
...Happy Reading...
...❤...
“Keen, kamu bisa tolong aku buat antarkan Riska? Ini sudah terlalu larut untuk dia pulang sendiri,” ujar Ayu, saat Riska berpamitan untuk pulang.
Ayu sudah menawarkan asisten yang sudah ia anggap adik sendiri itu, untuk menginap di rumahnya saja. Akan tetapi, Riska menolak karena adiknya sedang tidak enak badan. Dia tidak tenang bila meninggalkan ibu dan adiknya di rumah hanya berdua saja.
Hari sudah sangat larut, saat ini waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam, sedangkan Riska pulang menggunakan motor.
Keenan menatap Riska dengan kesal, kemudian tersenyum hambar pada Ayu lalu mengangguk samar.
Sedangkan Riska langsung menolak, karena tidak enak dan tidak mau juga di antarkan oleh Keenan.
“Gak usah, Mba. Aku bisa pulang sendiri kok,” tolak Riska, menggoyangkan kedua tangannya di depan dada.
“Mba gak akan ijinin kamu pulang, kalau kamu gak mau diantar pulang oleh Keenan,” ancam Ayu.
Riska akhirnya mengangguk walau dengan terpaksa, bahkan terdengar dengusan kecil saat melakukannya.
‘Kenapa juga harus sama dia sih?’ gumam Riska dalam hati.
“Kita berangkat dulu ya, takut keburu malam,” pamit Keenan, sambil melirik Riska sekilas.
“Iya, kalian hati-hati di jalan ya. Keen, titip Riska ya,” ujar Ayu.
“Iya, Kak,” jawab singkat Keenan.
“Ris, motor kamu tinggalin di sini aja, biar besok Mba suruh orang anterin langsung ke butik aja ya, sekarang kamu pake mobilnya Keenan saja.” Ayu beralih pada Riska.
“Iya, Mba. Terima kasih,” jawab Riska. Sedangkan Keenan sudah pergi ke tempat mobilnya terparkir.
Setelah berpamitan pada Ayu, Riska menyusul Keenan yang sudah masuk ke dalam mobil lebih dulu.
“Lama banget sih, tinggal pamitan doang,” gerutu Keenan Begitu Riska masuk ke dalam mobilnya.
Riska menatap tidak suka pada Keenan, sambil memasang sabuk pengaman.
“Ayo jalan, ngapain masih diem aja, tadi katanya aku lama, sekarang kamu sendiri yang lelet,” ketus Riska, sambil menegakkan tubuhnya, dan melihat lurus ke depan.
“Apa tadi kamu bilang? Bukannya makasih aku udah mau nganterin kamu pulang, ini malah ngomel gak jelas!” debat Keenan sambil mulai mengendarai mobilnya, keluar dari gerbang rumah kakaknya.
“Siapa juga yang minta dianterin sama kamu?” Riska melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
Keenan melihat sekilas gadis yang selama ini selalu membuat dirinya kesal saat bertemu, sifatnya yang sedikit cerewet dan tidak mau kalah, membuatnya harus selalu menahan diri saat berhadapan dengan asisten dari kakak iparnya itu.
“Kalau bukan karena Kak Ayu yang minta, aku juga gak mau nganterin kamu, jangan ge’er ya,” debat Keenan lagi.
“Siapa yang ge’er? Aku juga gak bakalan mau satu mobil sama kamu, kalau gak karena Mba Ayu.” Riska membuang muka, memilih untuk menyandarkan tubuhnya, sambil melihat ke arah luar jendela.
Keenan mendengkus kesal, melihat Riska yang selalu mendebat dirinya. Di depan gadis itu, statusnya sebagai asisten dan adik dari Ezra seakan hilang.
Di luar sana, orang-orang bahkan akan sangat takut untuk membantah semua perkataannya, saat mengetahui jati dirinya. Akan tetapi, berbeda dengan Riska, gadis itu bahkan sudah bersikap biasa saja sejak pertama kali bertemu.
Gadis yang unik dengan segala keceriaannya, hanya saja menurut Keenan Riska terlalu cerewet dan keras kepala. Sangat berbeda dengan Ayu yang anggun dan tegas.
Ya, diam-diam dia mengagumi Ayu dengan segala sikap yang menurutnya begitu sempurna. Dalam hati dia menjadikan Ayu sebagai standar calon istri untuknya, kelak. Walau dia juga tidak tahu rencana Tuhan untuknya ke depannya.
Untuk menghilangkan kejenuhan karena kini keduanya malah membungkam mulut mereka masing-masing, Keenan memutar musik di Audio mobilnya.
