
...Happy Reading...
...❤...
Beberapa saat yang lalu, Keenan baru saja masuk ke dalam kamar mandi, Dia menatap Riska yang sedang menelepon Ezra, ada rasa kecewa saat gadis yang merupakan istrinya itu, memilih keluar dan menutup pintu kamar mandi.
Tangannya terulur menekan keran air dingin, saat itu juga, tetesan air itu menerpa tubuhnya, mengalirkan rasa dingin di kulit yang sudah memerah.
Ujung matanya tak mengalihkan pandangan pada pintu, yang sudah tertutup rapat. Tersenyum getir dengan pikiran yang berkecamuk, matanya bergetar dengan degup jantung berpacu.
"Apa yang kamu pikirkan, Keen? Dia tidak akan mau mengorbankan dirinya hanya untuk menolongmu," gumamnya merutuki pikirannya sendiri.
Dalam hati Keenan, terus berharap agar Riska mau menolongnya, rasa sakit di dalam tubuh semakin menyiksanya, Keenan memaksa otaknya untuk terus berpikir jernih dan tidak lepas kendali.
Dengan gerakan kasar, Keenan melepas kemeja yaang masih melekat di dalam tubuhnya, kancing itu sampai terlepas dengan baju yang koyaak dan kini teronggok begitu saja di samping kakinya.
"Panas ... panas!" desis Keenan dengan napas memburu, dia mendiongak membiarkan air itu menerpa wajahnya.
Dia bisa saja memanfaatkan Riska untuk melampiaskan semuanya, mengingat mereka sudah menikah secara resmi. Keduanya sudah halal untuk melakukan semua itu.
Namun, tetap saja, dia menahan untuk semua itu. Keenan tahu kalau Riska belum siap menyerahkan diri seutuhnya padanya.
Keenan juga berharap agar mereka berdua bisa melakukan itu, saat dirinya maupun Riska sudah memiliki rasa satu sama lain. Tidak dengan cara seperti ini. Walau dalam hati, dia tetap berharap pada Riska.
"Dia tidak kembali," gumamnya, tersenyum miring saat pintu itu tak juga terbuka.
Hawa panas dan rasa sakit semakin terasa, dia menggeram menahan hasrat yang semakin lama semakin mendesak untuk dilampiaskan.
"Brengsek! Aku tidak akan mengampuni kalian setelah malam ini," desis Keenan, saat mengingat kalau emang yang terjadi padanya saat ini, adalah ulah dari Nella.
Dukh ... Dukh ... dukh ...
Keenan membenturkan kepalanya pada dinding kamar mandi, untuk mengalihkan hasratnya. AKan tetpi, semua itu tak membuat hasratnya sedikit menurun, itu semua hanya semkain membuat tubuhnya melemah.
Air dingin pun tak juga bisa mendinginkan hawa panas itu, jiwanya terasa terbakar oleh hasrat yang tak bisa tersmpaikan. Dia tersiksa, ingin sekali dia meminta, berkata tolong pada istrinya. Hanya saja keberanin dan rasa ragu terus membungkam mulutnya.
"Berapa banyak, wanita murahan itu memberikan obat sialan itu padaku? Kenapa aku tidak bisa meredam efek obatnya?!" ujar Keenan, tangannya mengepal kuat, menahan diri agaar tidak lepas kendali.
__ADS_1
Pembuluh darah di sekujur tubuhnya terlihat menonjol, berekasI atas obat yang sedang bekerja di dalam tubuhnya, mengirimkan rangsangan hingga membuatnya semkain tersisksa. Giginya kini terkatup rapat dengan gesekan di antaranya terdengar bergemelutuk, membuat siapa saja yang mendengarnya akan terasa ngilu.
Bayangan wajah Riska melintas di kepala, saat dia menutup mata, membuatnya langsung membukanya kembali.
Duk!
Suara hataman kepalan tangan kepada tembok terdengar menggema di dalam kamar mandi mewah itu. Saking kencanganya, kini belakang tangan Keenan terlihat membiru.
"Riska, aku membutuhkanmu, aku mohon!" akhirnya kata itu keluar juga, terdengar begitu lirih dari bibir bergetar yang mulai memucat.
Tak ada yang mendengar permintaan lirih Keenan itu, begitu juga Riska. Gadis itu sama sekali tidak mendengar perkataan itu, karena jarak di antara mereka.
