Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.296 Para bucin


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Loh, kok kalian cuma berdua. Keenan sama Riska mana?" tanya Ezra yang sedang menikmati pagi dengan istri dan ayahnya.


"Kayaknya lagi bulan madu ke dua," jawab Nawang sekenanya.


Tentu saja jawabannya itu sontak membuat semua yang ada di sana menahan tawanya, kecuali Naura yang malah menatap bingung orang dewasa di sekitarnya.


Juga Zain yang masih asyik dengan mainan di tangannya, dibandingkan dengan masalah orang dewasa.


"Gimana sih? Kita kan kesini untuk merayakan kehamilan Riska. Tapi, sekarang mereka malah asyik berdua," gerutu Ezra sambil mengajak main Zian yang sedang duduk di pangkuan Ayu.


Alvin menatap malas bosnya yang sedang asyik bermain dengan anak laki-lakinya, sambil terkadang mencari kesempatan untuk bermesraan dengan Ayu.


Ck, dasar gak tau diri! Apa dia tidak merasa kalau sebenarnya dirinya sama saja seperti adiknya? gerutu Alvin di dalam hati.


"Kamu, kayak yang gak ngerti aja," ujar Garry, sambil tersenyum tipis pada anak sulungnya.


"Ish, aku gak kayak gitu ya, Pah," bantah Ezra.


"Iya kan, sayang?" Ezra berusaha mencari dukungan pada istrinya.


Ayu menggelengkan kepala samar, "Enggak."


"Tuh, denger sendiri, kan?" bangga Ezra, merasa dibela oleh istrinya.


"Enggak salah lagi, maksudnya," ujar Ayu sambil terkekeh, dan langsung disambut tawa semua orang yang ada di sana.


"Tuh, istri kamu aja setuju, kalau kalian berdua itu sama saja. Diluar doang keliatannya dingin, cuek, padahal kalau udah ketemu pawangnya, langsung meleot kayak kerupuk," ejek Nawang di sela tawanya.


"Ish, sayang. kamu tega banget sih, masa lebih dukung mereka daripada suami kamu sendiri," gerutu Ezra.


"Maaf, Mas. Tapi, memang benar kan?" Ayu mengusap lembut wajah Ezra dengan salah satu tangannya.


"Tuh, lihat ... baru di elus gitu aja, udah keenakan. Awas nanti ikut-ikutan masuk ke kamar lagi." Garry ikut menimpali ejekan sang istri.


"Wah, ide bagus tuh, Pah. Yuk, sayang." Ezra merangkul pinggang Ayu, mengajak istrinya untuk berdiri.

__ADS_1


"Mas." Ayu menatap Ezra dengan kerutan halus di keningnya.


"Eh, mau ke mana kalian. Awas saja ya, kalau mau masuk kamar beneran!" tunjuk Nawang, dengan muka yang sudah berubah masam.


"Mas, jangan aneh-aneh deh," ujar Ayu, yang tau kalau itu hanya bercandaan dari suaminya.


"Ya ... ya. Kalau udah, permaisuriku, aku sudah tidak bisa membantah lagi." Ezra berlagak melas dan menyerah, pada istrinya.


"Ish, apa sih, Mas?" Ayu tidak dapat menahan semburat merah di pipinya begitu mendengar kata manis berselimut candaan suaminya itu.


"Ck, dasar bucin! Memang kamu saja yang bisa, aku juga masih bisa seperti kalian ya." Garry menarik Nawang untuk duduk di sampingnya, lalu melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


Astaga, apa mereka lupa kalau di sini masih ada anak dibawah umur? gerutu Alvin di dalam hati.


Dalam keadaan kesal di dalam hati, jiwa jahil yang sudah hampir hilang di dalam dirinya mulai muncul, Alvin pin membisikan sesuatu pada telinga Naura yang berada di depannya.


"Mamah, Papah, Kakek, Nenek, sedang apa sih, kok aku aku diajak main? Dede Zain juga dari tadi main sediri."


Naura tiba-tiba bertanya dengan ekspresi bingungnya, dia menatap wajah para orang dewasa yang sedang beradu bucin di depannya bergantian.


Tentu saja, suara gadis kecil itu langsung mengalihkan perhatian dari kedua pasang suami istri itu.


Mereka semua panih, bingung mau menjawab apa pada gadis kecil itu, atas pertanyaan yang memiliki jawaban orang dewasa itu.


Namun sedetik kemudian mereka pun jadi tertawa bersama-sama, saat tau kalau itu hanya ulah Alvin pada mereka semua.


