
...Happy Reading...
...❤...
"Gimana kalau kita makan berdua?" tanya Keenan, sepertinya akan lebih menyenangkan bila dirinya makan satu piring berdua dengan Riska.
Setidaknya dengan adanya Riska, dia bisa merasa sedikit terhibur dan melupakan semua rasa yang masih menjadi ganjalan dalam hatinya.
Ya, tadi siang dia memang melupakan semuanya termasuk Riska, sejenak dia hanya terbelenggu oleh rasa sakit dan kenangan masa lalu yang tiba-tiba kembali.
Dia memutuskan untuk pergi dan berziarah ke makam mantan sang kekasih, yang berada di luar kota, setelah mendapatkan semua penjelasan dari Alana.
Dia membutuhkan waktu, untuk mengembalikan hatinya yang sudah terlanjur tenggelam di dalam masa lalu, sebelum kembali bertemu dengan Riska.
Ya, Aluna sudah meninggal beberapa tahun lalu, tak ada yang berani memberi kabar pada Keenan, karena itu yang di minta oleh Luna sebelum kepergiannya.
Menyakitkan memang, Keenan bahkan hampir saja tak bisa mengendalikan dirinya sendiri, saat mendengar kabar buruk itu.
Walau, saat ini dia sedang berproses untuk melupakan Luna. Akan tetapi, saat masa lalu itu kembali dengan kabar mengejutkan seperti sekarang ini, semua itu terasa kembali membawanya dalam keresahan hati yang hampir saja menghilang.
Flashback
Keenan mengendarai mobilnya menuju kota kelahiran sang mantan, di mana di sanalah Luna di makamkan beberapa tahun silam.
Saat ini pikirannya hanya tertuju pada satu nama, hingga tanpa sadar dia menghilangkan nama lainnya. Dia terjebak dalam penyesalan dan rasa tak berguna di masa lalu, sampai tak bisa menemani Luna di akhir hidupnya.
"Luna, kenapa kamu lakukan ini semua padaku?" gumam Keenan, tangannya mencengkram stir mobil dengan begitu kuat, mencoba menyalurkan rasa sakit yang begitu menyesakkan di dalam dada.
"Aaakh!" teriaknya.
Laju mobil bertambah kencang, saat jalanan terasa lengang, dia bahkan melewati batas kecepatan mengendara.
Beberapa saat kemudian, dia menghentikan mobilnya di salah satu makam besar. Menghirup napas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar, sebelum menarik tuas kunci mobil.
Keluar dengan hembusan napas ber–ulang, mencoba menghilangkan sesak yang begitu menyiksa. Mengedarkan pandangan hingga matanya menemukan seorang lelaki paruh baya yang bertugas menjaga makam itu.
__ADS_1
Langkahnya ter–ayun mendekati lelaki paruh baya yang sedang membereskan salah satu makam di sana.
"Permisi, Pak," sapa Keenan, hingga membuat orang itu mengangkat kepala, melihat keberadaan dirinya.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya lelaki paruh baya itu.
"Aku mau bertanya letak makam dari Aluna yang meninggal beberapa tahun lalu," ujar Keenan.
Lelaki paruh baya itu kemudian menjelaskan letak makam yang ditanyakan oleh Keenan, dia bahkan mau untuk mengantarkannya.
Bruk!
Keenan menjatuhkan diri di samping makam bertulisan nama lengkap mantan kekasihnya. Kakinya terasa lemas seakan tak bisa lagi menopang tubuhnya.
Sepanjang perjalanan, ia bahkan belum bisa menerima dan mempercayai kabar buruk itu, hingga tanpa pikir panjang, ia langsung pergi ke tempat ini, untuk membuktikan semua perkataan Alana.
Hingga sekarang dia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri. Semua kenyataan ini tetap saja menjadi pukulan telak bagi Keenan.
Matanya memerah manahan desakan air yang memaksa untuk keluar. Rasa sakit di dalam dada, semakin terasa menyiksa.
Untuk beberapa saat, dia terdiam di sana, menikmati rasa yang mengikat jiwa dan raganya, juga mencurahkan semua keluh kesah dan kemarahan.
