
...Happy Reading...
......................
"Ken," Garry yang baru saja selesai menelepon, menyapa kedatangan sang anak.
Keenan tampak mengalihkan pandangannya dari istri dan ibunya, dia tersenyum pada ayahnya.
"Ya, Pah," jawabnya kemudian.
Dua perempuan yang sedang asyik berbicara pun, ikut mengalihkan perhatiannya pada kedatangan Keenan.
Nawang langsung berdiri sambil menatap sang anak penuh tanya.
"Bagaimana hasilnya, semuanya baik kan?" tanya Nawang.
Keenan menurunkan pandangannya, melihat amplop coklat di tangannya.
Dia kemudian berjalan mendekat pada istrinya, dengan tatapan nanar. Riska yang ditatap seperti itu oleh suaminya, melihat penuh tanya.
Keenan langsung menghambur di pelukan sang istri, dengan perasaan yang bercampur di dalam hatinya.
"Maafkan aku, sayang ... maafkan aku," ujarnya sendu.
Riska mengerutkan keningnya halus, mendengar perkataan maaf suaminya. Dia melihat ke arah wajah kedua mertuanya bergantian, dengan tatapan bingung.
Nawang dan Garry yang melihat itu semua pun, ikut merasa bingung. Garry yang merasa tidak sabar, langsung mengambil amplop coklat yang masih ada di tangan sang anak.
"Ada apa, Bang? Kenapa, Abang, begini?" tanya Riska, sambil membalas pelukan suaminya.
"Iya, Ken ... sebenarnya ada apa? Jangan bikin mama khawatir gini." Nawang ikut menimpali perkataan menantunya.
Nawang beralih menuju ke samping suaminya yang sedang membaca hasil pemeriksaan sang menantu, dia takut terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan pada Riska.
Keenan melepaskan pelukannya pada sang istri, dia kemudian memilih duduk di depan sang istri.
Keenan menatap wajah Riska yang sudah semakin membaik, lebam dan sobek di bibirnya sudah tidak terlalu terlihat.
Tangannya menangkup wajah sang istri, dia menatap dalam manik mata Riska dengan penuh kelembutan.
Riska semakin dibuat bingung dengan tingkah laku suaminya saat ini, dia pun ikut membalas tatapan suaminya.
__ADS_1
"Bang?" ujar Riska, dia tidak sabar juga, melihat suaminya yang hanya menatapnya dalam diam.
"Kamu ... kita–" Keenan beralih memegang tangan sang istri lalu mengarahkannya pada perut.
Nawang dan Garry yang sudah membaca hasil pemeriksaan Riska itu, menatap penuh haru anak dan menantunya itu.
Riska melebarkan matanya, saat dia mulai menebak apa yang kiranya mau disampaikan oleh suaminya, dia kemudian mengalihkan pandangannya ke pada kedua mertuanya.
Nawang pun menganggukkan kepala samar, seakan tau apa yang ingin ditanyakan menantunya pada mereka.
Riska lalu kembali menantap suaminya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia kemudian menggalihkan pandangannya pada perutnya, di sana tangannya dan tangan Keenan berada.
"Abang, ini?" Riska bahkan tidak bisa meneruskan perkataannya.
"Iya, sayang. Di sini sekarang sudah tumbuh anak kita berdua," angguk Keenan cepat, dengan senyum merekah yang mengiringinya.
Riska tidak bisa lagi menahan tangisnya, hingga akhirnya airmata itu menetes juga membasahi pipinya.
Keenan kembali memeluk istrinya, perasaan bahagia dan juga bersalah yang sama besarnya membuatnya tidak tau harus berekspresi bagaimana.
"Maaf, sayang. Karena aku yang teledor, kamu harus mengalami semua ini, bahkan ketika sedang mengandung anak kita," ujar Keenan sambil mengeratkan pelukannya.
Tangis Riska pecah di pelukan sang suami, rasa bersyukur karena sudah diselamatkan dari semua kejadian penculikan beberapa hari kemarin, kini semakin besar.
Nawang yang melihat pasangan suami istri di depannya, ikut meneteskan air mata. Gerry yang melihat itu pun ikut merangkul sang istri.