"Om Alvin tadi pamit ke kamar mandi sebentar," jawab Naura.


"Ya sudah. Sekarang Naura mau main apa? Sini biar nenek temani," ujar Nawang.


"Makin ke sini, Sepertinya dia semakin bisa berbaur dengan kamu dan Keenan, walaupun terkadang masih terlihat kaku," ujar Garry, setelah mereka berhenti tertawa.


"Ya, aku cukup terkejut melihat cara kerjanya. Dia cukup baik dan mudah beradaptasi dengan cara kerjaku dan Keenan, walaupun terkadang dia terlihat masih belum berani menghadapi bahaya, dan bersikap cerewet seperti seorang wanita," ujar Ezra, mengingat sosok Alvin.


"Maksud, Mas, kadang Alvin banyak bicara?" Ayu yang tidak pernah melihat Alvin banyak bicara terlihat heran.


"Ya, lebih tepatnya banyak bertanya. Apa lagi, kalau kita ingin menghadapi sesuatu yang mungkin cukup berbahaya, dia akan seperti seorang wartawan yang sedang menemukan tagetnya," ujar Ezra, sambil menahan senyumnya.


Ayu mengerutkan keningnya, dia tidak terlalu percaya kata-kata suaminya saat ini. "Aku ragu, kalau Alvin seperti itu."

__ADS_1


Ezra terkekeh sambil merangkulkan tangannya di pundak sang istri. "Kamu memang pintar ya, sayang. Sekarang aku bahkan gak bisa mebohongi kamu lagi."


Ayu terkekeh kecil, dia memang sudah cukup belajar banyak dari Ezra dan asisitennya itu. Walaupun itu hanya dia pelajari lewat pengamatan yang dia lakukan sendiri, setiap kali mereka berbicara dan kemudian membedakannya.


"Pagi semuanya! Maaf, kami terlambat." Dengan santainya Keenan berjalan menuju tempat semua keluarganya berkumpul.


Semua orang yang ada di sana, mengalihkan atensinya pada pasangan suami istri yang berjalan sambil tersenyum cerah, tanpa rasa bersalah.


"Nah, ini dia orang yang kita tunggu sudah datang," ujar Garry, menyambut kedatangan anak dan menantunya.


"Pagi ... pagi. Kamu gak sadar, kalau matahari udah mulai tinggi," decak Ezra, menatap kedatangan Keenan dan Riska malas.


"Ah salah, ya?" ujar tengil Keenan, malah menggoda kakaknya. Dia meringis sambil melihat ke arah matahari.


"Ck, sepertinya aku memang harus berkemas segera, agar kalian cepat pergi dari sini," kesal Ezra, melihat wajah adiknya.


"Eh, masa begitu saja sudah marah sih, Kak?" Keenan masih memancarkan aksinya.


Riska melihat tangan Nawang dan Ayu yang melambai memanggil dirinya, dia pun perlahan melepas tangan Keenan dari pinggangnya.


Mungkin karena terlalu sibuk saling menggoda dan melempar candaan dengan kakak dan ayahnya, kini Riska pun sudah terlepas ari pelukan sang suami.


Dia langsung menghampiri Ayu dan Nawang, lalu mereka bergabung bersama.


"Udah mulai pans, kita pindah saja ke dalam, yuk. Kasihan Zain dan Naura, mereka udah kegerahan main di luar," ajak Nawang.


Ayu dan Riska pun mengangguk, mereka bertiga pin pergi secara diam-diam, meninggalkan para laki-laki yang sedang menjadi tempat duduk para dewam


"Dasar bucin! Tidak sadar dengan diri sendiri, malah terus menuduh dan kesal sama orang lain," gerutu Nawang, sambil berjalan menuju ke dalam rumah.


Sepeninggal para wanita pawang dari ketiga pria yang masih saja saling serang dengan kata-kata itu, Alvin yang baru saja datang melihat di halaman belakang kini tinggal para laki-laki yang tidak lain adalah bosnya itu.


Ke mana pawangnya, kok sekarang tinggal para bucinnya yang ada di sini? tanya Alvin di dalam hati, diam mematung tanpa tahu apa yang harus dia lakukan di sana.


Semoga aku tidak akan jadi pelampiasan kekesalan para bucin akut itu. Alvin memelas dalam hati.


...๐ŸŒฟ...


Jangan lupa komen๐Ÿ‘ Terima kasih ๐Ÿ™๐Ÿฅฐ

__ADS_1


__ADS_2