio, kota pulang sekarang," ujar Keenan dengan suara tertahan, tanpa berpamitan dulu pada semua orang di sana.


Dia hanya melirik sekilas pada Fatir sebelum melangkah pergi dengan Riska di dalam rangkulannya.


Walaupun samar, dia masih bisa mendengar penghinaan yang dikatakan oleh ibunya Fatir pada sang istri. Itu semua hampir saja membuat dirinya lepas kendali.


Mereka semua yang berada di tempat ronda hanya menatap kepergian tiga orang itu, tanpa bisa berkata.


"Siapa itu, Tir? Kayaknya ibu baru lihat," tanya ibu Fatir.


"Dia suaminya Riska, Bu. Dan dia juga anak dari pemilik perusahaan tempat Fatir kerja," jawab Fatir. yang membuat mata ibunya melebar.


"Apa?! Suaminya Riska anak pemilik perusahaan tempat kamu kerja?" tanya ibu Fatir memastikan pendengarannya.


"Iya, Bu. Dia juga sebagai wakil direktur utama di sana," pasrahnya.

__ADS_1


"Ya ampun, bagaimana ini? Kalau dia mecat kamu gara-gara ibu gimana? Pokoknya kamu harus segera minta maaf sama dia, jangan sampai kamu kehilangan pekerjaan kamu."


Ibu Fatir panik mendengar jawaban anaknya, dia tidak menyangka kalau Riska menikah dengan orang sekaya itu.


"Berdoa saja, besok aku masih bisa bekerja di sana, Bu," ujar Fatir.


"Sudahlah, lebih baik ibu pulang saja," sambung fatir lagi.


.


Di sisi lain, Keenan, Riska dan Rio baru saja sampai di rumah. Riska langsung menegakkan tubuhnya, menghembuskan napas kasar dan menormalkan lagi raut wajahnya.


"Jangan bilang kejadian tadi sama Ibu ya, Bang," pintanya padan Keenan.


Keenan menatap Riska, dia sadar sekarang, kalau Riska ingin selalu terlihat baik-baik saja di depan keluarganya. Dia pun akhirnya mengangguk.


"Terima kasih, Bang," ujar Riska, dia pun menetap Rio yang langsung menerima anggukkan kepala dari adiknya itu.


Mereka pun masuk dengan keadaan seperti tidak mengalami sesuatu apa pun sebelumnya. Ibu Riska yang masih menonton televisi, tampak tersenyum melihat anak dan menantunya sudah pulang ke ruamah.


"Kok sudah pulang? Ibu kira kalian mampir dulu ke lapangan, sedang ada pasar malam di sana," ujar ibu.


"Nanti saja, Bu, kalau kita menginap lagi di sini dan akhir pekan. Takut kemalaman kalau kita ke sana, besok kita kesiangan bangun," jawab Riska.


Keenan langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangan, setelah dari luar, dia kemudian pamit masuk ke kamar.


Riska pun menyusul suaminya, dia melihat suaminya sedang berada di meja belajar miliknya, dengan laptop yang masih menyala.


"Aku kira, Abang, tidur," ujar Riska, sambil menghampiri suaminya.


Keenan mengalihkan perhatiannya pada sang istri sekilas, lalu kembali pada laptopnya.


"Sebentar lagi, sayang. Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan sekarang, karena besok pagi akan di diskusikan dalam rapat," jelas Keenan.


Riska melihat sekilas file yang sedang dikerjakan oleh suaminya, kemudian memilih duduk di sisi ranjang. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sedang dikerjakan oleh suaminya.


Merebahkan tubuhnya dengan tatapan tak lepas dari punggung Keenan, hingga tanpa sadar dia terlelap.


Beberapa saat kemudian, Keenan sudah menyelesaikan pekerjaannya, menutup kembali laptopnya dan berbalik.


Dia tersenyum, melihat Riska sudah tertidur pulas. Berjalan menghampiri sang istri dan ikut merebahkan diri di samping Riska.


"Selamat tidur, sayang," gumamnya, sebelum memberikan ciuman kilas di kening dan bibir istrinya, lalu ikut menutup mata dengan posisi memeluk tubuh Riska.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2