Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.294 Kain lap


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Kenan menggaruk tengkuknya, dengan senyum lebar hingga menampilkan barisan gigi putihnya.


Astaga, gara-gara tukang jagal aku yang jadi serba salah, batin Keenan.


"Iโ€“itu, hukuman ... hukuman, kamu buat pelakor tadi bagus juga," jawab Keenan.


Namun, seketika saat dia langsung menutup matanya erat, menyesal dengan perkataannya sendiri.


Aduh, kenapa kata itu yang keluar sih? batin Keenan, menyalahkan diri sendiri.


Riska pun tersenyum, dia hanya mengacungkan jempolnya dan kembali sibuk dengan tontonannya.


Keenan pun akhirnya memilih beranjak dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.


"Eh, kamu bukannya belum siapin makan malam buat Keenan?" tanya Ibu, yang melihat Keenan masuk ke dapur.


Rika langsung melebarkan matanya, mengingat itu semua. "Akh iya, aku lupa."


Riska segera berdiri dan berjalan ke dapur, menyusul Keenan. Sedangkan Ibu hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat sang anak yang masih saja suka teledor.


"Abang, mau makan malam?" tanya Riska, saat melihat Keenan sedang duduk di meja makan sambil meminum air putih.


Keenan melirik meja makan di depannya, di sana sudah ada masakan sederhana.


"Boleh," jawab Keenan.


"Ya udah, aku angetin dulu ya masakannya," ujar Riska, hendak mengambil mangkuk di atas meja.


Namun, Keenan menahan tangan Riska, "Gak usaha, gini aja juga enak kok."


"Tapi, ini udah dingin, Bang," ujar Riska.


"Gak apa-apa, kan nasinya masih panas," ujar Keenan.


Keenan tau kalau nasinya masih berada di dalam penanak nasi elektrik, hingga sepanjang hati akan selalu panas.


"Ya udah deh, aku ambil nasinya dulu ya, Bang," ujar Riska.


Wanita itu berjalan untuk mengambil piring dan nasi, setelah mendapatkan anggukkan dari sang suami.

__ADS_1


Keenan tau itu adalah makan istrinya tadi sore sebelum dia pulang. Akan tetapi, karena drama setelah mandi dan kedatangan Alvin, kini masakan itu sudah dingin.


Laki-laki itu tidak mau lagi membuat repot istrinya, hanya gara-gara sebuah masakan. Apalagi sekarang Riska sedang hamil muda, dia tidak mau kalau sampai istrinya itu terlalu cape.


Dengan telaten Riska menyiapkan hidangan untuk suaminya, dia juga mengisi kembali gelas milik Keenan yang udah kosong.


"Maaf ya, Bang. Masakannya jadi udah dingin," ujar Riska, sambil duduk di depan Keenan.


"Gak apa-apa, walaupun udah dingin, tapi, kalau ini masakan kamu pasti rasanya tetap enak," ujar Keenan sebelum mulai menyuapkan nasi di depannya.


"Tuh kan, masih enak. Istri aku ini memang pintar masak," sambung Keenan lagi, setelah menghabiskan satu sendok nasi dan lauk di mulutnya.


Riska tersipu mendengar pujian dari suaminya, semua masakan ini memang dirinya hang memasak, mengingat Ibu dan Rio sudah makan bakso sore tadi.


"Kamu, gak ikut makan?" tanya Keenan, menatap wajah Riska penuh tanya.


"Aku tadi sore udah jajan bakso, terus tadi waktu nungguin, Abang, mandi ... aku juga makan kue dari Mba Ayu, sampai habis dua potong. Jadi sampe sekarang masih kenyang," jawab Riska.


"Oh gitu, ya udah. Kalau minum susunya udah belum?" tanya Keenan lagi.


"Belum," geleng Riska, sambil sedikit menundukkan kepalanya.


Keenan yang melihat semua itu mengerutkan keningnya. "Ada apa, hem? Apa kamu tidak suka dengan rasa susu yang itu? Nanti biar aku gantung lagi."


"Enggak, bukan itu, Bang," geleng Riska.


"Aku mau susunya dibikinin sama, Abang," ujar Riska sambil menundukkan kepala semakin dalam.