Ya, pagi menjelang siang hari itu, dipenuhi berbagai rasa di dalam setiap hati orang di ruangan itu, walau kebahagiaan dalam rasa syukur yang berlimpah itu, berhasil menutupi rasa sedih dan kecewa yang sebelumnya bersemayam.
Ya, untuk sesaat mereka terhanyut oleh rasa bahagia, karena kabar baik yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya.
"Selamat, sayang. Sekarang kamu sudah mau menjadi seorang ibu," ujar Nawang sambil memeluk Riska dengan penuh kasih sayang.
"Ah, sebentar lagi aku akan kembali mendapatkan cucu, rasanya kok semakin tua saja ya," celetuk Garry, membuat semua orang mengalihkan perhatiannya pada laki-laki paruh baya itu.
"Emang, Papah, udah tua," jawab Keenan, membuat tawa semuanya pecah seketika.
"Eh, walaupun papah udah tua, tapi, papah masih tampan kan? Buktinya, mama kamu gak mau tuh jauh sama papa. Iya kan, sayang?" ujar Garry dengan tingkahnya yang terlihat begitu percaya diri.
Nawang mencebik, mendengar perkataan suaminya yang terdengar terlalu percaya diri itu.
"Ish, kepedean banget sih nih kakek-kakek, udah tau tua, masih aja banyak gaya," cebik Nawang.
__ADS_1
"Iya, gak sadar umur, padahal cucu udah mau tiga," imbuh Keenan, ikut mengejek ayahnya.
Riska tersenyum, dia merasa sangat terhibur dengan canda dari suami dan mertuanya itu.
"Hei, kenapa kalian malah bersekongkol untuk mengejek aku, hah?" Garry merasa tidak terima.
"Sudahlah, Pah. Terima saja, kalau memang sekarang, Papah, udah tua." Tiba-tiba saja suara Ezra terdengar dari arah pintu.
Tentu saja itu semua membuat keempat orang itu mengalihkan perhatiannya, mereka melihat Ezra yang datang bersama dengan Ayu di dalam rangkulannya.
Garry memutar bola matanya, melihat kini lengkaplah sudah anggota keluarganya. Dia yang sebelumnya hanya ingin memecah rasa haru dari Keenan dan juga Riska, malah terjebak oleh permainannya sendiri.
"Assalamualaikum," sapa Ayu sambil mencium tangan kedua mertuanya, lalu beralih pada Keenan dan Riska.
"Datang itu ucap salam dulu, tuh seperti menantuku, bukannya langsung masuk di obrolan orang," sindir Garry pada Ezra.
"Kalau, Papah, lupa ... menantu, Papah, itu istriku," ujar Ezra, setelah mencium tangan sang ayah.
"Iya papah tau. Makanya kadang papah bingung, kenapa dulu Ayu mau ya sama kamu?" Kini giliran Ezra yang saling menggoda dengan ayahnya.
"Astaga, kenapa kalian malah pada berisik di sini sih? Mending kalian pada pergi kerja sana, biar kita para wanita gak bingung kalau mau ngabisin uang kalian," ujar Nawang, yang memecah kebisingan para laki-laki itu.
Ayu dan Riska pun mengangguk kompak, menyetujui perkataan ibu mertua mereka.
Garry, Ezra, dan Keenan, menatap yterkejut ketiga perempuan yang merupakan istrinya itu, mereka tidak pernah menyangka kalau sekarang mereka tampak sangat kompak.
"Kami bosnya," ujar ketiga laki-laki itu, dengan santainya.
"Tapi, kami bos kalian!" ujar kompak Nawang, Ayu, dan Riska.
Keenan dan Ezra menatap horor wajah para istri mereka. Bila Nawang yang mengatakan itu kepada Garry, mungkin itu sudah biasa. Akan tetapi, kenapa sekarang istri mereka juga tertular sikap bar-bar Nawang?
Ayu dan Riska menahan senyum, melihat wajah terkejut para suaminya. Mereka memang pernah merencanakan itu semua dengan Nawang, saat ketiganya berkumpul.
Hingga beberapa saat yang lalu, mertuanya itu meberikan kode pada mereka, Ayu maupun Riiska langsung mengerti.
Astaga, kenapa sekarang semakin mirip, Mama? batin Keenan dan Ezra.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...