
...Happy Reading...
...❤...
"Mba, aku mau tanya sesuatu soal masa lalu, Abang," ujar Riska, dengan suara lirih dan terdengar sedikit bergetar.
"Masa lalu apa, Ris? Kalau aku tau pasti aku akan menjawab pertanyaan kamu." Ayu kini memilih sedikit memiringkan duduknya, untuk bisa melihat Riska dengan lebih jelas.
"Eumh, ini ... ini tentang Luna."
Ayu menatap wajah Riska yang kini terlihat menunduk dalam. Dia bertanya-tanya dalam hati apakah Keenan sudah menceritakan tentang Luna pada Riska atau belum.
Sedangkan Riska menunduk dalam dengan mata yang terpejam rapat, merutuki mulutnya sendiri.
'Ya ampun, Mba Ayu marah gak ya, kalau aku nanya gitu?'
Sejak tadi dia memang bimbang, penjelasan dari Keenan seakan masih mengambang di dalam hatinya.
Walaupun dia telah menerima cinta suaminya itu, akan tetapi kehadiran kepergian perempuan masa lalu Keenan, malah meragukan kepercayaan Riska, atas cinta suaminya.
Dari kemarin Riska sudah ingin berbicara dengan Ayu tentang masalah ini, akan tetapi, kesibukannya di butik juga membantu Ezra dalam mewujudkan kejutan ini, membuat waktunya terkuras habis.
"Kenapa kamu bertanya padaku, Ris? Apa Keenan tidak menjelaskannya?"
Riska menggeleng, dia mengangkat kepalanya, melihat Ayu yang kini tengah menatapnya dengan alis bertaut.
"Justru karena Abang sudah menjelaskannya, Mba," jawab Riska.
Ayu kini menatap Riska serius, walau dalam hati dia pun bertanya, apa yang alah dengan penjelasan Keenan, hingga Riska seakan belum puas.
"Baiklah, apa yang ingin kamu ketahui tentang Luna dariku? Kalau aku bisa menjawab, aku pasti memberikan jawaban, hanya saja, itu mungkin terbatas, karena yang mengalami semua itu adalah Keenan. Aku juga hanya mendengar cerita itu sekilas dari Mas Ezra," jelas Ayu.
Riska mengangguk, benar juga apa yang dikatakan oleh Ayu. Keenan pasti akan lebih tau kejadian yang sesungguhnya, karena dia yang mengalaminya.
Namun, Riska hanya perlu meyakinkan diri, bila memang suaminya itu tak memiliki perasaan lagi pada perempuan masa lalunya itu.
Jujur saja, dia bahkan akan lebih tenang bila Luna masih hidup, dan Keenan akhirnya memilihnya. Dari pada seperti ini.
__ADS_1
Dia hanya meragu akan pengakuan cinta suaminya, karena sesungguhnya, bersaing dengan orang meninggal itu, lebih sulit, daripada bersaing dengan orang yang masih hidup.
Apa lagi, Luna meninggal di saat Keenan masih sangat mencintainya, dan suaminya itu mengetahui semuanya disaat mereka sudah menikah.
Mungkin akan berbeda cerita bila Keenan tahu sebelum dia menikah dan dengan murni, suaminya itu memang sudah memilih untuk mencari pelabuhan cinta yang lain, dan akhirnya memilih dirinya.
Seperti Ezra yang memilih Ayu untuk menjadi pendamping hidupnya, setelah kepergian ibu dari Naura selama empat tahun lamanya.
Riska hanya takut, akan menjadi pelarian sesaat, dari rasa sakit yang kini sedang Keenan derita.
Untuk berusaha terlihat baik-baik saja di depan orang banyak dengan keberadaannya sebagai seorang istri. Dan berpura-pura bahagia dengan rumah tangga mereka.
"Boleh aku mendengar cerita Abang dan Luna, dari sudut pandang Bang Ezra dan Mba?" tanya Riska.
Ayu tersenyum lalu mengangguk pasti, sebelum menjawab pertanyaan Riska.
"Tentu saja boleh ... tapi, kalau cerita aku dan Keenan ada yang berbeda, lebih baik kamu tanyakan lagi pada suamimu dulu. Jangan mengambil kesimpulan secara mentah-menatah, karena ini kejadian yang udah lama terjadi, okey?"
Ayu berusaha memberikan petuah bagi Riska sebelum memulai bercerita.
"Iya, Mba. Nanti akan saya komunikasikan lagi pada Abang," jawab Riska, dengan anggukkan kepala pasti.
"Sekarang apa ada lagi yang membuat kamu mengganjal di dalam hati?" tanya Ayu, setelah mengakhiri ceritanya.
Riska menundukkan kepala, dia belum bisa menjawab pertanyaan Ayu.
"Ris, suamimu itu memang mempunyai hati yang lembut, dia cukup mudah terpuruk oleh kepergian orang yang dia sayangangi. Sama seperti Mas Ezra, mereka berdua termasuk lelaki yang setia dengan satu perempuan, dan akan menyerahkan seluruh rasa cinta dan hidupnya hanya untuk seseorang yang menurut mereka spesial itu."
Ayu mulai memberi nasihat pada Riska, dia bisa melihat sorot mata tidak percaya diri dan keraguan dari dalam hati asistennya itu.
