Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.128 Rujak


__ADS_3

 



...Happy Reading...


...❤...


Siang hari Ayu sedang dalam perjalanan pulang, setelah menjemput Naura di sekolah. Dia tiba-tiba meminta sopirnya untuk berhenti di tengah perjalanan.


“Ada apa, Bu?” tanya Gino–sopir pribadi yang ditugaskan khusus untuk Ayu.


“Sebentar, Pak. Aku mau beli rujak, di sana.” Ayu menunjuk sebuah gerobak tidak jauh dari mobilnya terparkir.


Gino dan Naura yang mendengar perkataan Ayu, mengernyitkan dahi sambil mengikuti arah telunjuk Ayu.


“Bu, kita beli di tempat lain saja ya,” ujar Gino memberi penawaran, dia takut Ezra akan melarang Ayu, memakan makanan yang di jual di pinggir jalan seperti itu.


“Engak mau, Pak Gino. Sebentar saja ya ... gak akan lama kok,” ujar Ayu, sambil menyiapkan tas untuk dia bawa.


“Naura tunggu di sini saja ya, Mama Sebentar kok ... di luar panas banget.” Ayu beralih pada Naura.


“Ibu diam saja di sini, biar saya yang belikan,” ucap Gino, mencegah Ayu yang sudah hampir membuka pintu.


“Aku mau pilih sendiri, buahnya. Pak Gino, tunggu di sini saja ... jagain Naura buat saya,” ujar Ayu, sambil membuka pintu lalu keluar dari mobil.


Ayu berjalan di trotoar, dengan langkah pasti, menghampiri tukang dagang rujak di pinggir jalan, tidak jauh dari sana.


Dua pasang mata Gino dan Naura mengikuti ke mana wanita itu melangkah, tanpa mau melepaskannya sedikit pun.


Gino mengambil ponselnya untuk menelepon Ezra, bermaksud melaporkan apa yang sedang Ayu lakukan.


Beberapa saat menunggu, akhirnya teleponnya tersambung juga.


“Ada apa, Gino?” tanya Ezra, dia baru saja selesai melakukan rapat di luar bersama salah satu kliennya.


Gino langsung menceritakan apa yang sedang terjadi sekarang,  dan di mana lokasinya saat ini.


“Kebetulan aku ada di sekitar sana. Biar aku ke sana sekarang,” ujar Ezra, sambil masuk ke dalam mobilnya, lalu menancap gas menuju lokasi Ayu saat ini.


Beberapa saat kemudian, Ezra sudah memarkirkan mobilnya, di samping mobil Gino.


“Di mana dia, Gino?” tanya Ezra, begitu kaca mobil terbuka.


“Itu, Pak. Di sana,” tunjuk Gino di salah satu gerobak yang tampak ramai.


Ezra menoleh sedikit melihat Naura yang tampak sudah mengantuk.


“Sayang, kamu pulang duluan sama Pak Gino ya, biar Papa yang jagain Mama,” ujar Ezra.


Naura mengangguk, dia sudah sangat mengantuk, karena memang sudah waktunya tidur siang.


 Ezra melanjutkan langkahnya, menyusul Ayu yang tampak sedang menunggu giliran untuk dilayani.


“Sayang, kamu sedang apa di sini?” tanya Ezra, lembut, dia merangkul pundak Ayu dari belakang.


Tubuh Ayu berjingkat kaget, ketika mendapat sentuhan tiba-tiba dari Ezra, walau akhirnya dia menghembuskan napasnya kembali, saat mendengar suara yang begitu ia kenal.


Kepalanya menoleh cepat, menatap lelaki yang kini sedang berada di sampingnya.

__ADS_1


“Mas? Kok ada di sini?” tanya Ayu, menatap suaminya dari atas sampai ke bawah, lalu kembali lagi ke atas. Memastikan kalau dirinya tidak salah lihat.


“Aku tadi kebetulan melihat mobil kamu di sana, makanya berhenti. Aku kira kenapa, eh taunya ada yang lagi ngantri di sini,” ucap Ezra dengan  nada menggoda.