Cukup lama dia bertahan di dalam kamar mandi, berharap guyuran air dingin yang menerpa tubuhnya bisa meredam rasa panas itu. Walau dia tahu tubuhnya juga semakin lemah seiring turunnya suhu tubuh akibat air yang terus mengalir di sekujur tubuhya.
Entah berapa lama dia berada di sana, hingga telinganya mendengar suara pintu terbuka, ujung matanya dapat melihat seorang gadis yang kini tengah berdiri menunduk di ujung ruangan sana.
Dinding kaca yang menjadi penghalang terliaht berembun, membuat mata Keenan mau pun Riska tidak bisa melihat dengan jelas.
'Mau apa dia masuk ke sini, tidak taukah kalau kehadirannya semakin membuat aku tersiksa?' gumam hati Keenan.
Dia bisa melihat Riska terdiam sebentar sebelum kemudian perlahan menghampirinya. Keenan semakin menahan dirinya untuk tak melihat gadis itu.
Suara pintu kaca yang terbuka, membuat Keenan mengangkat kepalanya, matanya menatap Riska yang masih memakai gaun yang sama.
Mata keduanya sempat bertaut, menyelami dalamnya perasaan di dalam sana. Walau keduanya tak bisa menemukan kepastian di sana.
Riska melihat manik mata hitam dengan seklera berwarna merah, tampak memancarakaan rasa sakit dan permohonan yang tersembunyi.
Dia langsung memutus lebih dulu tautan mata mereka, sebelum Keenan bisa menyelami ke dalam matanya. Menunduk dalam menyembunyikan rasa gugup yang kini semakin terasa menyesakkan dada.
"Mau apa kamu datang ke mari?" tanya Keenan dengan suara parau.
Deg!
Riska meremas gaunnya, mendengar pertanyaan Keenan. Menelan saliva dengan susah payah, suaranya tercekat di tenggorokan, hingga tak bisa keluar.
"Keluarlah, aku takut tidak bisa menahan diri jika kamu terus berada di sini," ujar Keenan lagi.
"Bang."
__ADS_1
Hanya suara itu yang keluar dari mulut bergetarnya. Kepalanya terangkat demi menatap kembali wajah sayu Keenan.
"Keluar, Riska!"Keenan menggeram, dengan mata menatap tajam Riska.
Riska menggeleng, dia merasa bersalah atas kondisi Keenan saat ini, tangannya terulur menyentuh bahu suaminya itu.
"Riska, aku mohon ... keluarlah!" ujar Keenan lagi. Sentuhan tangan Riska bahunya menimbulkan sensasi berbeda di dalam tubuhnya.
Lelaki itu takut bila nanti dirinya tidak akan bisa menahan dirinya lagi dan menyerang Riska secara tidak sadar.
Riska menggelengkan lepalanya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca, melihat betapa tersiksanya Keenan saat ini, menahan hasrat yang tak bisa tersalurkan.
Padahal bisa saja Keenan melampiaskan semua itu padanya, memaksanyaa untuk memberikan kewajibannya sebagai seorang istri demi menyembuhkan rasa sakit id tubuhnya.
Namun, Keenan tidak begitu, suaminya itu lebih memilih tersiksa daan menahan semua itu, demi untuk tidak membuat Riska merasa terpaksa.
"Kenapa, Bang? Kenapa, Abang, tidak memintanya padaku?" tanya Riska, menatap Keenan dengan mata berkaca-kaca.
"Apa aku begitu tidak pantas?" tanyanya lagi.
Keenan menatap Riskadalam, dia bisa melihat tubuh istrinya itu, juga sudah basah terkena guyuran air yang sama.
Menelan saliva susah paayaah, tangan Keenan kini berada di wajah Riska, menangkupnya dengan begitu lembut.
Menutup mata sebelum akhirnya berujar. "Tidak, bukan begitu. Aku hanya tidak mau memaksamu ... aku tidak mau kamu berkorban lagi untukku dan menyerahkan dirimu karena kasihan padaku."
"Bang." Riska terisak ,air mata yang sejak tadi ia taahan, kini tumpah sudah, bercampur dengan tetesan air.
"Maaf, maafkan aku," imbuhnya.
"Tidak, kamu tidak salah," geleng Keenan.
"Aku bersedia, Bang. Lakukan padaku, aku rela menyerahkan semuanya malam ini," gumam Riska di iringi isak tangisnya.
Keenan terkejut dengan apa yang ia dengar dari mulut Riska, ujung bibirnya berkedut tak bisa menahan seringainya.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...