Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.223 Diterima


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


"Abang, kenapa kita gak makan malam di sini aja sih?" tanya Riska, sambil bersiap-siap untuk pergi.


"Ya, gak apa-apa. Cuma mau ngajak kamu lihat pantai di deket sini aja," jawab Keenan.


Riska yang baru saja selesai membereskan baju dan juga perlengkapan dirinya dan sang suami, merasa cukup lelah.


Apa lagi, penerbangan pertamanya itu, membutuhkan tenaga yang cukup banyak untuk dirinya.


Setelah Riska selesai bersiap, mereka akhirnya keluar dari kamar. Keduanya hanya berjalan kaki, untuk mencapai tempat yang dituju.


Berjalan santai, sambil menikmati pemandangan malam, dengan tangan saling bergandengan.


Riska sudah merasa sangat senang dan disayangi, walau hanya dengan sedikit perhatian kecil yang dilakukan untuknya.


Menggandeng tangan pasangan saat berjalan di tempat umum itu, mungkin hanya sesuatu yang sering dianggap sepele untuk kaum laki-laki.


Namun, tanpa mereka tahu, sebagian besar perempuan atau wanita, sangat senang bila pasangannya mau melakukan hal itu.


Mereka akan lebih merasa dilindungi, disayangi, dan, diutamakan. Juga ada perasaan nyaman dan diakui, di hati seorang perempuan, dibalik perlakuan kecil tersebut.


Itu semua lah yang sekarang sedang dirasakan oleh Riska dari Keenan. Suami yang selalu berbuat jahil dan sedikit romantis, ah mungkin lebih tepatnya mengarah ke mesum.


Suami yang menikahinya karena suatu kejadian nyeleneh, akibat dari suatu fitnah yang direncanakan lawan bisnis sang ayah mertua, hingga mengakibatkan penggerebekan mereka oleh warga kampung.


Pernikahan yang awalnya tak pernah memiliki harapan untuk bertahan lama, dengan segala keraguan yang menyertainya.


Seiring berjalannya waktu, kini mereka berdua sudah saling membuka diri dan membuka hati, menerima kehadiran orang asing di hidupnya.


Orang asing yang mungkin kini telah menjadi yang paling spesial di dalam hidup mereka berdua.


Tak pernah terbayangkan sebelumnya, oleh Riska, hari ini akan terjadi.


Hari dimana dia berlibur berdua bersama seseorang yang telah menjadi pendamping hidupnya.

__ADS_1


Seseorang yang menjadi seorang imam untuk menjalani hidup di dunia ini.


Senyum indah dan hangat itu terukir di bibir Riska, saat bayangan perjalanan kisahnya dan Keenan, melintas di ingatan.


"Kamu suka suasananya?" tanya Keenan, sambil terus berjalan santai di samping istrinya.


Riska tersenyum, dia menoleh sekilas untuk melihat wajah Keenan, lalu mengedarkan pandangannya pada sekitar mereka saat ini, kemudian mengangguk sebagai jawabannya.


Keenan tersenyum, dia tak menyangka akan melihat Riska begitu bahagia seperti ini, hanya dengan membawa istrinya itu berlibur ke sebuah wisata sederhana.


'Ternyata, untuk membuatmu tersenyum bahagia itu, begitu mudah. Tak perlu jalan-jalan ke luar negeri, atau belanja barang-barang mewah, yang akan menguras isi salah satu kartu di dalam dompetku. Hanya dengan berjalan di pinggir pantai seperti ini saja, kamu sudah terlihat begitu bahagia'


Keenan bergumam di dalam hati, dia mengangumi sikap Riska yang tak pernah menghamburkan uangnya sama sekali.


Ya, sejak dia menikah dengan Riska, Keenan sudah menyerahkan satu kartu miliknya untuk dipegang sang istri.


Dia juga tak pernah mengambil kembali kartu yang ia berikan dulu kepada ibu mertuanya, yang ternyata juga diserahkan kepada Riksa untuk dikelola.


Bila dihitung, berarti saat ini ada dua kartu milik Keenan dengan isi yang tidak sedikit itu, berada di tangan sang istri.


Namun, dari kedua kartu yang dipegang oleh Riksa. Dia hanya pernah beberapa kali mendapat notifikasi pengambilan uang dan transaksi. Itu pun untuk keperluan yang sangat penting.


