
...Happy Reading...
...❤...
Pagi menjelang, Riska menggeliatkan tubuhnya yang terasa remuk redam bekas dari pergelutannya tadi malam. Matanya mengerjap, menyesuaikan cahaya yang mulai masuk menuju kornea.
"Selamat pagi, sayang."
Riska langsung memaksa matanya untuk terbuka lebar, demi melihat seseorang yang selama ini selalu bangun lebih siang darinya.
Keenan, tersenyum hangat, dengan kepala bersandar di salah satu tangannya. Matanya tak henti memperhatikan istrinya yang kini sedang menatapnya tak percaya.
"Abang, sudah bangun?" tanya Riska dengan suara parau khas bangun tidur.
Keenan mengangguk samar, tangannya menyingkirkan anak rambut yang menghalangi sebagian wajah istrnya.
Riska tak bergerak, dia hanya terus menatap wajah suaminya, yang terlihat begitu berbeda di matanya.
'Kenapa dia terlihat lebih tampan dari sebelumnya?' gumam hati Riska.
"Pagiku terasa sempurna kalau aku bangun di sebelahmu, sayang. I love you." Keenan berucap sebelum mengecup kening Riska lama.
Riska menutup matanya, merasakan kehangatan dari bibir suaminya.
"I love you too," jawab Riska dengan senyum manisnya.
Keenan merapatkan tubuh keduanya, dia memeluk Riska begitu erat dengan kecupan berulang di kening juga pipi istrinya.
Riska tersenyum, dia membiarkan Keenan melakukan semua keinginannya, walau dalam hati dia merasa aneh dengan tingkah suaminya itu.
'Kenapa dia jadi romantis kayak gini ya? Udah kaya drama korea yang aku lihat aja' gumam Riska dalam hati.
"Bang, udah dulu ya ... aku mau mandi, nanti kita terlambat waktu subuh," ujar Riska.
Dengan malas, Keenan melepaskan tubuh isrinya itu, dengan senyum misterius di wajahnya.
"Biar cepet, kita mandi bersama," ujar Keenan, sambil merengkuh tubuh istrinya.
Riska melebarkan matanya, dia yakin kalau mereka mandi bersama bukannya cepat, malah nanti semakin lama.
"Ehh, gak usah. Aku mandinya cepet kok, kita mandi masing-masing aja ya," ujar Riska, berusaha turun dari tubuh Keenan, yang menggendongnya seperti anak koala.
"Jangan banyak bergerak, sayang. Nanti kita beneran lama di kamar mandi." Keenan, sedikit memberikan ancaman agar Riska diam.
Benar saja, istrinya itu, langsung diam tanpa bisa berkata ataupun bergerak lagi.
__ADS_1
.
.
Di tempat lain, lebih tepatnya di rumah besar Ezra dan Ayu. Kini perempuan dua anak itu, sedang sibuk di dapur, menyiapkan sarapan bagi anak dan suaminya.
Dia yang memang sudah terbiasa menyiapkan segala sesuatu keperluan anak dan suaminya, tak bisa menghilangkan kebiasaan itu, walau kini sudah ada Zain di antara mereka.
Ezra dan Nawang bahkan sudah berkali-kali menyuruh Ayu untuk lebih fokus mengurus Zain dan istirahat yang cukup. Akan tetapi, semua itu dianggap bagaikan angin lalu bagi Ayu, yang pada dasarnya memang tak bisa diam.
"Bi Yati, tolong minta salah satu pelayan bereskan ini semua ya, dan taruh di meja makan," ujar Ayu, setelah dia menyelesaikan menu sarapan hari ini.
"Bibi, nanti tolong siapkan perlengkapan mandi untuk Zain, aku mau lihat Naura dulu," sambung Ayu lagi.
"Iya, Bu."
Ayu tersenyum, sebelum meninggalkan Bi Yati di dapur. Dia berjalan menuju pintu lift untuk naik ke lantai dua rumahnya.
Ayu lebih dulu melihat kamar Naura, untuk mencari keberadaan anak sambungnya itu.
"Kak Rara, Kak Rara." Ayu mencoba memanggil Naura sambil mencari di sekitar kamar dengan nuansa pink itu. Akan tetapi, dia tak menemukan keberadaan gadis kecilnya itu.
"Ke mana, Naura? Apa dia ke kamar ya?" tanya Ayu, lebih pada dirinya sendiri.
Dia pun keluar dan berjalan menuju kamarnya, mengetuk pintu perlahan, sebelum membukanya.
Ya, setelah Ezra menunaikan sholat subuh, Zain selalu dibawa ke kamar mereka dan di jaga oleh Ezra, sedangkan Ayu menyiapkan sarapan, setelah sebelumnya memberikan ASI untuk Zain.
