Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.271 Hilang Kesadaran


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Apa yang sudah mereka lakukan padamu, sayang?" tanya Keenan lagi.


"A–aku ... mereka, dia, dia." Riska tampak gugup, dengan air mata semakin berurai.


Keenan merengkuh tubuh lemah Riska dan berusaha memberikan ketenangan pada sang istri. Dia merasakan tubuh istrinya bergetar, menahan rasa takut.


"Sudah, sayang. Tidak usah dijawab, jika kamu tidak bisa. Aku tidak peduli, apa yang mereka lakukan padamu. Yang penting sekarang kamu sudah ada di sini lagi, bersamaku," ujar Keenan, lirih.


Riska menggeleng, matanya pun bergetar mengedar ke sembarang arah, mengingat setiap kejadian yang telah Toni lakukan padanya.


"Tidak, aku ... aku." Riska semakin mengeratkan pelukannya pada Keenan, hingga tidak lama kegelapan merenggut kesadarannya.


Keenan melebarkan matanya, saat merasakan tubuh Riska yang melemah. Dia pun mengurai pelukannya perlahan.


"Sayang, sayang! Kamu kenapa? Jangan membuat aku khawatir, ayo buka matamu," panik Keenan, sedikit menggunncang tubuh istrinya.


Keenan membuka kaca jendela mobil, lalu memanggil Alvin.


.


Alvin sedang menerima telepon dari salah satu anak buahnya, yang bergabung dengan Ezra.


Dia menerima kabar, bahwa semuanya sudah selesai, dia diperintahkan untuk memanggil polisi, dan menyusul mereka masuk ke dalam rumah tersebut.


Dia pun langsung menyetujui dan menutup teleponnya, saat melihat Keenan membuka kaca jendela mobilnya. Berjalan cepat menghampiri keberadaan adik dari bosnya itu.


Matanya melebar, saat melihat Riska sudah tidak sadarkan diri di atas pangkuan Keenan.


"Tolong suruh salah satu di antara mereka untuk mengantarkan kami ke rumah sakit terdekat," ujar Keenan, dengan nada suara panik.


"Baik, Pak," jawab Alvin, segera.


Dia hendak berbalik dan memanggil salah satu anak buahnya. Akan tetapi, suara Keenan kembali menghentikan langkahnya.


"Tunggu. Jangan bilang Kak Ezra, kalau Riska tidak sadarkan diri. Aku tidak mau dia akan khawatir," ujar Keenan lagi.

__ADS_1


Alvin sedikit termenung, dia berpikir sebentar sebelum kemudian mengangguk.


Dia pun akhirnya memerintahkan salah satu anak buahnya untuk mengantarkan Riska dan Keenan ke rumah sakit terdekat.


Alvin baru pergi setelah melihat mobil yang membawa Keenan sudah menjauh darinya.


.


.


Ezra mengehembuskan napasnya kasar, sambil menegakkan kembali tubuhnya, setelah melakukan pertarungan yang cukup memakan waktu, dengan beberapa orang laki-laki yang terlibat pada penculikan Riska.


Dia mengedarkan pandangannya, melihat banyaknya orang yang sudah mengalami luka-luka. Para anak buahnya, kini sedang menangkap satu per satu musuh mereka dan menjaganya agar tidak melepaskan diri.


Pandangannya kini teralihkan pada seseorang, yang menjadi salah satu dalang di dalam kejadian ini.


Ya, dia adalah Toni. Laki-laki itu tampak terlihat parah, karena Ezra benar-benar tidak memberinya ampun.


"Pak, sebentar lagi polisi akan datang," ujar Alvin yang baru saja datang.


Dia pun ikut mengedarkan pandangannya, melihat suasana halaman belakang yang sudah beralih seperti sebuah pengungsi bencana, karena banyaknya orang yang terluka.


"Kamu tau di mana Keenan dan Riska?" tanya, melirik wajah Alvin sekilas, dengan tatapan yang tidak terbaca.


Masih ada yang terasa mengganjal di dalam hatinya, saat dia belum menerima kepastian tentang keberadaan dua orang itu.


"Pak Keenan dan Bu Riska, sudah kembali ke bawah, menggunakan salah satu mobil, untuk memeriksakan luka yang diderita oleh Bu Riska," jelas Alvin.


Ezra langsung mengalihkan tayapannya pada asistennya itu, ada rasa senang di dalam hatinya karena Keenan berhasil menemukan Riska.


