Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.36 Emosi


__ADS_3

...Happy Reading...


...❤...



...❤...


Ayu duduk lemas di balik pintu salah satu kamar tamu rumahnya.


Air matanya sudah mengalir deras dengan napas yang sudah tak beraturan.


Jantungnya berdetak begitu cepat dengan bulir keringat mulai muncul di keningnya.


Kilasan masa perjuangan di masa kecilnya bersama sang Ibu kembali mengganggu pikirannya.


Di tambah dengan bayangan perdebatan antara dirinya dan Ansel yang baru saja terjadi, membuat dirinya semakin terpuruk.


Flash back...


Ayu langsung berbalik, bermaksud untuk menghindar dari kedua lelaki itu. Namun sayang, tangannya lebih dulu di cekal oleh Ansel, dengan cepat dia berlari menghampiri wanita yang ternyata adalah adiknya sendiri.


"Dek..." Panggil lirih Ansel, dengan mata yang sudah memerah menahan perasaan rindu dan haru.


Ayu memalingkan wajahnya, menyembunyikan air mata yang sudah tak dapat lagi ia tahan.


Ayu baru saja sampai di sana untuk memberi tahu kalau mobil yang mengantar barang belanjaannya sudah datang.


Tapi yang dia lihat, membuatnya membisu, bibirnya tiba-tiba terasa kelu, saat mendengar kalau Ansel sudah tau kalau dirinya adalah Ayunindia adiknya.


Itu berarti Ansel itu adalah Arsyl, kakaknya, pahlawan nya, penjaganya, yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar bersama sang ayah.


Ayu mengibaskan tangannya cukup keras, sampai genggaman Ansel terlepas.


"Dek, ini Kakak" ucapnya lagi, berusaha meraih kembali lengan sang adik.


Ayu mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya.


Terkekeh miris mendengar ucapan lelaki yang ternyata kakaknya itu.


"Apa masih pantas kamu di sebut sebagai Kakak?" tanya Ayu menatap tajam Ansel.


Ansel terkejut dengan reaksi dari sang adik, dia tak mengerti kenapa Ayu bisa bersikap seperti itu.


Yang dia tahu, Ayu adalah sosok gadis kecil yang periang dan manja, tetapi sekarang yang dia lihat dari pacaran mata indah sang adik hanyalah kebencian.


Ezra duduk di sisi ranjang, menjaga kedua bocah kecil yang sedang mengarungi alam mimpi mereka, agar tak terusik oleh suara kedua orang di hadapannya saat ini.


"Apa maksud kamu, Dek?" tanya Ansel, mengerinyitkan kedua alisnya dalam.


"Masih pantaskah, orang yang sudah meninggalkan adik dan Ibunya tanpa kabar, di panggil seorang kakak dan seorang anak?" Ayu berkata dengan nada tertahan, berusaha menekan emosinya.


"Setelah kamu menghilang sembilan belas tahun yang lalu, sekarang kamu datang dan mengaku sebagai kakakku?"


"Heh! Jangan mimpi" ucap Ayu sarkas.


"Dek, dengarkan penjelasan Kakak dulu, Kakak enggak pernah ninggalin Adek"

__ADS_1


"Lalu kemana kamu selama ini hah? Sembilan belas tahun itu bukan waktu yang sebentar, tapi sekalipun kamu tak pernah menemuiku" suara Ayu sudah mulai meninggi.


"Lebih baik kalian bicara di luar, di sini ada anak-anak" Ezra langsung menghampiri kedua kakak beradik itu, yang mulai kehilangan kendali.


Ayu berjalan ke lantai satu, di ikuti kedua sahabat itu.


"Selesaikan dengan baik-baik, ingat kalinya berdua bukan ank kecil lagi" desis Ezra mengingatkan Ayu dan Ansel, sebelum melangkah keluar rumah.


Ezra memilih untuk keluar dan duduk di teras rumah, memberikan ruang untuk keduanya berbicara.


"Iya bukan anak kecil, aku sudah dewasa, sampai aku hampir menjadi janda sekarang!" sarkas Ayu, duduk di sofa.


Ansel duduk di hadapan Ayu, ia menatap Ayu dengan penuh perasaan bersalah.


Apakah semua ini adalah salahnya, apakah semua perubahan adiknya ini adalah karena dirinya?


Kemana adik yang manis dan ceria itu, kemana Nindi yang polos dan penyayang itu?


Mengapa sekarang dia hanya melihat luka dan kebencian di dalam sorot mata sang adik?


Seberapa sulitnya wanita di hadapannya itu menghadapi kehidupan ini?


Berbagai pertanyaan itu kini bersarang, memenuhi seluruh isi kepalanya.


"Ndi?" lirih Ansel.


"Jangan panggil nama itu, Nindi, Ndi, dia sudah mati, mati bersama dengan Ibu...Hiks...hiks... Nindi sudah mati saat dia harus melihat tubuh ibunya masuk ke dalam liang lahat, tanpa ada keluarga yang ada di dekatnya..." Ayu menangkup wajahnya, menangis tersedu dengan tubuh bergetar.


Bayangan saat dirinya bahkan tak dapat mendampingi sang ibu di saat -saat terakhirnya, membuat Ayu kembali terpuruk.