"Iya, Mah. Aku mau bantu, Papah, jagain, Baby Zain." Naura menjawab, dari tempatnya duduk di sebelah Zain.
Ezra tersenyum, melihat sang istri masuk ke dalam kamar. Dia pun beranjak dari tempatnya duduk, agar Ayu bisa menempatinya.
"Pintarnya ... Cantiknya Mama, udah bisa jaga Baby Zain sekarang," puji Ayu, sambil mengusap puncak kepala Naura.
"Terima kasih, sayang. Sudah bantuin Mama jaga Baby Zain," imbuhnya, dengan senyum mengembang.
Naura tersenyum bangga, dia menganggukkan kepala sebagai jawaban dari perkataan Ayu.
"Sekarang, Kak Rara, mandi dulu ya, nanti kita sarapan bersama. Baby Zainnya juga mau mandi dulu," ujar Ayu, dengan lembut.
"Ayo, biar Papah yang temani Kak Rara," ajak Ezra, sambil berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantu Naura turun dari tempat tidur.
"Asik, di temenin, Papah!" senang Naura, langsung menyambut tangan Ezra dengan semangat.
Hanya di saat akhir pekan seperti ini, Ezra bisa menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga sepanjang hari, itu pun kadang masih terpotong, bila tiba-tiba ada temannya atau sesama pebisnis yang menghubungi Ezra langsung, untuk meminta saran untuk modifikasi mobil mereka.
Maka dari itu, setiap akhir pekan, Ezra menyempatkan diri untuk membagi semua kasih sayangnya untuk keluarga, terutama Naura.
__ADS_1
Ya, anak pertamanya itu, memang sedang membutuhkan perhatian lebih. Perubahan waktu Ayu yang sekarang harus memperhatikan Zain juga. Itu semua sedikit banyak, memengaruhi Naura dari segi mentalnya, dan Ezra tidak mau itu semua sampai terjadi.
"Gendong!" ujar Naura manja, sambil merentangkan tangannya.
Ezra terkekeh, dia pun mengangkat Naura dalam pelukannya.
"Uh, anak Papah, kok semakin berat ya," ujar Ezra, sambil mengangkat anaknya.
"Mama, aku ke kamar dulu ya," pamit Naura, setelah berada dalam gendongan sang ayah, dia melingkarkan tangannya di tengkuk Ezra.
Ayu mengangguk sambil tersenyum hangat. Dia melihat anak dan suaminya keluar dari kamar.
Dia pun akhirnya membawa Zain ke kamar bayi yang masih bisa terkoneksi dari dalam. Di sana sudah ada Bi Yati yang sedang menunggu kedatangan majikannya itu.
"Sudah siap, Bi?" tanya Ayu, sambil membaringkan Zain di atas tempat khusus untuk Ayu mengganti baju atau pokok anaknya.
"Sudah, Bu. Semuanya sudah siap," ujar Bi Yati, dia kemudian membantu Ayu, yang sedang membuka baju Baby Zain.
.
Di kamar Naura, gadis kecil itu, sedang dibantu untuk memakai baju oleh Ezra. Setelah beberapa saat yang lalu dia mandi sendiri.
"Pah, kenapa sekarang Mama lebih sering sama Baby Zain, dari pada sama aku?" tanya Naura lirih.
Ezra mengeryit mendengar pertanyaan anak sulungnya itu, apa lagi dengan perubahan raut wajah Naura yang terlihat murung.
"Kenapa, Kak Rara, tanya begitu, sayang? Coba sini, cerita sama, Papah," ujar Ezra, sambil duduk dan membawa Naura di pangkuannya.
Gadis kecil itu tampak menunduk, dia kemudian melihat wajah Ezra dengan sendu.
"Kata orang, kalau Mama udah punya dede baru, Mama pasti gak sayang lagi sama aku. Apa itu benar, Pah?" tanya Naura, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ezra mengepalkan tangannya, mendengar perkataan dari anaknya. Siapa yang tega berbicara seperti itu pada anak kecil seperti Naura.
'Sialan! Siapa yang berani berbicara seperti itu pada pitriku?'
"Siapa yang bilang begitu, sayang?" tanya Ezra, tanpa mau menjawab terlebih dahulu pertanyaan anaknya.
"Eum, itu–" Naura tampak ragu untuk menyebutkan nama orang yang berkata seperti itu padanya.
Ezra menghirup napas dalam, lalu membuangnya, sebelum menjelaskan pada sang anak. Dia bisa melihat, ada ketakutan di dalam mata anaknya, saat dia menanyakan nama orang itu.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1