"Kamu ingat, Mas Ezra saja yang menikah karena dijodohkan baru bisa memutuskan untuk menikah lagi, setelah kepergian mendiang istri pertamanya, yang memang sudah jelas keadaannya telah meninggal."
"Apalagi Keenan, dia sudah terlanjur menjatuhkan hati pada perempuan itu, lalu kemudian dikecewakan oleh kepergian tanpa kabar. Coba kamu pikir, bagaimana perjuangan Keenan untuk bisa kembali bangkit, padahal saat itu dia bahkan belum dewasa, dari segi pemikiran."
"Menurutku, untuk sampai di titik ini saja, itu sudah sangatlah bagus. Aku lihat, ia juga sudah berusaha membuka hati untukmu dari awal kalian menikah dulu. Ya, walaupun aku tidak mendengarnya secara langsung dari Keenan, akan tetapi, suamiku selalu menceritakan apa yang Keenan ungkapkan padanya."
"Kamu tau kan, kedekatan mereka berdua? Dan aku yakin saat ini dia sudah menjatuhkan pilihannya padamu, Ris," ujar Ayu panjang lebar.
Riska menatap wanita yang baru saja melahirkan itu, dia kemudian menunduk kembali.
__ADS_1
"Dari mana, Mba, tau kalau Abang sudah menetapkan hatinya padaku?" tanya Riska.
"Karena Mama sempat bercerita padaku, kalau Keenan memerintakahkan anak buahnya untuk membuang semua kenangannya bersama Luna yang masih ada di gudang, rumah mertua kita," jawab Ayu.
"Bukankah itu sudah membuktikan kalau suamimu, benar-benar ingin melupakan sosok masa lalunya?" tanya Ayu.
Riska sempat terkejut dengan perkataan Ayu, lalu kemudian mengangguk, membenarkan perkataan dari bosnya itu.
"Jadi selama ini, akulah yang salah karena masih meragukan kasih sayang suamiku sendiri?" tanya Riska lirih.
Ayu tersenyum dan menggeleng kepala samar.
"Tidak ada yang salah, Ris. Perasaan kamu wajar, dirasakan oleh orang yang menikah secara dadakan seperti kalian. Keraguan atas perasaan masing-masing pasangan, mungkin akan terjadi, mengingat kalian menikah bukan karena keputusan kalian sendiri. Tapi, aku yakin, dengan komunikasi yang baik, akan membangun cinta dan kepercayaan yang lebih kuat satu sama lain di dalam rumah tangga yang kalian arungi bersama."
"Dan itu akan menjadi tugas kalian berdua, khususnya kamu yang harus belajar untuk lebih terbuka pada Keenan. Ingat, aku hanyalah orang lain di dalam rumah tangga kalian, apa pun yang aku bicarakan, jangan menjadi acuan untuk kamu mengambil keputusan, sebelum berbicara dan bertanya terlebih dahulu pada Keenan."
"Aku tidak pernah keberatan, adalah kamu mau bertanya atau bahkan mengeluh kepadaku. Tapi, setidaknya, bicara dulu dan berusaha untuk mencari jalan keluar yang terbaik dahulu, berdua dengan suami kamu, sebelum kamu meminta pendapat orang ketiga. Karena peran orang ketiga di dalam rumah tangga itu, sebenarnya seperti sebuah pisau, dia bisa saja memberikan manfaat jika digunakan pada waktu yang tepat, akan tetapi itu juga bisa memberikan luka yang akan menambah masalah bagi kalian, jika kamu salah dan ceroboh dalam menggunakannya."
"Ingat Riska, sebaik-baiknya orang ketiga, mereka tidak ada yang bisa memahami kehidupan rumah tangga kalian. Maka dari itu, sebaiknya, coba berbicara baik-baik-baik dahulu dengan suami kamu, sebelum kamu memutuskan untuk mencari orang ketiga di dalam penyelesaian sebuah masalah dalam rumah tangga kalain. Kamu paham, apa maksudku kan?" tanya Ayu.
Riska mengangguk, di dalam hati dia membenarkan perkataan Ayu. Semua itu memang harus ia bangun mulai sekarang. Komunikasi yang baik antara Keenan dan dirinya, adalah kunci utama dalam rumah tangga mereka.
Apa lagi baik Keenan maupun dirinya, sama-sama masih dalam tahap menyesuaikan diri masing-masing, yang tentu saja pasti akan menimbulkan suatu keterkejutan satu sama lain.
Riska menghembuskan napas kasar, dia tersenyum dengan rasa lega di dalam dada. Entah mengapa, berbicara dengan Ayu, selalu membuatnya mendapatkan jawaban dari keresahan hatinya, walau kadang dia sendiri ragu untuk bisa mewujudkan semua nasihat dari bos sekaligus kakak iparnya itu.
"Terima kasih, Mba." ujar Riska, sambil memeluk wanita di depannya.
Ayu tersenyum lalu membalas pelukan asistennya, dengan anggukkan samar di kepala.
Tanpa mereka sadari, seseorang sejak tadi mendengarkan percakapan kedua orang wanita itu.
...🌿...
...Siapa ya?...
...Komen👍...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...