Hari sudah mulai gelap saat Keenan terlihat lebih tenang, dia menghirup dan menghembuskan napas panjang, hingga sesak itu perlahan menghilang.
Menegakkan tubuh kemudian memanjatkan doa, hingga baru setelah maghrib, dia beranjak dari makam tersebut. Melangkahkan kaki untuk kembali ke dalam mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
Dia menyempatkan diri untuk meminta maaf kepada penjaga makam, karena kekacauan yang baru saja diperbuatnya, sebelum akhirnya masuk kedalam mobil dan meninggalkan makam dengan perasaan yang lebih baik.
"Astaga, Riska! Kenapa aku sampai melupakannya?" gumam Keenan, saat ingatan tentang janjinya pada sang istri terlintas di pikirannya.
Keenan menambah laju mobilnya, melewati jalan yang sekarang tengah padat, karena bersamaan dengan orang yang baru pulang bekerja.
Rasa bersalah kepada istri sahnya itu, kini terasa mendominasi di dalam dirinya, walau rasa gamang juga bayangan tentang seseorang dari masa lalunya masih ada.
Beberapa kali, dia sempat terjebak macet, hingga tak sadar waktu sudah berjalan cukup panjang dan kini sudah pukul delapan malam.
Tin ... tin!
__ADS_1
Suara klakson mobil di belakangnya, membuat Keenan terpaksa menurunkan laju kendaraan saat dia sudah dekat dengan apartemen miliknya. Dia tau pasti siapa yang berada di dalam mobil tersebut.
Berhenti di pinggir jalan, lalu keluar dari mobil untuk menemui orang di dalam sana.
"Kak," sapanya, saat dia telah sampai di samping mobil di bekangnya, di sana, sudah ada Ezra yang menunggu.
Ezra melihat penampilan sang adik yang begitu berantakan, rambut acak-acakan dengan pakaian kotor dan lusuh. Dia menggeleng miris melihat keadaan Keenan saat ini.
"Ikut aku dulu!"
Nada pelan namun tegas itu lebih terdengar seperti sebuah perintah, Keenan tak bisa menolak ajakan dari sang kakak.
Dia kemudian masuk ke dalam kursi penumpang yang berada di samping pengemudi, tanpa bertanya Maksud dari kedatangan Ezra. Dirinya sudah tahu pasti kalau sang kakak pasti telah mengetahui semuanya.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya teridam di dalam keheningan. Tidak ada yang mau berinisiatif membuka suara terlebih dahulu, hingga akhirnya mobil yang dikendatai oleh Ezra kini sudah sampai di rumah kakaknya itu.
Suasana rumah terasa sudah sepi, walau hati masih belum terlalu malam, Keenan mengernyit dengan situasi itu. Tak biasanya Ayu tidak menyambut kedatangan suaminya.
Walaupun begitu penasaran, akan tetapi, mulutnya sangat sulit untuk terbukan dan bertanya pada Ezra. Dia memilih untuk tetapi diam dan mengikuti langkah kakaknya ke dalam ruang kerja.
"Sudah puas, kamu mengetahui semua kenyataan tentang perempuan itu?" tanya Ezra, begitu mereka duduk di atas kursi masing-masing.
Keenan menatap wajah Ezra sekilas, dia tidak pernah sanggup berlama-lama menahan tatapan tajam dari sang kakak. Di banding kemarahan ayahnya, Keenan akan lebih takut kapada Ezra.
Kakaknya itu terlihat lebih menyeramkan dan bisa memberikan hukuman apa pun padanya, bila memang dirinya bersalah. Berbeda dengan sang ayah yang hanya sekedar melampiaskan kemarahan lalu setelah itu, mereka kan segera bebaikan dalam waktu singkat.
Hukuman yang paling menyeramkan untuknya adalah di diamkan juga diacuhkan. Kedakatan di antara mereka yang sudah terbangun sejak kecil, membuat Keenan tak bisa diacuhkan oleh sang kakak, walaupun itu hanya satu hari saja.
Keenan menjatuhkan pandangannya, menundukkan kepala dalam, dengan anggukan samar, sebagai jawaban.
Flashback off
...🌿...
...Mau di apain nih Keenan sama Ezra? Yuk komen👍...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...