“Kenapa gak nunggu di mobil aja, hem? Di sini kan panas banget,” sambung Ezra lagi.


“Hem, aku tiba² saja mau rujak buah,” angguk Ayu.


“Aku mau pilih dan beli sendiri,” sambungnya acuh.


“Hem, baiklah ... biar aku temani kamu di sini, oke?” tanya Ezra dan langsung diangguki oleh Ayu.


“Atau, aku beli saja semuanya biar cepat ... gimana?” tanya Ezra lagi.


Ayu langsung melebarkan matanya, menatap Ezra tajam tanda tidak setuju.


Sedangkan para pembeli dan pedagang yang diam-diam sedang memperhatikan mereka, langsung mengalihkan pandangannya pada Ezra, mereka merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ezra barusan.


Ezra hanya tersenyum lebar, tanpa rasa bersalah karena sudah membuat pembeli di sana terkejut.


Ayu geleng kepala, melihat kelakuan suaminya yang tak terduga itu. Untung saja dia tidak melarangnya untuk membeli di sini.


Beberapa saat kemudian Ayu sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, Ezra membayar menggunakan uang seratus ribuan tanpa mengambil kembalian, membuat pedagang itu sangat berterima kasih.


Untuk yang satu itu Ayu tidak melarang, dia hanya langsung bergegas untuk kembali ke mobil, meninggalkan Ezra yang masih membayar.


Sampai di tempat parkir yang tadi, Ayu dibuat bingung saat melihat mobil Pak Gino sudah tidak ada.


“Mereka sudah aku suruh pulang duluan, soalnya Naura udah ngantuk. Kamu pulang bareng aku aja ya,” ujar Ezra, begitu sampai di samping Ayu.


Ayu langsung mengalihkan pandangannya pada Ezra, dengan alis bertaut.


“Naura ngantuk?” tanya Ayu, kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Ezra mengangguk membenarkan, kemudian menggendeng tangan istrinya untuk menuju mobil miliknya, membukakan pintu untuk Ayu, dan menyuruhnya masuk.


Ezra menaruh satu tangannya di atas kepala Ayu, melindungi takut Ayu terbentur sisi pintu mobil. Sedangkan satu tangan lagi, menahan daun pintu mobilnya.


Penjual dan para pembeli rujak yang sedari tadi melihat keduanya, membulatkan mulutnya sambil mengangguk kepala, saat melihat Ayu dan Ezra memasuki sebuah mobil yang tidak biasa.


“Orang kaya ternyata, pantas saja beli rujak harga lima belas ribu dia bayar seratus ribu,” gumam salah satu pembeli yang langsung diangguki oleh orang di sekitarnya.


Sampai di dalam, Ayu langsung membuka plastik mika yang digunakan untuk membungkus rujak, dia menuangkan langsung bumbu rujak yang bertabur kacang itu ke atas potongan buah.


“Eh, kok dibuka sekarang, sayang?” tanya Ezra begitu masuk ke dalam mobil.


Ayu mengangguk sambil mulai menusuk satu buah mangga. “Aku mau makan sekarang,” jawab Ayu, hendak menyuapkan potongan mangga tersebut.


Ezra menggeleng, kemudian menahan tangan Ayu, yang tinggal sedikit lagi memasukkan buah mangga ke dalam mulutnya.


 “Eh, jangan sekarang, kita cari makan siang dulu ya, nanti setelah itu baru makan rujaknya,” cegah Ezra.


Ayu menatap kesal wajah Ezra. “Tapi, aku maunya sekarang,” ujar Ayu, tidak suka.


“Perut kamu masih kosong sayang. Tadi pagi juga kamu makan sedikit,” sabar Ezra, dia bahkan belum menjalankan mobilnya dari tempat itu.


Mereka bahkan tidak sadar kalau sedari tadi tukang parkir di sana sudah menunggu di pinggir jalan, untuk membantu mobil mereka keluar.


