
...Happy Reading...
...❤...
"Bagaimana, Mas?" tanya Ayu, begitu tidak sabar, hingga ia langsung terbangun saat mendengar pintu kamar terbuka.
Ezra melihat sang anak yang sudah tertidur lelap, kemudian meraih tubuh sang istri yang bergerak cepat.
"Sayang, hati-hati," ujar Ezra, merangkul tubuh sang istri.
"Ssshh, maaf mas, tadi aku refleks," ujar Ayu sambil berdesis saat merasakan perutnya kencang. Mungkin karena pikirannya juga
"Kenapa? Mana yang sakit, hem?" tanya Ezra, dia mengelus perut sang istri dengan wajah panik.
"Perut aku kenceng, sepertinya karena terkejut," ujar Ayu, sambil menyandarkan tubuhnya lagi di kepala ranjang.
Ezra mengelus halus perut sang istri, sambil berbicara pada anaknya di dalam.
"Sayang, kamu kaget, ya? Maafin, Mama ... Mama gak sengaja. Tenang, sayang, kasihan Mama sakit," ujarnya berbicara di depan perut Ayu, sambil terus mengelusnya.
Perlahan Ayu merasakan perutnya mengendur kembali, hingga napasnya tak lagi sesak.
"Sudah lebih baik?" tanya Ezra, melihat wajah sang istri.
"Hem, sudah tidak apa-apa. Terima kasih, Mas," ujar Ayu, sambil tersenyum pada sang suami.
"Ya, udah kita ke kamar saja, nanti aku ceritakan di sana," ujar Ezra.
Ayu mengangguk, lalu beranjak hendak berdiri dengan berpegang pada lengan Ezra. Akan tetapi, beberapa saat kemudian dia memekik tertahan, saat tubuhnya direngkuh dan digendong oleh suaminya.
"Mas!" Ayu mengalungkan tangannya pada gengkuk sang suami, begitu merasakan tubuhnya di angkat dengan sekali gerakan oleh Ezra.
Ezra tersenyum, dia mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar anak sulungnya itu, dengan sang istri di dalam gendongan.
"Mas, turunin ... aku sudah berat," ujar Ayu, merasa risih, karena kini beratnya sudah naik cukup banyak.
"Aku bahkan masih bisa mengangkat kamu dan Naura sekali gua, biasa aku mau, sayang," jawab Ezra, sambil terus melangkahkan kaki.
__ADS_1
Ayu tersenyum dengan pipi memerah, rayuan kecil dari sang suami, selalu sukses membuatnya tersipu.
Ezra duduk di atas tempat tidur, dengan tubuh Ayu masih berada di pangkuan, dia perlahan mengarahkan sang istri untuk tetap berada di dalam pelukannya.
Ayu mengandalkan kembali kepalanya di dada sangs kami, dengan tangan masih mengelus perut, yang terasa sedikit berbeda dari biasanya.
"Bagaimana Keenan, Mas?" Ayu kembali bertanya.
Ezra tampak menghembuskan napasnya panjang, dengan ingatan kembali pada beberapa saat yang lalu, di mana dia sedang berbicara dengan Keenan di ruang kerja.
Flashback
"Sudah puas kamu, mengetahui semua kenyataan tentang perempuan itu?" tanya Ezra begitu mereka duduk di kursi masing-masing di ruangan kerjanya.
Ezra bisa melihat dengan jelas, bagaiamana adiknya itu terlihat begitu terpuruk dengan kejadian saat ini. Semua itu sangat terlihat dari baju yang berantakan bahkan banyak kotor di beberapa tempat, juga rambut dan wajah yang kusut.
Keenan mengangguk samar, tanpa berani menimpali perkataan sang kakak.
"Bagaimana menurutmu dengan semua kebenaran ini?" tanya Ezra, denga tatapan tajam menghunus seluruh tubuh adiknya.
Keenan menatap sekilas wajah Ezra yang terlihat begitu menyeramkan di matanya. Menelan saliva dengan susah payah, sebelum mulai menjawab pertanyaan sang kakak.
Ezra menghembuskan napas kasar dengan jawaban yang dia dengar dari sang adik. Ternyata keberadaan Riska di samping Keenan selama satu bulan ini, belum bisa membuat Keenan melupakan masa lalunya seutuhnya.
"Apa lagi yang kamu bingungkan, Ken?" tanya Ezra.
"Dia sudah meninggal, dan saat ini kamu juga sudah memiliki seorang istri. Apa kamu sudah lupa dengan statusmu sekarang, hanya karena kejadian ini?" imbuh Ezra lagi.
Keenan bergeming, dia hanya terus menunduk, tanpa mau membalas tatapan kakaknya.