Keenan tersenyum, dia tau kalau istrinya malu atau bahkan tidak enak padanya, saat mengatakan permintaan sederhana itu.


"Oke, kalau gitu nanti setelah makan aku langsung bikini susu buat kamu sama anak kita," jawab Keenan, sambil mengelus perut datar istrinya.


Riska mengangkat kepalanya, dia menatap wajah Keenan dengan mata yang berkaca-kaca, ada rasa senang dang haru, saat suaminya mau mengabulkan permintaannya.


"Beneran?" tanya Riska, dengan wajah menimbulkan semburat kemerahan.


"Iya, nanti aku bikinkan. Atau mau sekarang?" tanya Keena.


"Enggak, nanti aja kalau, Abang, udah makan," ujar Riska dengan wajah kembali ceria.


Ibu hamil emang ajaib ya. Tadi waktu nonton televisi udah kayak mau makan orang, barusan mau nangis, eh sekarang malah senyum ceria, batin Keenan, merasa takjub dengan berbagai perubahan ekspresi wajah dan perasaan istrinya.


Ini sih, ngalahin pemain sinetron. Jago banget berganti-ganti peran dan suasana hati gitu, batin Keenan.

__ADS_1


Setelah menghabiskan makan malamnya, Keenan langsung beranjak untuk membuatkan susu untuk istrinya. Sedangkan Riska memilih untuk membereskan meja makan dan mencuci piring dan gelas bekas suaminya makan.


Keenan lebih dulu membaca cara menyajikan susu untuk ibu hamil itu, selama hidupnya dia belum pernah membuat susu untuk perempuan lain, kecuali untuk Naura.


Itu pun, terkadang sudah disiapkan takaranannya oleh Bi Yati, dia hanya tinggal menyeduahnya saja menggunakan air hangat.


Setelah memahami betul takaran yang pas, Keenan mulai membuka susu hamil milik istrinya, lalu mulai menyendok bubuk susu itu.


"Eh, airnya dulu, Bang. Jangan susunya dulu," cegah Riska.


Keenan yang sudah sedikit lagi akan menumpahkan bubuk susu itu di dalam gelas pun, menghentikan pergerakannya dan mengembalikannya lagi ke dalam kemasan.


"Salah ya?" tanya Keenan, sambil meringis.


"Iya, harusnya air hangatnya dulu. Baru nanti bubuk susunya terakhir," ujar Riska, sambil menyiapkan air hangat ke dalam gelas.


"Nah, sekarang tuangkan susunya," perintah Riska.


Keenan pun mengambil beberapa sendok susu dan memasukannya ke dalam gelas, dia kemudian mengadukan searah jarum jam.


Riska yang melihat Keenan begitu hati-hati, hanya bisa mengulum senyumnya. Menurutnya ekspresi fokus dan penuh konsentrasi suaminya, membuat ketahanan Keenan bertambah berkali-kali lipat.


"Sudah deh! Ayo, sekarang cuma kamu minum, sayang," ujar Keenan memindahkan gelas di depannya pada Riska.


Riska melihat banyaknya tumpahan susu bubuk maupun yang sudah tercampur air di atas meja, dia hanya bisa menghela napas pelan.


Beginilah, kalau istri minta bantuan suami. Bukannya beres, tapi, malah nambah kerjaan. Dek, kenapa kamu pake mau minum susu buatan papah segala sih? batin Riska.


Keenan yang melihat arah pandangan istrinya tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya. "Maaf, sayang. Aku udah lupa gimana caranya bikin susu begini."


"Sebentar, biar aku bereskan," sambung Keenan lagi, sambil hendak berjalan mengambil kain lap.


Riska hanya mengangguk sambil melihat apa yang dilakukan oleh suaminya. Akan tetapi, setelah dia melihat Keenan kembali, dia hampir saja tersedak, karena melihat apa yang dibawa oleh suaminya itu.


"Bang, itu kan lap buat di lantai," ujar Riska.


"Hah?! Aku kira semua kain lap sama saja," jawab Keenan, dengan wajah terkejutnya.


Astaga, nih laki emang beneran sultan, sampe gak bisa bedain kain lap, batin Riska.


...๐ŸŒฟ...


Astaga Bang Ken๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

__ADS_1


...๐ŸŒฟ...


...Bersambung...


__ADS_2