Ansel semakin terkejut dengan perkataan sang adik.


"Kenapa? Memangnya Kenapa kalau ibu sudah gak ada? Bukannya itu yang kalian inginkan, kalian ingin aku dan Ibu tidak ada di hidup kalian kan?"


"Ndi-"


"Aku bilang jangan panggil lagi nama itu!" teriak Ayu.


"Kalau memang kamu ke sini cuman untuk mengingatkan lagi kenangan pahit itu, lebih baik kamu pergi saja dari rumahku, jangan lagi kalian menemuiku"


"Tapi Dek-"


"Hidupku sudah baik-baik saja tanpa kalian, Aku mohon jangan ganggu hidupku lagi" Ayu menangkup kedua tangannya di depan dada, tapan memohon dengan lelahan air mata yang membanjiri wajah sang adik, semakin menghancurkan hari Ansel.


Ansel diam, dia menundukan kepalanya, hatinya hancur mendengar segala kenyataan yang baru saja ia dengar dari mulut sang adik.


Di tambah dengan sikap Ayu yang menolaknya dengan sangat keras, dia seakan sudah membangun benteng pembatas untuk dirinya.


Ayu beranjak pergi, meninggalkan Ansel dengan segala perasaan yang sekarang terasa menghujam jantungnya.


Riska yang berada di dapur, mendengar dengan jelas apa yang di bicarakan oleh kedua kakak beradik yang baru saja bertemu itu.


Dia merasa semakin prihatin dengan kehidupan sang bos yang sangat miris.


Berjuang sendiri semenjak sang ibu tiada, di khianati oleh suami dan sahabatnya, dan sekarang dia baru tahu kalau selama ini Ayu juga di tinggalkan oleh sang kakak.


Riska mengusap air mata yang ikut mengalir di pipinya.

__ADS_1


Mengambil air mineral untuk ia berikan pada lelaki yang ternyata adalah kakak dari bosnya itu.


"Biar saya saja, sebaiknya kamu tenangkan Ayu saja" Ezra menahan pergerakan Riska yang akan berjalan menghampiri Ansel.


Riska mengangguk, dia menyerahkan botol di tangannya kepada Ezra.


"Mba Ayu, tidak akan mau membuka pintu kalau sedang dalam keadaan kacau, dia akan mengurung diri" ungkap Riska, dia sedikit tau kebiasaan Ayu saat ada masalah.


"Ya sudah, biarkan saja dia menenangkan dirinya sendiri" Ezra melangkah menghampiri sahabatnya.


"Minum dulu" meletakkan botol itu di depan lelaki yang tampak begitu terpukul.


Ansel menatap Ezra dengan mata merahnya, bahkan air di maniknya itu sudah mengalir.


" Zra, ibu gue udah gak ada" lirihnya dengan suara bergetar.


"Apa maksud loe?" tanya Ezra, tidak mengerti.


"Nindi bilang, ibu gue udah gak ada Zra" jelas Ansel.


Ezra terkejut, ia melihat ke arah Riska dengan tatapan bertanya.


Riska mengangguk sebagai tanda kalau yang di katakan Ayu benar adanya.


Ezra menepuk-nepuk punggung Ansel, berusaha menguatkan sahabatnya itu.


"Dia benci banget sama gue Zra, dia gak mau ketemu sama gue" lagi, mulut bergetar itu berucap putus asa.


"Dia hanya sedang terkejut dan mungkin sedikit kecewa. Sabar, sekarang kamu harus sabar menghadapinya, dia sedang tidak baik-baik saja sekarang, dia baru di khianati oleh orang-orang terdekatnya" jelas Ezra.


"Lebih baik, biarkan dulu Ayu menenangkan perasaannya, kalau sudah lebih baik baru kamu temui dia lagi" saran Ezra.


"Dia salah paham, dia bilang aku ninggalin dia Zra, padahal kebenarannya kan gak kaya gitu. loe juga tau kan?" tanya Ansel, saat ini dirinya sedang ketakutan, takut akan kehilangan sang adik kembali.


"Itu hanya salah paham kan, dia kan masih kecil waktu kalian berpisah, pasti dia gak tau apa-apa tentang apa yang sudah kamu dan ayah kamu alami, dulu"


Ezra tau semuanya, dia adalah saksi hidup dari kehidupan seorang Ansel.


Dia tau semua perjuangan Ansel untuk bisa mencari sang adik agar bisa bertemu lagi dengan putri kecilnya itu.


Selama ini Ezra yang membantu Ansel mencari adiknya dengan hanya bermodalkan sketsa wajah Ayu waktu kecil.


Tak ada kenangan apapun yang bisa di gunakan untuk mencari selain ingtan Ansel sendiri.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Sambil nungguin aku up lagi, yuk baca novel karya teman aku AG sweety yang berjudul Metamorfosa Rasa.


Ceritanya keren loh, ini lanjutan dari novel 'Simple is perfect ' yuk pada baca ya...


Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, dan votenya ya..


Hadiah juga akan di terima dengan senang hati..❤

__ADS_1


Terima kasih kakak-kakak yang baik hati...🙏😊🥰



__ADS_2