"Belum cukup kamu menghabiskan masa mudamu, hanya untuk meratapi kepergiannya? Dia yang memilih untuk tidak memeberi tau kamu tentang penyakitnya, dan pergi tanpa kabar, lalu sekarang kamu mau berbuat apa lagi, hah?!"
Ezra sedikit meninggikan suaranya, merasa geram dengan sang adik yang seakan terus terbelenggu dengan hubungan masa lalunya.
"Tapi, dia melakukan itu karena memikirkan perasaanku," jawab Keenan, menatap wajah Ezra dengan tatapan tidak suka.
"Kakak, sudah tau semuanya? Sejak kapan? Apa kakak juga bersengkongkol dengan dia untuk membohongiku?!" tuduh Keenan.
"Astagfirullah, Keenan! Aku tidak mungkin setega itu padamu! Kamu tau, aku bahkan mendatangi mereka dan memohon untukmu. Tapi, apa yang mereka bilang? Mereka malah merendahkan dirimu dan keluarga kita di depan mata kepalaku sendiri! Dan aku tidak bisa melupakan semua itu, walau mungkin itu hanyalah sebuah sandiwara!"
__ADS_1
Ezra menjeda perkataannya, menghirup napas sebanyak-banyaknya untuk memenuhi rongga paru-parunya yang terasa sesak.
"Aku tidak bisa mentolelir semua yang mereka lakukan saat itu, dan semua itu masih teringat dengan jelas di sini, di dalam otaku, bahkan sampai nanti aku mati!" geram Ezra, menujuk kepalanya sendiri.
"Mereka bilang kamu adalah lelaki brengsek yang tidak punya harga diri, mengejar gadis yang jelas-jelas sudah menolak dan tidak mau lagi denganmu. Mengatai keluarga kita keluarga hina yang gak bisa mendidik anak lelakinya! Apa itu pantas di katakan oleh meraka, hanya karena ingin menjauhimu, hah?!"
Ezra yang udah terlanjur emosi, kini meluapkan semua yang selama jjk dia sembunyikan untuknya sendiri, tanpa ada orang yang mengetahuinya, bahkan kedua orang tuanya.
Kelaurga itu bukan hanya meninggalkan luka untuk Keenan, dikarenakan anak gadisnya. Akan tetapi, tanpa ada yang tau, Ezra pun ikut terluka saat itu.
Keenanenatap wajah merah sang kakak, dia sama sekali tidak pernah menyangka, dengan apa yang dikagakn oleh Ezra.
"Apa maksud, Kakak?" lirih Keenan.
"Jangan terus melihat kesakitanmu saja, Ken. Karena terkadang, di sekitarmu ada yang ikut terkena imbas dari rasa sakitmu itu," ujar Ezra, dengan nada bicara yang mulai normal kembali.
"Kamu sudah dewasa, mungkin saat ini memang saat yang tepat, untuk kamu mengetahui semuanya. Ini juga bisa jadi ujian cinta dan keyakinan hati kamu di dalam mengarungi pernikahan yang masih seumur jagung ini," imbuh Ezra kembali.
Keenan termenung, dia terus menimbang semua yang terjadi hari ini. Terasa begitu banyak kebetulan dan kebenaran yang terungakap, hingga membuat pikirannya tak bisa mencerna dengan benar.
Keheningan kini melanda ruang kerja milik Ezra, kedua kakak beradik itu, hanya diam membisu dengan pikirannya masing-masing.
Selama beberapa saat, mereka larut dalam setiap rasa yang bergejolak dalam dada. Berusaha berpikir jernih, dalam maslah yang atang secara tiba-tiba ini. Hingga tak ada celah sedikitpun yang mereka lewatkan.
"Ken, aku memang tidak bisa mengerti perasaanmu, aku juga tidak pernah mengalami semua ini. Hanya saja aku ingin berpesan, sekacau apa pun pikiran dan hatimu saat ini, jangan kamu hilangkan seseorang yang kini berada di sampingmu. Lupakan masa lalu, apalagi dia kini sudah menyatu dengan bumi. Berdamailah, dan raih masa depan yang menunggumu untuk berjalan bersama," nasihat Ezra, setelah keheningan bertahan cukup lama.
Keenan tetap bergeming, dia seakan sedang berada di alamnya sendiri, tanpa menghiraukan kehidupan yang ada di sekitarnya.
Ezra hanya menghembuskan napas kasar, lalu menyandarkan tubuhnya, sambil terus memperhatiakan sang adik.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, saat keduanya kini memutuskan mengakhiri perbincangan itu. Keenan pamit untuk mengganti bajunya, sebelum pulang kembali ke apartemen.
Ezra hanya mengaguk, entah apa yang akan diputuskan oleh Keenan, setelah ini, dia juga tidak tahu. Untuk sekarang dia hanya berusaha memberikan pertimbangan dan memantau agar memastikan Keenan tidak lagi terjebak di dalam masa lalunya.
Flashback off
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...