Namun, ada rasa khawatir, mengingat datang yang bececeran di kamar tempat penyekapan adik iparnya itu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Ezra, masih dengan wajah hang datar, walau di dalam matanya tersirat kekhawatiran.


"Ada beberapa luka goresan di tangan juga kakinya. Tapi, sepertinya selebihnya Bu Riska baik-baik saja, Pak." Alvin kembali menjelaskan yang terjadi di mobil, sebelum dirinya pergi mengusulkan Ezra.


Ezra menganguk. " Baguslah. Akhirnya, kita bisa menyelamatkan Riska, dari orang-orang gila seperti mereka."


Kini tatapan tajam itu, kembali menghunus tubuh penuh luka Toni. Dia berjalan mendekati laki-laki yang dipenuhi oleh cinta buta itu.

__ADS_1


Toni membalas tatapan Ezra, dengan penuh kebencian. Tubuhnya yang sudah lemah dan tidak bertenaga, ternyata tidak menyurutkan rasa cinta buta do dalam dirinya.


Di dalam hati, dia menyalahkan Ezra dan Keenan dengan semua yang sudah terjadi padanya saat ini. Hingga kini, api kebencian dan dendam pada dua orang itu mulai tumbuh dihatinya, karena menganggap mereka adalah batu sandungan untuknya mendapatkan Riska.


Ezra berjongkok di depan Toni, doa menumpukan salah satu tangannya di lutut, sedangkan lutut satunya lagi dia letakan di tanah, sebagai penyangga tubuhnya.


"Kamu salah memilih lawan, karena kami tidak akan melepaskan orang yang telah mengusik ketenangan keluarga dan orang-orang yang aku sayangi," ujar Ezra, dengan seringai di wajahnya.


Toni mengeraskan rahang, mendengar perkataan dari Ezra. Mata merahnya menatap penuh amarah pada Ezra.


"Kamu pikir, kamu sudah menang? Hahaha! Asal kamu tau ... aku tidak akan melepaskan Riska untuk siapapun, termasuk adikmu itu," ujar Toni, sambil tersenyum penuh ejekan pada Ezra dan Keenan.


"Kalau aku tidak bisa melepaskan Riska dari hidupku. Bila aku tidak bisa memilikiny ... maka, tidak ada yang boleh untuk memilikinya," ujarnya lagi, sengaja kekehan kecil mengiringi perkataan penuh obsesinya.


"Sialaan! Dasar laki-laki gila!"


Ezra hampir saja kehilangan kendali, saat mendengar perkataan Toni. Dia mengenal tangannya begitu erat, hingga urat di sekitarnya tampak menonjol. Tubuhnya bergetar menahan gejolak dorongan rasa tidak terima, dengan ucapan laki-laki di hadapannya.


Untung saja, kedatangan mobil polisi membuat Ezra, berhasil untuk menahan amarahnya. Dia tersenyum miring, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya, mendekat pada Toni.


"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang di mata hukum dan dunia. Aku ... seorang kakak yang berjuang untuk kebahagiaan adiknya," ujar Ezra, menujuk dirinya sendiri dengan mata masih mengadu kekuatan dengan Toni. Dia kemudian beralih menjadi menunjuk laki-laki di depannya.


"Atau, kamu ... Laki-laki yang tergila-gila karena cinta."


Ezra kembali berdiri dengan mata bertaut pada Toni. Dia pun tersenyum tipis, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menjauh dari Toni.


Setidaknya Keenan, tidak akan melihat ruangan itu. Jika dia pergi terlebih dahulu. Ezra bergumam di salam hati.


Ya, awalnya dia sedikit takut, adiknya itu akan melihat semua foto Aluna dan dirinya yang tersusun rapi, dia sebuah kamar.


Mungkin saja, semua itu bisa membangkitkan lagi, luka lama yang sudah hampir sembuh dan mengering, semenjak kedatangan Riska.


Ezra tidak mau kalau sampai Keenan kembali terpuruk atau mungkin gamang, karena melihat semua kenanganannya lagi. Walaupun begitu, mungkin dia juga tidak mau menyembunyikannya.


Setelah menyapa beberapa anggota polisi yang hadir, Ezra pun menyerahkan semua sisa pekerjaan di sana, kepada Alvin. Sedangkan, dirinya sendiri memilih untuk menyusul keberadaan adiknya.


...🌿...


Gimana ya, kondisi Riska sebenarnya? Komen👍

__ADS_1


...🌿...


__ADS_2