Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.146 Digrebek


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Dag ... dag ... dag ....


Suara gedoran di luar mobil, mengganggu sepasang anak manusia yang sedang tertidur lelap.


Kelopak mata itu mengerjap menyesuaikan sinar yang masuk ke dalam kornea, mereka belum sepenuhnya sadar dengan apa yang sedang terjadi di luar sana.


Dag ... dag ... dag ....


"Keluar! Kalian jangan berbuat mesum di sini!"


Riska dan Keenan yang baru saja membuka mata, saling pandang dengan wajah bingung dan terkejut.


"Ada apa ini, Bang?" tanya Riska dengan wajah merah dan pupil mata bergoyang cepat, resah dan takut terlihat jelas di wajah gadis itu.


"Aku juga gak tau, Ris!" jawab Keenan, sambil melihat sekeliling mobil yang kini sudah banyak orang.


Keenan mengangkat kedua tangannya, dia membuka sedikit kaca mobil untuk berbicara dengan orang uang berada di luar.


"Kami akan ke luar, tapi tolong biarkan kami menjelaskan lebih dulu!" ujar Keenan dengan suara yang cukup tinggi, agar bisa terdengar oleh orang di luar mobilnya.


"Bang, aku takut! Gimana kalau nanti mereka main kasar?" ujar Riska, tanpa sadar dia memegang tangan Keenan dengan begitu erat.


"Kamu tenang dulu, biar aku yang keluar, kamu tunggu di sini aja," ujar Keenan, ikut menangkup tangan Riska untuk sedikit memberikan rasa tenang bagi gadis itu.


"Tapi, kalau Abang di keroyok gimana?" Riska malah semakin resah.


Terang saja semua gerak-gerik keduanya membuat pikiran orang yang berada di luar semakin curiga akan hubungan Keenan dan Riska.


"Aku masih bisa menghadapi mereka, percaya sama aku ya," ujar Keenan.


Dag ... dag ... dag ....


"Woy! Buruan keluar, atau kita hancurkan ini mobil!" teriak salah seorang lelaki yang terlihat tidak sabar.


"Kamu kunci lagi pintu mobil, begitu aku keluar, jangan pernah buka kalau bukan aku yang menyuruhnya, oke?" perintah Keenan, sebelum keluar.


Riska mengangguk samar, dengan mata yang mulai merah. "Hati-hati," ujarnya sambil mulai melepaskan gengaman tangannya dengan tangan Keenan.


Dia langsung menekan tombol kunci pintu saat Keenan sudah benar-benar keluar. Jantungnya berdetak tak menentu, rasa takut, khawatir juga gelisah kini membuat dirinya merasa tidak nyaman sama sekali. Mau keluar takut, diam saja juga dia gelisah tak menentu.


Keenan mengangkat kedua tangannya di samping kepala, menatap orang-orang yang kini melihatnya dengan tatapan tertuduh.


"Ini dia orang yang udah berbuat zina di tempat kita!" Suara sumbang penuh tuduhan itu terdengar mempropokasi seluruh orang yang ada di sana.


"Tidak! Saya tidak berbuat apa pun dengan dia di sini!" jawab Keenan membantah tuduhan tak beralasan itu.

__ADS_1


"Halah, orang salah mana mau ngaku! Sudah kita hukum saja mereka berdua!" Teriakan yang semakin membuat Keenan tersudut kembali terdengar.


"Iya, benar. Kita harus menghukum mereka karena sudah mengotori tempat kita!" seruan dari orang yang merupakan warga setempat semakin menyulut emosi.


"Saya bisa jelaskan semuanya, kami tidak melakukan apa pun. Saya hanya beristirahat karena mobil saya mogok," jelas Keenan, masih berusaha bersabar, walau banyak di antara orang di depannya memojokannya.


"Sudah, lebih baik kita bawa saja mereka pada kepala desa, biar dia yang memutuskan," seseorang yang lainberusaha ikut melerai kericuhan itu.