Seperti membeli perlengkapan sekolah untuk Rio, juga berbelanja untuk kebutuhan mereka berdua di apartemen, di saat dirinya tidak bisa menemani istrinya itu.


Ya, sebuah restoran di pinggir pantai, dengan suasana yang sangat indah, ditemani suara deburan ombak, sebagai musik alaminya.


Keenan menarik kursi untuk duduk sang istri, dia kemudian memesankan makanan yang menjadi favorit di sana.


Sambil menunggu makanan pesanan mereka jadi, Keenan mengambil tangan Riska yang kini duduk di depannya.


Menggenggamnya dengan begitu hati-hati, ibu jarinya memberikan usapan halus di punggung tangan istrinya itu.


Riska yang sejak tadi hanya fokus pada sekitarnya, menikmati setiap deburan ombak pantai yang tak jauh dari tempatnya duduk, mengalihkan perhatiannya pada sang suami.


"Sayang, selama ini kita dipertemukan dan disatukan dengan sesuatu yang tiba-tiba ... aku tau, untuk sampai ke titik ini, cukup banyak rintangan yang kita lalui."


"Maaf, karena aku bahkan tidak sempat untuk bertanya padamu sebelum menjadi istriku. Aku bahkan tidak mempunyai waktu untuk memintamu kepada ibu dan adikmu."


Keenan menjeda sebentar ucapannya, menutup mata sebentar sambil menarik napas dalam, dia pun menghembuskannya lagi, dengan mata yang kembali terbuka.

__ADS_1


"Aku gak tau, ini adalah waktu yang cocok untuk aku mengatakan ini atau tidak. Tapi, aku sudah memutuskan untuk melakukannya sekarang. Untuk itu, kali ini aku ingin bertanya padamu ...."


Keenan mengambil sesuatu di saku jaketnya, sebuah kotak bludru kecil berwarna putih yang ia buka di depan istrinya.


Riska terkejut melihat sepasang cincin kawin yang kini ada di tangan Keenan. Matanya sudah berkaca-kaca dengan sebuah rasa yang kini memenuhi rongga dadanya.


"Maukah kamu menjalani rumahtangga ini lebih lama denganku, menyempurnakan segala kekuranganku, mendampingiku di sepanjang umurku, di dalam suka dan duka, hingga hanya maut yang bisa memisahkan kita berdua?" tanya Keenan.


Tak ada bunga mawar, atau prosesi berlutut. Tidak ada juga gaun cantik dan jas yang biasanya dikenakan dalam prosesi lamaran.


Malam ini mereka berdua hanya menggunakan baju santai yang berada dibalik jaket, untuk menghangatkan tubuh, dari dinginnya angin pantai.


Keenan pun hanya duduk di depan Riska dengan kotak cincin di tangan.


Walaupun begitu, suasana romantis dan haru pun tetap tercipta, dengan perasaan yang tersimpan di dalam dada.


Keduanya saling bertatapan, mata Riska dan Keenan bertaut dalam, mencari jawaban atas pertanyaan yang ada di hati keduanya.


Riska akhirnya mengangguk, dengan satu tetes air mata haru, meluncur membasahi pipi begitu saja.


Keenan tersenyum lebar, dia kemudian melepaskan satu cincin dari kotak itu dan memasangkannya di jari sang istri.


"Terima kasih, sayang. Aku sangat mencintaimu, Riska ... sungguh," ujar Keenan dengan mata yang tampak memerah.


Kini bergantian, Riska yang memasangkan satu cincin lagi di jari Keenan, dengan perkataan tak terduga yang membuat Keenan semakin tak bisa menahan rasa bahagianya.


"Aku juga cinta sama, Abang."


Keenan berdiri dan memeluk Riska dengan rasa haru yang tercipta. Berulang kali dia memberikan ciuman di kening istrinya, sebagai tanda ucapan syukur dan terima kasih yang teramat dalam.


"Terima kasih, sayang."


Kata itu terus terulang, sampai akhirnya keduanya menyudahi kemesraan yang mereka lakukan, saat tepuk tangan dari para pengunjung yang ternyata sejak tadi memperhatikan keduanya terdengar.


Riska tersenyum caggung dengan wajah yang memerah menahan malu. Sedangkan Keenan menganggukan kepala samar dengan ucapan terima kasih pada seluruh pengunjung restoran malam ini.


Tak berapa lama kemudian, makanan yang tadi Keenan pesan datang, keduanya akhirnya makan dengan hati penuh cinta.


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2