“Aku lagi mau makan rujak, bukan makan nasi, Mas!” Ayu menekan kata-katanya, matanya bahkan sudah berembun, karena air mata.

__ADS_1


Dia sudah menelan ludah sejak tadi, membayangkan segarnya potongan buah yang dicampur bumbu rujak dengan kacang tersebut.


Dalam hati, Ayu merasa bingung dengan perasaannya saat ini. Kenapa dia harus begitu sedih hanya karena dilarang memakan rujak sekarang.


Ezra menghebuskan napas berat saat melihat wajah istrinya. ‘Orang hamil memang susah kalau dilarang,’ gumamnya dalam hati.


“Baiklah, tapi setelah makan rujak, kamu harus janji buat makan siang bareng sama aku ya,” pasrah Ezra.


Ayu mengangguk semangat, dia langsung menyuapkan potongan buah mangga yang sejak tadi sudah ia pegang.


“Mas, mau?” tanya Ayu, menyodorkan buah jambu air pada Ezra.


“Enggak, sayang. Kamu saja yang makan, ya,” tolak Ezra tangannya mengusap lembut puncak kepala istrinya.


Ayu mengangkat bahunya acuh, lalu meneruskan makannya.


“Aku keluar sebentar ya?” izin Ezra sambil membuka kembali pintu mobilnya.


“Mau ke mana?” tanya Ayu.


“Aku mau beli air minum ... sebentar ya,” ujar Ezra, sambil menutup pintu mobil kembali.


Dia berjalan menuju mini market di depannya. Hingga beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa air mineral dan juga susu hamil di dalam kemasan sekali minum.


Ayu hanya melihat sekilas, kemudian tersenyum kepada suaminya.


“Terima kasih,” ucapnya kemudian.


Ezra mengangguk sebagai jawaban. Memilih untuk menyandarkan tubuhnya, menunggu istrinya selesai makan rujak.


Tukang parkir yang tadi menunggu mereka di pinggir jalan pun, sudah kembali ke tempatnya menunggu, sambil sesekali memarkirkan motor yang hilir mudik datang.


Ya, sekarang mereka sedang berada di depan sebuah mini market. Ezra sengaja tidak parkir di pinggir jalan.


Ezra tersenyum ketika melihat Ayu, yang tampak senang dan begitu lahap menyantap berbagai buah di pangkuannya, dengan cara ditusuk menggunakan tusukan gigi.


Dia bahkan menikmati setiap ekspresi wajah Ayu yang terlihat bersemangat, dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibir yang terus mengunyah.


Hingga beberapa saat kemudian, isi di dalam plastik mika itu, sudah kosong tak bersisa.


Ezra kemudian membuka air mineral yang tadi dia bawa, lalu memberikannya pada sang istri.


“Terima kasih,” ucap Ayu dengan senyum manis di bibirnya. Dia kemudian meneguk air minum itu.


Sedangkan Ezra mengambil bekas rujak tadi, yang sudah di masukan ke dalam kantong plastik kembali oleh Ayu, lalu membuangnya ke tempat sampah.


Siang itu, adalah kali pertama Ayu mengidam selama kehamilannya, Ezra ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya.


“kita berangkat sekarang?” tanya Ezra, bersiap untuk menjalankan mobilnya. Setelah membantu Ayu memasang sabuk pengaman, dan mencuri ciuman di bibirnya sekilas.


Ayu mengangguk, dia menyandarkan punggungnya pada kursi, perutnya terasa kenyang setelah menghabiskan rujak dengan porsi yang lumayan besar itu.


Keduanya pun akhirnya pergi dari sana, dengan tukang parkir yang bersorak, ketika mendapatkan uang lima puluh ribu dari Ezra.


Tidak salah bukan, jika dia sedikit membagi kebahagiaannya pada mereka yang secara tidak langsung, membantunya mengabulkan ngidam pertama sang istri.


...🌿...


Adakah yang sama kaya Ayu, suka baperan kalau lagi ngidam?🤔

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2