"Bila kamu memang tidak merasa bersalah, saya harap kamu mau ikut bersama kami ke rumah pak kepala desa," ujar lelaki yang tadi berbicara.


Keenan tampak melihat wajah seluruh warga yang terlihat dipenuhi emosi. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya dia mengangguk, menyetujui usulan seorang lelaki paruh baya di depannya.


"Tapi, saya mohon anda bisa menjamin keselamatan kami berdua, gadis di dalam itu sangat ketakutan, bolehkah kami tidak dipisahkan agar dia tidak terlalu khawatir?" ujar Keenan, ujung matanya menatap ke dalam mobil.


"Baiklah, saya akan menjamin keselamatan kalian," lelaki paruh baya itu tampak mengangguk.


Sebenarnya Keenan merasa sedikit ganjil dengan kedatangan para warga ini, sedangkan semalam dia tak melihat ada satupun rumah warga di sekitar sini. Akan tetapi, sekarang dia tidak punya pilihan, dia juga merasa tidak sanggup bila harus menghadapi begitu banyak orang seorang diri, di tambah dia tidak membawa senjata sedikit pun.


Keenan berbalik laku memberi kode pada Riska untuk membuka kunci pintu mobil. Riska yang melihat itu langsung mencondogkan tubuhnya, untuk membuka pintu mobil.


"Ayo keluar, kita akan dibawa menuju rumah kepala desa," ujar Keenan.


"Mau ngapain? Kita kan gak ngapa-ngapain," tanya Riska.


"Lebih baik kita ikuti saja mereka, dari pada nanti terjadi apa-apa. Aku yakin mereka hanya sedang salah paham," jelas Keenan.


Riska menatap Keenan, dia begitu takut melihat sekumpulan warga di luar mobil, berbagai pikiran buruk pun terlintas di kepala, hingga membuatnya ragu untuk iku Keenan.


Dengan sedikit ragu, Riska keluar dengan berpegang erat pada lengan Keenan. Keduanya kini berjalan di tengah-tengah kerumunan warga, menuju sebuah perkampungan yang ternyata berada di daerah pedalaman yang terletak cukup jauh dari jalan raya.


Butuh waktu sekitar dua puluh menit berjalan kaki dari mobil Keenan terparkir, untuk sampai di rumah kepala desa. Untung saja kondisi jalan sudah bagus walau sangat kecil, mungkin hanya cukup untuk sepeda motor.


Walau begitu, Riska terkadang harus berhati-hati saat mendapati jalan yang menurun atau menanjak yang lumayan tajam, hingga harus berpegang pada Keenan, karena jalanan cor atau aspal itu sudah terkikis di beberapa bagian hingga yang tersisa hanya seperti susunan batu dan kerikil juga pasir untuk meratakannya.


Beberapa saat kemudian Keduanya kini sudah berada di sebuah bangunan seperti pendopo besar tanpa ada penghalang di sisinya, para warga menyebutnya sebagai balai pertemuan.


Di depan mereka ada beberapa ornag petua desa yang terlihat sedang meneliti penampilan Riska dan juga Keenan. Sepasang muda mudi yang menjadi tersangka dalam penggrebekan di jalan raya, dengan tuduhan perbuatan zina di dalam mobil.


Riska menunduk dalam, dengan tangan tak lepas dari Keenan, sedangkan Keenan berusaha tetap tenang, menatap tiga ornag yang sepertinya dihormati itu dengan pandangan sopan.


"Kalian harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kalian lakukan di daerah kami." Seorang lelaki paruh baya terdengar mulai angkat bicara.


Keenan mengalihkan pandangannya pada lelaki yang sepertinya lebih tuan dari usia ayahnya itu.


"Pak, kami tidak melakukan apa pun. Mobil saya mogok, dia datang untuk membantu saya, tapi, motornya malah hilang, jadi kami memutuskan untuk beristirahat di dalam mobil, sambil menunggu pagi," jelas Keenan dengan tutur kata dan gerakan yang begitu sopan.