Sebuah lagu dari Devano Danendra yang berjudul Menyimpan Rasa, menjadi pilihannya kali ini.
...Kau, diam-diam aku suka padamu....
...Ku bosan sudah ku menyimpan rasa padamu....
...Tapi tak mampu ku berkata di depanmu....
Keenan mengetuk ujung jarinya pada setir mobil, mengikuti ketukan irama lagu, yang belakangan ini dia sukai itu.
...Tak mudah bilang cinta...
...Tapi mengapa kini denganmu....
...Ku jatuh cinta....
Riska yang sudah merasa lelah, setelah membantu segala persiapan acara empat bulanan Ayu, mulai terbuai oleh alunan musik masa kini yang di putar oleh Keenan.
...Tuhan tolong dengarkanku....
...Beri aku dia....
...Tapi, jika belum jodoh....
...Aku bisa apa....
Keduanya terdiam, menikmati setiap alunan lagu, dengan pemikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
Cukup lama berkendara, Keenan menoleh ke arah Riska dengan alis sedikit bertaut, saat merasakan suasana hening. Hingga akhirnya dia melebarkan matanya, ketika melihat gadis itu sudah terlelap di dalam mobilnya.
Wajahnya yang tampak tenang menarik perhatian Keenan, terlihat sangat berbeda dengan saat dia terbangun. “Kamu cantik juga, kalau lagi tidur begini, gak cerewet dan judes kayak biasanya.” Tanpa sadar, Keenan bergumam, sambil memandang wajah Riska.
Kebetulan saat itu Keenan sedang berada di lampu merah, hingga dia bisa leluasa mengalihkan pandangannya pada sosok gadis di sampingnya. Menikmati wajah yang begitu tenang, mengambil ponsel untuk memotret pemandangan langka dari gadis itu. Suasana hening itu seakan menghipnotis dirinya, sampai tak sadar jika lampu sudah beralih menuju hijau.
Tiin!
Suara klakson di belakang mobilnya, menyadarkan Keenan dari kelakuan konyolnya, dengan cepat ia langsung menaruh lagi ponselnya di dashboard, lalu melajukan mobilnya kembali.
Jantungnya berdebar tak menentu, entah karena terkejut atau mungkin hal lainnya. Keenan tak mau memikirkan itu sekarang, dia menarik napas dalam lalu menghembuskannya lagi, mencoba mengendalikan diri saat melihat Riska mulai menggeliatkan badannya, karena tidurnya terganggu oleh suara klakson tadi.
'Kenapa aku merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah ya?' gumamnya dalam hati.
‘Akh, sial! Apa yang aku lakukan barusan?!’ umpatnya, kembali, saat mengingat perbuatannya beberapa saat lalu.
Riska menenggakkan tubuhnya, melihat sekeliling yang ternyata sudah dekat dengan rumahnya. ‘Ish, kenapa aku sampe ketiduran sih?’ kesal Riska dalam hati. Rasanya malu sekali, saat ia sadar terlah tertidur di mobil Keenan
Keenan menghentikan mobilnya, tepat di depan rumah Riska, terlihat sudah sepi, bahkan di dalam rumah sudah terlihat gelap, pertanda lampu sudah dimatikan.
Tak heran jika ibu dan adiknya Riska sudah tidur, karena memang malam sudah sangat larut, ini bahkan sudah hampir tengah malam.
'Uh, kenapa aku merasa seperti sedang mengembalikan seorang gadis yang aku ajak jalan tanpa pamit,' gumam Keenan dalam hati, saat dia melihat sekitar rumah Riska yang sudah tampak sepi.
"Terima kasih," ujar Riska, setelah melepas sabuk pengaman dan bersiap untuk turun dari mobil.
Keenan mengalihkan pandangannya pada Riska. "Hem." hanya gumaman kecil sebagai jawaban dari ucapan terima kasih Riska.
Riska tersenyum kecut lalu segera keluar dari mobil. "Hati-hati di jalan," ujarnya sebelum menutup pintu mobil, lalu berlalu menuju ke teras rumah, sambil mengambil kunci di tas miliknya, tanpa mau menoleh lagi ke belakang.
Keenan melihat Riska sampai gadis itu berhasil membuka pintu dan masuk ke dalam rumah, baru ia menjalankan mobilnya kembali.
Tugas dari kakak iparnya sudah selesai, kini dirinya tinggal pulang lalu beristirahat dengan tenang.
...🌿...
Yang penasaran sama cerita Gio, aku baru rilis hari ini ya, bisa masukan ke rak buku dulu, karena di sana aku baru up satu bab aja🥰🥰
... 🌿...
...Bersambung...
__ADS_1