Ketiga lelaki di depan Keenan kini saling pandang, setelah mendengar penjelasan dari Keenan.


Sedangkan Riska bahkan tak mampu mengangkat kepalanya, mengingat di sekitarnya terdapat banyak orang yang menjadikan dia dan Keenan sebagai tontonan. Itu terasa begitu memalukan hingga rasanya dia ingin menghilang saja dari sana saat ini juga.


'Kalau saja aku punya jurus menghilang seperti di film-film kolosal atau kartun,' gumamnya dalam hati, dengan mata menutup rapat.

__ADS_1


Bisik-bisik dari para warga yang berkumpul terdengar begitu riuh, ada yang menghujat, mencibir, tapi ada juga yang mengagumi ketampanan Keenan.


'Ish, dasar emak-emak rumpi, sama cewek ganjen!' kesal Riska.


"Demi menghindari musibah di kampung kami, terpaksa kami harus menikahkan kalian berdua di sini."


"Apa?!" pekik Keenan dan Riska bersamaan, Mereka menatap ketiga lelaki paruh baya di depannya dengan mata melebar.


Jelas sekali raut wajah terkejut dari pasangan muda mudi itu, keduanya sempat saling pandang lalu sama-sama memalingkan muka.


'Apa ini, kenapa malah jadi begini? Bagaimana kalau Papa, Mama dan Kak Ezra tau? Bisa-bisa aku langsung digorok hidup-hidup, gara-gara menikah karena digrebek warga!' gumam Keenan dalam hati.


'Apa? Gimana bisa aku nikah sama dia, laki-laki paling nyebelin di dunia? Iiih ... gak mau, aku gak mau! Ibu, Rio, Mba Ayu, tolong aku!' Riska bergidik ngeri saat membayangkan harus hidup berdua dengan Keenan.


"Tapi, Pak. Kami benar-benar tidak melakukan apa pun, kami hanya tidur ... tidak lebih," Keenan masih berusaha bernegosiasi.


"Siapa yang bisa menjamin kalau kalian tidak berbuat apa-apa, sedangkan di sana tidak ada kamera pengawas atau apa pun yang mampu menjadi bukti," debat salah satu lelaki paruh baya itu.


Keenan menghembuskan napas kasar, dia membenarkan sebagian perkataan lelaki paruh baya itu, memang tak ada satupun benda yang bisa membuktikan kalau dia tidak bersalah.


"Pak, bolehkah kami berbicara berdua terlebih dahulu?" tanya Keenan hati-hati.


Keduanya beranjak menuju tempat yang lebih sepi untuk berunding, setelah mendapat anggukkan dari warga.


"Bagaimana ini, Bang?" tanya Riska.


"Gimana kalau kita ikuti saja kemauan mereka, dari pada kita gak bisa keluar dari sini," saran Keenan.


"Tapi, Bang,"


"Kita gak punya pilihan lain, Ris!" tekan Keenan.


"Kalau kamu gak suka, aku akan melepaskanmu setelah kita sampai di Jakarta," ujar Keenan lagi.


Dengan berat hati Riska mengangguk, mereka berdua lalu kembali pada tempatnya.


"Baiklah, saya setuju. Tetapi bagaimana dengan keluarga kami, Pak. Apa lagi di dalam pernikahan, Riska membutuhkan seorang wali," Keenan memutuskan, setelah mereka terdiam beberapa saat.


"Kami akan memberikan waktu sampai siang nanti, sambil menunggu pihak KUA datang."


Ucapan santai dari salah satu orang di depan Keenan, membuat mata kedua mata tersangka itu semakin melebar. Ini bukanlah pernikahan main-main, mereka bahkan melibatkan pihak KUA.


'Astaga, ini benar-benar gil*!' umpat Keenan dalam hati.


'Ya ampun, apa ini, kenapa aku bisa terjebak dalam situasi seperti ini? Menikah karena digrebek warga? Ini benar-benar memalukan! Huaaaa ... Aku gak mau kaya gini!'jerit Riska di dalam hati.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2